
Ada amanah yang harus ditunaikan
Ada janji yang harus di tepati
Walau kaki sedemikian beratnya melangkah,
Kenyataan hidup harus tetap dijalani
Jika bukan karena mengharap ridha-Mu wahai Rabbi,
Jika bukan karena mengingat seberapa banyak sudah dosa ini,
Maka akan kulepas semua dalil kehidupan dan mengikuti luapan ego ku yang sudah semakin memuncak
Aku takut jika desakan hati kalah dengan iman dan Islam yang telah tertanam kuat sejak aku baligh
Maka bimbing aku untuk bisa melangkah tegak walau banyaknya kerikil tajam yang membersamai dalam tangisan~
Gibran melangkahkan kakinya di Bandara dengan tergesa, ia menge-cek jam keberangkatan nya, sebenarnya masih ada waktu luang baginya untuk sekedar beristirahat melepas penat, namun ia sedang tidak ingin berlama-lama, entahlah~
"Nanti ketika kakak pergi, jagalah diri mu baik-baik, dik" Ucap Gibran pada Yura, adik kesayangan nya. Yura segugukan, ia harus melepas lagi kepergian sang kakak, padahal baru sebentar saja rasanya mereka bertemu.
"Doa Yura untukmu mas, tetaplah jadi kakak yang seperti ini, yang selalu Yura teladani" Gibran mengusap air mata yang menetes-netes di pipi Yura, berat rasanya untuk berpisah. Untuk sejenak mereka berpelukan.
"Jangan menangis, dalam beberapa bulan mas akan kembali, jika tidak ada aral melintang mas janji akan sering menghubungi mu"
Yura mengangguk kan kepalanya.
Ddddrrrt drrrrtttt
Handphone Yura bergetar, Hana meneleponnya, Yura menatap ke arah Gibran dengan menunjukkan layar kacanya. Deg. Ada getaran di hati pemuda itu walau hanya sebuah nama yang tertera.
"Assalamu'alaikum Hana, bagaimana keadaanmu? " Yura menyapa Hana sambil menge-lap hidungnya yang berair menggunakan tisu.
"Waalaikumsalam, aku sudah lebih membaik sekarang"
"Kamu bersama siapa di rumah sakit? Apa mas Haris bersamamu? "
"Aku sendirian sekarang, mengapa kamu tidak mengunjungi ku? Ayo lah ke sini, aku merindukan mu,..." Hana berkata dengan nada manja ketika ia menginginkan sesuatu dari sang sahabat seperti biasanya.
"Hmm tapi tungguu.. kamu sakit? Apa kamu sedang menangis sekarang? " Hana mendengar suara serak basah Yura yang begitu ia hafal di telinganya.
__ADS_1
"Maaf, aku sedang mengantar mas Gibran ke bandara, beliau mau kembali ke Maroko pagi ini, setelah ini aku akan mengunjungi mu" Ucap Yura masih dengan suara seraknya.
Mas Gibran ke Bandara? Hana terdiam, ia bahkan sama sekali belum mengucapkan Terima kasih atas pertolongan Gibran, ia juga belum sempat menanyakan kronologi kejadian malam yang terlalu malas untuk ia ingat itu.
"Han? Hana?! " Panggil Yura yang sama sekali tidak mendengar suara Hana dari seberang sana.
"Yura, apa kah mas Gibran buru-buru? boleh kah aku berbicara sebentar saja dengan beliau? " Pinta Hana
Yura melihat ke arah Gibran dan mengisyaratkan bahwa Hana ingin berbicara dengan nya.
"Assalamu'alaikum Hana" Sapa Gibran setelah handphone Yura berada di telinganya.
"Wa, waalaikumsalam mas" Hati Gibran melebur seketika mendengar suara lembut Hana.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik kah? " Gibran bertanya dengan suara tenangnya, lebih tepatnya berpura-pura tenang.
"Alhamdulillah. Hmh,..mas, aku ingin mengucapkan Terima kasih padamu. Terima kasih atas pertolongan yang sudah mas berikan malam itu" ucap Hana.
Pikiran Gibran melayang pada peristiwa malam itu, mendidih isi kepalanya mengingat peristiwa kelam tersebut.
Bagaimana pun Gibran adalah orang yang memberikan bogem mentah pada Boris, dan ia yang membalutkan selimut pada tubuh Hana serta ia juga yang menyertakan jaket nya di kepala gadis itu tanpa seorang pun yang mengetahui kecuali para polisi.
"Allah-lah yang menolong mu Hana, bukan aku" Ucap Gibran.
"Laa syukra 'alal waajib, Hana! Tiada ucapan Terima kasih atas sebuah kewajiban! " Balas Gibran lagi. Hana terdiam.
" Baiklah, betapa pun begitu, aku tetap mengucapkan Terima kasih"
" Nanti Aku akan mengirim email kepadamu, ada beberapa hal yang harus aku sampaikan, untuk saat ini sampai di sini dulu, aku harus berangkat " ucap Gibran dingin, padahal hatinya sudah meleleh sejak pertama mendengar suara lembut Hana di seberang sana.
"Baik mas, fii amaanillah"
Tiiit tiiiitt
Ada perasaan yang tidak enak menyelimuti ruang di hati Hana. Ada ketidaksenangan ketika Gibran seakan-akan mengabaikannya, mengabaikan ketika ia menelepon, mengabaikan ketika ia berbicara. Walau ia tau pada kenyataannya Gibran terburu-buru, namun Gibran sudah tidak seperti dulu, beliau bersikap sangat dingin. Entah mengapa hatinya seperti masih sulit menerima. Benarkah Gibran telah melupakannya?
Pagi kian menanjak tinggi, pesawat yang Gibran tumpangi perlahan-lahan mengudara hingga puluhan ribu kaki di angkasa. Ia terbang dengan burung besi meninggalkan asa dan lara yang tersisa di bentala sana. Namun ia berjanji akan kembali untuk menyelesaikan semuanya. Ia akan menjemput takdir terbaik yang Allah berikan untuknya.
***
Di Kediaman Arini
__ADS_1
Lisa, Hanum dan Arini berkumpul untuk mendiskusikan suatu misi penting. Banyak hal yang harus mereka lakukan dan persiapkan, tentang Boris dan para pengikutnya, tentang 3 pilihan yang tempo hari ibu Arini berikan pada Haris sudah mendekati waktu finalnya, dan beberapa misi penting lain yang harus segera mereka selesaikan.
"Kamu yakin akan melakukan rencana itu?! " Arini terkejut mendengar rencana yang disusun oleh Lisa dan Hanum.
"Tentu saja, kita akan melakukannya senatural mungkin " Hanum tersenyum meyakinkan, ia mulai menyalakan cerutunya. Lisa mengangguk-anggukkan kepala menyetujui.
"Aku merasa ini terlalu berbahaya, Num" Sergah Arini
"Kamu tidak perlu melakukan apapun Rin, biarkan aku yang melakukannya! Kamu tenanglah! " Hanum meyakinkan. Arini menggigit-gigit kuku yang sebenarnya tidak panjang, ia sangat ragu untuk mengikuti rencana yang tidak masuk akal dari dua sekutunya.
"Baiklah, kita deal kan rencana ini sekarang juga" Ucap Lisa santai.
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya, Lisa? " Arini kembali mempertanyakan tentang bergabung nya Lisa ke dalam rencana mereka
"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Rasa cinta telah membunuh nuraniku" Lisa menatap Arini tanpa ada keraguan di setiap kata-katanya
"Apa kamu yakin hanya begitu saja? Tidakkah kamu mengambil manfaat sedikitpun jika aku dan Haris menyatu??! " Arini masih ragu
"Tentu saja... aku ingin kalian juga membantu membawa Gibran ku kembali"
Kring Kring
Suara dering telepon membuyarkan percakapan mereka. Ternyata Yura yang menghubungi Lisa,
"Assalamu'alaikum Yura" Lisa meletakan gawainya di telinga.
"Waalaikumsalam... Lis, kamu dimana? kita jadi ke rumah sakit menjenguk Hana, kan?"
"Hmh Aku sedang bersama teman. Tentu saja jadi. Aku akan menjemput mu, berkemaslah" Lisa berkata sambil melirik ke arah Hanum dan Arini.
"Wah, Alhamdulillah, kita sudah lama sekali tidak berkumpul bersama, aku sangat merindukanmu, mari kita memberikan Hana kejutan sambil menghiburnya" Mata Yura berbinar bahagia.
"Aku juga merindukan kalian, baiklah. tentu saja, aku akan menjemput mu sekarang"
"Okay, Hati-hati di jalan, jangan ngebut ya"
" Haha iya, kamu masih cerewet seperti biasa"
" Tentu saja, aku tidak akan pernah berubah" sahut Yura sambil tertawa.
Mereka pun menutup percakapan melalui telepon, berakhirnya percakapan Lisa bersama Yura, berakhir pula lah diskusi panjang Lisa bersama Arini dan Hanum, sebab Lisa harus bergegas menjemput Yura di kediaman nya.
__ADS_1
***