Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 108: Persaingan


__ADS_3

Setelah pertemuan bersama teman-temannya, Haris seperti menemukan titik terang atas kasus yang menimpa Hana dulu.


Haris tau, ia tidak boleh bertindak gegabah. Ia akan memantau lebih lanjut bagaimana sepak terjang dari orang tersebut sebelum mematahkan taringnya.


Ia sudah bertekad menyusut tuntas kasus Hana sampai ke akar-akarnya. Kebenaran harus di ungkapkan, kejahatan harus diberi pelajaran.


Kini Ia tengah mengendarai mobil untuk pulang menjemput Hana, ia sudah berjanji kepada istrinya itu akan mengajaknya untuk makan malam di luar.


Hari ini akan menjadi sedikit special, mengingat esok adalah hari anniversary mereka yang pertama. Ia juga telah membooking kamar hotel dengan rating terbaik untuk merayakan hari jadi mereka.


Tiiin Tiiin...


Haris memencet klakson mobil sesampainya ia di depan pintu gerbang rumah mereka.


Seperti biasa, Hana keluar dengan dandanan nya yang simple namun tetap terkesan anggun. Ia menenteng tas yang agak besar berisikan beberapa pasang pakaian miliknya dan milik Haris di sana.


"Mas... Sebentar ya.... Aku kelupaan menaruh piyama, ini hanya beberapa baju ganti...."Ucap Hana ketika membuka pintu mobil. Haris melirik jam tangannya, sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.


"Nanti kita singgah di mall. Udah mau maghrib, nanti ga keburu. Yuk! " Ajak Haris. Mau tidak mau Hana masuk ke dalam mobil lalu memasangkan seatbelt ke tubuh nya.


"Kita mau makan dimana Mas? "Tanya Hana tetap melihat lurus ke depan.


"Ada deh, ntar kamu juga akan tau" Sahut Haris menyunggingkan senyumnya.


"Mas..."


"Ya..."


"Banyak sekali mata kuliah yang harus ku ulang, aku takut tidak bisa tamat tepat waktu" Keluh Hana tiba-tiba.


"Ya memang nya kenapa kalau tidak tepat waktu? Aku juga 5 tahun baru wisuda" Sahut Haris santai.


Hana menoleh ke arah suaminya itu, entah mengapa ia merasa ketika menyetir ketampanan Haris bertambah berkali lipat apalagi ketika membelokkan stiur. Hana benar-benar terpesona.


"Aku tau aku sangat tampan..." Celoteh Haris tiba-tiba yang menyadari Hana menatap nya tanpa berkedip.


"Ih... Ge Er. Siapa juga yang liatin mas... Aku cuma mau bilang aku takut kalau telat, nanti aku kesulitan di terima bekerja dimana-mana"


"Kamu tidak perlu susah-susah bekerja, aku masih mampu membayaimu. Cukup urus saja aku dan anak-anak kita" Sahut Haris mengambil tangan Hana dan menggenggam nya.


"Kamu boleh kuliah setinggi yang kamu mau, semana yang kamu mampu, sampai s2 s3, terserah kamu. Tapi, untuk kamu bekerja diuar sana, aku harus memikirkannya Matang-matang" Lanjut Haris lagi. Kali ini Hana terdiam, entah mengapa pembicaraan tentang anak sedikit mengganggu nya.


Beberapa menit berlalu, buru-buru Haris memarkirkan mobilnya tepat di halaman mesjid Syuhada. Mereka masbuk, Imam dan makmum sudah duluan melakukan shalat 1 raka'at. Bergegas mereka berwudhu dan masuk dalam barisan.


Bismillahirrahmanirrahim... Alhamdulillahirabbil 'aalamiiin...


Ar-Rahman Ar-Rahiim...


Imam memulai rakaat kedua, bacaan yang sangat familiar. Batin Hana. Ternyata Gibran yang menjadi Imam. Bacaannya begitu fasih dan merdu, wajar saja ia selalu menang dalam lomba musabaqoh.


Usai mengucap salam, Gibran terkejut mendapati Haris yang tengah menyempurnakan shalat nya. Maghrib ini ia memang di minta menjadi imam dadakan.


Usai berdzikir dan melakukan shalat sunnah, ia keluar dan menunggu Ni Rui di parkiran mobil. Temannya itu masih saja tertarik mempelajari tentang Indonesia dan enggan untuk kembali ke negara nya. Entah berapa banyak sudah dana yang di habiskan demi memenuhi ambisinya.


Tampak dari dalam mesjid Ni Rui keluar bersama Hana. Mereka saling berbincang seperti memang sudah berteman lama.


"Itu temanku! " Ucap Ni Rui dengan bahasa Inggris yang menunjuk ke arah Gibran. Hana yang sudah mengenal betul Gibran tampak sedikit terkejut. Hmh, ternyata Gibran bersama seorang wanita. Apa ini kekasihnya. Pikir Hana. Mereka berjalan ke arah Gibran bertepatan dengan keluarnya Haris dari dalam mesjid.


"Gibran, aku bertemu dengan teman baru. Ini Hana! "


"Kami sudah saling mengenal. Kami memang teman akrab" Sahut Gibran cepat. Ia sumringah melihat Hana, wanita ini tidak pernah gagal meluluh lantakkan hatinya. Bolehkah ia meminta agar takdir bisa membersamai nya? Sekali saja.

__ADS_1


"Hemmmm.... " Haris berdehem mendekati mereka.


"Ah... Ni Rui... Ini suamiku! " Hana langsung mengenal kan Haris yang sudah berdiri di samping nya. Haris langsung merangkul bahu Hana. Tuk sejenak kecanggungan menyelimuti mereka. Namun tidak dengan Ni Rui. Gibran tersenyum masam.


"Wah, ternyata kamu sudah menikah?? Aku mengira kamu masih single seperti ku. Hi Mr. Haris, aku Ni Rui. Senang berkenalan dengan istrimu" Ucap Ni Rui ramah.


"Ya, Terima kasih. Istriku memang orang yang sangat menyenangkan" Sahut Haris, namun tatapannya malah di arahkan ke mata Gibran. Untuk sejenak mereka saling melemparkan pandangan. Pandangan yang tidak ada keramahan sama sekali didalamnya.


"Ngomong-ngomong kalian mau kemana? " Tanya Hana berbasa basi. Jujur saja ia agak terkejut Gibran bersama seorang wanita apalagi wanita asing, mengingat laki-laki itu jarang memiliki teman wanita. Mungkin dugaan nya benar bahwa Ni Rui adalah kekasih Gibran.


"Kami mau.... "


"Pulang... " Sahut Gibran.


"Makan malam... " Sahut Ni Rui. Mereka menjawab berbarengan namun dalam bahasa berbeda. Ni Rui menjawab dengan bahasa Inggris dan Gibran menjawab dengan bahasa Indonesia. Sayangnya jawaban mereka tidak sangat berlawanan.


Haris tersenyum mengejek. Ni Rui yang tidak mengerti bahasa Indonesia bersikap biasa saja.


"Kalau kalian mau kemana? " Tanya Ni Rui lagi.


"Kami juga mau makan malam" Jawab Hana.


"Wah.. kebetulan sekali, kalau kita makan malam bersama bagaimana? " Tanya Ni Rui berbinar, ia mengarahkan pandangan nya pada Gibran meminta persetujuan.


"Hmh... Maaf... " Jawab Haris cepat. Namun belum sempat ia menyelesaikan jawabannya, Hana sudah menyahut,


"Baiklah, ide yang bagus. Tidak ada masalahnya kita makan malam bersama! Iya kan mas? " Hana sumringah,, ia memamerkan deretan gigi rapinya. Haris sedikit menghela nafas.


"Hmh... Iya, baiklah" Haris menyunggingkan senyum terpaksa.


Batal makan malam romantis nya bersama Hana!


***


Suasana makan malam ala fine dining memang sudah dipersiapkan Haris untuk Hana. Ia sudah menyiapkan nya jauh-jauh hari. Steak, Lampu redup dan alunan biola mengalun merdu menambah keromantisan di sana.


Hana sama sekali tidak menyangka Haris sudah mempersiapkan hal ini sedemikian apiknya. Ia jadi merasa bersalah sudah menyetujui Ni Rui untuk makan malam bersama.


Pun wanita Chinese muslim itu juga merasa tidak enak, semua itu jelas tergambar jelas dari raut wajahnya. Sedang Gibran, rasanya ia ingin enyah saja melihat keromantisan Haris memperlakukan Hana.


"Honey... Aaaa... Kamu harus coba ini! " Tuk kesekian kalinya Haris menyodorkan sendoknya ke mulut Hana. Wanita ini melirik sedikit canggung ke arah Gibran dan Ni Rui yang sedari tadi hanya diam menikmati makanan mereka.


"Gimana rasanya? " Tanya Haris menatap ke dalam manik mata Hana.


"Hmh... Enak... " Sahut Hana, lagi-lagi dengan jawaban yang sama. Ia tidak tau harus berlaku bagaimana. Semua jadi serba salah.


Haris tersenyum manis sekali, ia meletakkan tangan ke atas tangan istrinya yang berada di atas meja. Semua hal tersebut tidak luput dari penglihatan Gibran. Laki-laki ini agak mengeraskan bunyi sendoknya.


"Hana dan Ni Rui, kalian berdua juga harus mencoba ini" Gibran tak mau kalah, ia meletakkan makanannya ke piring dua wanita yang tempat duduk mereka tak jauh darinya. Namun matanya tak lepas dari menatap ke wajah Hana.


"Hemmm... " Haris harus berdehem melihat kelakuan Gibran. Ia benar-benar merasa kesal.


"Gibran, seperti nya kita harus menyudahi makan malam kita, aku lupa harus membeli sesuatu" Ucap Ni Rui yang seakan paham akan situasi yang terjadi.


"Hmh, baik lah kalau memang begitu maumu. Haris, Hana... Kami permisi dulu. Terima kasih untuk kebersamaan malam ini" Pamit Gibran.


"Terima kasih juga Mas, Ni Rui... malam ini benar-benar menyenangkan" Hana berkata dengan bahasa Inggris dan melirik ke arah Ni Rui.


"Oh iya, Selamat ya mas... kami menunggu undangan pernikahan dari kalian" Kali ini Hana berkata dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sengaja Ia berkata seperti ini, ia ingin melihat jawaban Gibran, Ia penasaran apa benar wanita ini kekasih laki-laki itu.


"Kamu tidak perlu menunggu undangan apapun, karena kamu sudah mengetahui jawaban nya, aku sudah sangat sering memberitahu mu" Ucap Gibran tegas namun menatap Hana sendu. Ia tidak mempedulikan keberadaan Haris di sana.

__ADS_1


"Apa maksud mu?! " Tiba-tiba saja Haris menjadi emosional. Hampir saja ia menyerang Gibran.


"Mas.... ! " Hana menarik Haris mundur.


"Permisi... " Gibran berlalu, Ni Rui mengikuti nya dari belakang.


***


"Mas, aku benar-benar tidak tau rencana makan malam ini, maafkan aku" Ucap Hana memegang lengan Haris. Suaminya ini sedari tadi hanya diam saja.


Jujur saja Haris benar-benar merasa kecewa, cemburu, juga marah. Kali ini entah mengapa ia lebih marah dari melihat pesan chat yang ia baca pada handphone istrinya.


Kini Haris tau bahwa Gibran benar-benar sebuah ancaman untuknya. Bukan, ini lebih buruk dari itu, bisa saja Hana yang berpaling darinya. Haris melihat dengan jelas betapa istri nya itu masih tertarik dengan kehidupan Gibran. Semua tergambar jelas dimatanya. Ia bukan laki-laki bodoh yang tidak paham situasi. Haris terus saja berpikiran buruk. Semua hal negatif bercokol di benaknya.


Mereka telah berada di sebuah kamar hotel yang memang sudah Haris booking kan. Keberadaan Gibran dan Ni Rui merusak semua rencananya.


Haris sedari tadi sudah mengacuhkan Hana dan lebih memilih berdiri di dekat jendela. Ia sadar bahwa ia harus menetralkan perasaannya agar tidak sampai melampiaskan emosi nya wanita yang telah membuatnya tergila-gilanya itu.


"Mas... bicaralah... jangan acuhkan aku begini... ku mohon... "


"Mass..... " Hana terus saja merengek. Haris memejamkan matanya, ia yang sedari tadi sudah menahan emosi nya, benar-benar ingin meledak.


"Lepaskan pakaianmu!! Layani Aku!! " Perintah Haris tiba-tiba. Ia menoleh dan menatap Hana tajam. Hana terhenyak.


"Ayo cepat! Tunggu apalagi??!!" Dengan gerakan cepat, Haris menggiring Hana ke atas tempat tidur. Ia menjamah istrinya dengan brutal. Hana yang tidak memiliki persiapan benar-benar terkejut. Haris tidak pernah sekasar ini, ia bertindak layaknya seorang pemerkosa. Suaminya itu membuka paksa pakaian yang Hana kenakan. Baju tersebut robek seketika.


Haris terus saja melancarkan serangan nya. Ia melampiaskan apapun pada diri Hana, seolah-olah ia begitu takut kehilangan dan ingin menegaskan bahwa Hana hanya miliknya seorang.


Tesss


Tiba-tiba Haris merasakan ada Air mengaliri lengannya. Ia tersadar, ternyata Hana menangis.


Hah hah hah.


Nafas laki-laki ini memburu. Sadar perbuatannya menyakiti Hana, Ia pun merenggangkan tubuh nya dari sana, lalu berbaring terlentang di samping wanitanya.


"Maafkan aku... " Lirih Haris.


Hah hah hah.


Nafas Haris masih saja memburu, ia seperti baru habis lari marathon. Hana menarik selimut menutupi tubuh polos nya.


"Maaf kan aku.... "


***


"Jadi wanita yang telah bersuami itu yang begitu kamu inginkan? " Lirih Ni Rui yang kecewa akan sikap Gibran yang begitu berbeda malam ini. Laki-laki ini tertunduk. Ia tau ia salah, namun ia juga tidak tau bagaimana mengontrol perasaan nya.


"Taukah Kamu? Kamu bisa membuat mereka berselisih paham. Apa kamu tidak sadar bahwa kamu salah? Bukankah kamu pernah mengatakan kalau kamu akan menjauhi dan melupakan nya? "


"Aku tau aku salah, namun aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku. Bantu aku Ni Rui. Bantulah Aku melupakan Hana" Gibran mengacak kasar rambut nya.


"Nikahilah Aku... Aku berjanji akan membuat mu melupakan Hana! "


Spontan Gibran mendongakkan kepala nya, Ia tercengang akan permintaan Ni Rui.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


***

__ADS_1


__ADS_2