
"Ini calon istri kedua mu" Hajjah Aisyah menunjukkan foto seorang wanita ke hadapan Haris. Hana sudah akan menitikkan airmata nya. Ia masih terus saja menunduk. Enggan melihat calon istri kedua sang suami.
"Mi... mi... " Haji Zakaria memberikan peringatan pada istrinya untuk berhenti bicara. Menurut sang Ulama, istri nya sudah keterlaluan.
Tak Ayal, Serta merta Haris bangkit... wajahnya memerah dan matanya menyala. Ia menatap Hajjah Aisyah lekat-lekat, Bagai benda yang telah disiram minyak tanah, luapan api dalam tubuhnya seperti siap untuk membakar apa saja yang ada di hadapannya.
"Mas,, mas,, " Lirih Hana pelan dengan menarik-narik lengan Haris mengisyaratkan suaminya untuk duduk. Hana menggigit bibir bawah nya. Takut jika-jika emosi Haris tidak terkontrol dan semua akan semakin runyam.
Haris menghirup oksigen yang terasa terbatas di ruangan luas itu sebelum akhirnya kembali duduk.
"Hemmm..." Haji Zakaria berdehem mengalihkan suasana yang berubah canggung.
"Nak Sri... Sri..." Panggil Haji Zakaria pada salah satu Khadimah yang masuk dengan menundukkan kepala tanda hormat.
"Tolong bawa Ning Hana untuk istirahat di kamar" Pinta Haji Zakaria lagi.
Seuai titah, Sri membawa Hana ke kamar tamu untuk beristirahat. Kini tinggal-lah Haji Zakaria, Hajjah Aisyah dan Haris di ruangan tersebut.
"Tolong nak Haris jangan salah paham akan maksud baik Ummi" Ucap Haji Zakaria yang sebelumnya telah melayangkan tatapan tajam ke wajah istrinya.
"Maaf bah, Haris tidak bisa menikah lagi. Jika Allah memberikan kesehatan dan umur panjang, Haris hanya ingin menua bersama Hana. Ada atau tidak adanya anak" Ucap Haris dengan berterus terang. Ia masih berusaha untuk bersopan santun menghormati orang tua angkatnya itu.
"Kamu tidak boleh egois nak! Apa jadinya jika anak cucu Haji Abdurrahman tidak memiliki keturunan berikutnya? tidak memiliki penerus? Seharusnya kamu juga tidak hanya memiliki seorang anak, kamu harus mengupayakan banyak keturunan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ
“Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur, sebab aku berbangga dengan jumlah kalian yang banyak di hadapan umat-umat yang lain.”
Al-Walud artinya wanita subur yang dapat melahirkan banyak anak. Ditambah lagi hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menyebutkan bahwa pahala seseorang yang sudah meninggal akan terus mengalir dikarenakan anaknya. " Bebel Hajjah Aisyah panjang lebar.
"Astaghfirullah.. Mi, cukup! Nak Haris sudah cukup bersabar atas Kalimat-kalimat yang Ummi lontarkan! Bagaimana jika nak Hana mendengar apa yang Ummi katakan? Adab itu letaknya di atas ilmu!Berkata Syekh Abdul Qadir Al Jailani: Aku lebih menghargai orang yang beradab, daripada orang yang berilmu. Jika hanya berilmu, iblis pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia! . Sekarang biarkan abah yang berbicara! " Sindir Haji Zakaria mulai jengah. Hajjah Aisyah bungkam.
"Begini nak Haris, bagaimana pun Abah harus menyampaikan perkara ini. Setelah mendengarkan nya, terserah nak Haris mau mengambil kesimpulan juga keputusan yang bagaimana. Abah yakin nak Haris sudah dewasa dan cukup bijak dalam menentukan pilihan hidup"
"Haji Abdurrahman. Kakekmu yang Allah karuniakan harta berlimpah itu sebelum meninggal mewasiatkan kepada Abah untuk mengelola hartanya sampai usiamu 28 tahun. Kita semua tau akan hal ini. Namun, Harta berserta aset beliau, tidak hanya berupa perusahaan. Lebih dari sekedar itu, nak! Beliau memiliki pondok pesantren yang cabang nya sudah tersebar sampai Yaman, beliau juga memiliki yayasan yang menaungi para anak yatim piatu yang butuh perhatian. Juga berbagai aset lain termasuk hotel dan kapal pesiar" Haji Zakaria menarik nafas sejenak.
"Untuk itu, kami semua... keluarga besar kita mengharapkan mu agar segera memiliki keturunan. Untuk apa? Agar kelak bisa turut mengelola amanah besar ini dengan baik, Ikut andil menyebar kebaikan dari harta titipan Allah SWT yang amanah nya begitu berat ini"
__ADS_1
"Hhhh Terlalu kecil rasanya untuk mempertimbangkan perasaan pribadi di banding sebuah hal besar. Bukan karena siapa-siapa, niatkan karena Allah. Apa yang kita harapkan untuk hidup di dunia ini kecuali untuk mendapatkan ridha-Nya. Bahkan untuk mencintai pun landasan nya harus karena Allah"
"Lalu, jika ada pertanyaan mengapa tidak di waqaf kan saja? tidak di serahkan pada orang lain saja untuk mengelola? Sebab... Orang lain tidak mengerti mekanisme nya. Kamu di serahkan amanah ini setelah berusia 28 tahun juga dengan suatu tujuan dan ini semua bukan sebuah perkara yang mudah. Banyak perjuangan, keringat, air mata juga waktu yang terkuras untuk menempamu jadi pribadi dengan keahlian seperti sekarang, begitu juga... kami mengharapkan keturunan darimu agar kelak bisa dipersiapkan dan ditempa bahkan bisa lebih baik lagi darimu" Terang Haji Zakaria panjang lebar.
Haris diam mendengarkan tanpa membantah sepatah katapun. Ia ingat sebelum berkunjung ke rumah Abah, Hana sudah mewanti-wantinya untuk tetap bersikap sopan dan santun apapun yang terjadi.
"Abah sama sekali tidak menganjurkan mu untuk menikah lagi! Sama sekali tidak. Kamu jangan salah sangka" lanjut Haji Zakaria.
"Lho lho? Abah ini bagaimana.. Kalau Haris tidak menikah lagi bagaimana bisa punya keturunan? Kalau iya Hana bisa hamil, kalau tidak bagaimana? Kalau Hana masih hamil anggur bagaimana?" Potong Hajjah Aisyah cepat. Haji Zakaria kembali mendelik kesal ke arah istrinya. Haris sudah tidak sabar ingin menyahut.
"Menikah lagi itu adalah solusi ke seribu setelah semua jalan sudah tertutup dan buntu" Ucap haji Zakaria bijak.
"Sekarang semua keputusan nya abah serahkan pada mu nak! Kamu yang menentukan bagaimana harus bertindak. Bijaksanalah dalam mengambil keputusan. Saran Abah, berupayalah! Jangan pasrah. Kamu dan istrimu juga berhak bahagia. Sekarang ohat-obatan herbal dan alat kedokteran sudah canggih. berupayalah! Abah mendoakan kebaikan untuk keluarga kecilmu! " Tutup haji Zakaria.
***
Setelah Haris dan Hana pulang, Haji Zakaria duduk di kursi nya dengan wajah muram. Beliau duduk dengan lantunan takbir dan istighfar yang menemani. Jari jemarinya tak henti menghitung butiran anak tasbih yang terulur silih berganti.
"Bah... Kenapa abah mendiamkan Ummi begini? " Lirih hajjah Aisyah bersedih. Sudah 2 jam suaminya larut dalam dunia nya sendiri.
"Bah... " Panggil Hajjah Aisyah lagi.
"Lho, Ummi hanya menyampaikan apa yang sudah seharusnya Ummi sampaikan... bukankah abah selalu mengajarkan, Qullil Haqqa, walau Kaana Muuran. Katakan yang benar walau pahit" Kilah Hajjah Aisyah membela diri.
"Ya. Tapi bukan berarti konsepnya seperti tindakan Ummi hari ini. Perkataan Ummi membuat Hana sakit, membuatnya malu. Haris yang lebih malu, ia malu pada istrinya akibat perkataan Ummi yang tidak terkontrol dan semena-mena!!" Sahut haji Zakaria tajam.
"Ummi sengaja...! " Aku Hajjah Aisyah pada akhirnya.
"Astaghfirullah, sengaja? Sengaja menyakiti hati nak Hana? Itu zhalim namanya Mi! " Haji Zakaria memijit pelipisnya.
"Hana itu masih memikirkan masa lalunya di belakang Haris, Bah! Bagaimana mungkin bisa punya keturunan? Wong ga fokus ke rumah tangga. Wajar hamil anggur karena stress dinikahi Haris, harusnya itu yaa bersyukur punya suami gagah seperti Haris, ini malah begitu" Sewot Hajjah Aisyah.
"Ummi ini berkata apa? Salah salah bisa fitnah jatuhnya! " Ucap Haji Zakaria mengingatkan. Beliau kembali memperbaiki letak kacamatanya.
"Ummi tau dari sumber terpercaya bah! Sahabat dekat nya sendiri yang mengatakan pada Ummi. Tidak hanya ini saja, banyak hal lain lagi. Jujur saja Ummi tidak senang dengan perangai Hana yang begini. Ummi masih menghormati kedudukan Haji Amir dan istrinya, kalau tidak sudah kapan-kapan Ummi beberkan pada Haris! " Ucap Hajjah Aisyah lagi.
"Ummi! Sejak kapan istri abah jadi ahlu Ghibah?? Istighfar Mi... Ummi mengisi pengajian, mengajarkan tentang menjauhi akhlak tercela! menjauhi ghibah! Tapi sekarang apa?? Malah Ummi yang melakukannya!! " Haji Zakaria bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Lebih baik Ummi introspeksi diri terlebih dahulu, Ummi sudah sangat-sangat keterlaluan! Jika informasi yang Ummi dapatkan tidak benar, itu masuk ke fitnah! jikapun benar, Ummi telah ber ghibah! Bagaimana Abah bisa menghadap Allah nanti jika gagal mendidik istri seperti ini?! " Lanjut haji Zakaria tajam.
"Lebih baik, Ummi jangan isi pengajian lagi, Ummi harus duduk mendengarkan pengajian yang di isi oleh dik Fatma! Kemudian, Jangan temui abah untuk sementara waktu sebelum Ummi berhasil introspeksi dan menyadari kesalahan-kesalahan Ummi!! Abah mau i'tikaf dan memohon ampun pada Allah. Malu sekali rasanya. Tadi itu di hadapan Haris dan Hana, tidak tau abah harus meletakkan wajah abah dimana!!! Permisi!! Ucap haji Zakaria begitu menohok sambil berlalu. Beliau begitu kecewa dengan sang istri.
"Bah, tunggu bah... bah.... " Hajjah Aisyah memanggil suaminya, namun ulama kharismatik itu terus saja berlalu tanpa menoleh sedikitpun. Beliau meninggalkan istrinya yang kini tengah kalut akibat perkataan beliau yang begitu menohok.
***
"Mas, kenapa dari tadi diam saja? " Tanya Hana yang kini bergelanyutan di lengan suaminya. Mereka telah tiba di rumah beberapa waktu lalu, tapi rasanya Haris begitu malu walau hanya sekedar melihat wajah Hana.
"Maafkan Ummi ya... " Lirih Haris menunduk.
"Tidak apa apa mas... Tadi itu mas hebat banget bisa mengontrol emosi dan tetap sopan pada Abah dan Ummi" Puji Hana yang mempererat pegangan nya pada lengan Haris.
"Aku menahan nya sekuat tenaga. Aku ingat kamu, Aku tidak ingin bidadari bermata bening ini kecewa" Keluh Haris. Hana tersenyum.
"Tidak apa apa juga jika memang mas memang memutuskan untuk Poligami. Allah saja tidak melarang, mengapa aku harus?" Ucap Hana seduktif.
"Hhhh Cukup sayang! Aku ga mau bahas ini, mendengar nya saja aku sudah malas" Keluh Haris lagi.
"Kalau begitu lakukanlah... " Pinta Hana berbisik mesra di telinga suaminya. Ia meletakkan telapak tangan Haris pada kancing bajunya.
"Ayo Bukalah ... " Bisik Hana lagi.
Haris terhenyak. Ia mematung.
"Kenapa malah diam? Mas membutuhkan asupan nutrisi untuk bertahan menghadapi serangan kemelut gonjang ganjing dari luar untuk mempertahankan rumah tangga yang masih setengah jadi ini" Ucap Hana dengan mengerling nakal.
Ia menyibak roknya ke atas dengan gaya menggoda. Lalu Hana menghembuskan udara yang keluar dari celah bibirnya mengenai wajah Haris. Kemudian bibir merah jambu itu digigit setengahnya, memperlihatkan wajah sendu yang begitu ranum.
Haris harus menelan ludah melihat tingkah sang istri. Hana-nya tidak pernah seperti ini sebelum-sebelumnya. Serta merta Pria ini mengembangkan senyumnya. Wajah yang semula kusut berubah cerah seketika. Ia mulai melancarkan aksi dengan perasaan yang dipenuhi oleh cinta.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***