
Suara adzan subuh yang berasal dari masjid terdekat menggema merdu. Mengajak sesiapa saja untuk bangun
bersujud menghadap-Nya. Hana terbangun lalu mengusap matanya. Tak lupa ia membaca doa sebagai tanda syukur bahwa pagi ini ia masih bisa bernafas dan terbangun dalam keadaan yang lebih baik. Hana melirik ke sebelah, ia mendapati Haris yang masih terlelap. Kelihatannya beliau sangat kelelahan hingga tidak mendengar suara adzan yang memanggil.
“Mas, sudah subuh” Hana mengguncang pelan tubuh Haris. Haris bergeming. Ia membuka matanya perlahan.
Dengan posisi setengah duduk, ia langsung meraba kening Hana. Hangat.
“Tubuh kamu masih hangat, sebaiknya istirahat saja ya” Hana tercengang lalu mengangguk.
“Aku shalat ke masjid dulu”
"Baik mas" Ucap hanya yang lagi-lagi sambil mengangguk. Haris beranjak keluar dari kamar Hana menuju ke kamar mandi lalu bersiap berangkat ke masjid. Sebelum pergi Haris mewanti-wanti istrinya itu untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah atau memasak. Pagi ini sebelum ke kantor ia akan membeli nasi uduk. Nanti siang pada jam istirahat ia juga akan pulang.
Mas, jangan terlalu perhatian, tolong bersikap biasa saja. Lirih hati Hana menatap punggung Haris yang menghilang dibalik pintu.
***
Pukul 12.00 WIB. Waktu nya istirahat sejenak dari rutinitas perkantoran sebelum nanti harus masuk kembali pada pukul 14.30.
Kalau biasa nya Haris memilih untuk menetap di kantor sambil makan siang, maka kali ini ia memilih untuk pulang. Ia ingin melihat kondisi Hana sekarang. Ia masih mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Walau panas tubuh istrinya telah menurun, namun subuh tadi wajahnya masih tampak pucat.
Haris hendak menuju ke parkiran, namun tiba-tiba rekan kerja nya yang bernama Hanum memanggil.
“Mas, ada waktu sebentar? Saya ingin bicara”.
“Maaf Hanum, saya harus pulang siang ini, mungkin besok kita bisa berbincang” Haris melangkah namun Hanum
tetap mengejarnya, menyeimbangkan dengan gerak Langkah Haris.
“Mas, tolonglah sebentar saja” Pinta Hanum memelas.
__ADS_1
“Apa hal ini sangat mendesak? Tidak bisakah besok saja?” Haris bertanya tanpa menatap wajah Hanum. Ia akan
membuka gagang pintu mobilnya. Bukan tanpa mengapa Haris bersikap cuek kepada Hanum seperti ini. Namun ia sudah tau pasti bagaimana sifat dan tabiat rekan kerjanya ini.
“Mas, ini menyangkut masalah Arini” Hanum memakai jurus terakhirnya.
Kalimat terakhir yang lolos dari mulut Hanum berhasil membuat Haris berhenti. Sepersekian detik Ia pun menoleh ke arah wanita itu.
“Ada apa dengan Arini?” Haris menatap serius.
“Sebaiknya kita tidak bicara di parkiran begini, Mas! ”
***
Haris mengikuti Hanum menuju kantin. Mereka akan membahas tentang Arini. Suatu pembahasan yang menarik bagi Haris. Sejak pertemuan mereka di café waktu lalu, Haris dan Arini memang tidak saling memberi dan menerima kabar satu sama lain.
“Hanum, ada apa dengan Arini?” Haris langsung bertanya tanpa basa basi setibanya mereka di kantin kantor.
“Aku minum air mineral saja” Haris menatap sekilas pada Hanum.
“Sebenarnya, saya ingin mengabarkan ini pada mas, namun Arini melarang. Ia lagi sakit mas, kalau kemarin-kemarin aku bisa diam saja, tapi tidak dengan kali ini. Sakitnya Arini bertambah parah”
“Astaghfirullah. Benarkah? Arini sakit apa, Num??” Haris bertanya panik.
“Aku juga tidak tau mas, ia tidak nafsu makan dan minum, matanya cekung juga terlihat semakin kurus” Hanum berkata dengan nada penuh kekhawatiran.
Wajah Haris berubah sedih mendengar hal ini.
“Arini sudah mempersiapkan segala hal untuk kepindahannya ke Malaysia. Tiket pesawat pun telah dibelinya. Namun terpaksa harus ia undurkan karena sakitnya ini” Hanum melanjutkan perkataannya.
“Apa Arini dirawat di rumah sakit?”
__ADS_1
“Tidak mas, Arini dirawat dirumahnya. Dokter belum mengetahui sebab sakitnya Arini. Tapi diduga Arini mengalami
depresi. Mungkin hal ini ada sangkut pautnya dengan mas, maka saya terpaksa mengabarkan hal ini”
Piaasss. Wajah Haris memucat sempurna. Tanpa basa basi, Haris berpamitan untuk mengunjungi Arini setelah sebelumnya mengucapkan banyak terima kasih.
Hanum menatap sedih kepergian Haris. Laki-laki itu tidak pernah mau melihatnya. Seberapa besar sudah usaha nya untuk mendapatkan hati Haris, namun semua sia-sia. Haris tak pernah bergeming. Ia hanya tetap akan memandang Arini seorang. Terbukti, ketika sudah menikah pun Haris tetap peduli pada Arini. Sungguh, Hanum merasa sangat iri.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 siang, tidak ada tanda-tanda Haris akan pulang seperti yang Haris janjikan
subuh tadi. Hana melirik handphone nya berkali kali, siapa tau Haris meneleponnya atau sekedar memberi pesan singkat padanya.
Sedetik semenit sejam dua jam berlalu dari waktu istirahatnya Haris. Namun Hana tidak juga mendapatkan kabar apapun. Sedang setengah jam lagi Haris sudah harus kembali ke kantor. Hana jadi gelisah. Ingin rasanya ia menekan dial nomor telepon Haris untuk menelepon laki-laki itu.
Namun niat tersebut diurungkannya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk duluan bertanya. Mungkin Haris lupa akan janjinya atau jangan-jangan Haris ada pekerjaan mendesak sehingga tidak bisa mengabarinya.
Berbagai pertanyaan berkelabat memenuhi isi kepala Hana. Bukan mengapa, Hana sangat berharap Haris pulang dan mereka makan siang bersama.
Tidak Tidak, hmh… maksudnya sekarang Hana merasa sangat lapar, ia tidak masak nasi atau menyediakan makanan apapun sebab Haris sudah mewanti-wantinya untuk beristirahat saja. Hana sudah tidak sabar, ia pun terpaksa mengambil handphone nya dan memesan makanan di gojek.
Hana makan dengan tidak bersemangat. Ia hanya memandangi makanan yang sudah terhidang di meja. Raut wajahnya tampak kusut. Tidak bisa dipungkiri ia merasa kesal pada Haris yang melupakan janjinya untuk makan bersama. Tapi, tetap saja ia tidak boleh seegois ini sebelum mendapat kebenaran tentang apa yang terjadi.
Hana pun menetralisir perasaan kesalnya dengan mengucap ta’awudz dan beristighfar agar dijauhkan dari godaan syaithan yang terkutuk. Setan memang senang memancing dan menghembus-hembuskan emosi di jiwa manusia agar bisa memperturutkan hawa nafsunya.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.10 sore. Namun Haris belum pulang juga. Kali ini ia tidak bisa membiarkannya. Hana pun melayangkan sebuah pesan melalui wattsapp.
“Assalamu’alaikum mas, maaf mengganggu. Kenapa belum pulang? Apa ada masalah di kantor?” Hana mengirim pesan dengan bahasa yang sangat sopan. Centang satu. Pertanda Handphone Haris tidak aktif. Hana jadi khawatir, tidak sadar ia menggigit gigit kukunya yang tidak panjang itu.
Jam 17.20 Wib. Hana mencoba kembali menghubungi Haris melalui panggilan telepon. Nihil. Handphone Haris sama sekali tidak aktif. Hana pun masuk ke kamar, memakai gamis dan kerudung panjangnya lengkap dengan kaos kaki. Ia memutuskan untuk keluar rumah dan menunggu Haris di depan teras
__ADS_1
***