
“Kita harus bergerak cepat dan membereskannya sesempurna mungkin agar tidak terendus kepolisian!” Ucap Inggrid.
“Kamu sudah menghapus sidik jari kita semua kan?” Tanya Indah dengan mimik muka serius. Inggrid mengangguk cepat.
“Say, Are You ready? Kita eksekusi sekarang ya?!” Indah kembali bertanya. Tak bisa dipungkiri, takut akan kegagalan membuatnya jadi sedikit ragu. Namun keyakinan yang dimiliki oleh Inggrid membuat semangat Indah jadi terus menyala. Inggrid kembali mengangguk.
“Seperti Hasbi, kita akan menciptakan semuanya seperti sebuah kecelakaan murni” Inggrid tersenyum licik.
Bodyguard mengayang-anyangkan Hana semakin ke tepian. Melihat ke bawah dari ketinggian lantai 17 dengan tinggi bangunan dengan rata-rata 3.5 meter membuat kepala wanita tak berdaya ini semakin pusing. Bayang-bayang kematian semakin dekat. Nafasnya terasa pendek lagi berat. Ia bahkan sudah merasa seperti akan mati terlebih dahulu sebelum sempat di hempas keji ke bawah.
“Satu… Dua… Ti…” Bodyguard memulai ancang-ancang hendak melempar.
“Tunggu…” Inggrid tiba-tiba menghentikan pergerakan bodyguard.
Hhhh Hhhh Hhhh Hah Hah Hah
Nafas Hana terengah-engah. Jantungnya berdetak cepat. Adrenalinnya terpicu penuh oleh anyang-anyangan bodyguard.
“Ada apa say? Apa kamu berubah pikiran? Waktu kita tidak banyak!” Indah mengerutkan kening.
“Sebelum Hana berkumpul bersama Hasbi dan Fatma di akhirat, ada baiknya kalau aku membeberkan tentang kematian Fatma. Biar kematian wanita ini tidak di penuhi oleh rasa penasaran!”
Indah tampak berpikir lalu mengangguk setuju.
“Hana, kematian Fatma akibat serangan jantung memang bukan suatu hal alami, melainkan ada pemicunya. Tahukah kkamu? Kalau sebenarnya.. kamu sendiri-lah dalang di balik kematian Fatma beberapa waktu lalu!” Inggrid mulai menguak Fakta lain. Hana menoleh berat.
“Mungkin sebenarnya umur Fatma bisa lebih panjang. Tapi karena kamu bersikukuh mempertahankan cinta bulshit penuh keegoisan-mu itu pada Haris, maka Fatma mati dengan sia-sia!" Inggrid menyunggingkan senyum mirisnya.
"Indah mengancam Fatma akan membunuh calon cucunya jika tidak berhasil membuat Haris menikahi Arini. Hhhh, wanita malang itu bukannya tidak tahu bahwa Hasbi mati dibunuh. Ia memilih mengubur cerita kelam tersebut rapat-rapat untuk menjaga kesehatan mental Haris, juga karena khawatir peristiwa itu akan kembali berulang jika ia membeberkan semuanya. Selain itu, Fatma juga tidak memiliki bukti"
Hana terhuyung untuk ke sekian kalinya. Matanya sudah tidak terlalu fokus. Ia berdiri hanya karena di topang oleh bodyguard yang memegang kedua tangannya.
“Fatma mati hanya karena diancam : bahwa hari ini Anak menantu dan cucu-mu akan segera menyusul Hasbi! Aku tidak menyangka Fatma benar-benar akan pergi secepat itu. Ck ck ck” Inggrid menerangkan dengan mensedekapkan tangan di dada.
Angin semakin kencang. Pakaian Hana dan bodyguard basah karena cipratan hujan yang dibawa angin mengarah padanya. Dinginnya semakin menjadi. Jika dibiarkan lebih lama Hana pasti terserang hipotemia.
“Tunggu apalagi?? Lempar ia ke bawah!!” Titah Inggrid dengan suara keras.
“Ba… Baik Bu!”
Satu… Dua…
Selamat tinggal Hana Fathimah Ameer. Sayang nasibmu tidak seindah namamu! Gumam hati Indah. Ia menitikkan airmata. Entah airmata duka entah airmata bahagia.
__ADS_1
Braaakkkkkk
Tiba-tiba terdengar suara pintu terdobrak. Dua laki-laki dan seorang wanita muncul secara bersamaan.
“Saya dari kepolisian! Lepaskan Hana!!” Ucap Romi mengeluarkan pistol dari sarungnya. Dengan gagahnya Ia mengokang pistol tersebut. Membuat bodyguard bergidik ngeri. Pegangan tangan pada tubuh Hana terlepas seketika.
Arini dengan sigap mengambil Hana yang terkulai di lantai. Wanita yang sudah berwajah pucat biru digiring masuk ke rumah. Lalu Arini membuka sweater miliknya dan membalutkannya ke tubuh Hana.
“Hana, bertahanlah… Haris sedang dalam perjalanan menuju apartemen. Kebetulan kami berada di daerah sini. Suamimu menelpon kami dan menyuruh untuk melihat keadaanmu. Ternyata kamu memang berada dalam bahaya” Arini menggenggam tangan dingin Hana. Wanita ini masih menggigil. Arini menghembuskan hawa dari mulut ke tangannya dan kembali menggenggam tangan Hana mentransfer kehangatan.
“Ku mohon bertahanlah…” Air mata Arini mulai menetes melihat keadaan Hana yang begitu mengenaskan. Hana mengangguk pelan lalu tersenyum penuh rasa terima kasih. Airmatanya masih mengalir di sudut mata. Arini melesat masuk ke kamar mengambil selimut dan beberapa helai kain. Lalu menyelimuti Hana agar merasa hangat.
Arini juga langsung menelepon Haris agar membawa polisi ke sini.
Di luar, Romi mengulur waktu. Ia memerintahkan mang Saleh, supir pribadi pada kediaman haji Zakaria itu untuk mengambil tali dan mengikat Indah dan Inggrid. Romi menggerakkan pistol ke kanan dan ke kiri.
Haris.., cepatlah kemari! Lirih hati Romi berharap.
“Kalian semua jangan bergerak! Atau pistol ini akan memusnahkan kepala kalian satu persatu!!” Teriak Romi berseru.
Indah dan Inggrid menepi ke dinding. Di luar dugaan, skenario melenyapkan Hana gagal. Mereka terlambat beberapa menit. Bodyguard yang bertubuh besar itu tidak tinggal diam, ia gerak cepat ke arah Romi ingin merebut pistol.
Duuuuuaaaaaaaarrrr
“Sudah ku katakan jangan bergerak ya jangan bergerak!!” Berang Romi. Urat lehernya menyembul.
Darah menetes netes dari celana jeans si bodyguard. Kucuran darah tersebut menjadi genangan kecil. Bau darah tercium anyir.
Inggrid terkejut sampai terkencing di celana. Ia gemetaran hebat. Lalu merutuki kebodohannya berbicara terlalu membuang-buang waktu.
Romi masih mengarahkan pistol dengan sigap ke kanan dan ke kiri. Mata elangnya seperti ingin menerkam apa-pun yang ada di hadapannya.
Mang Saleh datang tergopoh, setelah bersusah payah menemukan tali, laki-laki paruh baya itu mengikat Indah dan Inggrid dalam satu ikatan. Mereka diarak ke dalam ruangan dan diletakkan di sudut. Bodyguard yang sempat di tembak tadi masih mengaduh menahan rasa sakit. Tonjolan urat-urat yang tadi nya tidak terlihat karena tertutupi oleh tattoo hitam kini tampak jelas.
“Hana… Hana… Sayang…” Haris tiba. Suara terdengar menggelegar dari balik pintu utama. Laki-laki ini langsung menuju Hana yang terkulai di ruang tamu. Haris memindahkan selimut yang menutupi tubuh istrinya dan ia langsung memeluknya erat.
“Maafkan suamimu yang tidak berguna ini!” Haris menangis. Hana hanya diam menatap Haru. Wanita ini sudah terlalu lemah untuk hanya sekedar menjawab.
“Da… Darah…” Haris terkejut melihat wajah Hana terluka. Namun Ia lebih terkejut lagi dengan darah yang merembes pada gamis peach bagian bawah yang istrinya kenakan. Matanya membola sempurna. Apakah anak-anaknya sedang tidak baik-baik saja?
“Aku sudah memanggil dokter dan ambulan ke sini mas” Lirih Arini. Haris memegang perut Hana. Airmatanya berhamburan sempurna.
“Bu,,, kan…” Lirih Hana menggeleng.
__ADS_1
“I…ni darah dari be…tisku. Tertusuk ujung mata rantai tajam ke..tika dise…ret ke...luar tadi” Ucap Hana terbata. Haris langsung menyingkap gamis Hana. Luka dengan pola berlubang menghias di sana. Sontak ia bangkit. Haris melangkah ke luar balkon.
Buughhhh Buuughhh
Dua kepalan tinju menghantam keras di kedua pipi bodyguard. Laki-laki berwajah sangar itu merasa tulang rahangnya remuk.
Pletakkk. Giginya copot.
“Ris,, Haris,, Cukup Ris,, Pria ini sudah tidak berdaya” Romi mencoba menenangkan.
Buuuuggghhhh
Tidak peduli, Haris masih memberikan tinjunya.
Buuuuuggghhh
Aaaagggrrhhh. Bodyguard mengaduh. Mulutnya dipenuh darah yang mengucur. Muntahan darah itu keluar hebat.
“Ris, stop.. dia bisa mati. Biar pengadilan yang menghukumnya!!” Kali ini Romi benar-benar menarik Haris menjauh.
“Bedebah ini mendzalimi istriku, Rom! Aku harus membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri!!” Mata Haris menyala. Amarahnya berkobar.
“Istighfar bro, ia pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal” Ucap Romi menepuk pundak Haris yang tengah berada di puncak emosi. Ia menggiring Haris ke dalam membersamai Hana.
Tiba-tiba tanpa mereka sadari seorang bodyguard lainnya yang tadi dibawa serta oleh Indah dan Inggrid masuk. Ia menenteng sebilah pisau dan mengarahkan pada tubuh Arini yang berada paling depan.
"Arini Awaaaassss!!!!! " Romi berteriak kencang. Arini menoleh.
Jleebbbb. Sebuah pisau tertancap sempurna. Bukan di tubuh Arini, melainkan ke tubuh Romi. Laki-laki ini dengan sigap ingin menggeser tubuh istrinya agar tidak terkena tikaman pisau. Namun sayang. Tak bisa di elak, pisau tersebut menancap menembus tubuhnya. Waktu seakan berhenti.
"Maaaaassssss... " Teriakan Arini memenuhi ruangan. Perlahan tubuh gagah lagi perkasa itu rubuh. Ia jatuh ke lantai. Haris tidak tinggal diam, ia menghajar bodyguard keji itu habis-habisan. Mereka terlibat baku hantam. Tubuh atletis Haris masih kurang bisa mengimbangi tubuh buntal sang bodyguard.
Wajahnya dipenuhi oleh luka memar. Haris hampir menyerah. Namun ia teringat ada Hana yang tak berdaya, Arini dan Romi yang tertikam dan harus ia lindungi. Haris membangun kembali kekuatan nya. Ia tampil bak raja hutan yang kelaparan.
Di saat bersamaan, rombongan polisi tiba.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
***
__ADS_1