
Aktifitas di rumah sakit berjalan seperti biasanya, orang-orang yang memadati Lorong-lorong tiada henti berlalu
Lalang, padahal masih begitu pagi, matahari terik belum menyapa. Udara juga masih harum dengan kelembapan embun yang telah menghiasi alam. Hmh, Pagi yang terasa damai. Sedamai senyuman Arini yang merekah kala menyantap sarapan paginya. Ia begitu optimis dan bergairah, semangatnya muncul. Bagaimana tidak, pujaan hati akan menjenguknya pagi ini. Setidaknya, begitulah isi pesan yang semalam ia baca.
“Nak, pelan-pelan makannya. Nanti tersedak, lho!” Bu Indah mengingatkannya. Arini tidak bergeming, ia masih sibuk dengan sarapannya.
“Bagaimana perasaan kamu sekarang nak? Apa yang kamu rasakan? Apa masih pusing atau ada bagian yang masih sakit?” Bu Indah lanjut bertanya.
“Pasca operasi tubuh Arini memang tidak nyaman, Mi. Tapi tidak masalah. Sekarang Arini sudah merasa jauh lebih
baik, apalagi…” Arini menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa gemas sendiri.
“Apalagi apa nak?”
“Apalagi katanya mas Gibran mau ke sini, Mi” Arini berkata sambil tersenyum lebar.
“Du du du, yang lagi kesengsem sendiri nih” Bu Indah menggoda anaknya.
“Ehehe,. Oya, Ummi bantu Arini berdandan ya! Arini tidak ingin tampak kusam di depan mas Haris. Apalagi mas
Haris sudah mendonorkan darahnya, jadi Arini harus terlihat segar dan menarik” Arini berbicara dengan mata berbinar. Ia sangat merindukan Haris. Ia tidak bisa menutupi rasa bahagia nya setelah sekian lama tidak berjumpa dengan orang yang telah ia anggap sebagai kekasih hatinya.
“Tanpa berdandan kamu sudah kelihatan cantik, Nak! Tapi kamu tenang, Ummi akan membantumu agar kelihatan
lebih memukau, sehingga Haris tidak akan berpaling darimu” Arini mengangguk setuju mendengar perkataan ibunya.
***
Suasana di mesjid juga terasa damai. Pagi cerah yang menghangatkan, apalagi jika para insan telah mengisinya
dengan shalat dhuha yang menambah semangat dan gairah pada jiwa-jiwa yang tenang.
Tampak Haris dan Gibran yang masih mengobrol di parkiran, Gibran kelihatannya sudah akan mengakhiri
percakapan mereka sebelum Haris mencegahnya terlebih dahulu,
“Tunggu sebentar” Haris sedikit memegang ujung lengan baju panjang Gibran.
“Iya, ada apa?”
__ADS_1
“Itu istri saya, mari saya kenalkan sebentar” Seorang gadis keluar dari arah tempat wudhu’ wanita.
Gibran menoleh ke arah gadis yang di tunjuk Haris. dari kejauhan tampak seperti tidak asing. Ia serasa pernah
melihatnya. Sekian detik, gadis yang ditunjuk Haris kian mendekat ke arah mereka. Semakin lama semakin jelas. Gibran sedikit terkejut.
“Ha.. Na!” Panggilnya. Hana melihat laki-laki yang sangat tidak asing lagi dimatanya juga tidak kalah
terkejut.
“Lho, Mas Gibran???”
“Oh Kalian sudah saling mengenalkah?” Tanya Haris dengan tanpa ekspresi.
“Mas, Perkenalkan! ini mas Gibran kakak dari sahabatku Yura” Hana mencoba menormalkan sikapnya di hadapan Haris, namun kecanggungan tetap terasa. Gibran speechless. Ia tidak memberikan komentar apa-apa. Hanya bisa menatap sendu gadis yang berada hadapan yang hampir saja menjadi istrinya.
“Oh iya kah? Tadi kami berkenalan namun aku tidak menyangka ternyata Gibran ini adalah kakaknya Yura. Gibran,
inilah istri saya. Saya akan memperkenalkannya padamu namun ternyata kalian sudah saling mengenal” Haris menarik tangan Hana dan menggenggamnya sehingga makin mengikis jarak di antara mereka. Gibran melihatnya hanya bisa tersenyum kecut.
“Oya, 2 hari lagi aku akan berangkat ke Maroko, semoga di sela waktu 2 hari ini kita bisa bertemu, Hana. Ada
hal penting yang ingin aku bicarakan. Nanti akan kembali ku hubungi. Kalau begitu aku permisi dulu.” Gibran pamit namun matanya tetap tidak beranjak dari menatap Hana. Tatapan yang belum pernah ia berikan pada siapapun. Haris sangat tidak suka melihatnya. Melihat gelagat Gibran, tampaknya pemuda itu masih sangat serius terhadap istrinya.
***
Mobil yang dikendarai Haris dan Hana terus melaju membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi. Hana jadi agak
terhuyung-huyung dibuatnya.
“Mas, Kenapa mas membawa mobil ugal-ugalan seperti ini? Tidak seperti biasanya. Tolong turunkan kecepatannya mas!” Ucap Hana ketakutan dengan cara menyetir Haris, namun pemuda itu tidak bergeming. Ia tetap saja dengan caranya membawa mobil.
Tiiit… tiiiiiitt.. tiiiiiiiiittt
Haris berkali-kali mengklakson apa saja hal-hal yang mengganggu jalur laju mobilnya. Apa saja yang menganggu jalannya, tak lepas dari klakson mobil yang di tekan nya berkali-kali. Suasana hatinya benar-benar
sangat buruk sekarang. Ia berubah menjadi egois terhadap pengguna jalan.
“Mas, istighfar, mas!! Kita bisa celaka!” Hana pun berkali-kali mengingatkan suaminya. Namun, tetap saja Haris tidak menghiraukan perkataan istrinya. Hana benar-benar kehabisan ide mengingatkan suaminya. Laki-laki itu hanya diam, diam, dan diam sampai pada akhirnya mobil mereka memasuki halaman rumah. Hana berkali-kali mengucap syukur. Ia tidak dapat membayangkan, bagaimana jika mobil mereka tadi bisa sampai celaka. Na’udzubillah. Semoga Allah menjauhkan dari segala marabahaya.
__ADS_1
“Mas, mas, tunggu!” Hana memanggil Haris yang terus berlalu tanpa sedikitpun melihat kearahnya. Jelas tidak
mempedulikannya. Haris sangat berbeda dari biasa. Biasanya ia akan membukakan Hana pintu, atau paling tidak sebelum turun laki-laki itu akan mengucapkan sepatah dua patah kata padanya. Apa suaminya sedang marah. Ah, Hana masih saja tidak dapat menebak isi pikiran suaminya itu.
“Mas, mas marah padaku?” Di ruang tamu Hana mencegat tangan Haris. Haris menoleh. Menatap tajam kearahnya.
“Bagaimana? Senang bertemu dengan kekasih hati?” Sindir Haris.
“Ha? Bagaimana maksud, mas?” Hana terperanjat mendengar kalimat sarkas Haris.
“Sudahlah aku sudah tau kalau Gibran itu kekasihmu” Haris kembali menatap Hana dengan tatapan yang sulit dimengerti.
“Mas marah karena masalah ini? Kenapa mas tidak bertanya dulu sebelum marah-marah begini, mas? Tindakan mas yang seperti tadi tidak hanya mencelakakan kita namun juga dapat mencelakakan pengguna jalan lainnya” Hana tidak habis pikir dengan pola pikir Haris. Siapa yang lebih dewasa sekarang.
“Kamu berkata aku marah karena masalah “ini”?? sepele sekali masalah ini bagimu, Hana!” Hana tidak mampu
berkata-kata.
“Apa kamu tadi tidak melihat bagaimana cara Gibran menatapmu?? Sedang kamu telah memiliki suami. Dan mirisnya lagi suamimu berada dihadapannya, Ia sama sekali tidak memperhitungkan keberadaanku di sana!” Suara Haris meninggi.
“Ia juga dengan santainya mengajakmu bertemu. Iya. Bertemu tanpa menanyakan izinku terlebih dahulu. Apa itu
tidak keterlaluan??” Haris masih saja berkata dengan kalimat-kalimat panjangnya.
“Hhhhhhhh” Hana mendesah panjang. Ia tidak tau bagaimana cara menenangkan orang yang sedang diliputi emosi tinggi.
“Katakan kalau kamu memang senang bertemu dengannya. Kamu senang kan diajak bertemu berduaan dengan laki-laki itu. Ayo katakan!”
“Mas!”
“Apa?? Kamu tidak bisa menjawab kan? Kamu memang bahagia dan berharap dapat kembali kepelukan pemuda itu kan!!?” Haris menuduh Hana bertubi-tubi. Hana sudah tidak tahan mendengar tuduhan Haris,
“Kalau memang iya, lantas mas mau apa??” Tantang Hana.
Tanpa basa basi Haris pun menempel paksa bibir nya pada bibir Hana. Gadis itu terkesiap. Ia tidak siap dengan
serangan mendadak dari Haris. Ia membolakan matanya penuh dengan tak berkedip sedikitpun.
***
__ADS_1
(Naaah kan, malah jadi Haris ni yang emosi, wkwkwk)
Hai Readers, jangan lupa berikan dukungannya dengan Like, Komen, Vote atau berikan Hadiah ya! Terima Kasih. Love You^^