
You say that you love rain,
but you open your umbrella when it rains
You say that you love the sun,
but you find a shadow spot when the sun shines
You say that you love the wind,
But you close your windows when wind blows
This is why I am afraid
You say that you love me to
~ws~
***
Kasus persidangan sampai pada dikeluarkannya argumen-argumen oleh masing-masing kuasa hukum. Suasana dalam ruangan yang semula sempat ricuh berubah menjadi tegang. Kuasa Hukum dari pihak Hanum maupun Boris terus saja memojokkan pihak Hana maupun Yura. Mereka dengan lihainya ingin membabat habis kasus perkara demi keluar menjadi Raja persidangan. Hanum dan kawan-kawan berada di atas angin.
Hakim Agung mengetuk palu, pemberian argumen oleh pemberi jasa Hukum menemukan akhirnya. Sekarang yang tersisa hanya lah saksi terakhir, yaitu suami dari salah satu terdakwa.
"Saudara Haris Abdurrahman Faiz dipersilahkan mengambil tempat" ucap petugas pada pemuda 26 tahun tersebut. Kini pusat perhatian tertuju padanya, walau rasanya sebagian besar tamu yang hadir di pengadilan sudah pupus harapan dan hanya berharap pada keajaiban, namun mereka tetap memilih duduk hikmat sampai tahap akhir. Hana masih terus saja berdzikir, bibirnya basah oleh untaian doa yang telah beribu kali dipanjatkan sepanjang sidang digelar.
"Saya tidak ingin menyampaikan teori, saya hanya ingin memperlihatkan bukti. Saya memegang bukti kalo nona Hana dan nona Yura tidak bersalah" Haris memulai kalimatnya. Satu persatu kata-kata tersebut meluncur dari mulutnya penuh penekanan, tidak santai seperti biasanya. Rahangnya mengeras, kesabaran nya habis sudah.
Suasana yang serius pun naik tingkatan menjadi tegang menanti apa yang akan Haris sampaikan. Hanum, Arini dan Lisa mengerutkan keningnya.
Semula Haris sudah melayangkan pesan bahwa ia memilih akan mengikuti persidangan tanpa melibatkan dirinya, dengan kata lain Haris menolak penawaran menikahi Arini mentah-mentah.
"..... Aku putuskan menolak menikahi mu, aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri terlebih menyakiti Hana" inilah Pesan yang Haris kirimkan kepada Arini tepat beberapa hari sebelum sidang hari ini dimulai.
"Jadi kamu memilih Hana mendekam di penjara, Mas?! " Arini mencoba Menggoyahkan pertahanan Haris. Namun pemuda itu memilih mengabaikan pesannya.
"Silahkan Anda mengeluarkan bukti-bukti yang berada di tangan Anda" Ucap Hakim Agung dengan suara menggelegar memenuhi ruangan dan membuyarkan lamunan Arini.
Haris merogoh saku celananya, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
"Ini adalah salah satu bukti bahwa Hana dan Yura di jebak" Haris mengangkat benda tersebut, menunjukkan ke seisi ruangan.
Penonton kembali berbisik-bisik, benda apakah itu?
"Di dalam benda ini terdapat rekaman video bahwa Hanum meminumkan cocktail yang berisikan alkohol kepada Hana..." Haris maju ke tengah ruangan, ia mengangkat sambil mengayunkan benda kecil yang diduga memori card itu diujung tangannya, memperlihatkan kepada semua orang yang hadir di sana.
"Dia....." Haris menunjukkan jari telunjuknya tepat ke arah mata Hanum. Geram.
"Dia memanfaatkan situasi dan kondisi ketidaktahuan Hana terhadap berbagai jenis minuman keras... dan, dengan lihainya merayu istri saya meminum minuman keras beralkohol yang ada ditangannya" Haris memberikan benda kecil yang ternyata memang memori card itu kepada petugas.
Ruangan ricuh, peserta kembali berbisik-bisik. Kali ini tidak hanya Umi yang menangis, Abah yang kelihatan selalu tegar itu ikut menitikkan air mata.
Kenyataan pahit ini, kenyataan yang harus dihadapi bahwa anak perempuan satu-satunya yang terjaga dan terdidik ternyata telah di jebak dengan alkohol, diberi obat bius hingga dilarikan ke hotel oleh para preman. ya Rabb. Abah tidak bisa untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Memory Card tersebut berisi rekaman CCTV yang telah Hanum sangka telah dilenyapkan, namun sayangnya berhasil dikembalikan oleh tim intel yang memiliki relasi teknisi IT dari Jepang dengan skill profesional di atas rata-rata. Video setengah rusak itu kembali seperti semula.
Shit. Sial. Hanum mengupat dalam hati. Wajah yang semula cerah dalam hitungan detik berubah menjadi pucat pasi.
"Bukti kedua... " Haris melanjutkan, suara nya tak kalah menggelegar dari suara Hakim Agung, memicu detakan jantung berdetak lebih cepat siapa saja yang mendengar. Ia menjeda kalimatnya, mengambil udara sejenak.
Maafkan aku Arini. batin Haris berkata. Ia kembali merogoh benda dari saku celana nya. Perlahan benda itu muncul ke permukaan. Haris kembali mengangkat ke atas benda tersebut dan mengayunkannya. Benda yang tidak asing.
"Di dalam Handphone ini, terdapat rekaman percakapan antara saya dan Arini beberapa hari lalu, yang menginformasikan siapa dalang dibalik semua ini, termasuk kasus jebakan narkotika" Haris melirik ke arah Arini. Gadis itu gemeran, keringat dingin mengucur. Ia bahkan tidak mampu menatap ke arah Hanum yang masih menunggu apa isi dari rekaman tersebut . Pemuda itu mengambil microphone dan mendekatkannya ke speaker Handphone. Rekaman pun diputar,
Hanum memang yang menyusun semua rencana ini. Ia yang berperan penuh dalam menyusun strategi penculikan dan penjebakan narkotika. Suara Arini.
Hana akan bebas dengan sangat mudah, aku akan membeberkan semua nya di pengadilan, aku juga punya semua bukti chating dan voice note tentang penjebakan ini, tapi ada syaratnya, mas! Suara Arini.
Apa itu? Suara Haris.
Jadikan aku istrimu. Suara Arini.
Ini konyol, Ini Gila, Rin! Suara Haris.
"Aku serius mas! Jangan buat aku berpikir dua kali" Suara Arini.
Apa kamu berniat menjebak sahabatmu-sahabatmu, kamu benar-benar akan menjebak Hanum? Suara Haris.
Demi kamu, semua akan kulakukan. Suara Arini.
Rekaman dimatikan.
Huuuuuuuu. Sorak penonton dibelakang. Mereka berbisik-bisik dan bersorak mengejek, riuh ricuh mewarnai suasana sidang setelah suara rekaman diputar, kuasa hukum Hanum dan Boris terdiam, taringnya patah.
Tuk Tuk Tuk. Sekejap ruangan berubah hening kembali.
Wajah Hanum pucat sempurna. Suasana hatinya mendadak berubah. Kini semua mata berpusat padanya. Arini tidak menyangka semua yang ia katakan pada Haris malah menjadi senjata yang berbalik arah.
"Bagaimana nona Arini? Dapatkah Anda menjelaskan maksud dari kata-kata Anda pada rekaman yang berada dalam handphone saudara Haris? " Tanya petugas menatap tajam.
"Ssss ssaya... " Arini gelagapan. Lalu ia terdiam.
"Bagaimana nona??! " Petugas semakin menekan Arini untuk menjawab.
"Sss saya dijebak, Pak! " Mata Arini memerah. Ia menahan tangis.
Hanum nelangsa. Rasanya untuk menangis saja sudah tidak bisa. Arini sahabat terkasihnya malah yang menjerumuskan nya.
"Apakah Anda dijebak untuk mengatakan kebenaran??! " Petugas menaikkan sebelah alis matanya menukik pertanyaan yang lebih tajam. Tepat sasaran. Arini tidak mampu lagi ber kata-kata. Tenggorokan nya tercekat, suaranya tertahan. Ia merasa sangat bersalah pada Hanum. Ia menunduk dalam-dalam.
"Tolong Anda keluarkan bukti yang dengan lantang Anda katakan pada isi rekaman tadi" Ucap petugas.
Arini masih mematung. petugas mengulang kembali titahnya,
"Nooona Arini, silakan Anda keluarkan bukti-bukti kebenarannya! Anda tidak akan bisa berlepas dari Hukum" Petugas jengah.
Arini mau tidak mau harus mengeluarkan bukti-bukti yang menyudutkan Hanum, ia dengan sendirinya harus membongkar kebusukan sang sahabat agar ia sendiri terlepas dari hukuman dan bebas dari perkara.
__ADS_1
Hanum terhenyak melihat Arini. Sahabatnya itu sama sekali tidak berusaha untuk menyelamatkannya. Miris. Lisa sendiri no comment, ia hanya duduk manis menyaksikan nasib duo sahabat yang menyedihkan, nasib Hanum diujung tanduk. Ia melihat ini semua dengan tatapan datar. Memang tidak sesuai seperti yang ia harapkan, tapi setidaknya namanya terbebas dari jerat hukum.
"Bukti ketiga.... " Haris yang belum selesai bicara sukses membuat suasana sidang yang mencekam bertambah hening. Di luar sana matahari masih terik menyinari, adzan zhuhur masih satu jam setengah lagi berkumandang, ia harus segera menyelesaikan semua ini sebelum Hakim Agung mengakhiri atau kembali mengistirahatkan sidang.
"Di tangan saya ini terdapat mutasi rekening transferan sejumlah aliran dana dari Hanum kepada Boris" Haris dengan gagahnya berkata sambil mengangkat kepala mengedarkan pandangan pada sejumlah orang yang hadir di sana. Terutama para kuasa hukum yang sebelumnya bersikap angkuh.
"Hanum mengucurkan sejumlah dana untuk melancarkan kejahatan. Ia dengan kejamnya memerintahkan Boris dan komplotan nya untuk menculik Hana dan....." Haris memberi jeda. Ia menarik nafasnya sejenak
" Dan membiarkan ketiga preman itu untuk memperkosa Hana" Haris menyelesaikan kalimat nya dengan memejamkan mata, jantung Hana nyaris copot mendengarnya.
Apakah ia sudah tidak gadis lagi? Spontan pertanyaan ini muncul dibenak Hana.
"Alhamdulillah semua tidak sempat terjadi karena Gibran menyelamatkan Hana ketika itu" Haris menatap Gibran sendu, tatapan matanya mengisyaratkan rasa Terima kasih, lalu Haris menatap tajam ke arah Hanum, tatapannya begitu mengintimidasi.
"Semua bukti yang saya katakan ini terdapat pada rekaman CCTV yang telah saya serahkan tadi di awal, di dalam nya terdapat percakapan Hanum dan Boris melalui saluran telepon genggam" Petugas IT diruang persidangan terus menge-cek bukti informasi yang Haris berikan.
Haris pun bergerak menyerahkan bukti yang ketiga kepada petugas, mereka juga memeriksanya.
Hanum semakin tersudut.
"Ini semua omong kosong!!! Ini semua tidak benar!!!!" Hanum berteriak kencang. Suara kerasnya seolah memekakkan telinga.
"Semuanya adalah salah... DIA!!! " Hanum malah melayangkan telunjuk nya ke arah Lisa. Teman seangkatannya dalam kejahatan itu tetap tak bergeming, diam tidak menanggapi.
"Ya. Semuanya salah Dia!!!!! Dia yang telah menjebak Yura sehingga di dalam tas nya terdapat ekstasi" Hanum berang, ia seperti orang kehilangan akal sehatnya, mungkin sebab semua kesalahan dilimpahkan padanya.
Aku tidak sebodoh itu Hanum. Batin Lisa. Ia menaikkan salah satu sudut bibirnya.
Hanum bangkit dari duduknya dan menuju ke arah Lisa, dengan cepat ia menarik kasar kerudung yang wanita itu kenakan. Lisa yang tidak memiliki persiapan apapun jatuh terjengkang di lantai akibat dorongan keras dari Hanum.
Tuk Tuk Tuk. Palu kembali terketuk, ruang sidang sudah layaknya pasar ramai. Petugas dengan sigap mengamankan kebrutalan Hanum.
"Mari bersama-sama kita dengarkan putusan Hakim" Ucap petugas setelah berhasil menjeda dan mengamankan segala sesuatu nya.
Hakim membuka catatan, detik detik keputusan~
"Nona Hanum, dengan semua bukti yang ada dan memberatkan, Anda kami tahan, dengan pasal pencemaran nama baik, penculikan dan kasus nnarkotika. Nona Arini, Anda akan dijadikan saksi kunci atas kebenaran kejahatan dari nona Hanum... "
"Dengan ini kami juga menyatakan bahwa Nona Hana Fathimah Ameer dan Nona Yura Shahia dinyatakan BEBAS dan tidak bersalah... "
"Dan, dengan ini pula, kami menyatakan sidang ditutup. Tuk Tuk Tuk. " Hakim Agung mengetukkan palu.
Sidang berakhir, Hana dan Yura spontan melakukan sujud syukur.
Haris menatap istrinya haru~
***
🌹🌹🌹
Siapa yang paling jahat dari tiga sekawan diatas? Arini Hanum atau Lisa? 🤔
Semoga kita semua dijauhkan dari sifat buruk dan orang-orang yang bermuka dua. 🤲🙏
__ADS_1
Bagaimana dengan kejahatan Lisa dan Arini? Nantikan kelanjutan kisah nya~~~
***