
🎶🎶
Each day goes by and each night, I cry
Hari demi hari berlalu dan setiap malam, aku menangis
Somebody saw you with her last night
Seseorang melihatmu bersamanya tadi malam
You gave me your word, “Don’t worry ’bout her”
Kau mengatakan padaku, “Jangan khawatir tentang dia”
You might love her now, but you loved me first
Kau mungkin mencintainya sekarang, tapi kau mencintaiku dulu
Said you'd never hurt me but here we are
Kau bilang kau takkan pernah menyakitiku, tapi lihatlah kita sekarang
Oh, you swore on every star
Kau juga bersumpah pada setiap bintang
How could you be so reckless with my heart?
Bagaimana kau bisa begitu sembrono dengan hatiku?
🎶🎶🎶
"Aaaaaaaarghhhhhhh... " Arini menghempaskan tangan sekuat tenaga ke stiur mobil. Speaker di mobilnya berulang-ulang memutar lagu Reckless miliknya Madison Beer, lagu yang menurutnya benar-benar menggambarkan suasana kegalauan dihatinya kini.
Ia kehilangan Haris, Hanum pun sudah ditahan. Mirisnya lagi, nanti ia harus bersaksi atas kejahatan sahabat nya sendiri, padahal ia juga terlibat didalamnya. Ia benar-benar sendirian sekarang.
"Haaarriiissss, kamu tega!!!! Hiks hiks" Geram. Arini menangis sejadi-jadinya. Semua yang telah tersusun dan direncanakan dengan sistematis gagal sudah.
"Harriiiiissss... kamu pikir aku bakal nyerah gitu aja, Hah?! Hiks hiks" Air yang jatuh dari hidung nya semakin menjadi-jadi. Arini ingin mengambil tissue dari dalam tas, tangan nya meraup-raup isi nya, namun benda yang dicari tidak diketemukan.
Tok Tok Tok
Seseorang di parkiran mengetuk kaca mobilnya. Sial. Ia terpaksa mengambil kerudung nganggur yang memang selalu ada di dalam mobilnya sebagai persiapan lalu mulai menge-lap air yang hampir menetes-netes itu.
Arini membuka pintu kacanya. Seorang pemuda menyodorkan selembar tissue. Arini merasa kebingungan.
"Ambillah, kamu habis menangis kan? " Laki-laki itu menyodorkan kembali selembar tissue dengan tangan kanannya setelah melihat Arini yang mengabaikan pemberiannya. Di tangan kirinya ia memegang sebungkus tissue yang bungkusannya tidak asing bagi Arini.
"Ro.. Romi? " Ekspresi Arini setengah terkejut. Ternyata laki-laki itu teman lamanya ketika ia bersekolah di SMA dulu.
"Kenapa terkejut? Ini milikmu kan? Tadi aku melihatnya terjatuh dari tas mu ketika kamu terburu-buru keluar dari ruang sidang" Romi menjelaskan dengan memperlihatkan sebungkus tissue di tangan kirinya tadi. Arini masih terbengong diam. Wajahnya sembab.
"Boleh aku ikut naik ke mobilmu? " Tanya Romi kemudian. Bagai terhipnotis, tanpa mengeluarkan suara Arini mengangguk mengiyakan. Ia membuka kunci pintu otomatis mobilnya. Romi langsung melesat masuk ke dalam mobil tersebut.
"Tolong antar aku pulang ke apartemen" Titah pemuda yang bernama Romi itu.
"What?! "
***
Haris menyetir mobilnya membawa Hana pulang ke rumah. Ia tidak henti-henti melirik ke arah samping setiap kali ada kesempatan. Hana tetap sama, ia selalu saja senang melihat keluar jendela mobil, memperhatikan apa saja yang ada di luaran sana.
Ia Melihat ban mobil yang berdecit-decit beriringan berhenti di pertigaan, kehijauan pepohonan kota yang berada di pinggiran trotoar, para pejalan kaki yang terus saja melangkah dengan tujuan, juga gedung-gedung yang menjulang. Ia selalu senang memperhatikan itu semua. Apalagi ia yang sudah sekian lama mendekam di dalam penjara, rasanya tidak akan cukup menikmati karunia Allah yang hanya sekejap.
"Apa pemandangan di luar sana lebih menarik bagimu dibanding suami tampanmu ini, huh? " Pertanyaan sarkas Haris membuyarkan lamunan Hana. Pemuda itu merasa iri pemandangan diluaran sana lebih di minati daripada dirinya.
__ADS_1
Hana menoleh.
"Hehe.. Maaf, aku terbawa suasana" Hana terkekeh pelan.
"Lihat deh, Mas. Tidakkah daun berguguran yang di goyang kan angin itu menakjubkan?" Hana berbinar-binar menunjukkan sebatang pohon tua di dalam taman yang daunnya satu-satu jatuh perlahan diterpa angin.
Wuuuussssss~ Mereka berhenti di pertigaan lampu merah.
"Benarkah? Apa memang semenarik itu? Biarkan aku melihat nya" Haris memiringkan tubuh mencondongkan kepalanya ke arah jendela yang berada di sisi Hana.
"Tentu saja. Tapi, Lihatnya Harus dengan meresapi" Saran Hana mewanti.
"Hmh... sepertinya Aku tidak menemukan ketertarikan apapun di sana......" Haris menjeda ucapannya.
"Malah..... Aku merasa melihat mu jauh lebih menarik dari pada dedaunan yang berguguran itu" seketika Haris menolehkan wajah ke kiri. Pipinya dan hidung bangir Hana jadi bergesekan, agak keras.
"Aww... " Hana mengaduh memegang hidung nya.
"Sorry, sakit? " Haris memasang wajah khawatir. Ia ikut meneliti hidung tersebut.
Hana menggeleng. Lampu merah berubah warna menjadi hijau. Mereka melanjutkan perjalanan.
"Kita shalat zuhur dulu ya! " Ucap Haris dengan senyum tipisnya. Hana mengangguk setuju. Haris langsung membelokkan mobilnya ke arah gerbang mesjid Syuhada lalu memarkirkan nya di bawah pohon Asan.
"Yuk turun" Haris mengajak Hana.
"Aku menunggu di sini saja, Mas. Aku sedang datang bulan" Ucap Hana tak beranjak dari duduknya.
"Ha? Sudah berapa lama? "
"Sudah 4 hari, Mas! " Hana kikuk.
"Oh Okay. Hmh, Tapi kamu pakai... itu kan? " Haris bertanya dengan menggaruk tengkuknya.
Hana mengangguk cepat. Ia memang mendapatkannya di Lapas.
"Hmh, kalau mau minum, itu minumnya" Haris menunjukkan ke arah air mineral. Pemuda ini tak juga beranjak. Ia hendak melangkah namun kembali menoleh ke arah Hana,
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan kabari aku" Ucap Haris lagi.
Hana tersenyum geli.
"Mas, nanti waktu zuhur nya habis lho... Aku tidak kemana-mana dan menunggu mas di sini. Shalatnya yang khusyu' yaa " Hana menggoda Haris. Pemuda itu mengusap-usap kembali tengkuknya.
"Hmh. Baiklah. Aku shalat sekarang" Haris langsung melesat cepat ke tempat wudhu', tak lupa senyum manis ia sematkan sebelumnya.
***
Sesuai arahan, Arini memarkirkan mobilnya tepat di basement apartemen milik Romi. Pemuda itu mengajaknya masuk ke dalam cafe yang terdapat di bawah gedung.
"Terima kasih sudah mengantarku" Ucap Romi seraya menyeruput jus mangga yang telah mereka pesan. Mereka duduk berhadap-hadapan.
"Jangan basa basi. Mengapa kamu bisa berada di persidangan? Apa motif mu? " Tanya Arini ketus.
"Hey hey hey, ayolah lebih rileks. Kita baru saja bertemu setelah sekian lama. Kamu tidak pernah berubah ya tetap jutek seperti dulu kecuali ketika bersama...?" Romi menjeda kalimat nya, ia berkata sambil tertawa, kemudian kembali menyeruput minumannya.
"Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, katakan apa mau mu! "
"Come on Arini, aku tidak ingin apa-apa darimu! Kenapa kamu jadi curiga begitu? Ayolah... kita bicara lebih santai, bukankah kamu baru saja kelelahan mengikuti persidangan?" Ajak Romi kemudian.
"Lalu, mengapa kamu berada di pengadilan? " Arini melunak.
"Kamu lupa kalau aku dan Haris bersahabat dengan baik? "
"Apa mas Haris mengundangmu ke pengadilan? " Arini menatap Romi serius.
__ADS_1
"Kenapa kamu panik? Apa kamu malu aku mendengar rekaman suaramu di persidangan tadi?" Romi setengah mengejek Arini.
Piiiaassss. Muka Arini memerah.
"Haha memang benar-benar drama yang mengesankan" Romi menepuk-nepukkan tangannya.
"Stop it!! " Arini mendelik tajam.
"Kamu sangat mengesankan, rekamanmu dapat membongkar kasus dengan sukses haha" Romi menyindir Arini. Ia kembali tertawa.
"Apa kamu mengajak duduk di sini hanya untuk menertawakanku?! " Rasanya ia benar-benar ingin menelan hidup-hidup makhluk yang ada dihadapan nya.
"Aku hanya ingin menemani kegalauanmu. Itu saja" Romi menopang kan kepalanya menggunakan sebelah lengannya di atas meja menatap Arini. Tatapannya penuh ejekan.
"Kamu salah orang. Aku tidak galau! " Arini melipat tangannya.
"Lalu apa arti tangisanmu tadi?"
"Berbicara padamu hanya membuang-buang waktu ku saja! Aku permisi" Arini hendak beranjak. namun Romi mencegat nya.
"Tungguuuu! "
***
Haris dan Hana tiba dikediaman mereka. Hana berkaca-kaca. Rumah yang sudah lumayan lama ia tinggalkan, kini bisa dilihatnya lagi. ia melirik ke halaman, bunga-bunga sudah banyak yang layu, daun-daun berserakan di tanah. teras yang berdebu. Benar-benar tidak terawat.
"Maaf" Ucap Haris menyentuh bahu Hana.
"Kenapa Mas minta maaf? "
"Aku belum sempat membersihkannya, seharusnya kamu hanya melihat yang indah-indah sekarang" Haris menunjukkan raut wajah sedih.
"Kita bisa membersihkannya bersama nanti, jangan khawatir" Ucap Hana dengan menyunggingkan senyuman.
Bersama mereka masuk ke dalam rumah. Haris mengambil segelas jus Guava dari dalam kulkas.
"Minumlah" Haris menyodorkan nya kepada Hana.
"Terima kasih, aku ganti pakaian dulu" Ucap Hana mengambil minumannya lalu berlalu masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya.
Hana melihat-lihat ke dalam isi lemarinya. Harum parfum loundry kesukaannya menguar dari dalam sana. Ia memilih dress sejengkal di bawah lutut berlengan seperempat. Ia bercermin. Baju tersebut tampak longgar ia kenakan. Benarlah bahwa berat badannya memang sudah menyusut sekarang.
Ia menguncir tinggi rambutnya. Mengambil segelas guava dingin yang Haris berikan tadi lalu melangkah ke jendela. Ia membuka daunnya dan bersender di kusen kayu menatap keluar sambil menyeruput minumannya.
Masya Allah segar sekali. Ia memang butuh waktu untuk me-refreshkan semua. Pikiran nya melayang pada detik-detik keputusan Hakim Agung beberapa jam lalu. Ah, kini ia telah bebas setelah melalui berbagai kesulitan. Tidak bisa dipungkiri, Suaminya banyak mengambil andil dalam kebebasannya. Ia pun belum berterima kasih.
"Serius sekali. Kamu memikirkan apa, hm? " Haris muncul membuyarkan lamunannya. Suaminya itu mengalungkan tangan memeluknya dari arah belakang.
"M.. mas? "
"Ya. Kenapa melamun? " Haris kembali bertanya. Ia menghirup aroma yang menguar dari rambut Hana dalam-dalam. Harum sekali.
"Alhamdulillah. Aku bersyukur melihat ini semua" Hana terharu.
Haris melonggarkan tangannya.
"Malam ini kita nginap di luar, ya! " Ajak Haris menatap Hana serius.
"Mengapa begitu, Mas? " Hana mengkerutkan keningnya.
Haris mengulurkan tangannya menyentuh kusen jendela kemudian menunjukkan pada Hana.
"Rumah ini masih kotor dan berdebu, aku akan menyuruh bi Narti untuk membersihkannya, setelah itu baru kita tempatkan kembali" Haris menepuk-nepuk debu yang ada ditangannya kemudian ia kembali memeluk Hana dari belakang.
"Lalu, kita akan menginap dimana, Mas? "
__ADS_1
***