
Srek Srek Srek
Kesekian kalinya Hana menyobek kertas setelah menulis beberapa kalimat di sana. Merasa gagal menuangkan apa yang dimaksud, ia kembali menyobeknya dengan kuat. Seminggu terakhir wanita muda jelita ini tampak uring-uringan.
Semua diperburuk dengan perasaan cemburu yang masih terus bercokol di dada namun mati-matian tidak diakuinya. Hal ini menyebabkan mood Hana menjadi berantakan. Arini sukses memicu gemuruh di hatinya. Hana bukan tidak tau bahwa Haris adalah seorang suami setia. Namun entah mengapa hatinya tetap saja tidak merasa senang.
Hana meletak pena dengan kasar ke atas meja. Surat elektronik yang dikirim kan oleh Biro Universitas ke alamat email mengharuskannya untuk berpikir keras. Permintaan berpidato mewakili kampus di acara seminar keagamaan serta menjadi sari tilawah telah diluluskannya. Namun kini ia tidak bisa berkonsentrasi.
Haris yang juga tengah berkutat pada file-file kantor serta mengurus pemecahan kasus keluarganya, menyempatkan diri melirik kegundahan yang tengah dialami sang istri. Ekor matanya terus mengawasi wanita yang berjarak 4 meter dihadapannya dengan rambut tergelung sempurna.
"Sayang... "
"Mi Amor... " Panggil Haris lembut.
Hana menoleh dengan wajah kusut. Haris bangkit menghampiri.
"Aku punya salah ya? "
Hana membuang wajahnya.
"Kamu cemburu? "
Hana menggeleng tegas.
"Aku mencintaimu..."
"Mas sudah mengucapkan nya sejuta kali" ketus Hana cepat. Haris tersenyum.
"Bukankah kamu paling senang ketika aku mengucapkan kalimat tersebut? Apalagi saat kita melakukan itu. Saat energi psikis mu sedang berada di awang-awang, gelora itu semakin terlihat ketika kalimat ajaib aku mencintaimu terucap" Sindir Haris menggoda.
Bluuusssh
Sontak wajah Hana memerah. Haris memang punya segudang kata-kata dan alasan untuk membuatnya bertekuk.
"Mas yang menginginkan nya bukan aku! "
"Benarkah? Tapi kuperhatikan... Kamu yang lebih menikmati nya! " Sahut Haris semakin terus menggoda. Hana kembali menghadap ke meja membelakangi suami yang berhasil membuat nya kehabisan kata-kata. Rasa kesal kian memenuhi puncak kepala.
"Maaf... maafkan aku... " Ucap Haris menyadari perkataan yang tidak pada tempatnya.
"Maukah Kamu memaafkanku? " Lirih Haris memeluk. Hana terdiam.
"Sudah tidak terhitung seberapa banyak aku melakukan kesalahan. Juga sudah tidak terhitung seberapa banyak kamu memberi maaf. Stok sabarmu begitu melimpah, sayang..." Haris mengecup kepala Hana.
Ah, sejatinya mood Hana lah yang sedang tidak harmoni. Ia yang mengangguk setuju saat Arini meminta izin, tapi ia sendiri yang kemudian masih uring-uringan.
"Apa yang harus kulakukan agar mood mu membaik, hm? "
"Simak tausyiah pembuka-ku. Besok aku akan hadir di seminar mewakili kampus. Nanti juga ada mbak Iqlima sebagai pemateri utama"
"Jadi robekan-robekan kertas itu untuk tausyiah? "
Hana mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah... Aku akan menyimak nya! " Haris menarik kursi lalu mendudukinya.
"Assalamu'alaikum wr wb.. " Hana memulai ber-tausyiah.
"Hmh Sebentar... maaf... itu kertas-kertas yang tadi kamu buang... Itu Mubadzir sayang... Mood mu mungkin sedang tidak baik. Tapi pengetahuan mu baik-baik saja. Bukankah... Innaa mubadzdziriina kaanu ikhawaana syayaathiiin. wa kaana syaithaanu lirabbihii....?"
"Kafuuraa" Lirih Hana melengkapi ayat Al-Quran tentang mubadzir adalah temannya syaithan yang sedang Haris bacakan.
"Kita tidak usah lagi membahas mengenai artinya, karena Kamu pasti sudah paham benar tentang hal itu" Lanjut Haris lagi. Hana menunduk sendu. Ia menyadari kesalahannya.
"Kalau begitu... kapan kita pulang ke apartemen? Laptop dan semua peralatan ku di sana"
"Insya Allah secepatnya sayang"
"Mas... melihat mbak Iqlima dengan segudang pengetahuan dan keberkahan ilmunya, menjadikanku ingin mengikuti jejak beliau. Bolehkah kalau aku meminta izin untuk segera menyelesaikan sarjana dan melanjutkan s2? Aku ingin menjadi ibu yang berpengetahuan luas. Yaa... Walau pengetahuan tidak hanya didapatkan di bangku kuliah semata. Tapi mungkin inilah salah satu ikhtiar nya. Aku akan apply beasiswa! " Pinta Hana memohon.
"Allahu musta'an... Keinginan yang baik. Mana mungkin aku tidak mengizinkan nya. Tidak perlu ikut beasiswa, aku akan membiayai semua kebutuhanmu! Jangan pikirkan itu..."
"Lagipula, kalau kamu ibunya, aku yakin anak-anak kita nantinya akan terdidik dengan baik" Sahut Haris mengusap kepala Hana. Sang istri tersipu.
"Terima kasih mas, semangatku bertambah. Aku akan berkonsultasi pada mbak Iqlima! " Hana berbinar girang.
Dddrrrttt Dddrrrttt
Handphone Haris bergetar. Nama Romi tertera di layar.
"Ya Rom?"
"Bagaimana hasilnya? "
"Sesuai dugaan mu... Memang Dia-lah dalang nya! " Sahut Romi.
"Baik. Aku akan menemuimu sekarang! Bersama-sama kita rumuskan untuk membawanya ke pengadilan!"
Setelah meminta izin pada Hana, Haris melajukan mobilnya ke kantor Romi. Sedang Hana sendiri meminta izin pada Haris untuk kembali sebentar ke apartemen mengambil beberapa barang pribadi miliknya.
***
Seminggu sudah Haji Zakaria menyendiri di Mihrab dan tidak keluar kamar. Beliau mengasingkan diri dari keramian agar bisa berpikir jernih. Banyak agenda yang dibatalkan. Banyak pekerjaan yang tertunda. Haji Zakaria menugaskan Yahya dan para menantu nya untuk sementara waktu mengurus yayasan selagi status beliau hiatus hingga proses pengunduran diri nya berjalan lancar.
Haji Zakaria bangkit setelah berjam-jam melakukan tadarus Al-Qur'an. Beliau berjalan membuka jendela. Kini Taman Humaira tampak di hadapan mata. Hamparan bebungaan memenuhi mata. Seketika wewangian menyeruak, menghampiri penciuman menyegarkan tubuh. Harum tersebut berasal dari bunga Gardenia, ada Lilac, seroja juga Lily.
Di sebelah utara pada sepetak tanah, beliau khususkan menanam bunga mawar merah, bunga yang paling di favorit kan sang istri. Di petak berbeda, bunga mawar putih hingga pink rose bermekaran. Bunga-bunga yang memiliki harum khas sengaja Haji Zakaria tanam untuk sang pujaan hati. Aisyah Humaira yang selalu beliau puji.
Saat menanam tanaman-tanaman tersebut, istrinya tengah mengandung Sulaiman. Anak pertama Hajjah Aisyah sebelum adanya Yahya. Untuk menghibur istri yang tengah lemah karena berbadan dua, Haji Zakaria rela bersusah payah membangun taman dengan kreasi dan kreatifitas beliau sendiri. Tapi ternyata almarhum Sulaiman bukan lah anak beliau.
Ingatan ini membuat beliau tersenyum pahit. Haji Zakaria pikir, dengan beliau berdiam mengasingkan diri rasa sakit akan berkurang lalu menghilang. Namun nyatanya patah hati itu semakin hancur terburai.
Cepat-cepat Haji Zakaria menutup jendela. Seperti mengalami trauma, jendela kamar tersebut seketika beliau kunci rapat-rapat. Wajah sendu sembab itu masih terus menitikkan air mata. Namun beliau sadar, tidak baik membiarkan masalah berlarut semakin dalam.
Cepat atau lambat haji Zakaria sudah harus memutuskan apa yang seharusnya beliau putuskan. Walau rasanya tidak sanggup melihat wajah sang Humaira penoreh luka,, tapi sebagai seorang suami, seorang hamba Allah yang bertanggungjawab, beliau wajib menghadapinya.
Haji Zakaria memutuskan untuk menelfon salah satu khadimah. Beliau memberi perintah untuk menyampaikan pada hajjah bahwa beliau menunggunya di kamar utama.
__ADS_1
Keputusan sudah dibuat. Tekad tidak bisa diganggu gugat. Semoga keputusan tersebut nantinya adalah yang terbaik. Haji Zakaria menghapus air mata yang masih saja berlinang. Patah hati itu nyata adanya.
***
Hana memasuki apartemen setelah menyuruh khadim yang membawa mobil menunggu di parkiran. Apartement yang hampir dua bulan ia tinggalkan itu tampak rapi. Tidak ada sisa debu di sana.
Hana memang memerintahkan asisten untuk datang bekerja membersihkannya setiap hari. Sebagai seorang yang terorganisir dan selalu rapi, kebersihan lingkungan adalah prioritas.
Perlahan Hana berjalan memasuki kamar utama. Ia membuka pintu dengan mendedah kunci nya terlebih dahulu. Hanya kamar utama saja yang tidak ia perkenankan sang asisten memasukinya.
"Masya Allah.. Rinduu sekaliii!" Gumam Hana memekik setelah menelentangkan tubuhnya di atas kasur. Harum Yasmin parfumnya bercampur harum maskulin Haris masih terasa dipenciuman. Hana menghirup perpaduan wangian tersebut dalam-dalam.
"Nak sayang... Bayi kembar Ummi... Sehat-sehat ya nak... Nanti apartemen ini akan ramai oleh suara canda tawa kita... Ah, Ummi jadi tidak sabar ingin bertemu kalian"
"Rabbi Habli minash shaalihiin" Hana memanjatkan doa mengusap perut perlahan. Kehamilan nya hampir memasuki usia 4 bulan.
"Minggu depan insya Allah Ummi dan Abi akan silaturrahim menjenguk kalian melalui mesin USG. Ummi berdoa agar anak-anak Ummi selalu dalam lindungan Allah SWT" Ucap Hana sumringah. Ia berada dalam rasa syukur.
Prok Prok Prok
Tiba-tiba terdengar suara orang menepuk tangan. Hana terkejut bukan kepalang. Bisa-bisa nya apartemen ini dimasuki oleh orang lain. Padahal tadi ia benar-benar sudah memastikan telah mengunci nya kembali.
"Sempurna sekali hidupmu, Nak! " Seorang wanita berkata dengan lembut.
"Ma... Mama Inggrid? " Hana mengerutkan kening gagal memahami mengapa tiba-tiba beliau bisa hadir di hadapannya.
Namun ternyata beliau tidak sendiri, suara langkah kaki lain mulai terdengar dan hadir dari balik pintu.
"Bu... Indah? " Lirih Hana.
"Yaa nak... kami datang berkunjung... Berkunjung untuk membuatmu merasakan apa yang kami rasa!" Bu Indah mendelik seram. Wajah yang terlihat bukan wajah yang biasa tampak. Muncul nya beliau diikuti oleh seorang bodyguard laki-laki yang menenteng rantai juga sebilah pisau bermata tajam.
"Ta... Tapi kenapa? Ap... Apa yang kalian inginkan? " Hana terperangah. Sesaat ia tersadar ada maksud lain di balik wajah-wajah iblis itu. Hana langsung memegang perutnya. Tegang.
"Hahaha... Karena apa katamu? Jelas karena kau adalah istrinya Haris. Kau penyebab semua kekacauan ini! "
***
.
.
.
Yang penasaran sama Inggrid, naah Doi pun muncul~
.
.
.
***
__ADS_1