Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 86: Yo Te Amo, Hana!


__ADS_3

Haris menunggu Hana mandi sambil meminum air yang telah istrinya itu seduhkan tadi dengan menyetel surah


ar-Rahman. Bacaan merdu Ustaz muda Muzammil Hasballah menjadi pilihannya.


Irama Kurdi yang mengalun-alun begitu merasuk ke dalam kalbu. Haris kembali meminum air yang telah tersisa setengah gelas, rasanya seperti teh tawar tapi harumnya seperti jamu. Not bad. Pikir Haris.


Ia menenggak habis air tersebut. Haris sendiri sudah selesai berpakaian. Piyama berbahan dasar hitam bermotif garis putih berlengan pendek dengan celana panjang menjadi pilihannya malam ini.


Ayat-ayat pada surah Ar Rahman menemui ujungnya. Tak tampak tanda-tanda Hana akan segera keluar dari kamar mandi sebab air dari dalam sana masih saja bergemericik.


Bosan. Haris melangkahkan kakinya ke balkon untuk sekedar menghirup udara malam. Ia menengadahkan wajah nya ke atas. Malam ini cerah, bintang gemintang tampak menyembul di langit sana.


Haris menikmatinya. Nanti jika Hana sudah selesai mandi, ia juga akan mengajaknya menikmati bersama. Entah mengapa aktifitas yang sering istrinya lakukan itu membuatnya juga menyenangi hal tersebut sekarang.


Hal sepele yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya bisa menjadi sesuatu yang berharga dan sangat disyukuri oleh sang istri. Hana memang unik. Pikirnya.


Hana sudah selesai mandi, ia menutupi rambut basahnya yang ia basahi dibawah pancuran shower tadi dengan


handuk kecil dan mengusap-usap ringan untuk meminimalisir air yang menetes-netes. Ia teringat akan Lingerie dan Lipstik merah pemberian Yura yang ia bawa bersamanya ke kamar mandi. Penasaran, ia kembali melihatnya.


Apa aku memang harus mengenakan baju ini malam ini? Gumam Hana. Ia membawa dirinya ke pantulan cermin yang ada di dalam kamar mandi dan mengepaskan Lingerie tersebut ke depan tubuhnya.


Hana bergidik ngeri. Namun penasaran, Ia coba memakainya. Tak lupa ia memoleskan lipstick merah tersebut ke bibirnya. Hmh, sangat….Sexy. Pikirnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Seumur hidup ia tidak pernah mengenakan jenis pakaian itu di tubuhnya apalagi ditambah dengan lisptik berwarna merah menyala.


Hana cekikikan sendiri. Ia merasa geli. Biasanya ia mengenakan baju kaos di sebalik gamis atau mengenakan pakaian tidur ketika hendak tidur. Memakai pakaian seperti ini ia merasa seperti menjadi... hmh.. wanita penggoda saja. Apa aku sudah benar-benar siap? Gumam Hana lagi.


Tok tok tok…


Suara ketukan pintu menyebabkan Hana berteriak kaget.


“Hana! Hana!” Panggil Haris dari arah luar.


“Mas mengagetkanku!” Hana merabai jantungnya.


“Apa yang kamu lakukan di dalam sana? Mengapa lama sekali, huh? Bukalah pintunya!”


“Sebentar sebentar! Aku sudah selesai!” Bergegas Hana memakai pakaian handuk dan mengikatnya, tak lupa ia menghapus lipstick menggunakan tangan lalu ia pun membuka pintu. Haris telah berdiri dihadapannya dengan tatapan penuh kritik.


“Mengapa lama sekali? Kamu tidak pingsan di dalam sana kan?” Haris bertanya dengan mengkerutkan keningnya. Hana menggeleng cepat.


“Aku… Aku sangat menikmati air hangatnya hingga kelupaan!” Sahut Hana gugup.


“Benarkah?” Tanya Haris.


“Itu apa? Kamu memakai lipstick?” Haris mendekatkan tubuhnya meneliti bibir Hana yang tampak berbeda. Lipstiknya memang telah di hapus namun nodanya tetap saja masih bersisa. Dasar Hana.


“Hahahahah” Haris tertawa renyah melihat bekas lipstick yang belepotan kemana-mana. Hana gagal menyembunyikannya. Tadi Ia lupa melihat cermin sesudah menghapus singkat menggunakan tangan. Noda lipstick yang masih menempel kuat di sana malah menjadi aneh.


“Aku sudah menghapusnya!” Hana berkata cepat. Ia bersungut melihat Haris yang mengejeknya. Wajahnya berubah muram.


Haris menyadari raut wajah sedih tersebut. Ia membawa istrinya ke depan cermin, mengambil tissue basah dari atas meja lalu mengusap bibir Hana perlahan-lahan hingga nodanya hilang tak bersisa.

__ADS_1


“Bagaimanapun kamu tetap cantik, kok! ” Ucap Haris yang mengusap ringan bibir tipis milik gadis yang ada di hadapannya. Hana terdiam. Ia sedikit terenyuh dengan perlakuan sederhana suaminya itu.


Haris yang sedari tadi memperhatikan bibir Hana begitu menggoda, tak bisa menahan diri. Ia menggiring tubuh Hana membawanya ke kasur lalu mendekatkan wajahnya. Bibir mereka hampir saja menyatu,


“Hmh., Mas, kita shalat sunnah dulu, yuk!” Bisik Hana yang sukses menghentikan pergerakan Haris.


Hana mengerti kemana arah tujuan suaminya itu. Kali ini dengan kesadarannya, Hana hanya tidak ingin melakukan suatu hal sakral dan melewati peristiwa penting dalam hidup tanpa melibatkan Allah di dalamnya. Apalagi hal tersebut sesuatu yang sangat istimewa. Haris menarik kembali tubuhnya, ia begitu tergesa-gesa. Padahal ia juga belum membacakan do’a pada ubun-ubun istrinya itu sejak malam pertama pernikahan mereka hingga saat


ini. Bukankah melakukan perbuatan sunnah sebelum malam pengantin telah dilakukan oleh orang-orang shalih sejak dahulu? Haris jadi malu pada Hana.


“Hmm. Iya, maaf. Kita shalat dulu” Ucap Haris.


Mereka shalat berjama’ah. Haris membaca surah Ar-Rahman dengan irama Kurdi seperti yang ustaz Muzammil


Hasballah lantunkan tadi. Mereka shalat sunnah dua raka’at. Sedang shalat Isya sudah mereka jamak pada shalat maghrib tadi. Pada rakaat kedua Haris sampai pada  pada ayat,


فِيْهِنَّ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِۙ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْوَلَا جَاۤنٌّۚ


Fīhinna qāṣirātuṭ-ṭarfi lam yaṭmiṡ-hunna insung qablahum wa lā jānn


Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.


فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ


Fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


كَاَنَّهُنَّ الْيَاقُوْتُ وَالْمَرْجَانُۚ


Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.


Lalu ia menghabiskan surah tersebut sampai pada ayat,


تَبٰرَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِى الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ


Tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikrām


Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.


Harus larut dalam bacaan shalatnya yang penuh penghayatan. Tenggorokannya tercekat. Ia sesugukan. Betapa Nikmat dan Kuasa Allah itu sangat nyata ia rasakan dalam kehidupannya. Kini Allah juga telah menganugrahkan untuknya bidadari jelita yang cantik paras juga hatinya. Bagaimana bisa ia menjadi Hamba yang tidak bersyukur?


Selesai shalat, Hana mengambil tangan Haris untuk kemudian ia salami dengan takzim. Ada getaran yang tidak pernah ia rasakan sebelum-sebelumnya. Tak terhitung berapa kali sudah Hana mengajukan salam pada suaminya itu namun saat ini benar-benar berbeda. Haris mengusap puncak kepala Hana. Mereka tersenyum sambil saling bertatapan lalu Haris membacakan doa barakah.


“Sebentar, aku akan buatkan susu hangat untukmu!” Ucap Haris, Hana mengangguk kemudian suaminya itu berlalu ke pantry.


Hana bergegas mengunci pintu kamar. Ia membuka mukena dan melipatnya lalu beranjak menuju ke meja rias. Hana membuka baju atasannya yang menutupi Lingerie yang sejak tadi memang telah ia kenakan. kemudian ia menggeraikan rambut hitamnya dengan helaian rambut yang berjuntai-juntai itu ia bawa ke depan dada. Tak lupa Hana menyemprotkan parfum ke tubuh. Kini Aroma Yasmine menyeruak dan menguar ke mana-mana. Kembali ia mempoles lipstick ke bibir tipisnya dengan rapi.


Jujur saja Hana merasa deg-degan. Tapi ia bertekad, siap tidak siap ia sudah memutuskan untuk menyerahkan jiwa dan raganya pada Haris. Ya. Ia akan menyerahkan mahkota paling berharga miliknya pada suaminya semata. Hana melihat pantulan tubuhnya di cermin, pipinya bersemu merah. Bergegas ia membuka kunci pintu yang tadi sempat di kuncinya. Kini Hana duduk dipinggiran kasur menanti Haris yang tengah membuatkan susu hangat untuknya.


Deg deg deg. Jam sudah menunjukkan pukul 09.15 waktu Madrid. Hana bisa mendengar bunyi derit pintu yang dibuka, pertanda Haris sudah selesai dan masuk dengan membawa segelas susu hangat.

__ADS_1


“Hana! Ini mi…num…” Haris yang hendak memberikan minuman mematung melihat penampilan Hana. Ia gugup melihat pakaian Hana yang terlalu terbuka. Bahkan lekuk tubuh gadis itu begitu jelas terlihat. Walau begitu, ia tetap kesulitan menerka apa yang ada disebaliknya.


“I.. Ini… ?” Haris meletakkan gelas yang berada di telapak tangannya ke meja namun matanya tetap tidak berkedip dari melihat Hana. Ia berjalan mendekat ke arahnya, menyoroti setiap tubuh wanita itu dan mencari sesuatu yang bisa ia kritik. Haris kesulitan menelan salivanya.


“Aku sudah siap mas, aku sudah siap menjadi milik mu seutuhnya, kemari dan ucapkanlah doa barakah untukku” Ucap Hana dengan suara bergetar, namun suara itu begitu terdengar merdu di telinga Haris. Pemuda itu mendamba. Ia yang melihat Hana begitu ranum, seketika lupa pada dunia.


***


Haris bertubi-tubi menghujani tubuh Hana dengan ciuman saat pergumulan yang terjadi diantara mereka berlangsung begitu lama dan bersusah payah. Pemuda itu berusaha membuat istrinya merasa nyaman. Ia menghirup nafas Hana dalam-dalam tanpa ampun, Hal ini seolah-olah candu baginya. Ia merasai aroma yasmin yang menguar, harumnya menambah semangat berkali lipat.


Hana menggigit bibir bawahnya dan mencengkram kuat punggung Haris saat merasakan rasa sakit yang teramat sangat kian menyakiti tubuh bagian bawahnya sampai rasa sakit itu berubah menjadi  gelayar kenikmatan baru yang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Tubuh mereka bagai disengati oleh aliran listrik, meledak dengan irama kenikmatan tak terkira.


Ini pertama kalinya bagi Hana pun begitu pula dengan Haris. Suhu dingin dalam ruangan tak menghalangi tubuh mereka untuk mengeluarkan keringat. Desahan nafas terdengar bersahut sambut, mereka saling berebutan oksigen. Haris berkali-kali melepaskan kenikmatan sebelum kemudian akhirnya ia  menarik tubuh polos Hana dan membenamkannya ke dalam pelukan. Ia mengusap-usap puncak kepala Hana untuk menetralisir deruan desahan nafas mereka yang memburu.


“Terima kasih, Hana. Kamu milikku, aku tidak akan melepaskanmu!” Bisik Haris yang semakin memeluk erat sang istri lalu sebelah tangan nya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


Tesss…


Tiba-tiba setetes air mata terasa mengaliri dada bidang Haris.


“Kenapa menangis, hm?” Tanya Haris lembut. Sebelah tangannya masih tetap mengusap.


Air mata Hana jatuh semakin banyak. Haris mengangkat wajah istrinya.


“Mengapa menangis? Apa kamu menyesal dengan apa yang telah terjadi?” Tanya Haris cemas. Ia melonggarkan pelukannya. Hana menarik diri dengan bersender di kepala tempat tidur, ia menarik selimut lalu mengeratkan ke tubuhnya. Tangisnya pecah  semakin menjadi.


“Hana, maafkan aku. Apa aku telah menyakitimu?” Melihat tingkah Hana, Haris merasa tak enak hati.


Hana menggeleng.


“Mas, aku mengingat bagaimana perjalanan pernikahan kita. Dari masa perjodohan hingga saat ini, akhir-akhir ini aku sering membayangkannya. Semua benar-benar tidak mudah. Kita telah melalui begitu banyak cobaan, gejolak perasaan yang tidak tentu arah muaranya hingga kita sampai di sini di malam ini…” Haris mendengarkan perkataan istrinya dengan saksama.


“Allah SWT memberikan cobaan dalam rumah tangga setiap anak manusia dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada cobaan yang pernikahannya tidak disetujui oleh keluarga, hubungan yang tidak baik dengan mertua atau ipar. Ada cobaan karena Anak, cobaan karena masalah ekonomi, lalu ada juga cobaan karena orang ketiga, cobaan pada masalah kesehatan dan masih banyak jenis-jenis cobaan yang terdapat di dalam rumah tangga…”


“Dari ke semua jenis cobaan itu, salah satu nya tentu menimpa rumah tangga kita. Aku juga bisa mengerti bagaimana sulitnya mas melawan rasa ketidaksukaan ketika menikahiku. Bagaimana mas sudah berusaha keras untuk membuatku merasa nyaman, yang mana sebenarnya mas sendiri sedang mengupayakan kenyamanan itu untuk diri mas sendiri..”


“Maka… Di sini aku katakan, Terima kasih telah membersamaiku sampai saat ini. Terima kasih untuk semua perlakuan baik mas kepadaku, walau tidak ada cinta di hatimu namun kamu tetap menghormatiku” Hana mengambil telapak tangan Haris dan meletakkannya di pipi, air matanya masih terus saja mengalir. Hana sesugukan.


“Terima kasih sudah mau berjuang mempertahankan pernikahan kita... Terima kasih sudah memilihku disaat kamu punya beribu alasan untuk meninggalkan. Terima kasih untuk tidak pernah menuntut apapun dan kamu membiarkan semuanya mengalir sampai aku terbiasa…”


“Terima kasih sudah mempercayaiku di saat kekuatan hukum dan semua jajarannya ingin menjerumuskanku. Terima Kasih… Hiks hiks… Terima Kasih. Aku tidak tau bagaimana caranya berterima kasih dengan kata terima kasih itu sendiri. Namun jujur, aku selalu mensyukuri keberadaanmu di sisi” Hana menetap Haris lekat-lekat. Haris merasa tersentuh.


“Taukah mas? Kamu sangat gagah ketika membelaku. I really can’t resist your charm. Thank you. Thank you so much. I Lo…” Belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya, Haris telah menarik kembali wanita itu dan menyatukan bibir mereka dalam-dalam. Mereka kembali berciuman. Ia tidak bisa membiarkan Hana yang terlebih dahulu mengungkapkan kalimat cinta.


“Yo Te Amo, Hana! Aku mencintaimu!” Ucap Haris jujur.


"Yo te Amo. Kita telah melalui banyak sekali cobaan namun jika suatu saat beban kehidupan menekan hidup dan memberi jarak pada hubungan kita, ku mohon tetaplah seperti ini dan jangan lepaskan genggaman tangan ini!" Haris kembali memberikan ciuman singkat bertubi-tubi di bibir Hana. Kini ia yang meneteskan air mata setelah mendengar perkataan istrinya yang begitu mengesankan.


***


Hi Teman-teman, Astaghfirullah... Duuuh bab ini beneran rempong banget!. Udah selesai Alana tulis, eh file nya malah hilang dan itu terjadi 2 x huhu 😌 Tapi Alhamdulillah akhirnya kembali di tulis dan selesai juga 😇

__ADS_1


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara Like Komen Vote dan Hadiahnya. Jujur Like dan Komen kalian tu sangat berarti sekali. Terima Kasih^^ Jazakumullah Khaer. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita semua. Amiin.


***


__ADS_2