
Suasana di acara semakin tak terkendali. Orang-orang dari berbagai kalangan membicarakan Hana. Gadis itu
jelas memiliki toleransi yang sangat rendah terhadap alkohol. Terang saja, bagaimana mungkin Hana mengenal minuman haram itu, kali ini na’as baginya, dengan semua kepolosan dan kebaikannya ia malah terjebak dalam perangkap Hanum.
Drrrrt drrrtttt
Berkali-kali Hanum menghubungi Arini namun panggilannya terabaikan. Kali ini ia akan mencoba untuk terakhir
kalinya. Jika memang sahabatnya itu tidak menggangkat, maka ia akan mengirimkan pesan. Ia ingin Arini mengetahui kejadian hebat malam ini. Tentu saja kejadian atas kejeniusannya.
Drrrrrt drrrrrrrrrrrrrrt
“Ya, Halo Assalamu’alaikum” Jawab Arini di tempat yang berbeda.
“Rin, ada kejadian menghebohkan di kantor” Kata Hanum
“Kejadian apa?”
“Aku menjebak Hana, setelah ini di jamin mas Haris bakalan menjauh dari gadis malang itu. Ia hanya bisa mempermalukan mas Haris di acara pentingnya, Hahaa”
“Ha? Maksud kamu menjebak bagaimana? Ini sekarang kamu di kantor?” Arini keheranan dan masih gagal dalam menangkap maksud Hanum.
“Iya, ini aku sekarang lagi di kantor. Ada acara. Ah, ini nanti saja kita bahas, aku tidak punya banyak waktu”
“Terus?”
“Aku memberikan Hana minuman cocktail yang didalamnya ada campuran alkohol, sebenarnya kandungan alkoholnya tidak tinggi, hanya saja memang dasar Hana tidak pernah minum alkohol jadi ia mabuk berat” Hanum menjelaskan dengan excited.
“Apa??? Kamu sudah gila, Num! Kasihan Hana!!” Arini terkejut bukan kepalang.
“Kamu kenapa masih merasa kasihan sama orang yang sudah merebut milik kamu sih? Kamu terlalu baik, Rin!” Ucap Hanum.
“Iya aku tau, tapi ga gitu juga caranya. Apalagi memberikan alkohol, itu minuman Haram, Hanum!, Hana bisa trauma seumur hidupnya!!” Arini tampak emosi.
“Haha kamu terlalu baik, Rin. Biarlah ini jadi pelajaran penting bagi Hana seumur hidupnya. Sudahlah, kamu tidak perlu terlalu begitu khawatir!”
“Terus sekarang bagaimana keadaan Hana?”
“Sekarang dia sudah berada di tangan yang tepat!” Ucap Hanum yakin.
“Mas Haris sudah menyelamatkan??”
__ADS_1
“Ya tidak lah! Mana mungkin semudah itu. Aku sudah menyerahkan Hana pada orang suruhanku. Mereka sudah
mengamankan Hana. Biarlah drama kehidupannya berjalan semakin sempurna! Hahahaa” Hanum tertawa mengingat nasib Hana, ia juga bangga dengan kejeniusannya merancang semua ini. Namun, bagaimana jika ia bertemu Haris? Apa yang harus ia katakan? Ia pun sudah memiliki jawaban untuk menghadapi Haris nanti.
“Ngaco kamu! Ini gila, Num!!! Misi kita memang untuk mendapatkan Haris kembali, tapi tidak begini caranya!!”
“Sudahlah Rin, kamu ikuti saja permainanku. Dijamin impian kamu akan terwujud dengan mudah!”
“Lalu kemana kamu menyuruh orang membawa Hana?”
“Ke Hotel XXXX”
***
Haris semakin panik. Ia teringat pada perkataan pemuda tadi yang mengatakan bahwa istrinya menuju ke arah kolam renang karena merasa kepanasan. Haris setengah berlari keluar pintu menuju ke tempat tujuannya. Hana, dimana kamu! Orang-orang yang berada di sana menatap kepanikan Haris dengan tatapan yang sulit dimengerti. Sebagian memandang sinis, Haris pun menjadi pusat perhatian. Sebagian memilih untuk tidak peduli, Sebagian
lainnya tidak mengetahui apa yang terjadi sebab suara dentuman live music yang keras. Semoga saja berita ini tidak tersebar, walau rasanya tidak mungkin.
Di luar, didekat kolam renang, Haris melihat banyak kerumunan orang di sana. Apa benar istrinya disana. Ia menerobos kerumunan tumpukan orang-orang sambil meminta permisi. Kosong. Tidak tampak tanda-tanda
keberadaan Hana di sana. Haris pun tak segan bertanya pada orang yang berada di situ.
“Mbak, lihat wanita yang mengenakan pakaian cream………….” Haris menjelaskan ciri-ciri istrinya.
“Lalu sekarang dimana keberadaan istri saya, mbak?”
“Oh maaf, jadi itu istrinya mas? Tadi sudah dibawa sama kakaknya mas”
“Kakak laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki mas”
Haris mengkerutkan keningnya. Hana jelas tidak mempunyai kakak, apalagi kakak laki-laki. Hana adalah anak tunggal. Jadi siapa yang membawa Hana? Raut wajah Haris tampak sangat cemas.
“Wan, gua mau cari Hana dulu!” Ucap Haris pada Ridwan yang sedari tadi mengikuti kemana gerakan Haris.
“Ris, Ris, sebaiknya lu di sini saja, waktu sudah sangat mepet, beberapa menit lagi lu serah terima kerjaan. Serahkan Hana ma gue, biar gue yang mencarinya!” Tawar Ridwan. Sungguh Ridwan juga panik mendengar dan melihat apa yang terjadi, mengapa jadi kacau begini sih!
“Ga bisa, Wan! Hana itu istri gue. Gue bertanggung jawab penuh atas keselamatan nya. Untuk urusan kantor please lu ke panitia dan tolong lu urus urusan gue. Lu tau apa yang harus lu katakan kan! Gue percaya sama lu!”
__ADS_1
Haris pun berlalu setelah mempercayakan urusan kantor nya pada Ridwan. Ridwan melihat kepergian sahabatnya dengan tatapan sendu. Poor Hana dan Haris! Ridwan jadi teringat pada minuman yang dipegang Hana tadi ketika mereka bertemu, sebenarnya ia sudah curiga bahwa ada yang tidak beres dengan minuman tersebut, namun ia memilih mengabaikan dan malah pergi mencari Haris. Ia sangat menyesal. Pasti ada yang tidak beres juga mengapa minuman beralkohol itu bisa berada di tangan Hana. Hana tidak mungkin memesannya. Ridwan benar benar tidak ingin mencurigai Hana.
Mobil Haris membelah malam yang gelap. Ia sendiri sebenarnya bingung harus mencari Hana kemana. Otaknya sama sekali tidak berfungsi saat dibutuhkan seperti ini. berkali-kali ia menghubungi nomor Hana. Panggilan pertama kedua ketiga nomornya masih berdering normal, namun tidak ada jawaban. Ia mencoba memanggil untuk yang keempat kalinya,
No yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.
Sempurna sudah lah kepanikan Haris. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mencoba berpikir keras, apa yang harus ia lakukan. Ia mengetuk-ketukkan jari jemarinya pada stiur mobil. Blank. Hana istriku dimana kamu? Haris memanggil-manggil Hana didalam hatinyaa. Ia mengingat-ngingat kembali kejadian sebelum Ia dan Hana berpisah tadi. Akhirnya ia teringat pada Hanum. Ya. Hanum. Istrinya bersama Hanum sebelumnya. Ia merasa harus
menghubungi Wanita itu. Aaargh mengapa tidak kepikiran dari tadi sih! Haris merutuki kebodohannya.
Dddrrttt drrrrrrt
Hanum tersenyum melihat panggilan dari Haris, iseng ia mengabaikannya.
Ddddrrrrrrttt drrrrrtttttt
Haris kembali menghubungi Hanum kedua kalinya. Please Hanum, diangkat! Batin Haris.
“Assalamu’alaikum Hanum”
“Wa’alaikumsalam, ada apa mas?”
“Kamu dimana sekarang?” Tanya Haris,
“Masih di kantor. Mas dan Hana dimana? Aku tidak melihat kalian!” Tanya Hanum berpura-pura.
“Itu yang ingin aku tanyakan, aku tidak melihat dimana keberadaan Hana. Bukankah tadi kalian berdua bersama?”
Tanya Haris kemudian.
“Iya benar mas, Cuma tadi aku izin ke toilet sebentar, setelahnya aku tidak melihat Hana. Aku pikir dia sudah menemui mas” Terang Hanum.
“Baiklah. Terima kasih”
Tiiiiiiitttttttt tiiiittttt Tiiiiit
Hanum tersenyum lebar di tempat duduk sambil menikmati wine nya. Haris tampak percaya dengan apa yang ia katakan. Untuk sementara ia merasa sangat puas.
***
Di kediaman bu Indah, tepatnya di sebuah ruang kamar, tampak Arini menggigit-gigiti kukunya. Ia bingung sekarang. Ia tidak tau apa harus mengikuti alur permainan Hanum atau harus melakukan apa. Di satu sisi impian nya untuk mendapatkan Haris akan segera tercapai, tentu saja atas bantuan Hanum dan Lisa. Namun, hati Nurani nya menolak semua yang dilakukan oleh Hanum, ia sungguh tidak tega. Ia berpikir bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Hana, alangkah menakutkannya. Arini berpikir keras. Ia merasa dilemma.
__ADS_1
***