
Mobil Haris dan Ridwan melaju beriringan membelah pekatnya malam. Kesunyian menyertai mereka, , hanya lampu jalanan yang berjejer rapi masih setia menemani juga satu dua kendaraan yang masih terlihat melintasi jalan
raya, Haris mengarahkan mobilnya ke rumah sakit tempat Hana dirawat, Ridwan masih terus mengikutinya dari belakang.
Dua pemuda itu mengendarai kendaraan pribadi mereka dengan kecepatan penuh dan hati yang diliputi kecemasan. Haris terutama. Andai berandai itu diperbolehkan maka ingin rasanya ia memiliki sayap, dan jika hal itu terjadi, sudah dipastikan ia akan terbang melibihi kecepatan speedometer mobilnya dan sampai di hadapan Hana sekarang.
Haris beristighfar, sudah saatnya ia memperbanyak membaca doa dari pada mengeluh, mengeluh hanya akan memperkeruh suasana hatinya. Sebab apabila seorang muslim berdoa kepada Allah, niscaya hanya Allah yang Maha Mampu untuk mendatangkan manfaat dan kebaikan baginya, dan Allah jua yang Maha Kuasa dalam mencegah dan menghilangkan keburukan apapun darinya, seperti kesedihan, kegelisahan, kesulitan, bencana dan musibah.
Hal ini seperti dalam firman Allah Subhana wa Ta’ala,
أَمَّ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Artinya:“atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikit-lah kamu mengingati (Nya).” (QS. an-Naml, ayat 62).
Disepanjang sisa perjalanan Haris juga tak lupa memperbanyak dzikir untuk lebih menenangkan pikiran dan kepenatan hatinya,
Subhanallah
Walhamdulillah
Laa ilaa ha illallah
Allahu Akbar
***
Di Rumah Sakit
Di Kamar Melati, tampak Hana terbaring lemah. Ia belum juga siuman, dokter mengatakan bahwa fisik dan psikis nya sedikit terguncang akibat pengaruh zat asing yang masuk ke tubuh, yaitu alkohol dan terutama obat bius yang sudah melebihi dosis.
Di rumah sakit, Hana ditemani oleh Ridwan dan Yura, sahabatnya itu langsung menyusul ke rumah sakit begitu sang kakak mengabari bagaimana kondisi Hana. Sesampainya di ruang tempat Hana dirawat, Yura tak bisa menahan air mata yang mengalir, tersedu sedan ia menangis di sepanjang Hana diperiksa oleh dokter. Mata indahnya berubah menjadi sembab dan bengkak.
Ketika akan membawa Hana ke rumah sakit, Gibran dengan sigap langsung menghubungi Yura agar ada yang menemani dan menggantikan pakaian Hana, tidak etis juga rasanya ia yang bukan muhrim mendampingi Hana sendirian. Kalau untuk menghubungi suaminya, Hmh… Gibran merasa sangat enggan, bagaimana tidak?
Bisa-bisanya laki-laki yang notabene nya sebagai suami tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Bisa-bisanya Haris membiarkan Hana diculik sedemikian rupa, di mana rasa tanggung jawab pemuda itu? Terserah apakah ini musibah diluar kendali nya atau memang murni atas sebab kelalaiannya, Gibran tetap merasa hal seperti tidak bisa ditorerir.
__ADS_1
“Hana, kenapa bisa jadi seperti ini?” Yura bertanya dengan surau parau dan memandang dengan penuh kasih, ia menggenggam tangan Hana.
“Hana, bangunlah. Kamu harus kuat” Airmata kembali menetes di pipi nya.
Gibran berdiri di sudut ruangan, ia mendesekapkan tangan di pinggang. Dari tadi matanya juga tak lepas memperhatikan Hana, ia berharap gadis itu segera siuman.
“Mas, pulanglah, biar aku yang menjaga Hana di sini. Nanti aku yang akan mengabari mas Haris!” Saran Yura kepada kakaknya yang berdiri mematung.
“Apa?? Mengabari Haris?? Tidak usah! Biar Suaminya yang mencari tau sendiri di mana dan bagaimana keadaan istrinya!!” Titah Gibran geram.
Yura terperanjat melihat ekspresi wajah dan nada bicara kakaknya yang tidak bersahabat. Gibran sang kakak bukanlah orang yang kasar, ia sangat berlemah lembut dan berkasih sayang, Ia tidak akan seperti ini jika jiwa nya tidak terguncang. Tampaknya apa yang menimpa Hana benar-benar membuatnya terpukul.
“Ma, maaf.. aku tidak bermaksud membentakmu” Gibran menghampiri Yura dan mengecup pucuk kepalanya. Gibran menyesal sudah mengeluarkan suara menggelegar. Yura mengangguk memaklumi.
“Kalau begitu pulanglah mas, besok mas Sudah harus kembali ke Maroko, ini sudah tengah malam. Biar aku saja yang menjaga Hana” Yura mengulang kembali kata-katanya.
Gibran menggelangkan kepala.
“Aku akan terus di sini setidaknya sampai Hana siuman”
“Hhhhhh, nanti akan aku pikirkan kemudian”
Yura pun terdiam, ia merasa cemas dengan kondisi sang kakak namun ia enggan untuk mendebat lebih panjang. Energinya seperti sudah terkuras untuk menangisi Hana.
“Baiklah, aku mau ke toilet sebentar, perutku sakit, mas tunggui Hana sebentar ya”
Gibran mengangguk setuju. Yura berlalu ke toilet, tinggal lah Hana bersama Gibran dalam kesunyian ruangan rumah sakit yang serba putih, wajah Hana sangat pucat namun tak mengurangi aura kecantikannya sedikitpun.
Segera Gibran mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin terlampau berlama-lama memandangi istri orang, namun naluri kelaki-lakiannya berkata lain, sulit sekali rasanya untuk memalingkan wajah walau hanya sekedar menatap ke arah berlawanan, betapa syaithan begitu mempermainkan keimanannya, dengan gusar ia beranjak berdiri menjauh dari Hana. Namun, baru beberapa Langkah, suara Hana pun mendarat di telinganya, terdengar kecil, syahdu dan parau,
“Aa..ir”
“Aaa..ir” Hana seperti mengigau meminta air. Gibran yang mendengar tak segan kembali mendekati Hana dan mengambil air mineral yang tersedia di atas meja.
“Aaa… ir, aair” kembali Hana bergumam. Tubuhnya sedikit menggeliat, namun Gerakannya sangat pelan. Gibran kebingungan bagaimana cara memberikan air mineral yang sudah berada ditangannya itu kepada Hana. Tangan diarahkan maju mundur. Yura pun lagi berada di toilet, bagaimana ini? Apa ia harus memanggil perawat?
__ADS_1
“Aa… ir” Kali ini suara Hana melemah. Tak banyak waktu, Gibran pun langsung berinisiatif untuk duduk di dekat gadis itu kemudian mengangkat sedikit kepalanya, kepala tersebut tertopang sempurna di atas tangan Gibran. Bismillah. Pelan-pelan gelas air mineral mendarat di bibir pucat Hana. Tampak gadis itu menyesapnya walau tidak banyak, hanya beberapa tetes saja. Hati Gibran lega. Ia tersenyum haru. Ia pun melanjutkan menyodorkan lagi air tersebut ke bibir Hana.
Gibran tidak menyadari adanya suara Langkah-langkah kaki yang terus bergerak mendekat ke arah ruang rawat inap tempat dimana keberadaannya dan Hana berada. Perlahan pintu di buka, ternyata Haris dan Ridwan sudah berdiri di ambang pintu, mata Haris membola sempurna melihat kedekatan Hana dan Gibran. Manik matanya mengkilap dengan pupil yang melebar.
Haris bergerak menuju Gibran, Suami Hana tersebut pun tanpa segan meraih bahu pemuda yang berada di dekat Hana dan menariknya untuk berdiri menjauh dari istrinya. Jika orang melihat dari arah belakang dan tidak mengetahui bagaimana kronologi cerita pemberian minum oleh Gibran kepada Hana, maka kebersamaan dan kedekatan mereka terlihat sangat intim. Posisi yang tidak menguntungkan memang. Gibran terperanjat dan terkejut akan keberadaan Haris yang tiba-tiba. Ia juga melirik Ridwan temannya. Ya. Gibran telah lebih dahulu mengenal Ridwan.
Haris tidak segan menonjok wajah Gibran tepat di area bibir, sudut bibir pemuda itu pecah dan mengeluarkan darah. Bersamaan dengan itu, tanpa sadar gelas yang berada di tangan Gibran juga terjatuh, pecahannya jatuh berkeping-keping berhamburan di lantai yang dingin, sedingin suhu ruangan dan suasana hatinya.
Jari jemari Gibran meraba bibir yang telah mengucurkan darah, ia menge-lap-nya spontan. Geram atas perlakukan bar-bar Haris namun masih ditahannya. Rahang Haris sendiri sudah mengeras, ia mengigit kuat giginya. Cemburu, merasa kalah dan nelangsa melihat kondisi Hana. Hanya kata itu yang sekarang mengisi ruang hatinya yang dipenuhi kekalutan. Untuk saat ini Ia benar-benar tidak bisa berdamai dan berpikir jernih. Ridwan pun dengan sigap menghampiri Haris agar menyudahi emosinya.
Yura perlahan masuk ke ruang kamar rawat inap setelah menyelesaikan hajatnya di toilet. Ia tampak terkejut dengan kekacauan yang terjadi, terlebih ketika melihat darah segar yang mengucur di sudut bibir kakaknya.
“Ada apa ini?” Tanya Yura. Ia menatap satu persatu orang yang berada di ruangan penuh tanda tanya.
“Mas, mas kenapa?” Kembali Yura bertanya pada Gibran. Kakaknya hanya diam.
Melihat ketegangan dan kecanggungan yang terjadi, Ridwan berinisiatif mengajak Gibran dan Yura untuk keluar dari ruangan, ia sama sekali tidak melihat redanya emosi meledak-ledak Haris yang membuncah dan masih meluap-luap itu.
Mata Haris terlihat seperti mata elang yang memerah siap menerkam Gibran saat itu juga. Ridwan pun tidak yakin Gibran akan bertahan atas perlakuan Haris, maka sebelum perkelahian yang sesungguhnya benar-benar terjadi, ia langsung mengamit lengan Gibran menggiringnya keluar, tatapan matanya terhadap Yura mengisyaratkan agar gadis itu juga mengikutinya.
Terlebih Hana masih terbaring lemah, sangat tidak etis jika keributan terjadi. Sebenarnya Ridwan yang masih dapat berpikir waras dan jernih menyayangkan sikap Haris yang sangat berutal, namun sedikitnya ia masih memaklumi bagaimana perasaan Haris melihat istrinya dalam keadaan seperti “di peluk” oleh orang lain di depan mata kepalanya sendiri.
Ah, tapi ia tahu siapa Gibran, pasti ada alasan khusus mengapa hal itu bisa terjadi, tidak mungkin Gibran mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini, apalagi Gibran terkenal dengan ke*-shalihan-*nya dan ia merupakan pria dengan karakter yang baik, maka Ridwan tak ingin su’udzan pada Gibran.
Setelah semua orang sudah keluar ruangan, Haris berjalan mendekati Hana yang memucat. Melihat kondisi istrinya, emosi yang dari tadi sudah mengubun-ubun padam seketika, hilang dan lebur bersama rasa sayang yang sudah menyelimuti hati.
Tak tahan, matanya berkaca-kaca. Ia mengecup kening gadis yang sudah menjadi istrinya selama berbulan-bulan itu. Ia mengecup kedua matanya, beralih ke kedua pipi, berlanjut ke hidung, berakhir di bibir merah jambu yang warnanya sudah menjadi lebih memudar. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hana dan berbisik,
“Maaf…”
“Maaf”
“Maaf”
Air matanya meleleh tak tertahan, airnya menetes terjatuh berderai ke atas pipi Hana, seolah air mata ini meluap bersamaan dengan semua rasa yang menghimpit jiwanya.
__ADS_1
***