
Roni telah menunggu di depan gerbang kediaman haji Zakaria. Asisten setia ini menanti Haris yang memberikan perintah dadakan. Haris memang lebih nyaman melakukan segala sesuatu bersama Roni di banding dengan Asisten lainnya. Laki-laki yang hanya mengenakan coat tipis yang ditimpakan ke atas piyamanya itu langsung menaiki mobil dan duduk di bagian tengah deretan kedua dari posisi supir berada.
"Roni... Arahkan mobil ke Rumah Tahanan. Bawa aku menemui Eva Lalisa. Di sana Ustadz Yahya dan Mbak Iqlima telah menunggu. Sekalian kamu hubungi Romi. Aku membutuhkan nya saat ini! " Titah Haris tanpa basa basi.
“Baik…” Sahut Roni. Setelah itu laki-laki ini memilih diam. Sesekali ia melirik ke arah kaca spion untuk memastikan atasannya tersebut berada dalam keadaan baik-baik saja.
Mobil melaju membelah jalanan raya. Di luar sana cuaca lumayan dingin. Jalanan tampak basah. Bintik air masih melekat di dedaunan. Pertanda hujan baru saja berhenti. Haris termenung di dekat jendela. Sekelabat ingatan saat di Amerika memenuhi kepalanya.
“Aku tidak akan berhenti. Sekalipun seumur hidup harus membusuk mendekam di penjara” Kata-kata terakhir Lisa sebelum di jebloskan kembali terngiang.
“Ckkk” Haris berdecak.
“Ron… Aku mengkhawatirkan Hana. Lisa jenis manusia yang akan bertindak di luar akal sehatnya” Ucap Haris memijat pelipisnya. Beberapa orang secara diam-diam telah ia perintahkan untuk berjaga di sekeliling kamar yang ditempati oleh sang istri.
“Pak Haris, Lisa tidak memiliki kuasa apapun. Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang telah terkurung di balik jeruji besi” Sahut Roni mencoba menenangkan. Haris menggeleng. Laki-laki ini tidak bisa lengah lalu pasrah begitu saja. Apalagi orang kepercayaannya mengirimkan pesan bahwa Lisa sudah merencanakan sesuatu yang begitu membahayakan malam ini.
Ddddrrrtttt Drrrttttt
Mas, aku cemas. Mas kemana? Ketik Hana pada sebuah pesan wattsapp membuyarkan konsentrasi Haris.
Tidurlah. Aku ada keperluan mendadak. Setelah selesai, akan kujelaskan semua padamu.
Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi bukan?
Tidak. Jangan khawatir. Tutup Haris. Tidak lupa ia menyempatkan diri mengirimkan sebuah foto selfie dengan menyematkan senyuman nya kepada Hana. Laki-laki memang tidak ingin membuat istrinya merasa cemas.
Tidak menunggu terlalu lama. Mobil yang membawa Haris tiba di Rumah Tahanan.
“Saya ambilkan payung terlebih dahulu”
“Tidak usah” Haris langsung membuka pintu dan melesat masuk menerobos hujan menemui Ustadz Yahya dan Ustadzah Iqlima yang telah tiba terlebih dulu.
***
“Mi, kenapa perasaan abah tidak enak ya?” Tanya Haji Zakaria. Beliau bangkit dari pembaringannya. Berjalan menuju kamar mandi lalu membuka kran dan mengambil air wudhu.
Laa haula wa laa quwwata illaa billah
Laa haula wa laa quwwata illaa billah
Hajjah Aisyah menghampiri sang suami. Sebenarnya saat ini beliau sendiri sedang mencemaskan ancaman bu Indah yang semakin menjadi-jadi. Seperti menunggu bom waktu, menghitung maju atau mundur pun sewaktu-waktu pasti akan meledak. Hanya saja beliau tidak siap jika harus di madu apalagi di ceraikan.
“Abah…”
Duuuaaaarrrr.
Terdengar suara petir menggelegar dari arah langit. Hajjah Aisyah terkejut bukan main. Suara auman alam yang murka terasa memenuhi telinga. Kilat menyambar-nyambar bersama dengan suara hembusan angin kencang yang berpendar. Hujan kembali datang memenuhi panggilan Malaikat Mikail.
“Tidurlah Mi… Istirahat” Titah haji Zakaria dengan tatapan datar.
“Bah…” Panggil Hajjah Aisyah takut-takut.
__ADS_1
“U.. Ummi sudah mengabdi selama 35 tahun menjadi istri abah” Air mata hajjah Aisyah mulai memupuk di kelopak.
“Tolong Abah jangan ceraikan Ummi…” Ucap Hajjah Aisyah. Haji Zakaria menatap sang istri yang menunduk. Beliau menarik lalu menghembuskan nafas dalam sekali hirup ke udara.
“Mi, ini bukan saat yang tepat membicarakan perceraian. Entah apa yang ada dibenak Ummi saat ini. Namun sekarang abah butuh waktu untuk membaca beberapa ayat dari al-Qur’an. Tidurlah. Masih banyak waktu untuk beristirahat” Ucap Haji Zakaria lalu bangkit ke keluar kamar. Hajjah Aisyah terkulai lemas di lantai.
Layla. Dimana Layla. Panggil batin hajjah Aisyah mengeluarkan handphone lalu mulai melakukan panggilan. Namun belum sempat ia memanggil Layla, panggilan dari Indah lebih dulu memenuhi layarnya.
***
Iqlima berdiri dipojokan menunggu Haris dengan menenteng dokumen sambil memainkan handphone. Wanita yang baru saja meraih gelar profesi untuk Advokat di Universitas Indonesia ini di minta menangani kasus Lisa yang sebentar lagi akan melaju pada sidang ke II.
Ustadz Yahya menatap Iqlima yang tidak jauh darinya tanpa sedikit pun berniat mendekat apalagi memulai percakapan. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki yang berusia 34 tahun itu. Namun matanya tidak pernah terlepas mengekori kemana tubuh sang istri berayun.
Iqlima bukan tidak menyadari jika suami nya dari tadi intens menatap. Hanya saja ia memilih diam dan menanti apa yang akan ustadz Yahya lakukan. Namun sayang, Laki-laki yang masih berusia muda itu sama sekali bergeming dari posisinya.
"Dik... Ima... " Panggil Ustadz Yahya tiba-tiba. Suara beliau nyaris tidak terdengar. Iqlima menoleh menunggu apa yang akan disampaikan.
"Kenakan kerudung yang lebih panjang. Hmh lebih panjang dari itu" Ucap ustadz Yahya masih tetap menatap dengan tatapan penuh kritik. Iqlima terhenyak. Ia langsung memeriksa posisi kerudungnya. Wanita ini mencari dimana letak kesalahan itu. Namun ia merasa tidak menemukan nya. Kerudung tersebut adalah kerudung yang memang sudah sangat biasa ia kenakan.
"Mas... "
"Lakukan tugasmu dengan baik" Potong ustadz Yahya. Kalimat ini membuat Iqlima enggan melanjutkan perkataannya.
Ada apa mas? Sendu matamu penuh tanya... Mengapa Mas Yahya begitu membenci ku?
Tap tap tap
"Mas... Apa kita bisa menemui Lisa? "
"Lisa melarikan diri. Ada orang yang membantu nya kabur. Pihak kepolisian tengah melacak keberadaan nya! " Sahut Ustadz Yahya. Tak ayal. Serta merta Haris mengambil gawainya.
"Kalian semua! Perketat penjagaan. Lindungi Hana! " Titah Haris kepada para bodyguards dengan bergetar. Ia menghubungi sang istri. Berkali-kali.
"Mas... Maaf. Aku sudah tertidur. Mas dimana? Belum bisa pulang ya? " Tanya Hana sambil sedikit menguap.
"Masih ada hal yang harus aku selesaikan. Kamu jangan keluar kamar ya! Jika ada yang mengirimkan pesan untuk keluar harus atas seizin dariku. Paham? "
"I... Iya. Baiklah mas! "
"Mi Amor te extraño mucho... Aku sangat merindukanmu sayang... Tunggu aku, hm? Aku akan segera kembali! "
"Iya... Aku menanti mas di kamar ini. Menanti sampai mas kembali" Sahut Hana sebelum menutup panggilan dari Haris.
"Gus, ning Hana bagaimana? Aman? " Tanya Iqlima khawatir.
"Bismillah mbak Iqlima... Mohon Do'a nya"
"Yang menjadi pertanyaan ku adalah... mengapa Lisa memilih untuk kabur? Padahal gadis itu sebenarnya bisa mengajukan banding. Hukuman untuk penjebakan di kamar hotel dengan tidak adanya embel-embel penculikan, perampokan atau kejahatan lain. Hukuman seharusnya tidaklah terlalu berat. Malah dengan kabur begini, ia memperkeruh situasi dan keadaan dirinya sendiri" Tukas Iqlima.
"Mungkin Lisa memiliki motif lain. Ingin mencelakakan Hana misalnya" Sahut Ustadz Yahya menatap Iqlima. Netra mereka saling bertemu. Menatap tanpa berkedip adalah keahlian Yahya saat ini.
__ADS_1
"Hemm... Aku juga berpikir demikian... Dan saat ini aku sudah memperketat penjagaan... " Kalimat Haris berhasil membuyarkan tatapan silang dua insan yang ada di hadapannya.
"Kalau memang memiliki akses dengan dunia luar, lalu ingin mencelakai Hana. Bukankah lebih mudah ia menyuruh orang suruhan saja daripada harus berupaya sendiri. Tidak mungkin bisa kabur dari lapas tanpa ada backingan yang kuat! Juga terlalu beresiko! " Ucap Iqlima masuk akal. Semua masih dengan tanda tanya.
"Haris... " Romi menepuk pundaknya.
"Romi... Lisa..."
"Keberadaan nya telah terlacak! "
"Benarkah? "
Romi mengangguk.
"Posisi pastinya belum diketahui. Tapi ia sudah berada di perbatasan Jawa Barat"
"Hhhh Alhamdulillah. Semoga semua baik-baik saja" Sahut Haris.
Romi mengajak semua yang ada di sana untuk masuk ke dalam ruangan. Mereka akan berkompromi sebelum menghadap petugas kepolisian dan memasukkan berkas hukum.
Sudah lebih dari se-jam Haris di sana. Malam juga beranjak semakin larut. Haris ingin segera menemui Hana sebelum shubuh menjelang. Tidak bisa dipungkiri, Melihat Ustadz Yahya yang menatap Iqlima dengan tatapan hangat menimbulkan banyak tanda tanya dibenaknya.
Haris bukanlah orang yang tidak mendengar rumor yang menyebar di lingkungan pesantren bahwa Ustadz Yahya begitu memperlakukan Iqlima dengan dingin. Namun laki-laki ini memilih untuk diam dan tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga abang dan kakak iparnya.
Iqlima, wanita cerdas yang kini berusia 25 tahun itu memilih menunduk namun ia tampak antusias membantu Haris dalam kasus memperjuangkan hak istrinya.
Ddddrrrrttttt ddrrrrtttt
Pak Salim, supir pribadi bu Fatma menelpon.
"Assalamu'alaikum.. Ada apa pak? "
"Waalaikumsalam.. Bbb... bu Fatma... " Terdengar suara gugup dari seberang.
"Kenapa dengan Ummi pak? "
"Bu Fatma sekarat... Ada yang berusaha mencelakakan bu Fatma. Sekarang bu Fatma tengah menuju ke rumah sakit! "
"Apaa????!? "
Semua orang yang berada di sana terkejut.
"LISA...!!! " Haris mengepalkan tangannya.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
***
__ADS_1