Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 34: Temaram Cahaya


__ADS_3

Haris duduk termenung di salah satu pojokan rumah sakit. Sesekali ia melirik ke arah jam tangan nya. Pukul


23.00 wib. Malam merangkak semakin larut. Ia baru saja selesai mendonorkan darahnya untuk Arini. Pasca operasi gadis itu mengalami hypovolemia (salah satu penyebab tekanan darah menjadi rendah yang paling umum terjadi setelah operasi), padahal ia baru saja siuman dan tampak sehat. Semoga Arini baik-baik saja.


Sebenarnya Ia telah merencanakan untuk pulang jauh lebih awal karena Hana yang sendirian di rumah. Ia kepikiran


istri belianya, pasca perdebatan panjang tadi rasanya ia enggan mencari perkara lebih jauh pada gadis itu. Ah, apa benar ia merindukan Hana? Rasanya ia terus kepikiran untuk pulang dan ingin melihat bagaimana keadaan Hana sekarang. Apa Hana masih marah padanya. Namun Haris juga tidak mungkin meninggalkan Arini yang masih belum ia ketahui bagaimana perkembangan pasca transfusei darah. Beruntung golongan darah dan rhesus mereka sama. Jadi Arini langsung mendapat pertolongan.


“Mas Haris!” Sapa Hanum dari arah depan, Haris menoleh.


“Bagaimana keadaan Arini mas?”


“Arini lagi dalam proses pemulihan. Semoga semua berjalan lancar” Ucap Haris datar.


Mas Haris begitu perhatian pada Arini, ia bahkan rela menunggu sampai larut malam begini. Batin Hanum. Tidak


bisa dipungkiri, lagi-lagi Hanum merasa iri.


“Alhamdulillah kamu sudah sampai. Aku titip Arini ya! aku mau permisi pulang dulu” Haris minta izin berpamitan pada Hanum.


“Baru jam sebelas mas, kenapa kita tidak berbincang-bincang dulu. Bukankah Arini juga masih belum siuman”


“Maaf, istriku sendirian di rumah, kasihan ia menunggu. Insya Allah lain waktu kita berbincang ya” Ucap Haris


kemudian.


Kecewa. Kecewa. Dan kecewa, hanya itu yang dapat Hanum rasakan, entah kapan Haris mau sedikit saja menolehnya. Menyadari keberadaannya. Bahkan Hana yang tidak dicintainya saja masuk dalam daftar orang yang Haris prioritaskan. Hanum menatap kepergian Haris. ia terus menatap sampai punggungnya sampai bayangan laki-laki itu menghilang dibalik tembok. Ia kembali menyalakan cerutunya. Mengisap santai hingga mengepulkan asap. Sebenarnya area ini di larang untuk merokok. Namun ia tidak mempedulikannya. Toh juga tidak ada orang di sana.


Beberapa menit berlalu setelah Haris meminta izin untuk pamit, Lisa datang membawa sekeranjang buah-buahan segar. Ia menghampiri Hanum.

__ADS_1


“Arini bagaimana? Sudah baikan?”


“Aku masih menunggunya. Arini kecelakaan setelah menemui kamu kan?” tanya Hanum sinis


“Iya, namun aku juga tidak tau mengapa Arini kecelakaan”


“Aku tidak menuduhmu. Namun, jangan sampai kamu menyentuh Arini sedikit saja. Kalau kamu sampai berani menyentuhnya seujung kuku saja, kamu tidak akan pernah aku maafkan” Ancam Hanum.


“Haha, apa yang kamu katakan. Come on. Apa kamu lupa aku dan sahabat mu itu punya misi dan tujuan yang sama?”


“Bagus kalau begitu. Kamu tau dimana posisimu”


Lisa dan Hanum tampak masih berbincang-bincang, namun mereka tersentak ketika melihat Haris datang dan


kembali,


“Aku mengambil barangku yang tertinggal” Haris menatap ke arah Lisa. Ia berpikir sejenak. Bukankah gadis ini


“Apa ada lagi yang tertinggal mas?” Hanum bangkit dari duduknya.


“Tidak. Hanya Tas kecil ini. Aku permisi” Haris mengucapkan kata perpisahan dengan mata yang masih saja menatap ke arah Lisa.


***


Tengah malam. Haris tiba di rumah dengan suasana yang sepi. Sepertinya Hana sudah tidur. Lampu kamar sudah  dimatikan. Haris mengambil handuknya lalu bersih-bersih di kamar mandi. Setelah berpakaian ia berniat untuk langsung tidur, rasa Lelah dan kantuk yang luar biasa menyerangnya. Namun, ketika melewati kamar Hana, ia


mengurungkan niat untuk beristirahat. Ia berubah pikiran dan ingin melihat keadaan istrinya. Perlahan ia membuka pintu kamar. Tidak dikunci. Dalam temaram cahaya lampu, Haris dapat melihat Hana sudah bergelung di balik selimut.


Kain tebal tersebut menutup sebatas lehernya. Samar-samar Haris melihat Hana tidur tidak mengenakan kerudung. Ia berdesir melihat kecantikan Hana. Walau ia tidak dapat melihatnya dengan jelas, namun cahaya remang-remang itu cukup menggetarkan hatinya. Ia pun mendekati istrinya, perlahan disibakkan rambut acak terurai yang menutupi wajah gadis itu. Harum rambut yang terurai itu menyeruak menyegarkan penciuman. wajahnya mendekat. Menghirup dalam-dalam aroma yang keluar dari rambut Hana. Haris memperbaiki selimut yang sedikit berantakan dan keluar dari kamar tersebut setelah sebelumnya ia mengecup dan mengelus pelan kening Hana. 2 kali mengecupnya. Seakan ia masih ingin berlama-lama berada di sana. Ada perasaan bersalah hinggap dihatinya. Ada banyak hal yang sendiri juga sulit untuk mengartikannya.

__ADS_1


Hana menggeliat dalam tidurnya. Ia terbangun di sepertiga malam. Ia seperti merasakan mimpi indah. Dalam mimpi ia seperti merasakan Haris mendekapnya erat dan membisikkan kalimat-kalimat cinta. Astaghfirullah. Hana menggeleng. Mana mungkin suaminya melakukan itu. Ah, sejak didekap oleh suaminya kemarin, ia jadi sering berhalusinasi. Ia juga yakin bahwa ia juga belum mencintai Haris. Hati belum sepenuhnya pada pernikahan perjodohan ini.


Hana pun bangkit dan mengambil wudhu. Ia shalat tahajud 8 rakaat dan menutupnya dengan witir 3 rakaat. Setelahnya ia ingin kembali berbaring bershalawat dan berdzikir menunggu adzan shubuh tiba lantas keluar memasak menghidangkan sarapan pagi. Tapi, apa Haris sudah pulang ya? Pikirnya. Hana tidak jadi berbaring, ia pun keluar mengintip dari ruang tamu untuk memastikan mobil yang dikendarai oleh Haris telah terparkir di sana. Dan benar saja, mobil itu sudah bertengger rapi di carport halaman. Perasaan lega memenuhi hati gadis ini.


“Hana, kamu sedang apa?” Haris yang melihat Hana celingak celinguk di jendela pun menyapa dengan keheranan.


“Ah, ti.. tidak. Aku sedang memastikan apa subuh sudah menjelang” Hana menjawab gugup.


“Benarkah?” Haris berjalan mendekati Hana.


“Iya mas” Hana mengangguk.


“Kenapa kamu tidak melihat jam saja? Bukankah di sana  kamu akan lebih jelas melihat apa yang kamu maksudkan?” Haris semakin mendekati Hana. Hana kikuk dan tergugup.


“I, itu…”


“Itu apa? Apa kamu mengkhawatirkan aku dan mengira  suamimu belum kembali dari rumah sakit?” Haris bertanya to the point seperti mengerti betul apa yang sebenarnya Hana cari.


“Huft, kalau mas memang mau menginap kenapa pulang?” Hana mensedekapkan tangan dipinggangnya. Haris  berjalan selangkah demi seLangkah semakin mendekati Hana.


“Ma.. mas,..” Hana berjalan mundur namun ia sadar bahwa tubuhnya sudah sangat rapat ke jendela.


“Mas, mas mau melakukan apa?” Hana semakin gugup. Ia meraba bajunya dan melihat kesekeliling apa ada hal aneh, ulat misalnya yang hinggap di tubuhnya seperti waktu itu.


“Aku ingin memelukmu Hana” Haris merentangkan tangannya. Hana tercengang.


“Me… me… luk?”


“Iya Hana, apa suami harus meminta izin untuk memeluk istrinya sendiri?” Haris menatap Hana dengan tatapan sendu.

__ADS_1


***


__ADS_2