Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 61: Di Bawah Sinar Purnama


__ADS_3

Malam kembali hadir menyapa. Haris masih berada di rumah sakit menemani Hana, sedang Mertua dan ibunya sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Sebenarnya Ummi enggan untuk pulang, setelah dipaksa oleh Hana dan Haris dengan mempertimbangkan kesehatan Ummi maka Ummi pun pasrah untuk pulang ke kediaman beliau namun dengan catatan, setelah Hana kembali dari rumah sakit, mereka harus menginap di rumah Abah dan Ummi selama beberapa hari. Anak Menantu tersebut pun menyetujui nya.


"Hana, aku membawa makanan kesukaan mu, makanlah! " Haris muncul dari balik pintu membawa dua kotak makanan berisi makanan Jepang untuk dimakan bersama. Ia pun menyodorkan nya pada Hana.


"Terima kasih mas" Hana tersenyum menyambut nya.


" Sini, biar aku yang menyuapi mu" Haris kembali mengambil box nasi dari pangkuan Hana.


"Biar aku makan sendiri saja, mas juga belum makan kan? " Walau telah dilarang, Haris tetap kekeuh mengambil box nasi tersebut, dengan telaten, ia pun menyuapi Hana.


"Aaaa" Haris membuka mulut nya agar Hana mengikuti gerakan nya. sesuap demi sesuap makanan tersebut pun masuk ke mulut Hana.


"Sudah cukup, Mas. Aku kenyang" Ucap Hana menolak suapan yang kesekian kalinya dari Haris.


"Sedikit lagi, kamu baru makan beberapa sendok"


Hana menggeleng.


"Hmh, baiklah" Haris memasukkan sisa makanan yang dimakan oleh Hana ke dalam mulutnya, mereka berbagi sendok yang sama. Hana memperhatikan Haris yang dengan santainya memasukkan makanan tersebut sesuap demi sesuap ke mulut nya sampai makanan itu habis. Mereka pun menyelesaikan makan malamnya bersama.


Selesai makan, Haris duduk di sudut ruangan memainkan handphone nya, begitu juga dengan Hana. Mereka larut dengan aktifitas masing-masing. Namun di sela-sela itu, sesekali Haris menyempatkan diri melirik ke arah Hana, Hana merasa diperhatikan, maka ia pun menolehkan wajahnya, untuk sesaat mata mereka bertemu. Haris pun langsung mematikan handphone nya dan bangkit mendekati Hana.


"Kamu bosan, hm? Tanya Haris seraya duduk di samping Hana. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali.


"Kamu mau nonton?" Tanya Haris lagi.


"Nonton? "


"Ya. Kita nonton"


"Di sini? " Hana mengkerut kan kening nya.


"Ya. Kita gunakan macbook ku, kamu yang pilih genre dan filmnya, bagaimana? " Haris menawarkan.


"Waah, asiik. Boleh boleh " Hana girang, memang ia sebenarnya sudah mulai merasa bosan.


"Tapi.... "


"Tapi kenapa? "


"Aku ingin mandi dulu biar lebih fresh, sudah seharian aku tidak mandi, tubuhku gatal karena keringat" Ucap Hana sambil memilin kerudungnya.


"Haha, benarkah? Berada didekatmu tapi kok hidungku tidak mencium aroma yang aneh? " Haris mengendus-endus aroma tubuh Hana dari jarak beberapa cm.

__ADS_1


"Ih... Mas! " Hana menjauhkan dirinya dari jangkauan Haris, ia malu.


"Haha baiklah baiklah. Aku akan menunggu mu" Haris membantu Hana berdiri, tangan Hana sendiri masih terpasang selang infus. Hana sedikit kesulitan.


Bagaimana ini, biasanya Yura yang mambantunya untuk mandi, atau tadi Ummi juga yang menolongnya. (Setidaknya membantunya untuk membuka pengait baju gamis yang berada di bagian belakang punggungnya.)


"Hmh, bisakah mas menolongku? " Tanya Hana ragu


"Kamu mau minta tolong apa? Katakan saja jangan sungkan"


"Boleh tolong panggilkan perawat? Aku kesulitan untuk melepas pengait bajuku yang ada di belakang punggung, aku juga ingin meminta tolong beberapa hal lainnya" Pinta Hana. Ia berkata jujur tentang kesulitan nya.


Haris berpikir sejenak, ia ragu.


"Hana, kita sudah menikah bukan? " Haris balik bertanya


"I.. iya" jawab Hana


" Tidak bolehkah aku saja yang menolong mu? Bukankah jika aku memanggil perawat, mereka akan heran sebab aku yang notabene nya adalah suamimu tapi tidak bisa menolongmu"


Hana terhenyak, benar yang di katakan Haris, tapi...


"Tapi jika kamu merasa keberatan, aku tidak tau bagaimana cara lain untuk menolong mu"


"Ba.. baiklah" Hana mengalah demi rasa lengket yang teramat sangat yang ia rasa.


"Aku harus melakukan apa? " tanya Haris canggung.


"Hmh... " Hana pun bingung apa yang harus dilakukan. kecanggungan benar-benar berada ditengah mereka.


" Hmh... Mas bantu aku bukakan resleting belakang ya" Hana benar-benar kesulitan. Haris memasukkan tangan nya pada kerudung lebar Hana yang membungkus sampai ke punggungnya. Ia pun mulai menurunkan resleting pada Gamis tersebut. Ia gugup.


Ssssrrrttt Ssssrrrttt sssrrrttt


Resleting turun hingga ke pinggang. Jemari Haris menyentuh punggungnya namun ternyata masih ada kaos di sebalik gamis tersebut. Mereka berjalan menuju kamar mandi.


"Terima kasih mas, aku bisa sendiri" Ucap Hana ketika mereka sampai di depan pintu. Huft. Selang infus yang masih tertancap di tangan benar-benar menganggu.


"Benar bisa? "


Hana mengangguk.


"Kerudung dan gamis nya aku pegang saja" Tawar Haris. Hana mengangguk. Ia membuka kerudung nya dengan santai sebab ini bukan hal pertama lagi baginya dan ia pun menyerahkan kerudung itu pada suami yang sejak tadi memegang botol infus nya. Ciput pun terlihat. Haris gugup.

__ADS_1


Hana menurunkan gamisnya. Haris memperhatikan setiap gerakan Hana tanpa berkedip sedikitpun. Ternyata Hana masih menggunakan baju kaos putih agak ketat dan celana legging yang agak longgar di dalam. Haris berdesir. Ia merasa panas dan sedikit sulit bernafas, ada apa ini? Ingin sekali ia memalingkan wajahnya walau sekejap namun ia gagal. Hana pun menyerahkan gamis tersebut pada suaminya.


"Terima kasih mas" Ucap Hana sambil membalutkan handuk ke tubuhnya.


"Aku mandi dulu"


"I... Iya. Ka.. kalau kamu butuh sesuatu kamu katakan saja" Ucap Haris terbata.


Hana mengangguk. Ia pun berbalik arah ke kamar mandi setelah Haris menyerahkan botol infus ke tangannya. Haris duduk di dekat kamar mandi menemani Hana. Ia takut jika jika Hana membutuhkan sesuatu.


Suara gemercik air mulai terdengar, pertanda Hana sudah menyiramkan air ke tubuhnya. Hana sangat menikmati ritual mandinya ini, memang tubuhnya sudah sangat berkeringat dan lengket.


Setelah selesai mandi, ia pun mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaian yang telah ia siapkan tadi dengan perlahan. Namun malang baginya, ketika ia hendak memakai kerudung, kerudung yang dipegang nya pun lepas dan terjatuh basah di lantai. huft. Bagaimana ini? Tak berpikir lama, ia pun membalutkan baju kaos yang sudah ia pakai di kepala untuk menutupi rambutnya agar tidak terlihat. Dengan segera ia membuka pintu kamar mandi, ia melihat Haris sudah berada di sana memantau keadaannya.


"Kerudung kamu mana? " Tanya Haris cepat.


"Basah mas"


Haris paham Hana tidak nyaman dengan keberadaannya, ia pun menepi di sudut jendela kamar dan melihat pemandangan luar selagi Hana bersiap-siap menyempurnakan pakaiannya.


Hana mendekati Haris yang berdiri menyaksikan pemandangan luar dari lantai 7 ruang rawat inap tersebut.


"Mas, kita jadi nonton? " Tanya Hana


"Hana, sini deh... Lihatlah... Aku baru menyadari bahwa malam ini bulan purnama muncul! " seru Haris.


Hana semakin mendekati Haris dan berdiri disampingnya.


"Masya Allah indahnya" Mata Hana berbinar-binar.


Mereka menyaksikan Langit yang bersih tanpa awan dengan purnama bersinar terang, seolah-olah ia adalah bintang nya angkasa di malam ini.


Haris menoleh ke arah samping dan memperhatikan wajah berseri Hana. Indah sekali, ia merasa wajah Hana yang menampilkan pantulan purnama itu jauh lebih indah dari pemandangan di luar sana. Ia tersenyum penuh kekaguman. Maha Suci Allah yang telah menciptakan keindahan yang bisa dinikmati oleh orang-orang pilihan-Nya. Mereka menikmati malam dengan hal sederhana sambil ber tadabbur akan indah ciptaan-Nya.


Haris merapatkan tubuhnya hingga tidak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka, Hana masih tidak menyadari sampai pada saat lengan Haris tiba-tiba saja berada di pundak Hana.


Gadis itu terpaku. Ia sedikit terkejut namun tetap membiarkan tangan Haris bertengger merangkulnya. Semenit kemudian Hana menoleh melihat Haris, mereka saling menatap. Pelan-pelan... perlahan... Wajah Haris mendekati wajah Hana, sedikit demi sedikit mengikis jarak di antara mereka hingga pada akhirnya bibir mereka saling bertemu, Haris menyatukan bibir mereka dengan penuh kelembutan. Walau hanya sekedar berciuman, namun kali ini jauh lebih berkesan dari sebelum-sebelumnya. Lebih indah dan jauh lebih tenang, ditemani oleh cahaya rembulan yang bersinar, kehangatan itu sangat terasa.


Fabiayyi aa laa irabbikuma tukadz dziban (QS. Ar-Rahman)


Maka nikmat Tuhan-Mu manakah yang kamu dustakan?


***

__ADS_1


Hai Teman-Teman, dukung terus karya Alana dengan cara LIKE COMMENT dan VOTE juga HADIAH nya, Terima kasih banyak ya. Jazakumullah Khaer. ^_^


🌹🌹🌹


__ADS_2