Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 9: Berita Tak Terduga


__ADS_3

Haris memarkirkan mobilnya. Sesuai janji ia akan menemui Arini pukul 11.30 di café A. Ia diijinkan mengambil cuti pernikahan selama tiga hari. Jadi, selama tiga hari ini ia memang sama sekali tidak ada kegiatan. Matanya mengedar melihat sekeliling, Sudah ada mobil swift putih milik Arini terparkir di sana, pertanda Arini sudah duluan menunggu.


Haris pun bergegas masuk ke dalam café. Benar saja, terlihat Arini sedang duduk santai mengenakan baju putih berkerudung pink tengah menikmati minuman milkshake strawberry kesukaannya.


“Assalamu’alaikum, sudah lama nunggu?” Sapa Haris.


“Wa’alaikumsalam, belum lama mas, mas mau pesan apa?” Arini melambaikan tangannya pada seorang pelayan


café.


“Hmh, Espresso saja”


“Okay” Arini tersenyum sangat manis.


Tak bisa dipungkiri, Haris selalu saja terpukau melihat gadis dihadapannya ini. Kelembutan dan tatapan mata sendunya berhasil meluluhkan hatinya. Sayangnya mereka tidak bisa bersatu dalam pernikahan.


“kita langsung saja Rin, ada hal apa kamu ingin kita bertemu”


“Maaf mas, kamu baru saja menikah namun aku masih saja mengganggu kalian, maaf juga aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu dan Hana. Jujur saja Aku tidak sanggup melihatnya”


“Tidak apa-apa, aku paham apa yang kamu rasakan” Haris kembali merasa bersalah.


“Aku mengajak kita bertemu karena aku ingin pamit mas”


“Pamit? Kamu mau kemana?”


“Ke  Malaysia ke rumah oma, aku ingin menetap di sana, entah untuk waktu yang singkat atau untuk waktu yang lama.” Arini menatap kosong ke sembarang arah.


“Kenapa? Kenapa kamu harus menetap di sana?” Haris terkejut dengan keputusan Arini.


“Kamu sudah tau pasti jawabannya tanpa harus bertanya, Mas! ”

__ADS_1


“Sekali lagi aku minta maaf” ucap Haris, ia juga tidak tau harus melakukan apa. Ia juga tidak mungkin mencegah Arini untuk menetap tinggal.


“Insya Allah ini yang terbaik untuk kita semua. Untuk-ku, untukmu, dan juga Hana” Arini melanjutkan perkataannya.


Haris merasa sangat sedih namun akal sehatnya membenarkan, ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam permasalahan hati. Akan ada banyak yang tersakiti. Termasuk dirinya sendiri. Insya Allah ini keputusan terbaik.


Tapi, apakah harus Arini yang berkorban seperti ini? Ia merasa sangat egois jika harus mengorbankan Arini. Gadis itu sudah terlalu dalam tersakiti olehnya. Ia tidak ingin menambahnya beban lagi.


“Kamu tidak harus keluar negeri Rin, kamu tidak harus kemana-mana”


“Aku yang tidak bisa mas, aku ingin memulihkan hatiku. Jadi aku harus menghindari semua hal yang mengingatkanku padamu”


Haris terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.


“Aku berharap kamu Bahagia dengan pernikahanmu. Walau tidak bisa ku pungkiri aku masih mengharapkanmu” Ucap Arini pelan namun penuh ketegasan.


“Maka aku tidak bisa terus di sini, terlalu berat untukku” lanjut Arini.


Di tempat yang sama, tampak Lisa dan temannya duduk di meja yang tak jauh dari Haris dan Arini. Suatu kebetulan mereka berada di café yang sama. Dari tadi tanpa mereka sadari, Lisa memperhatikan mereka cukup intens.


Lisa berpikir Haris bukanlah lelaki yang baik, baru kemarin ia dan Hana menikah, namun sekarang ia sudah ngedate bersama wanita lain. Lisa tak segan mengabadikan momen kebersamaan dua insan yang tengah makan siang bersama itu. Ia menjepret cameranya beberapa kali. Mungkin saja suatu saat dokumen ini dibutuhkan Hana jika suatu ketika rumah tangga mereka berada dalam masalah.


***


Haris pulang membawa 2 bungkus martabak manis. Ummi menerimanya dengan hati bahagia. Alangkah manis menantunya ini. Penuh perhatian. Haris seolah tau jika ummi dan Hana menyukai martabak manis. Sederhana saja, namun kena dihati.


“Terima kasih nak, repot-repot bawa pulang martabak. Martabaknya enak sekali, legit dan tidak terlalu manis, ayo, kamu juga harus coba” puji Ummi dengan wajah sumringah.


“Tidak perlu berterima kasih mi, hanya martabak saja kok, belinya sekalian jalan pulang. Alhamdulillah kalo Ummi suka” Haris menjawab pertanyaan Ummi dengan sopan.


“Iya kan nak, enak kan?” Ummi mengajak Hana untuk setuju bahwa martabaknya memang enak.

__ADS_1


“Iya mi, Alhamdulillah, terima kasih mas”


Haris tersenyum melihat ibu dan anak menikmati apa yang dibawanya. Mereka terlihat sangat menghargai pemberian orang lain walau hanya hadiah kecil.


***


Hana mengikuti Haris naik ke kamar mereka di lantai 2. Sesampainya di kamar, Hana berinisiatif menyiapkan handuk dan pakaian ganti untuk mandi Haris.


“Makasih, tapi saya bisa kok ambil perlengkapan saya sendiri” ucap Haris dingin.


Hana tercengang mendengar perkataan Haris, walau ia masih ga rela jadi istri Haris, setidaknya ia ingin melakukan sedikit tugas seorang istri dengan baik.


“Huhh, Tau gini ga aku siapkan, nyeseeeel, dasar beruang kutuuub” teriak hati Hana.


Hana pun duduk di meja belajarnya, ia membuka computer dan mengecek satu persatu email yang masuk. Ada email dari kampus, email dari dosen, ada lagi email dari berbagai program beasiswa, namun ada satu email yang menarik perhatiannya. Yaitu email dari Gibran, ternyata 5 hari lalu pemuda itu mengiriminya email.


Assalamu’alaikum Hana, Bidadari yang jauh di tanah air. Apa kabar mu? Aku harap kamu selalu dalam keadaan sehat wal afiyat dan berada dalam lindungan Allah SWT. Maaf aku baru mengabarimu sekarang. Ponselku hilang beberapa bulan lalu tapi mungkin kamu sudah mengetahui berita ini dari Yura adikku. Aku juga baru saja menyelesaikan ujian tengah semester. Alhamdulillah berkat doamu, aku memperoleh nilai Mumtaz.


Semua sesuai seperti yang kita harapkan. Kamu jangan khawatir ya, aku di sini baik-baik saja. Sesuai janji, aku akan pulang 6 bulan atau setahun dari awal keberangkatan semula tapi sepertinya rencana ini akan kupercepat. Insya Allah 2 minggu lagi aku akan tiba di tanah air. Tiket pesawat sudah kupesan hanya untuk memenuhi janjiku padamu. Harap kamu bersiap-siap :) semoga kamu bahagia membaca surat ini.


Segini dulu yang bisa aku sampaikan. Nanti setiba di tanah air kita akan mengobrol lebih lama dan lebih Panjang lagi. Wassalamu’alaikum wr wb.”


Calon Imammu


Muhammad Al-Gibran


Air mata Hana jatuh berderai, seharusnya surat ini menjadi berita yang paling membahagiakan baginya. seharusnya ia tengah berbunga-bunga sekarang.


Namun ia malah nelangsa dan nestapa. Ia kini sudah menjadi istri sah dari orang lain. Parahnya, ia dan suami sama sekali tidak saling mencintai. Ia tidak menyangka Gibran akan seserius ini. Bahkan ia sudah memesan tiket pesawat. Apa yang harus ia katakan kepada Gibran nanti. Ya Rabb…


Melihat isi surat, sepertinya Yura belum mengabarkan perihal pernikahannya bersama Haris. Sepertinya Yura sengaja tidak memberitahukan hal ini agar tidak mengganggu konsentrasi Gibran pada ujiannya.

__ADS_1


***


__ADS_2