Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 11: Pertemuan di Cafe


__ADS_3

Seminggu berlalu dari rencana Haris memboyong Hana ke rumah baru mereka, rumah dinas tepatnya. Dan hari ini adalah hari pertama mereka setelah barang-barang penting berhasil dipindahkan.


Ummi dan Abah sebenarnya agak keberatan dengan keputusan mereka. Namun Ummi dan Abah juga paham bahwa anak-anak butuh privasi, butuh belajar kemandirian dan tanggung jawab terhadap kewajiban masing-masing.


Rumahnya tidak terlalu besar namun untuk ukuran sebuah rumah dinas, rumah tipe 100 ini sudah sangat baik untuk ditempati. Ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja mini, ruang makan, ruang dapur lengkap dengan kitchen set minimalisnya, juga ada dua kamar tidur dan dua kamar mandi.


Satu kamar mandi untuk umum, satu kamar mandi nya lagi berada di dalam kamar tidur utama. Di bagian luar depan ada garasi yang cukup menampung satu mobil dan satu motor, juga ada taman mini lengkap dengan kolam ikan. Sedangkan dibagian belakang masih ada sepetak tanah 10 x 9.5meter yang cukup untuk bercocok tanam atau ssekedar meletakkan jemuran.


Lingkungan perumahan dinas ini juga begitu asri. Banyak pohon Asan juga pohon Asam Jawa yang berada memanjang di sepanjang jalan utama. Dua rumah yang sama persis berada di kanan kiri juga telah terisi. Nampaknya Hana akan betah berada di sini.


“Kenapa kamu melamun, hm?” tanya Haris yang melihat Lamunan Hana.


“Aku lagi memikirkan betapa asrinya perumahan ini, semoga kita betah” Hana tersenyum.


“Aamiiin yaa Rabb” Haris mengaminkan.


“O iya, mas mau tidur di kamar yang mana?” Hana bertanya sambil berjalan melihat-lihat kamar.


“Maksudmu?” Haris masih sulit menangkap maksud Hana.


“Kamar di rumah ini ada dua, sepertinya memang lebih baik kita menempati kamar kita masing-masing, bukankah begitu?” Jawab Hana santai.


Haris terdiam. Entah mengapa ia merasa sedikit keberatan. Tetapi kenapa ia harus keberatan?


“Hmh, kamu yang memilih. Aku ikut saja”


“Kalau begitu aku akan memilih kamar utama. Di dalam, ada kamar mandinya, lebih memudahkanku sebagai seorang perempuan untuk berganti pakaian.” Diberikan kesempatan untuk memilih, Hana pun langsung memilih dengan antusias.


Hmh, alasan yang logis. Pikir Haris.


“baiklah. Terserah kamu saja.”


“Hmh, Bagaimana kalau sore ini kita ke supermarket untuk berbelanja bahan makanan kebutuhan kita sehari-hari? Kamu bisa masak kan?” Tanya Haris kemudian.


Hana menggeleng. Ia memang bisa memasak karena sering membantu Ummi di dapur. Tapi sebenarnya kemampuan memasaknya hanya biasa saja. Tidak ada peningkatan dan perubahan. Ia memang ahli di bagian mata pelajaran, bagian hafalan, namun sangat payah di bagian memasak.


“Masakanku standar mas, tapi aku akan berusaha untuk masak” Hana mengatakan dengan mantap.


“Baiklah, kita bisa saling belajar.”


Hana pun tersenyum. Haris memang teman yang baik. Setidaknya begitulah pemikiran sementara Hana. Haris yang melihat senyuman itu langsung merasakan debar aneh didadanya. Tanpa sepengetahuan Hana, Haris meletakkan tangannya tepat di bagian jantung yang berdetak.


***


“Haris, kapan kita ngopi? Lu mentang-mentang udah ada istri lupa ama temen” Ridwan menyapa Haris di seberang melalui telepon seluler.


“Gue baru aja pindahan ni. Okay, ntar sore gimana?” Tawar Haris.


“Siip, gue tunggu di tempat biasa.”


“Gue bawa Hana ya, Kasian sendirian di rumah”

__ADS_1


“Ah lu yang betul aja, lu enak udah ada pasangan, laaah gua? Jadi nyamuk ntar”


“Ya lu kan bisa bawa…. Siapa itu cewek temannya Hana”


“Yura maksudnya?”


“Iya, siapa lagi”


“Lu aja bilang ke Hana tuk ngajak Yura, okay?”


“Cemen amat. Okay lah ntar gua atur” Haris akhirnya setuju.


“Okay, thank you bro!”


“Siiip.”


Setelah mengakhiri pembicaraannya bersama Ridwan, Haris melangkah mendekati kamar Hana. Perlahan Haris mengetuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban. Apa ia tidur? Kembali Haris mengetuk pintu. Lagi-lagi tak ada jawaban. Haris merasa tak sabar. Ia pun langsung membuka pintu kamar. Bukankah Hana adalah istrinya. Mengapa harus secanggung ini.


Pintu kamar terbuka, namun ia tidak mendapati Hana di dalam, juga tidak ada tanda-tanda Hana berada di kamar mandi. Tidak ada sedikitpun suara gemericik air di sana.


Haris mencari Hana ke depan, hingga ia mendapati Hana tengah berada di halaman belakang sedang mempersiapkan pot-pot untuk menanam tanaman. Diam-diam Haris duduk di kursi yang terletak di sana dan mengamati Hana.


“Hi, aku mencari kamu di kamar, kamu sedang apa?” Sapa Haris setelah beberapa saat, masih ada kecanggungan di antara mereka.


Hana tampak terkejut.


“Mas mencariku? Ada apa? Aku ingin bercocok tanam, setidaknya nanti ada bahan tanaman yang bisa kita gunakan untuk masakan atau pengobatan.”


“Alhamdulillah Good, kamu menemukan ide baru sekarang” Haris lega melihat Hana memiliki kesibukan. Setidaknya ia tidak akan bosan di sini selain melakukan  kegiatan kuliah dan menulisnya.


"Terus tanaman apa yang akan kamu tanam? " Haris penasaran.


"Sementara ada bawang merah, cabe merah, cabe hijau, rawit, jahe, lengkuas, kunyit dan beberapa jenis tanaman lainnya" Hana menjelaskan. Ia berbinar. Hal sederhana seperti ini saja mampu membuatnya bahagia.


“Wah, mantap. Aku tidak sabar ingin melihat hasil tanaman mu nanti " Haris menyemangati Hana. Gadis itu memberikan lambang semangat pada tangannya.


" Oh iya. Nanti sore keluar yuk! Ridwan mengajak kita bertemu di café.” Haris mencoba mengajak Hana.


“Dalam rangka apa? Mas benar-benar mengajakku?” Tanya Hana ragu-ragu.


“Tidak dalam rangka apa-apa, hanya duduk santai saja. Kamu juga ajak Yura ya, biar kamu nanti juga ada teman ngobrol. Aku tidak ingin kamu bosan sendirian di rumah, kan belum terbiasa” Ucap Haris memberikan perhatian kecilnya.


Mendengar kata Yura dibawa-bawa, Hana jadi semangat.


“Okay mas, aku telpon Yura dulu ya!” Hana girang dan melesat masuk ke dalam kamarnya untuk menghubungi Yura.


Haris tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Hana. Dia benar-benar semangat jika menyangkut sahabatnya itu.


***


Sore datang dengan matahari yang masih agak terik. Setelah melaksanakan ibadah shalat ‘ashar, Haris dan Hana bersiap-siap menuju  ke café  yang sudah disepakati bersama Ridwan tadi. Namun, sebelum ke café yang dimaksud, pasangan suami istri ini terlebih dahulu menjemput Yura. Hana lebih memilih duduk di kursi belakang bersama sahabatnya.

__ADS_1


“Han, apa tidak apa-apa aku ikut bersama kalian?” bisik Yura


“Tenang Ra, aman. Kita berdua bisa ngobrol banyak nanti di sana, duuuh aku merindukanmu” Ucap Hana sembari memeluk sahabat karibnya.


“Aku juga merindukanmu. Sudah lama tidak bertemu, aku senang keadaanmu baik-baik saja”


“Alhamdulillah” Hana mulai berkaca-kaca.


“Sudah, jangan menangis. Kita bersaudara selamanya  dan tidak saling melupakan satu sama lain” Yura memberikan pelukan hangat.


Haris yang melihat keadaan dua sahabat itu dari kaca bagian depan mobilnya hanya bisa menerka-nerka mereka membicarakan apa. Mereka seperti sudah setahun saja tidak bertemu, padahal kami menikah belum sampai sebulan. Aneh sekali. Pikir Haris.


***


Setibanya di café, tampak Ridwan dengan penampilan klimisnya. Ah, sepertinya ia tengah mencari perhatian Yura.


“Assalamu’alaikum, Woaaa rapi amat pak Boss” Sapa Haris ramah sambil mengerling iseng.


Ridwan gelagapan. Benar saja. Keberadaan Yura di sana membuat ia menjadi salah tingkah. Sedangkan Yura, ia bertingkah biasa saja dan tetap dengan sikap acuh tak acuhnya. Lagian ini sudah pertemuan keduanya bersama Ridwan setelah sekian tahun tidak bertemu.


Kemarin mereka sempat bertemu sebentar di masjid ketika Haris dan Hana melangsungkan akad nikah.


“Apa kabar? Sehat?” Ridwan menatap Yura tidak berkedip.


“Iya, Alhamdulillah aku sehat mas” Jawab Yura.


“Eheem… Yura aja ni yang ditanya? Kita ga ditanya gitu?” Haris semakin membuatnya salah tingkah.


“Eh, i.. iya, maksudku kalian semua”


“Alhamdulillah kami semua baik-baik saja dan sehat wal ‘afiyat mas” Hana mencairkan suasana.


Mereka pun duduk di kursi masing-masing sambil memesan minuman. 10 menit mereka mengobrol, tiba-tiba ada seorang wanita dari arah belakang Haris menyapa,


“Mas Haris???”


Air muka Haris berubah.


.


.


.


Hi Readers~ Terima Kasih sudah setia membaca, ditunggu masukkannya ya. Biar Author makin semangat nulisnya hehe.


By: Alana Alisha


Ig: @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2