Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 96: Rinai Hujan


__ADS_3

๐ŸŽถ


Ucapkanlah kasih


Satu kata yang ku nantikan


Sebab ku tak mampu membaca matamu


Mendengar bisikmu


Nyanyikanlah kasih


Senandung kata hatimu


Sebab ku tak sanggup


Mengartikan getar ini


Sebab ku meragu pada dirimu


Mengapa berat Ungkapkan cinta


Padahal ia terasa Dalam rindu dendam


Hening malam Cinta terasa ada


๐ŸŽถ


***


Malam semakin beranjak naik. Hana baru saja selesai menunaikan ibadah shalat isya nya. Ia memutuskan untuk tidur lebih cepat, Ia naik ke kasur dan menghidupkan alarm, tak lupa ia mengintip pesan wattsapp. Tiada pesan yang berarti kecuali pesan yang berasal dari grup kampus yang singgah ke handphone nya silih berganti.


Kesal. Ia memutuskan untuk terlelap, ia menutup rapat kedua kelopak matanya. semenit dua menit sepuluh menit, ia gagal untuk tidur. Bosan. Ia pun beranjak ke jendela kamar, membuka daunnya. Kegiatan lama yang selalu ia lakukan. Mungkin dengan cara ini ia jadi bisa terlelap.


Perlahan Hana membuka dan mencoba menghirup udaranya. berharap semua kepenatan hilang bersamaan dengan hembusan angin.


"Hana.. Jangan buka lebar-lebar, nanti masuk angin" Ada suara halus yang mengingat kan di sana. Suaranya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar namun tampak familiar di telinganya.


"Aaa... " Hana ingin berteriak mengira ada makhluk halus malam-malam menghampiri kamarnya. Di luar sana begitu gelap, ia tidak berhasil menangkap sosok tersebut.


"Ssssssttttttt, jangan berteriak. Ini aku! " bisik orang itu lagi. Hana membuka matanya lebar-lebar lalu sosok Haris muncul dari bawah jendela dan hadir memenuhi penglihatan nya.


"Astaghfirullah" Hana terkejut, dengan cepat Ia mencoba menutup kembali jendelanya.


"Hana, hana.. sebentar! Awww " Tangan Haris yang sengaja ia tengger di jendela pun terjepit, hal ini menyebabkan Hana tidak bisa menutup pintunya. Haris mengaduh.


"Pulanglah!" Ucap Hana, sekilas ia melihat lengan Haris membiru. Sebenarnya ia tidak tega, namun ia mengeraskan hatinya. Ia pun membalikkan tubuhnya berlawanan arah, airmata nya kembali jatuh.


"Sayang, Aku merindukanmu" Ucap Haris lirih. Ia menatap intens ke punggung Hana yang membelakangi nya. Betapa ia merindukan sosok di hadapannya itu.


"Pulanglah mas! kalau tidak aku akan berteriak! " Ancam Hana.


"Hana, katakan apa salahku? Aku bisa memperbaikinya! Tapi, Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan untuk berbicara! Tolong jangan siksa aku begini, sungguh aku tidak bisa jauh darimu" Ucap Haris nelangsa.


Tok tok tok


"Hana, kamu baik-baik saja, Nak? " Terdengar suara Ummi yang mengetuk pintu dari luar kamar.


"Hana, bukalah pintunya, kamu bicara dengan siapa? " Tanya Ummi lagi.


Panik, Haris kembali bersembunyi. Hana menutup cepat jendelanya lalu menuju pintu kamar dan membukanya setelah sebelumnya ia menghapus air mata yang sempat mengalir.


"Hana bicara dengan angin malam Mi, Hana membuka pintu jendela sebentar, Ha... Hana tidak bisa tidur" Sahut Hana gugup. Ummi mengkerut kan kening memandang ke arah jendela.

__ADS_1


Haris sendiri masih menunggu di sebalik jendela. Tubuhnya di gerogoti nyamuk yang berseliweran di sana. Sekarang, Ia hanya memakai baju kaos putih berlengan pendek. Tadi ia buru-buru, jadi jaketnya tertinggal di mobil. Agar tidak ketahuan oleh penghuni rumah, Ia pun memarkirkan mobil agak jauh dari kediaman haji Amir.


Huft, nyamuk oh nyamuk pergilah. Ucap Haris pelan dengan nada bernyanyi. Ia menggerutu kesal. Berulang kali ia memukul nyamuk yang hinggap di tubuh nya.


Awas kalian semua! Kalau Aku dan Hana berbaikan nanti, akan ku fogging kalian semua dengan racun super! Kesal Haris mengancam. Rasanya sudah tidak tertahankan lagi, Bisa bisa ia menyerah sebelum bertemu Hana.


"Hana, Kamu tidak bisa tidur ya Nak? " Ummi bertanya dengan mengelus elus pundak putrinya. Hana mengangguk cepat. Matanya tidak lepas dari jendela, sebentar bentar ia menolehkan pandangan ke sana.


"Kalau begitu Ummi akan menemani mu tidur" Ucap Ummi cemas.


"Tidak apa-apa Mi, lambat laun Hana juga pasti tertidur, Ummi istirahat saja di kamar menemani Abah. Ummi juga pasti lelah memimpin pengajian ibu-ibu, jangan bergadang. Jaga kesehatan Ummi" Ucap Hana perhatian.


"Baiklah, kamu juga jaga kesehatan ya nak, tidurlah. Jangan lagi membuka jendela, nanti kamu masuk angin!" Ummi memberi peringatan. Hana mengangguk. Ummi pun beranjak keluar kamar setelah sebelumnya mengecup kening Hana terlebih dahulu.


Perlahan Hana mendekat ke jendela. Ah pasti mas Haris sudah pergi. Baguslah. Batinnya. Ia mengurungkan niatnya ke sana dan hendak berbalik arah. Hatinya masih sangat marah kepada orang yang masih berstatus sebagai suaminya itu.


Eh, Tapi... Hmh... Apa mas Haris benar-benar sudah pulang? Hana teringat akan lengan Haris yang tadi terjepit. Ia jadi tidak tega. Baiklah, kali ini ia akan menggunakan alasan kemanusiaan. Jika Haris masih berada di sana, maka ia akan menyuruh nya pulang. Tekad Hana.


"Mas... " Panggil Hana. Tidak ada jawaban.


"Mas... " Panggilnya lagi, dan lagi lagi tidak ada yang menjawab.


Apa mas Haris sudah pulang ya? Tidak di pungkiri, Ada perasaan kecewa yang menyelinap halus di hatinya.


Katanya rindu, katanya aku tidak bisa jauh dari mu. Huh, dasar!!! Hana ngedumel mempraktikkan perkataan Haris tadi.


"Mas... " kembali ia memanggil, kali ini dengan benar-benar membuka jendela.


Wuuuusssss


Angin kencang menyapanya. Di luar gerimis sudah berinai pelan.


"Mas... Mass... " Panggil Hana lagi.


"Hhhhhhhh" Hana mendesah panjang. Ia hampir saja menutup pintu jendelanya, sampai tiba-tiba,


"Ma... Mass? " Hana terkejut. Haris masih di sana dengan wajah kusut dan menggigil. Kulit putihnya di penuhi bentol bentol merah akibat gigitan nyamuk. Tidak, bukan hanya gigitan nyamuk, bentolan tersebut tampak mengerikan, dan bertumpuk-tumpuk. Apa mungkin Haris terkena serangan ulat bulu?


"Mas, kenapa masih di situ? pulanglah! " Titah Hana. Ia kembali ingin menutup jendelanya.


"Tunggu" Ucap Haris dengan kembali menahan daun jendela dengan menggunakan lengan yang membiru tadi.


"Awwww... " Haris kembali meringis. Hana menggigit bibir bawahnya ngilu.


"Mas, pulanglah!!! " Hana meninggikan suaranya dengan berbisik.


"Aku tidak akan pulang sebelum kamu memaafkanku! " Ucap Haris tegas.


"Urus saja wanitamu! Jangan pedulikan aku!!" Ucap Hana marah.


"Wanita yang mana?? Kamulah wanita ku, kamu istriku! Kamu lupa?! "


"Aku ingin kita berpisah. Aku tidak ingin meneruskan pernikahan ini lagi! Jadi pulang lah, Mas! Aku tidak ingin bertemu mas lagi!! " Sahut Hana lantang.


"Astaghfirullah, istighfar Hana! Kamu jangan bercanda! Apa kamu sudah gila? sampai kapanpun aku tidak ingin kita berpisah!!! " Tegas Haris. Air mata Hana kembali mengalir, jujur saja ia tidak sanggup jika harus terus menerus tersakiti.


"Uruslah wanita dan calon anakmu mas!!Mereka lebih berhak mendapat perhatian mu daripada aku!!! " Hana berang. Sekarang Haris mengerti duduk persoalannya, istrinya ternyata salah paham.


"Sayang, bukalah jeruji besi jendelanya. Aku akan masuk dan menjelaskan semuanya" Pinta Haris. Pemuda ini semakin menggigil, bibirnya membiru, gerimis yang tadi turun telah berubah menjadi hujan lebat.


Memang kamar Hana memiliki atas canopi, namun percikan air hujan tetap mengenai tubuh Haris. Apalagi ia hanya memakai selembar baju kaos tipis. Haris juga lupa mengisi lambung nya dengan makanan sejak siang tadi.


"Pulanglah mas! Aku mau tidur. Nanti mas sakit! Ucap Hana lagi dengan memejamkan mata. Kali ini Hana benar-benar menutup jendelanya.

__ADS_1


" Aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu! " Ucap Haris ketika jendela nyaris tertutup rapat. Ia merasa frustasi.


Hana tidak ingin mempercayai Haris. Ia tetap saja melanjutkan niatnya menutup jendela. Sampai akhirnya terdengar suara seperti benda ambruk.


Bruuukkkkk


Haris pingsan~


***


"Dok, Bagaimana keadaan Arini? Anak saya masih bisa di selamatkan kan dok??" Tanya bu Indah panik.


"Maaf, Kemungkinan nya sangat kecil bu! Sekarang nona Arini koma" Sahut dokter mengatakan apa adanya.


"Lalu bagaimana anak yang di kandungnya dok?!!" Tanya Romi tak kalah panik.


"Maaf, Kami tidak bisa menyelamatkan nya, Pak! " Sahut dokter dengan nada menyesal.


Bulir air sukses mengalir melewati sudut mata Romi mendengar perkataan dokter, itu artinya Ia sudah kehilangan darah dagingnya. Dan sekarang bisa bisa ia juga kehilangan Arini.


"Dok, dok! tolong selamatkan Arini! Saya mohon!! " Pinta Romi mengiba. Bu Indah rasanya sudah tidak mampu menapak lagi.


"Saya akan mengerahkan kemampuan terbaik saya dan megusahakan semampu saya pak! "


"Tolong lah dok, saya mohooon, Saya tidak ingin kehilangan Arini!! " Romi kembali mengiba. Dokter mengangguk.


Sayang sekali Romi telat mengetahui bahwa Arini mengandung anaknya. Itu juga karena pertemuan tidak di sengaja nya antara Ia, Haris dan Ridwan tadi ketika shalat di mesjid Syuhada.


Tadi, Ia dan Ridwan sempat memghardik Haris yang tidak mempedulikan Hana. Yang membiarkan Hana menangis sendirian di jalanan, padahal saat itu Haris juga sedang berusaha menyelamatkan Arini dan bayi nya. Padahal saat itu malah ia yang lalai dari memperhatikan Arini.


Semua serba mendadak, complicated dan miss understanding. Mirisnya, ketika ia telah mengetahui semuanya, sang anak telah tiada.


Hujan deras yang bertalu talu dan berlomba-lomba menyapa bumi di luar sana seakan menjelaskan perasaan nya saat ini.


๐ŸŽถ


Ucapkanlah kasih


Satu kata yang ku nantikan


Sebab ku tak mampu membaca matamu


Mendengar bisikmu


Nyanyikanlah kasih


Senandung kata hatimu


Sebab ku tak sanggup


Mengartikan getar ini


Sebab ku meragu pada dirimu


Mengapa berat Ungkapkan cinta


Padahal ia terasa Dalam rindu dendam


Hening malam Cinta terasa ada


๐ŸŽถ


***

__ADS_1


Yuk dukung Karya Alana terus dengan cara Like Komen Vote dan Hadiahnya, Terima kasih ๐Ÿ’•. Jazakumullah Khairal Jaza'


***


__ADS_2