
Haris terduduk. Energi nya terkuras membabat habis argument Lisa. Ia membuat wanita itu tak berkutik dan mengakui semua perbuatannya. Tak Lupa, Haris merekam semua pembicaraan mereka tadi. Semua files dan dokumen telah diserahkan pada Roni termasuk rekaman terbaru tentang penjebakan dan penyalahgunaan obat-obatan.
Haris nyaris mati tercekik merasakan efek dari obat tanpa takaran yang Lisa masukkan ke dalam minumannya. Walau Haris memiliki obat penetral, tetap saja sisa-sisa efeknya masih terasa. Ia telah menduga Lisa akan bertindak sejauh itu.
Haris masih bisa mengingat beberapa waktu lalu wanita itu mampu membuat hajjah Aisyah merekomendasikan dirinya untuk menjadi calon madu Hana. Apalagi jika mereka berada bersama di New York. Sudah pasti Lisa akan merencanakan sesuatu. Maka Haris langsung mengkoordinir para asistennya untuk memantau pergerakan Lisa.
Menyusun strategi penjebakan dengan rapi dan apik.
Dan semua dugaan Haris memang terbukti hari ini. Huft. Sungguh wanita licik yang tidak memiliki perasaan. Seseorang yang dengan tega mampu mengkhianati sahabatnya sendiri. Haris kembali mengepalkan tangannya. Lalu setelah itu ia beristighfar dan memohon ampun pada Allah. Namun tak lupa, Haris juga sangat bersyukur atas perlindungan yang telah Allah berikan.
Untuk sementara, Lisa di kawal oleh beberapa pengawal khusus. Calon CEO ini juga sudah memerintahkan Roni memesankan tiket agar wanita itu dipulangkan ke Indonesia lalu dijebloskan ke penjara.
Tak lupa, Haris juga memerintahkan sekretarisnya untuk mengirimkan surat ke kediaman Haji Zakaria perihal penangkapan Lisa. Semua sudah Haris pikirkan dan koordinir dengan baik disela-sela kesibukannya yang benar-benar padat.
Subuh masih kurang dari tiga jam lagi. Haris sudah mencoba memejamkan matanya namun gagal. Ia begitu merindukan Hana. Ia sangat merindukan istrinya saat ini. Ingin rasanya memeluk wanita yang sudah diperistri selama lebih darisetahun itu. Mengalirkan perasaan lega juga perasaan cinta yang semakin hari semakin terpupuk. Namun sayang, ia masih lama berada di New York. Minggu depan juga sudah harus ke Las Vegas.
Haris mengambil gawainya.
“Assalamu’alaikum mas!” Sahut Hana.
“Suara kendaraan. Kamu lagi dimana?” Haris mengerutkan keningnya.
“Di jalan. Ini lagi di mobil sudah mau sampai ke rumah Abah Haji”
“Di jalan? Bersama siapa? Kok ga minta ijin?” Haris masih mengerutkan keningnya.
“Bersama Yura. Aku sudah minta ijin kok. Sudah ku Wattsapp kalau aku keluar bersama Yura. Mungkin mas ga baca”
“Baiklah. Aku tunggu. Aku mau videocall. Kalau Sudah sampai di kamar, segera hubungi aku ya sayang!” Titah Haris mematikan handphone-nya.
“Mas Haris ya?” Tanya Yura tersenyum.
“Hehe Iya”
“Mas Haris pasti bahagia banget kalau tau kamu hamil” Ucap Yura. Hana mengangguk. Ia kembali berkaca-kaca. Syukur dengan hamdalah dari tadi tidak putus membasahi bibirnya sampai mobil yang dibawa oleh Yura terparkir sempurna di depan kediaman haji Zakaria.
Hana turun setelah sebelumnya mengucapkan rasa terima kasih kepada sahabat setia nya itu. Tak lupa Hana mewanti-wanti Yura agar tidak dulu memberitahukan kepada siapapun tentang kehamilannya. Selain Yura, Hana ingin orang pertama yang mengetahui berita ini adalah suaminya.
Hana berjalan masuk ke kamarnya melewati aula tengah. Di sana sudah terlihat hajjah Aisyah yang tengah menikmati teh hangat ditemani oleh dua orang khadimah yang dengan telaten memijat kedua sisi lengan beliau.
“Assalamu’alaikum Ummi” Sapa Hana.
“Wa’alaikumsalam! Sri dan Minah, kalian masuk dulu ke dalam ya. Ummi mau berbicara dengan nak Hana!” Ucap hajjah Aisyah. Kedua khadimah itu pun berlalu dengan jalan menunduk.
“Darimana saja kamu nak? Kok perginya pamitan sama Abah bukan sama Ummi?”
“Maaf Mi, tadi itu Abah terlihat di aula tengah ini. Abah menyapa Hana, jadi nya Hana langsung meminta ijin abah. Hana pergi ke taman bersama Yura” Sahut Hana. Ia tidak berbohong. Setelah dari rumah sakit ia memang meminta Yura untuk singgah sebentar di taman.
“Kamu tidak bertemu dengan laki-laki itu kan?” Hajjah Aisyah memicingkan matanya.
“Laki-laki?” Hanya terhenyak.
__ADS_1
“Itu, kakaknya Yura. Kekasihmu sebelum kamu dinikahi oleh nak Haris! Lain kali kalau suami tidak di rumah ya jangan kelayapan. Apa kata orang kalau istri Gus ga bisa jaga diri. Apalagi sekarang itu kamu tinggal di lingkungan pesantren. Ya tolong marwah dan wibawa Haris dijaga!” Ucap Hajjah Aisyah menohok. Hana terpaku.
Wanita ini kesulitan menelan ludahnya. Hampir saja tas ransel berisi hasil pemeriksaan USG dan sebagainya terjatuh dari bahunya. Darimana hajjah Aisyah mengetahui perihal Gibran lalu dengan gamblang mengungkit masa lalu nya juga menampar dengan kata-kata.
“Hmh Ha.. na ke taman hanya berdua Yura saja mi. Hana permisi ke kamar dulu!” Sahut Hana langsung bergegas melewati hajjah Aisyah. Ia menahan airmatanya agar tidak mengalir.
Menantu jaman sekarang. Kok ndak ada sopan santunnya sama orang tua. Gumam Hajjah Aisyah menggeleng-gelengkan kepala sambil memperbaiki letak kacamatanya. Beliau mengamati punggung Hana yang berlalu begitu saja melewatinya.
Sesampainya di kamar, Hana menangis tersedu. Kali ini ia benar-benar tersinggung dengan kalimat-kalimat yang hajjah Aisyah lontarkan. Entah mengapa akhir-akhir ini perasaannya menjadi begitu sensitif. Ia gampang sekali menangis walau hanya dengan hal sepele.
Apalagi mendengar perkataan mertua angkat yang begitu memojokkannya. Tangis Hana meledak. Air matanya keluar berhamburan. Ia sesugukan. Haris berkali-kali memanggilnya melalui telepon. Hana kelupaan. Dengan bergegas ia menghapus airmata yang sudah terlanjur membuat wajahnya sembab.
“Mas…” Sahut Hana.
“Kamu menangis?!” Tanya Haris terkejut. Hana menggeleng.
“Apa yang membuatmu menangis? Siapa yang menyakitimu? Katakan padaku!” Titah Haris. Hana tetap menggeleng. Ia diam sebab belum menemukan alasan yang tepat untuk menjawab sebab mengapa ia menangis.
“Apa Ummi menyakitimu hm?” Lirih Haris bertanya. Tepat sasaran. Hana terhenyak,
“Jika Ummi merong-rong mu agar membujukku untuk menikah lagi, katakan pada beliau kalau itu tidak akan terjadi!!” Ketus Haris.
“Hmh… Kalau Ummi menyinggung perihal anak….”
Deg.
“Kamu jangan takut. Suruh Ummi menunggu. Kamu jangan khawatir dan cemas ya sayang…..”
“Kamu kok nangisnya malah makin kencang?” Bingung. Haris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“A.. Aku terharu mas! Makasih ya… Aku merindukan mas... Rindu sekali... Hiks hiks” Sahut Hana mengusap air matanya. Haris berpikir sejenak. Ia berpikir kilat.
“Kalau begitu Aku akan pesankan tiket untukmu. Kamu harus menemaniku ke Las Vegas minggu depan. Kita akan
membuat Visa kilat. Masa-masa penat lagi menyibukkan sebentar lagi akan berakhir di New York” Ucap Haris berbinar. Ia menemukan ide mendadak.
“Woaaaa… Aku mauuu mas! Aku mauuu!” Seru Hana girang seperti anak kecil yang akan diberikan mainan.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan menghubungi asistenku untuk mengurus semua keperluanmu! Aku sudah
tidak sabar untuk mendekapmu” Ucap Haris sumringah.
“Hmh… Tidak. Aku di sini saja menunggu kepulangan mas dari Amerika” Lirih Hana berubah pikiran. Ia tengah hamil muda. Mana mungkin berpergian jauh. Akan sangat riskan. Apalagi dokter cut Meutia juga berulang kali memperingatinya untuk banyak beristirahat. Ia tidak ingin kehilangan anak untuk yang kedua kalinya.
“Mengapa begitu?” Raut wajah Haris berubah. Kecewa.
“Hmh kuliahku lagi padat. Sudah banyak sekali aku ketinggalan mata kuliah mas. Nanti istri mas ga lulus-lulus jadi sarjana” Ucap Hana memberi alasan.
“Apa kuliahmu lebih penting dari bertemu denganku hm?”
“Bukan begitu mas…” Hana kehabisan kata-kata
__ADS_1
“Aku ingin sekali bertemu mas! Sangat ingin. Sungguh. Tapi ya situasinya belum memungkinkan. Hmh Lagian kita jangan cari masalah. Jelas-jelas peraturannya aku ga diijinkan ikut mas ke kesana. Nanti takutnya malah jadi runyam” Terang Hana.
“Hhhhh Ya sudah kalau menurutmu begitu. Oh iya, dalam beberapa hari nanti ada kejutan yang mungkin akan menggemparkan. Kamu harus bersiap-siap mendengarnya”
“Kejutan apa mas? Untukku? Dari mas?”
“Kamu mungkin akan terkejut! Aku mengirimkan sesuatu dari Amerika!”
“Mas tidak sedang memikirkan akan memberikanku jet pribadi atau mengangkat patung Liberty untuk dipindahkan ke kediaman kita kan?” Seloroh Hana. Wanita cantik ini sama sekali tidak terpikir bahwa ia akan benar-benar terkejut akan kabar yang Haris kirimkan yang tidak lama lagi sampai ke kediaman haji Zakaria.
“Hahahaha. How could it be…” Haris tertawa lebar menunjukkan deretan gigi rapinya. Hana tersenyum.
“Di sana lagi musim gugur ya?”
“Benar”
“Berarti cuacanya sudah mulai dingin. Mas jaga kesehatan ya. Perbanyak minum air putih. Konsumsi madu, juga buah-buahannya. Biar terus fit. Karena aku juga punya kejutan untuk mas!”
“Kejutan? Ah. Aku tetap tidak akan fit jika terus menerus di sini” Haris manyun.
“Ha? Kenapa?”
“Berjauhan denganmu mana mungkin membuatku merasa fit. Taukah kamu, sudah berapa banyak malam-malam yang ku habiskan untuk mengeluarkan energi panas dari tubuhku dengan cara berolahraga!” Keluh Haris.
“Berolahraga? Kenapa harus malam-malam? Lagian mas sudah Lelah bekerja seharian” Bingung. Hana mengerutkan keningnya.
“Huft. Aku harus mengontrol gemuruh jiwa muda ku yang terkadang datang secara tiba-tiba tanpa aku inginkan. Tau kah kamu? Betapa sulitnya untukku meredam semua rasa itu? Lama-lama berjauhan dengan mu bisa membuatku punah!”
“Pppffff ppppffffffff” Hana tersenyum tertahan.
“Yaak yaakk… Senyummu menyebalkan. Aku serius!” Protes Haris.
“Hahaha. Maaf, habisnya mas lucu. Aku gemas” Hana tidak bisa menahan tawanya.
“Huft. Benar-benar menyebalkan. Lagian itu peraturannya aneh bin Ajaib. Bisa-bisanya suami istri dipisahkan dalam waktu lama. Mana 2 bulan! Ch ch ch…” Cerca Haris yang masih terus mengeluhkan kondisinya dengan menggelengkan kepala.
“Memangnya benar-benar sesulit itu?” Tanya Hana mencoba serius. Haris menggangguk cepat. Iseng, Hana memainkan kancing baju kemeja dan perlahan mulai melepaskannya satu persatu sampai kulit nya sedikit terlihat. Haris kesulitan menelan ludahnya.
“Sayaaaang… Di sini sudah hampir subuh! Please… Kamu jangan menggodaku!” Pinta Haris mendamba.
“Hihihihi” Hana cekikikan.
“Sekarang Kamu mulai pintar mengerjaiku ya! Awas saja kalau kita bertemu nanti! Aku tidak akan melepaskanmu!” Ucap Haris gemas.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
***
__ADS_1