
Seseorang yang mengajarkanku
bahwa jantung ini berdebar
Satu-satunya orang yang terbangun setiap kali aku bernafas
Aku mencoba untuk membiarkanmu pergi,
Aku mencoba untuk mengosongkan semua dengan menyuruhmu pergi
Tapi, kau lah orang yang kurindui terus dan terus
Seseorang yang melukaiku seperti luka memar
Seseorang yang tetap bisa kulihat dengan hati ini,
Meski mataku tertutup
Aku mencoba untuk menahannya, mencoba untuk melupakanmu
Tapi, kau lah orang yang mengisi seluruh hatiku
***
Dengan mengucapkan bismillah dan doa perjalanan, Haris mulai membawa mobilnya melaju membelah pekatnya malam. Sebenarnya denyut dan rasa sakit di kepalanya masih terasa kuat, namun ia memaksakan diri untuk pulang. Ia tidak bisa menundanya dan benar-benar tidak sabar untuk bisa bertemu Hana.
Hujan gerimis yang turun perlahan tadi mulai menunjukkan kekuatannya, bulir-bulir itu membesar dan deras. Haris mengaktifkan Wind screen wiper mobil nya untuk menyeka air hujan yang kian hebat menyapa kaca.
Allahumma Shayyiban Naafi'an
Semoga Allah SWT menurunkan berkah bagi penduduk bumi melalui air hujan yang diturunkan dari langit.
Haris menyetel murattal pada speaker mobilnya, Lagi-lagi ia memilih lantunan merdu imam muda Muzammil Hasballah sebagai peneman kesendirian nya menyetir mobil.
Surat Maryam pun memenuhi pendengaran nya. Ia yang fasih berbahasa Arab dan telah mengikuti kelas tafsir al-Qur'an atas bekal yang dibawa nya dari mondok dulu, mengerti betul apa isi kandungan dari surah Maryam tersebut.
Salah satu yang di kisah kan dalam surah Maryam tersebut adalah tentang Nabi Zakaria yang berdoa kepada Allah secara rahasia, mengatakan bahwa beliau sudah tua, rambutnya abu-abu dan istrinya juga tua dan tidak bisa memiliki anak, namun beliau menginginkan seorang pewaris yang dapat menyenangkan Allah.
Nabi Zakaria meminta seorang putra untuk mewarisi darinya, beliau tidak berpikir dalam hal kekayaan, karena beliau adalah orang yang tidak memiliki harta benda.
Beliau menginginkan seorang putra untuk melanjutkan Kenabian dan untuk menyebarkan pengetahuan yang ia peroleh selama masa hidupnya. Allah segera menjawab, dan berkata:
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi pengikut, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh. (Al Qur'an 3:39)
Ketika Zakaria menerima berita yang mencengangkan ini, dia berdiri dalam doa. Dia menjawab dengan bertanya bagaimana ini bisa terjadi, mengingat usia tuanya dan kemampuan istrinya memiliki anak. Tuhan kemudian menegaskan pelajaran yang dipahami Maryam.
Demikianlah Tuhan melakukan apa yang Dia kehendaki. (Al Qur'an 3:40).
Haris menitikkan air matanya mengingat kisah ini, betapa Maha Besar dan Pemurah Nya Allah, Nabi Zakaria juga sangat pantas memiliki Yahya, seorang nabi Shalih pilihan sebagai pewaris kenabian.
Tiba-tiba pikiran Haris melayang pada telepon yang di layangkan oleh Hajjah Aisyah baru baru ini, istri dari Haji Zakaria yang sudah seperti ibu nya sendiri dan juga ia panggil dengan sebutan Ummi itu berpesan agar Ia dan Hana harus segera memeriksakan kesehatan mereka ke Dokter sebab mereka sudah setahun menikah. Ia harus segera memiliki pewaris mengingat usia nya yang sebentar lagi 28 tahun.
Mengingat ini Haris tertawa masam. Bukankah ini hal yang konyol? Mengapa persoalan anak selalu saja menjadi persoalan banyak orang?
Ya, Hajjah Aisyah hanya tidak tau bahwa ia dan Hana baru saja melakukan penyatuan di saat usia pernikahan mereka nyaris satu tahun. Namun Haris sangat yakin, bahwa Ia dan Hana juga segera bisa memiliki anak.
Haris sendiri sangat menghormati Hajjah Aisyah. Walau beliau tidak mengerti duduk persoalan yang sebenarnya, Haris tetap akan menghargai Ummi angkatnya itu, tidak ada salahnya Ia dan Hana memeriksakan kesehatan mereka ke dokter dan mengabarkan bahwa ia dan istrinya baik-baik saja lalu tinggal menunggu keputusan dari Allah.
Ya. Hal ini akan menjadi solusi tepat agar mereka tidak di rong rong lagi tentang perkara anak. Haris sendiri tidak mempermasalahkan nya, tapi akan lain ceritanya jika menyangkut Hana, Haris takut istrinya akan berpikiran.
Padahal Hana sendiri masih sangat muda, terlalu buru-buru dan tanpa perencanaan matang juga akan tidak baik untuk psikologis dan kesehatan mental nya.
Tiiiittttttt tiiiiiiitttttt tiiiiiittttttt
__ADS_1
Klakson keras dari pengguna kendaraan lain membuyarkan lamunannya. Hujan sudah sedikit reda. Ia menge-rem-kan mobil nya mendadak.
"Woyy!!! Kalau bawa mobil jangan mabuk!!!! Dasar ga waras!!!!" Hardik pengemudi yang tadi mengklaksonnya. Lalu setelah puas memaki, pengemudi itu kembali melajukan mobil nya setelah melihat Haris membuka kaca dan menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan maaf. Mereka hampir saja bertabrakan.
Nyaris sedikit lagi, dan Haris menyadari bahwa itu memang murni kesalahan nya. Konsentrasi nya terganggu oleh pikiran dan rasa sakit yang dari tadi mendera kepalanya.
Astaghfirullah, berkali-kali Haris beristighfar. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Ia memutuskan untuk menepikan mobilnya. Sejenak ia memejamkan mata berharap rasa sakit itu mereda. Tak sabar, Ia membuka kotak P3K di mobil dan mengambil obat generik pereda rasa nyeri lalu menenggaknya.
Sepuluh menit ia menunggu obatnya bereaksi, Setelah di rasa sakit nya agak mereda, ia pun lanjut melajukan mobil nya. Tak lupa Haris juga menyempatkan mampir untuk membeli oleh-oleh walau jalannya agak terhuyung.
Setengah perjalanan sudah Haris lalui, Kini Ia membawa mobil nya dengan begitu berhati-hati. Ia tidak bisa menyerah begitu saja. Sang kekasih sedang menantinya di rumah.
***
Hana melihat-lihat baju yang ada di dalam lemarinya. Ia tengah memilih baju terbaik untuk menyambut sang suami. Perangainya persis seperti gadis yang baru jatuh cinta. Ia dengan teliti memilih baju mana yang akan ia kenakan. Ia ingin suaminya itu tidak menyesal sudah memutuskan untuk pulang malam ini.
Ia mengambil beberapa dress, mencoba memakai semua untuk menentukan mana yang paling tepat lalu memanutkan diri di cermin. Ia berputar riang dan cekikikan melihat tingkahnya sendiri.
Setelah menemukan baju yang di rasa tepat, ia beralih membersihkan kamar yang memang selalu bersih itu. Tapi Hana ingin mempersiapkan ulang. Rasa-rasanya ia tidak ingin sebutir debu pun ada yang menempel di sana.
Hana kembali membuka lemarinya, melihat stok seprei yang memenuhi setengah rak di sana. Lalu mengambilnya satu, ia ingin menganti seprei yang menghiasi tempat tidurnya dengan seprei baru. Seprei biru langit ber motif abstrak pun menjadi pilihannya.
Dengan cekatan Hana menggerjakan itu semua. Ia mengerjakannya serapih dan sebagus mungkin. Tak lupa ia menge-cek pengharum ruangan. Pantas saja harum nya tidak menguar lagi, ternyata memang telah habis menguap.
Ia beranjak menuju laci dan mengambil pengharum baru, membukanya dan kembali meletakkannya di dekat AC yang menyala. Kini Aroma segar dari bunga Lily menguar kemana-mana.
Hana beralih melihat nakas yang kosong tak terisi, ia membuka box di bawahnya dan mengambil persediaan makanan dan meletakkannya di sana. Betapapun ia berpura-pura mengeluh kan makanan nya yang di makan habis oleh Haris, ia tetap ingin suaminya itu kembali mengambil makanan yang ia letakkan di sana jika memang tengah malam nanti masih merasa lapar.
Kini Hana tersenyum melihat apa yang sudah ia persiapkan. Walau di rasa masih jauh dari sempurna, setidaknya ia telah berusaha melakukan yang terbaik. Sekarang ia tinggal menanti kepulangan Haris.
Ia pun kembali memakai gamis dan kerudung nya lalu keluar dari kamar menuju ke ruang tamu, tak lupa ia melirik ke arah jarum jam yang menempel di dinding. Seharus nya setengah jam lagi Haris sudah tiba di sana.
Untuk mengusir rasa bosan, Hana beralih ke ruang perpustakaan, ia mengambil beberapa buku dan membawanya ke depan sambil menunggu Haris. Shirah nabawiyah, shirah sahabat, dan Shirah Ummul Mukminin Khadijjah menjadi pilihannya.
Atas perintah Ummi, Bi Lastri mengantarkan segelas susu coklat hangat dan sepiring buah-buahan untuk menemani Hana melahap buku-bukunya.
"Kurang lebih lima belas menit lagi, Mi" Jawab Hana yang kembali melihat jarum jam.
"Kamu sudah tidak marah lagi kan sama nak Haris? Kalian sudah berbaikan? "
Hana mengangguk kan kepalanya.
"Hana yang terlalu kekanak-kanakan. Hana bersalah karena terlalu cepat emosi dan terlalu cepat mengambil keputusan. Apa yang Abah nasehat kan benar, Mi... Ternyata Hana memang harus lebih banyak belajar dari Ummi dan Abah" Tukas Hana.
Ummi tersenyum dan mendekap putrinya. Betapa putri kecilnya begitu legowo dan begitu mudah memaafkan. Apalagi Ketika kebenaran sudah terlihat di depan matanya, maka Hana tidak segan untuk mengakuinya.
"Tentang perkataan Hajjah Aisyah, jangan terlalu kamu pikirkan. Semakin kamu berpikir dan memasukkan nya ke dalam hatimu, maka kamu akan semakin sulit mencapai tujuanmu. Biarkan semuanya mengalir namun tetap berusaha semaksimal mungkin" Nasehat Ummi yang semakin mendekap Hana.
"Hana tidak memasukkan perkataan Hajjah Aisyah ke dalam hati, namun Hana menjadikannya sebagai cambuk penyemangat. Sambil terus berdoa, semoga Allah berkenan menganugerahi pernikahan Hana dan mas Haris dengan keturunan shalih shalihah" Hana tersenyum menanggapi nasehat Ummi.
Hana paham bahwa Ummi nya mengkhawatirkan kesehatan mental nya. Padahal tidak bisa di pungkiri, sedikitnya ada rasa was was yang menyelinap halus di hatinya., dan ia sudah harus bersiap siap akan segala kemungkinan buruk yang terjadi.
"Alhamdulillah, Ummi bahagia dan lega mendengar nya. Untuk putri shalihah Ummi, Ummi akan selalu mendoakan kebaikan untukmu nak!" Ummi berkaca-kaca.
"Kalau begitu lanjutkan bacaanmu, Ummi masuk ke kamar dulu" lanjut Ummi menyeka airmatanya. Hana mengangguk penuh haru.
***
Dua puluh lima menit sudah Hana membaca buku nya. Ia merasa bosan sebab sang suami belum juga tiba. Dari tadi di sela-sela ia membaca buku, ia sudah bolak balik berulang kali membuka gorden jendela ruang tamunya, mengintip di sana kalau-kalau saja Haris sudah tiba.
Padahal ia tau jika berada di ruang tamu, maka suara mobil yang memasuki halaman rumah akan terdengar. Namun, memang dasar ia sudah tak sabar, maka tanpa di pinta, tubuhnya secara otomatis akan bergerak untuk mengintip keluar sana.
Waktu terus berjalan, kini sudah hampir satu jam waktu perkiraan tibanya Haris di rumah meleset. Hana merasa cemas. Ia pun bergegas masuk ke kamar untuk mengambil handphone, kalau kalau saja Haris sudah menghubungi nya. ternyata sama sekali tidak terdapat pesan dari sang suami di layarnya.
__ADS_1
Tak menunggu lama, ia pun melakukan panggilan. Masuk, nomor Haris berdering.
"Assalamu'alaikum mas"
"Waalaikumsalam" Sahut Haris dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Mas, mas sudah dimana?" Tanya Hana antusias.
"Aku sudah di persimpangan jalan, maaf tadi aku mengantri mengisi bensin" Ucap Haris pelan. Ia seperti sudah kehilangan energi.
"Apaa? Mas mengatakan apa?" Tanya Hana lagi, ia benar-benar tidak tau apa yang Haris katakan.
"Aku sudah di simpang jalan" Haris mencoba mengencangkan suaranya. Ia tengah membelokkan mobil memasuki jalan perumahan Hana.
"Alhamdulillah, baik. Aku akan membukakan pintu"
Tiit tiiitt tiiiit
Haris memutuskan sambungan telepon sepihak. Hana melihat aneh ke layar kaca. Mungkin saja Haris kesulitan mengangkat telepon. Hmh tapi tidak mungkin, biasa Suaminya menempelkan handphone di depan dekat speaker sehingga tidak perlu repot mengangkatnya.
Hana pun bergegas membuka pintu depan dan menunggu di teras. Kurang dari lima menit menunggu, mobil Haris memasuki gerbang perkarangan. Hana langsung tersenyum sumringah. Alhamdulillah 'alaa Kulli Hal. Ucap nya bahagia.
Haris tepat memberhentikan mobilnya di dekat teras, ia belum berencana memasukkan mobil tersebut ke dalam garasi.
Ketika ia hendak bersiap-siap keluar dan membuka pintu tiba-tiba saja sakit di kepalanya semakin menjadi, tubuhnya limbung. Ia merasa dunia seperti jungkir balik. Tak kuat, ia memejamkan matanya dan menumpu kepala nya di stiur mobil.
Hana yang melihat suaminya tidak kunjung menampakkan diri pun menghampiri, wanita berkerudung rapat ini perlahan lahan menapak kan kakinya menuju mobil.
Tok tok tok
"Mas... "
Tok tok tok
"Mas... Mas Haris! " Hana mengetuk ngetuk pintu mobil, Lalu Ia meletakkan kedua tangannya ke kaca membentuk gerakan mengintip. Samar-samar ia melihat Haris tengah menumpukan kepalanya ke stiur. Hana jadi khawatir, ia pun mencoba membuka pintu mobil, Sayangnya pintu tersebut terkunci.
"Masss... " Mata Hana mulai berair.
Tok tok tok
"Maassss... mas kenapa? " Sukses, airmata nya yang tadi berair mulai mengalir.
"Masss!!" panggil Hana lagi. Ia mulai panik, namun tiba-tiba Haris bangkit dan membuka pintunya.
"Kenapa, hm? " Haris menyapa Hana dengan tersenyum manis sekali. Namun wajah nya terlihat sangat pucat.
"Kamu takut aku kenapa-kenapa ya? " Hana mengangguk cepat.
"Aku hanya sedikit pusing kok, Aku sudah mengatakan nya tadi ketika di dalam mobil agar kamu menunggu sebentar tapi sepertinya kamu tidak mendengar karena memang mobilnya agak kedap suara" Ucap Haris lemah, suaranya begitu pelan terdengar.
"Jangan menangis, aku tidak ingin melihat mu menangis" Ucap Haris. Hana terpaku melihat suaminya. Dengan gerakan perlahan Haris mencoba menghapus air mata Hana.
"Sini peluk aku, aku rindu pelukanmu" Bisik Haris semakin samar terdengar. Pemuda ini merentangkan tangannya.
Hana maju dan ingin memberikan pelukannya. Ia sempat melirik orang ke kanan dan ke kiri. Lalu tiba-tiba belum sempat mereka berpelukan,
Bruuuukkkkkk
Haris ambruk ke tanah.
***
Hai Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
__ADS_1
Ig: @alana.alisha
***