
Hujan turun lagi. Padahal cuaca baru saja sempat cerah. Akhir-akhir ini hujan memang kerap menyapa. Allah sedang menurunkan rahmat-Nya bagi sekalian alam. Awan yang bergulung-gulung putih itu kembali berwarna kelabu.
Romi membawa Arini menepikan motornya berteduh di bawah bangunan tua tidak berpenghuni. Sejak mengunjungi rumah bu Indah beberapa waktu lalu dan terlibat pertengkaran hebat, segala fasilitas yang dimiliki oleh istrinya tersebut di sita. Berikut dengan mobil CRV putih yang sudah beberapa tahun terakhir digunakan oleh Arini.
Romi baru saja mengantar Arini untuk Ruqyah. Ini adalah Ruqyah kedua yang Arini ikuti. Awalnya sang istri menolak mentah-mentah. Namun, Romi tak menyerah hingga bujuk rayunya membuahkan hasil. Sebenarnya setelah ini Romi akan menemui Haris. Ia telah menghubungi sahabat lamanya itu dan mengatur pertemuan, sebab Romi akan memberikan hasil pemecahan kasus atas kerja keras nya selama ini bersama tim gabungan. Namun apa daya, hujan lebih awal mendahului mereka.
Angin mendesau-desau terasa kencang. Arini memandang bulir yang turun dari langit itu dengan mensedekapkan tangan. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Wajah datar yang ia tunjukkan akan membuat orang gagal menerka apa isi kepalanya.
“Maaf ya. Kita harus kehujanan karena aku baru memiliki sebuah motor” Lirih Romi dalam. Memang laki-laki ini menjual mobil yang dimilikinya untuk bisa memberikan Arini mahar uang tunai senilai 100 juta dan seserahan beberapa keping emas.
“Hmh Tapi aku akan berusaha lebih keras agar bisa memberikanmu kehidupan yang lebih layak!” Lanjutnya lagi. Arini hanya diam tidak menanggapi. Romi mendekat dan merangkul pundak wanita yang berdiri disebelahnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Biar kamu tidak kedinginan”
“Aku sudah memakai jaket!” Arini ingin mengelak.
“Biarkan begini. Biarkan aku berusaha menjadi suami yang baik selagi kita bersama” Ucap Romi bersikeras. Ia kasian melihat istrinya yang sedikit menggigil dengan bibir yang agak bergetar. Tidak bisa dipungkiri, Arini merasa hangat.
“Tanganmu dingin, biar aku hangatkan!” Ucap Romi lagi mengusapkan tangan nya ke tangan Arini lalu ia meniupkan udara di sana. Mereka merasa hangat.
“Sekarang masukkan tangan ke dalam saku bajumu!” Titah Romi membawa tangan sang istri ke saku jaket miliknya sendiri. Arini hanya bisa pasrah dengan apa yang suaminya itu lakukan.
“Ry..."
"Hm..."
"Mengenalmu adalah hal yang paling aku syukuri di dunia ini” Ucap Romi tiba-tiba. Ia mengeratkan rangkulannya.
“Aku sudah menyukaimu bahkan dari sebelum mengenalmu…”
“Ry, kamu diam saja… Apa sekarang kamu menyesal menikah denganku?” Tanya Romi sendu. Entah sudah berapa banyak pertanyaan yang ia lontarkan namun Arini-nya hanya diam membisu. Sejujurnya wanita ini tidak tau harus mengatakan apa. Tenggorokannya terasa tercekat.
“A… Aku…” Arini menoleh. Romi membalikkan tubuh Arini menghadapnya. Hujan lebat sudah berganti dengan gerimis. Namun jalanan masih saja tampak lengang. Netra mereka bertemu. Seolah larut dalam suasana syahdu, Romi merasa seperti tenggelam dalam lautan manik mata hitam yang ada di hadapannya. Tanpa sadar wajah mereka saling menipiskan jarak. Jarak yang tersisa semakin menipis hingga bibir merah delima itu saling menempel. Sedetik, dua detik, tiga detik, hingga sepuluh detik.
Seketika kesadaran Arini muncul. Ia mendorong tubuh Romi kuat.
“Kamu selalu mengambil kesempatan selagi aku lengah!” Hardik Arini lalu berlalu meninggalkan Romi.
“Ry, mau kemana? Masih hujaan!”
“Ke swalayan depan!” Ucap Arini langsung melesat ke tempat yang ia tuju tanpa menunggu persetujuan. Wajahnya merona.
“Ry,,, tunggu…” Romi bergerak. Ia membuka jaketnya lalu memayungi Arini dengan jaket tersebut. Mereka berjalan dalam satu wadah yang sama. Sebenarnya ada sedikit getaran yang wanita ini rasakan. Ia tersentuh dengan apa yang Romi lakukan namun mencoba keras untuk menepiskan perasaan tersebut.
***
Sreeeegg
__ADS_1
Pintu terbuka. Hajjah Aisyah masuk ke dalam kamar utama dengan perlahan. Ia melihat suami yang sudah begitu dirindukan duduk di atas kursi putar dengan posisi membelakangi meja. Hajjah Aisyah hanya bisa melihat kepala beliau yang sedikit menyembul dari atas dinding kursi. Rasanya ingin sekali wanita yang telah berusia 55 tahun ini menghambur ke dalam pelukan laki-laki yang sudah memperistrinya selama 35 tahun. Tapi apa daya, sang suami terlihat seperti enggan walau sekedar berdekatan.
“Bah…” Panggil Hajjah Aisyah pelan.
Haji Zakaria menghembuskan nafas setelah sebelumnya sempat menariknya dalam-dalam. Beliau memutar kursi yang diduduki. Seketika posisi beliau dan hajjah Aisyah saling berhadapan. Suasana hening untuk sesaat.
“Aisyah…” Panggil haji Zakaria pada akhirnya. Tidak ada sebutan Ummi atau Humaira yang seperti biasa beliau sebutkan.
“Bah… Maafkan Ummi” Lirih hajjah Aisyah dengan suara tertahan. Beliau masih tidak menyerah memohon maaf dengan menunduk.
“Aisyah… perbuatan yang kamu lakukan adalah kesalahan fatal. Itu semua dosa besar. Walau ketika itu kamu sama sekali tidak menganggapku, setidaknya kamu tau bahwa ada Allah yang Maha Melihat. Ada Malaikat Atid yang mencatat!” Ucap haji Zakaria, saat ini beliau sudah merasa lebih baik untuk melakukan pembicaraan.
“U…Ummi khilaf”
“Tidak ada kekhilafan untuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang! Apa yang ada dipikiranmu ketika kau melayani seseorang yang bukan suamimu lalu tanpa merasa bersalah kau juga bermesraan denganku!” Ucap Haji Zakaria memegang dadanya yang kembali terasa sakit. Perkataan nyelekit beliau membuat hajjah Aisyah merinding.
Hajjah Aisyah bukan tidak menyadari kesalahannya, namun rasa cinta yang kini sudah memupuk kuat menaikkan ego-nya untuk tidak ingin melepaskan suami yang sudah membersamainya bertahun-tahun itu. Mana mungkin beliau bisa melupakan perbuatan manis haji Zakaria. Pun entah perlakukan tersebut akan masih beliau rasakan di masa depan.
“Abah boleh membenci Ummi… Ummi salah,, Ummi bersalah… Ummi memang bersalah…Ummi jahat” Hajjah Aisyah menangis tersedu-sedu. Melihatnya, Haji Zakaria merasa iba. Beliau mengambil sapu tangan di saku jubah lalu menyerahkannya.
“Hapuslah air mata-mu. Ini bukan saatnya untuk menangis”
“Abah boleh membenci Ummi sebanyak yang abah mau. Tapi Ummi mohoon,, jangan ceraikan Ummi…” Hajjah Aisyah sesugukkan. Diam-diam beliau menyempatkan diri mengetik pesan kilat pada Yahya.
Nak, tolong Ummi. Ummi bersama abah di kamar utama.
“Apakah rasa takut akan perceraian melebihi rasa takutmu kepada Tuhan?! Baik, akan aku ingatkan,.. mungkin kau lupa bahwa hukuman bagi seorang penzina adalah di jilid (di cambuk) bagi yang belum menikah dan di rajam (dilempari batu sampai mati) bagi yang sudah menikah! Ini semua bisa kembali kamu tela’ah dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim atau Imam Ahmad. Apalagi tidak sedikit ayat al-Qur’an yang membahas tentang zina-penzina!”
“Sebenarnya Aku sudah tidak perlu mencantumkan lagi sumber dari perkataanku sebab kamu pasti sudah menghafalkannya di luar kepalamu. ”
“Aisyah,,, Islam ini adalah agama yang hanif, agama tauhid, agama yang bersih dan menjaga kehormatan manusia. Agama islam adalah agama yang adil dan memandang perbuatan zina sebagai perbuatan kotor lagi menjijikkan. Hal tersebut sangat memalukan sebab ia merusak kehormatan dan nasab! Ia benar-benar merusak keturunan!” Ucap haji Zakaria menohok. Hajjah Aisyah terhuyung.
“Bah…. Maafkan Ummi… Bah…. Maafkan Ummi… ” Hajjah Aisyah menghambur memeluk kaki haji Zakaria memohon. Beliau bersimpuh.
“Lepaskan… Mohon ampunlah pada Allah swt. Bukan pada-ku!”
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar. Hajjah Aisyah melonggarkan pelukan tangannya. Haji Zakaria bergerak membuka pintu. Tampak Yahya berdiri menggendong si kecil Umar.
“Masya Allah… Umar… Sini sama Jiddi… Allaahummam-la’quluuba aulaadinaa nuuron wa hik-matan wa ahlihim liqabuuli ni’matin wa ashlih-hum wa ashlih buhumul ummah” Haji Zakaria menggendong Umar lalu mendoakannya agar kelak menjadi anak shalih dan bermanfaat untuk ummat.
“Ada apa nak? Silahkan masuk!”
Yahya melirik ke dalam kamar. Terlihat Ummi-nya berwajah sembab. Yahya-pun memutuskan untuk masuk. Haji Zakaria mendudukkan Umar di atas kursi. Beliau mengupas apel lalu menyerahkannya. Umar memakan apel dengan lahap dan riang.
“Umar sepertinya rindu dengan Jiddi dan Jiddah, makanya Ananda bawa main ke sini” Ucap Yahya berkilah. Ia sengaja membawa Umar sebagai alasan agar dapat melihat keadaan.
“Abah tau tujuanmu ke sini nak! Terima kasih kamu mampir! Tapi saat ini abah dan ummi sedang melakukan percakapan yang sangat privat!
__ADS_1
“Umar sayang… Main dulu sama abah ya… nanti insya Allah Jiddi buatkan kapal terbang setelah urusan Jiddi dan Jiddah selesai” Ucap Haji Zakaria kembali menyerahkan Umar pada Yahya lalu mereka keluar setelah sebelumnya Yahya menyempatkan diri melirik ummi yang menatap kepergiannya dengan wajah cemas.
Gelisah di hati hajjah Aisyah bertambah berkali lipat. Hukuman/ Had Rajam seketika membuat romanya berdiri.
"Siapa kekasih mu itu? " Haji Zakaria belum selesai menguliti. Ternyata beliau masih ingin menelisik lebih jauh.
"Zainuddin..."
"Zainuddin?! " Haji Zakaria mengerutkan keningnya.
"Ya... Zainuddin teman sekamar abah ketika di asrama dulu" Ucap Hajjah Aisyah memejamkan mata. Sudah terlanjur basah. Biar tercebur sekalian. Haji Zakaria mengepalkan tangannya. Marah. Benar-benar marah.
Bagaimana tidak? Zainuddin adalah teman akrab dan yang paling menyemangati beliau ketika meminang hajjah Aisyah.
"Aisyah, hari ini... Engkau ku TALAK... Hari ini juga sampai seterusnya sudah haram bagi kita untuk bercampur"
Tes
Air mata Hajjah Aisyah kembali mengalir.
"Bah.. Perceraian adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah" Ucap Hajjah Aisyah masih berharap.
"Kendati demikian, ia halalkan oleh syariat. Aku akan memohon ampun pada Allah SWT akan hal ini. Tapi Insya Allah ini adalah keputusan yang terbaik. Bukan aku tidak memaafkan mu... Tapi aku hanya tidak ingin menyakitimu... Rumah tangga yang dibangun di atas rasa kecewa hanya akan membawa kemudharatan. Aku tidak bisa berpura-pura untuk tersenyum. Aku tidak bisa berpura-pura bersikap baik nantinya. Sedangkan Rasulullah bersabda Laki-laki yang paling baik adalah laki-laki yang paling bersikap baik pada istrinya "
"Aku bukan manusia suci tanpa dosa namun demi sebuah integritas. Kemurnian hati. Iman Islam. Kebaktian. Keagungan cinta. Aku harus melakukan ini sebagai sebuah pelajaran yang berharga"
"Cinta yang terlalu dalam dan perasaan kecewa yang terlalu besar berjarak seperti sebuah kertas tipis. Ia terlalu mudah robek. Kekuatan nya seperti piringan porselen, yang mana ketika dijatuhkan dengan kekuatan besar akan jatuh berhamburan berkeping-keping tanpa bisa kembali diperbaiki" Lanjut Haji Zakaria. Beliau berbalik menghadap ke jendela luar.
"Bah,, kesempatan itu benar-benar tidak ada lagi? Berikan Ummi kesempatan kedua! Ummi mohon bah!! Ummi mencintai Abah, abah juga mencintai Ummi...Ummi tau itu.. Ummi bisa melihat dari sorot mata Abah... Cinta Abah kepada Ummi masih sangat besar" Hajjah masih tidak menyerah.
"Bertaubatlah... Zina itu dosa besar. Ia masuk ke dalam urutan dosa-dosa besar. Aku memang mencintai mu Aisyah. Perasaan ini belum hilang. Ia masih saja mengakar kuat walau sudah berusaha keras kau hancurkan. Aku memang mencintaimu... Tapi rasa cintaku kepada Tuhan jauh lebih besar dari cintaku padamu! " Sahut Haji Zakaria meremas kuat dadanya. Rasa sakit itu terasa teramat sangat. Beliau tanpa sadar menggigit bibir nya hingga berdarah.
Hajjah Aisyah kembali terhuyung. Beliau seperti melihat kiamat berada di depan mata.
Bruuukkk
Hajjah Aisyah pingsan seketika.
***
.
.
Man Teman~ Alana mau sedikit menanggapi komenan beberapa teman-teman di sini yang pernah menyarankan Haji Zakaria nikahnya sama Iqlima saja... hehe~
Posisinya Haji Zakaria dan Iqlima adalah Menantu dan Mertua ya~ Sepenggetahuan Alana yang faqir ilmu.. Mereka adalah Mahram (Mu Abbad (Mahram Abadi) ~ Selamanya akan menjadi Mahram walau misal nantinya diantara Iqlima dan Yahya tidak ada lagi ikatan pernikahan alias bercerai, Hubungan Haji Zakaria dan Iqlima tetap seperti Ayah dan Anak. Haram dinikahi. Jumhur Ulama sepakat akan hal ini.
Dalilnya berdasarkan surat An-Nisa ayat 23... Penyampaian sekilas aja ya... Mungkin nanti bisa kita baca2 lagi... Maafkan kalau salah~
__ADS_1
Wallahu A'lam bish Shawab~ 🙏🙏🙏