Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
107: Tentang Cinta, Aku Tidak Bisa Berpura-pura!


__ADS_3

Tap tap tap...


Terdengar suara langkah kaki memasuki ruang tunggu tempat dimana Haris menunggui dokter melakukan kuretase terhadap Hana.


"Bagaimana Hana nak? " Tanya bu Fatma dengan raut wajah cemas. Haris langsung memeluk Ummi nya. Bu Fatma mengusap kepala anak semata wayangnya penuh kasih.


"Hana harus di kuret mi... Janin kami tidak bisa dipertahankan" Jawab Haris. Tuk beberapa saat Ibu dan anak ini saling berpelukan.


"Innalilahi wa Inna ilahi raaji'un... Semua milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Yang sabar ya Nak... " Ucap bu Fatma ikut menitikkan air matanya. Haris mengangguk. Ia mengusap mata basahnya.


Tampak haji Zakaria dan hajjah Aisyah yang telah datang terlebih dahulu dan duduk di dekat pintu memegang tasbih mereka dengan mulut berkomat kamit. Takbir dan Istighfar membasahi bibir mereka.


Hajjah Aisyah menyudahi ritual zikirnya, lalu beliau melangkah mendekati Haris,


"Berapa lama proses kuretase nya nak? " Tanya hajjah Aisyah.


"10 sampai 15 menit Mi, seharusnya ini sudah selesai"Jawab Haris, ia juga mengusap air yang mengalir dari hidungnya menggunakan tissue.


" Semoga Hana baik-baik saja" Ucap hajjah Aisyah dengan wajah yang sulit dibaca.


Ceklekkk


Terdengar suara pintu terbuka. Dokter membuka ruang bedah.


"Dok, bagaimana Hana? "


"Alhamdulillah semua berjalan lancar dan sesuai prosedur. Nona Hana sudah diperbolehkan pulang dalam waktu 24 jam" Ucap Dokter menyunggingkan senyum.


"Alhamdulillah... Apa sekarang saya sudah bisa melihat Hana dok? "


"Sudah, tapi nona Hana masih dalam pengaruh obat bius. Beliau akan siuman dalam beberapa menit atau paling lama beberapa jam lagi" Sahut dokter.


Haris langsung melesat melihat Hana, istrinya masih terbaring lemah lengkap dengan alat infus yang terpasang. Haris mengecup lembut kening Istrinya.


"Sayang..." Haris mengusap usap kepala Hana penuh cinta. Ia menggenggam tangan Hana dan meletakkan nya di pipi.


Lalu Haris membuka mushaf nya. Ia mulai membaca Ayatush Syifa. Ayat-ayat penyembuhan. Irama merdu bacaan tartil yang mengalun dari bibir Haris serasa damai memenuhi ruangan.


Perlahan... Hana membuka matanya.


***


Hampir empat minggu berlalu dari peristiwa kuretase yang menimpa Hana, perlahan ia mulai menata hati dan jiwanya.


Haris sendiri sangat sabar menunggu Hana pulih. Bukan sesekali, namun hampir setiap hari ia mendapati Hana dalam keadaan murung dan menyendiri.


"Sayang... " Panggil Haris membuka pintu kamar Hana, ia baru saja pulang dari kantor. Haris mendapati istrinya sedang menyisir rambut. Kini hidungnya kembali menghirup aroma Yasmin yang menguar dari dalam sana setelah sekian lama tidak tercium lagi.


Perlahan Haris mendekat. Ia mengambil sisir yang dipegang oleh Hana lalu mulai membantu istrinya itu menyisir rambut panjangnya.


"Mas... " Hana menatap Haris dari pantulan cermin kaca.


"Hmh..." Sahut Haris. Hana malah diam tidak melanjutkan perkataannya.


"Ada apa... Hm?" Tanya Haris lagi, Ia masih saja terus menyisir sampai di rasa cukup, ia meletakkan kedua tangan nya di pundak Hana.

__ADS_1


"Lihatlah... betapa cantik nya bidadari ku ini" Hana melihat senyuman Haris yang mengembang terpantul sempurna dari cermin. Ia ikut tersenyum.


"Mas.... "


"Ya? "


" ..... "


"Ada apa sayang?" Sahut Haris. Ia membawa Hana dan mendudukkan nya di pinggiran tempat tidur.


"Katakanlah... Apa yang mengganggu pikiran mu, hm? " Tanya Haris lagi, ia mengenggam tangan Hana penuh kasih.


"Hmh, Mengapa sudah hampir sebulan ini mas... Hmh... "


"Yaa? "


"....."


"Hahaha... kamu gemesin sekali sih? Kenapa ngomong nya jadi gagu begitu? " Haris menarik pelan hidung Hana.


"Coba katakan dengan jelas, aku akan menjawab semua pertanyaan mu" Ucap Haris lagi.


"Hmh... Mengapa sudah hampir sebulan ini mas jarang sekali tidur di kamar ini? Bahkan kalau malam hampir tidak pernah" Tanya Hana menunduk.


Haris terhenyak, ia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut istrinya. Jujur saja, memang selama ini ia menghindari Hana terutama saat malam.


Ketika Hana sudah tertidur di pelukan nya, maka diam diam ia memilih untuk pindah ke kamar nya sendiri. Bukan mengapa, begitu sulit baginya untuk mengontrol dirinya sendiri, apalagi jika sudah berdekatan dengan Hana. Ia paham jika istrinya itu lagi dalam masa pemulihan. Terutama jiwanya.


"Apa kamu menginginkannya? " Haris malah balik bertanya. Kini Binar Matanya menyusuri setiap detail wajah Hana dan berakhir di bibir merah jambu itu. Nafasnya mulai memburu. Haris mendamba.


"Bukankah kamu mengeluhkan bahwa aku tidak bermalam bersamamu" Haris mulai mengelus pipi Hana. Wanita ini jadi salah tingkah.


"Ya... sering kali ketika terbangun tengah malam aku tidak mendapati mas di sisi ku" Hana memanyunkan bibirnya dan meremas jari jemarinya.


"Terus Mengapa kamu tidak bilang kalau kamu menginginkan nya?! " Haris merapat kan jarak nya dan Hana.


"Kenapa aku harus mengatakan nya? Kenapa juga mas malah pindah ke sana? " Protes Hana dengan memalingkan wajahnya menghindari Haris. Ia memang sering terbangun lalu kecewa ketika tidak mendapati Haris di sisinya. Padahal ia sangat membutuhkan pelukan dari suaminya itu.


Perlahan-lahan tangan Haris mulai menurunkan dress yang Hana kenakan. Ia menarik turun resleting yang ada di sisi depan baju. Jari jemari Haris yang memang sengaja di sentuhkan ke kulit Hana berhasil membuat wanita berhidung mancung ini meremang.


"Mas... Mas mau apa? " Hana menangkupkan tangannya ke dada. Serangan suaminya begitu tiba-tiba.


"Hhhhhh, kenapa kamu bertanya lagi sih? Bukankah kamu yang menginginkan itu? Jangan malu, tidak ada salahnya jika istri yang lebih dulu menginginkannya..." Ucap Haris tersenyum penuh hasrat.


Hana yang kini mengerti arah tujuan Haris, tercengang seketika. Wajahnya mulai memerah. Ternyata sang suami salah memahami maksud nya dan mengira....


Arrrrrgh mengapa mas Haris salah paham sih. Mana mungkin terang-terangan aku akan meminta "itu". Memalukan! Keluh hati Hana. Spontan ia bangun dan menarik kembali kancing resleting yang setengah nya sempat di buka oleh Haris tadi.


"Mas salah paham! Mana mungkin aku meminta itu! " Protes Hana. Ia mensedekapkan tangan nya di pinggang.


"Aku akan menyiram tanaman dulu" Ucap nya lagi sambil pergi berlalu keluar kamar. Kini malah Haris yang tercengang.


Oh Hana... Apa masalah nya sih mengaku kalau memang menginginkannya?


Hana... Tolong jangan menyiksaku begini. Sebenarnya.... hmh aku yang menginginkan mu.

__ADS_1


Haris mengacak kasar rambut dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


Tiba-tiba Hana terlihat kembali ke kamarnya.


"Ha.. na.... " Haris kembali sumringah.


"Aku lupa mengambil kerudung dan outer ku mas..." Ucap Hana dengan mengambil baju dan kerudung nya dari sangkutan dan kembali berlalu.


"Hana... Tunggu.... "


***


"Haris, aku tidak memiliki cukup banyak bukti, tapi aku yakin 100 persen ia terlibat!" Ucap Romi setelah menceritakan ulang kronologi peristiwa kejadian yang membuat Hana dan Yura mendekam di penjara.


Kini Haris, Romi, Ridwan dan Roni sang asisten berkumpul bersama di Cafe A.


"Hhhhh... aku sudah mencurigai nya sejak awal. Ia begitu lihai... !!" Haris mengepalkan tangannya.


"Aku dan Roni akan berusaha semaksimal mungkin mencarikan bukti tentang keterlibatan nya" Ucap Romi serius, Ia menatap Roni untuk berkerja sama. Bagaimana pun kebenaran harus terungkap.


"Hmh... Tentang Arini,... Ia juga yang mengirimkan obat-obatan sehingga Arini bisa koma! " Ucap Romi lagi.


"Apaaaa?!? " Kali ini Haris dan Ridwan benar-benar shocked.


"Bukannya mereka teman dan saling bekerja sama?! " Haris mengerutkan keningnya.


"Ya, awalnya memang demikian, namun ia hanya memanfaatkan Arini demi tujuannya. Arini yang tergila gila padamu dengan mudah mengikuti permainan mereka. Mungkin Koma nya Arini ini di luar ekspektasi nya" Ucap Romi menatap Haris tajam. Haris terhenyak.


"Romi... Aku tidak bisa menduakan Hana. Aku benar-benar tidak bisa... Kalaupun aku menikahi Arini, itu akan lebih menyakitinya, tentang cinta... Aku tidak bisa berpura-pura" Ucap Haris yang masih merasa bersalah terhadap Arini.


"Aku tidak menyuruhmu menikahi Arini. Aku tau kamu serius terhadap Hana. Point yang ingin ku sebut di sini adalah... Saat ini berhati-hati lah, Hana dan Yura harus berhati-hati. Wanita ini lebih berbahaya dari yang kita duga! " Ucap Romi dengan menatap ke dalam manik mata Haris. Ekspresi nya tidak main-main.


"Aku berjanji tidak akan melepaskan orang yang sudah membuat istriku dan sahabat nya menderita!" Haris kembali mengepalkan tangannya.


"Hhhhh... Sekarang Yura malah membatalkan pertunangan kami. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa untuk meyakinkan nya bahwa aku tidak seperti yang di tuduhkan" Ridwan yang sedari tadi diam saja dan tampak murung mengeluh kan persoalannya.


"Memangnya apa masalah kalian??"


"Ya, Yura menuduhku selingkuh.... Padahal aku sama sekali tidak melakukannya! "


"Haaa?? Terus Dari mana tuduhan itu bisa muncul?! " Para sahabat yang hadir mengerutkan kening mereka.


"Dari pernyataan seorang wanita yang mengatakan bahwa aku memeluk nya. Padahal ketika itu aku hanya menolongnya yang hampir terjatuh, entah siapa yang menjepret gambar kami, lalu dikirimkan pada Yura. Sekarang Yura murka dan... yang terjadi yaaa begitulah... Hhhhh rasanya aku tidak bersemangat melakukan apa pun! Keluh Ridwan lesu.


"Wan... Lu di jebak! " Ucap Haris mantap menarik kesimpulan.


"Hmmh...


"Mungkinkah yang menjebak Ridwan adalah orang yang sama?? " Pekik Roni dan Romi bersamaan.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


***

__ADS_1


__ADS_2