
Haris memandang wajah Hana yang tertidur pulas di dalam bathup. Ia menge-cek suhu air. Masih hangat. Haris takut kalau-kalau istrinya itu masuk angin. Tapi sepertinya Hana belum lama masuk ke dalam bak mandi ini. Gelembung busa masih menutup rapat di sana.
Ada kebahagiaan tersendiri yang Haris rasakan ketika memandangi wajah polos Hana saat tertidur. Pria ini menyunggingkan senyumnya membentuk kurva. Sesekali dengan perlahan ia menyibak helaian rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Ia memandang dengan berjongkok menopang kan kedua tangannya di pinggiran bathup.
"Ma... mas? " Hana terbangun kaget kala mendapati wajah Haris berada tepat di depan wajahnya. Ia semakin memerosotkan tubuh membenamkan diri lebih dalam lagi ke bathup.
"Apa yang kamu pikirkan sampai tertidur di sini, hm? " Tanya Haris mengelus pipi Hana.
"Ke..napa mas bisa di sini? " Hana balik bertanya. Ia masih mengumpul kan kekuatan lalu sedikit menguap.
"Aku memanggilmu tapi kamu tidak menyahut. Lalu aku ke sini" Ucap Haris dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Kalau saja mas mengetuk pintu nya maka aku pasti akan terbangun" Protes Hana.
"Siapa suruh tidak mengunci pintu? " Haris memicingkan matanya. Hana manyun.
"Yasudah, lanjutkan mandimu. Kita kan mau makan malam di luar" Haris mengingatkan Hana agenda mereka malam ini. Hana diam menunggu.
"Kenapa malah diam? "
"Hmh.. Mas keluar dulu.. Aku mau membilas bekas sabun yang menempel" Pinta Hana dengar nyengir. Deretan Gigi rapi membuat Hana terlihat manis. Haris berpikir sejenak.
"Biarkan Aku membantumu" Haris menaikkan lengan baju nya ke atas.
"Ha? Tidak usah. Aku udah hampir siap kok. Mas masuk saja ya! tidak sampai 10 menit lagi selesai. Aku janji" Ucap Hana cepat. Ia panik.
"Hahaha.." Haris tertawa.
"Sebegitu takutnya kamu sama suamimu ini huh?" Haris menoel hidung Hana.
"Ah Baiklah baiklah. Haiisss... menggemaskan sekali kalau panik begitu" Ucap Haris yang lanjut mengacak asal rambut istrinya. Ia memang hanya berniat menggoda saja. Haris melangkah keluar lalu menutup pintu dengan di iringi helaan nafas Hana merasa lega.
Bukan apa-apa. Jika Haris bersikeras membantu, wanita ini sudah tau persis bagaimana keadaan akhirnya nanti. Bisa-bisa akan menggagalkan agenda yang sudah di susun matang itu.
Tidak menunggu lama. Hana benar-benar menyelesaikan ritual mandi dan berpakaiannya dalam waktu 10 menit. Haris telah menanti nya di mobil.
"Ga lebih 10 menit kan? " Ucap Hana bangga ketika membuka pintu. Pria ini tersenyum menanggapi. Mobil mereka pun melaju semakin menjauh dari apartemen.
Tidak ada percakapan berarti, mereka larut dalam pemikiran mereka masing-masing sampai mobil berhenti di salah satu restauran favorit. Bergegas Haris turun dan membukakan Hana pintu.
"Tumben"
"Aku tengah belajar memahami keinginan wanita" Ucap Haris mengulur kan tangan menyambut tangan istrinya. Hana tersenyum. Mereka berjalan seirama.
Main Course atau hidangan utama telah hadir di hadapan mereka. Tak lupa appetizer juga di hidangkan.
"Kamu tampak tak bersemangat" Ucap Haris yang melihat Hana menyendok enggan makanan. Wanita ini mendongakkan kepalanya.
"Karena aku ke New York ya? " Tebak Haris sendu. Hana diam tak menjawab.
"Aku ke New York hanya 2 bulan" Lirih Haris.
__ADS_1
"Hanya? " Hana menghela nafas. Ia memainkan sendok di piring nya.
"Aku ke sana bersama Ridwan, Roni dan 2 rekan lainnya" Ucap Haris.
"Iya. Aku sudah tau" jawab Hana yang masih terus mengamati sendok yang ia mainkan.
"Aku ingin sekali membawamu. Tapi kali ini aku sama sekali tidak memiliki power untuk mengikut sertakan mu ke sana"
Deg.
Hana merasa seperti ada yang meremas hatinya. Ternyata ia benar-benar akan di tinggal sendiri. Tak terasa airmata yang tidak direncanakan hadir mengalir begitu saja. Padahal dari awal Hana sudah meyakinkan diri untuk kuat. Ternyata ia memang tidak setegar itu.
Haris yang melihat Hana menunduk jadi merasa bersalah.
"Lihat aku" Pinta Haris. Air mata Hana mengalir semakin deras.
"Sayang... Lihatlah aku" Hana tak bergeming. Haris bangkit dari duduknya. Ia memeluk Hana yang mulai sesegukan. Menyadari Hana yang menangis, laki-laki ini pun merasa kesulitan bernafas.
Haris tidak mempedulikan tatapan pengunjung yang terus memperhatikan mereka. Yang ia tau, ia harus memeluk Hana untuk menenangkan istrinya itu.
"Aku akan sangat merindukanmu" Bisik Haris. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia melonggarkan pelukannya dan menghapus air dari mata Hana yang mengalir sudah tidak terkontrol itu.
"Kita akan semakin lama memiliki anak. Jika memang berkesempatan untuk memiliki nya" Ucap Hana pasrah.
Haris terhenyak. Hatinya merasa kebas. Pernyataan Hana begitu menohok. Ternyata ini bukan hanya perkara rindu. Ada hal yang jauh lebih dalam yang Hana pikirkan. Istrinya benar-benar tampak tertekan.
Haris tidak tau harus melakukan apa. Keluarga besar nya lah yang menyebabkan Hana begini. Ini semua memang kesalahan nya. Laki-laki ini menutup mata dan menggigit bibirnya frustasi. Ia kembali memeluk Hana erat.
"Stop" Haris mengambil sendok dari tangan Hana.
"Kalau tidak mood jangan di paksakan. Kita akan memesan makanan lain" Ucap Haris menatap Hana intens. Istri nya menggelengkan kepala. Wanita ini mengambil sendok lain yang tersedia di sana lalu mulai menyantap makanannya kembali.
"Mas kenapa belum mulai makan? " Tanya Hana yang melihat Haris menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia tebak.
"Aku akan membatalkan keberangkatan ku ke New York" Ucap Haris.
Triiing.
Sendok yang Hana pegang terjatuh ke lantai.
"Mas tidak boleh membatalkan nya! Semua sudah ter-schedules dengan matang! " Ucap Hana menatap Haris tajam.
"Aku bisa me-reschedules ulang! Aku Bisa berangkat bulan depan, tiga bulan mendatang atau tahun depan" sahut Haris.
"Jangan mas. Tolong jangan memperkeruh suasana! Aku akan bersabar menanti mas di sini. Aku bisa bersabar! " Ucap Hana cepat dengan mengalah pada akhirnya. Situasi sekarang memang begitu jadi serba salah.
Ya. Hana harus mengalah. Ia memang harus mengalah. Sebab, jika Haris membatalkan keberangkatan nya ke New York, itu sama artinya dengan dunia akan menyalahkan Hana atas keputusan mendadak tersebut.
***
Langit mendung. Awan hitam yang bergulung-gulung tidak begitu terlihat karena kurangnya pencahayaan dari langit sana. Haji Zakaria tampak menyendiri di teras belakang. Seorang Khadimah datang membawa teh hangat dengan mendoan.
__ADS_1
Hajjah Aisyah mengintip suaminya dari balik gorden jendela. Hatinya masih cenat cenut karena Haji Zakaria masih saja terus mengabaikan nya. Beliau mondar mandir tidak karuan. Berkas-berkas perusahaan yang di pimpin oleh nya tergeletak begitu saja di atas meja.
Tak kuasa menahan rasa diabaikan, hajjah Aisyah menghampiri sang suami.
"Assalamu'alaikum bah" Sapa Hajjah Aisyah pelan.
"Waalaikumsalam" Jawab haji Zakaria. Bukannya melihat ke arah istrinya, ulama ini malah membuka kitab Al Hikam nya.
"Abah masih marah sama Ummi? " Hajjah Aisyah mencoba untuk duduk di dekat suaminya itu.
"Apa Ummi sudah banyak-banyak memohon ampun pada Allah dan mau mengubah sikap buruk ummi? " Haji Zakaria menanya balik. Hajjah Aisyah mengangguk.
"Lalu mengapa Ummi tidak mengikutsertakan nak Hana ke New York? " Hajjah Aisyah terhenyak.
"Lho.. itu sudah prosedur nya seperti ini bah. Ummi tidak memiliki niat apapun. Hana itu istri Haris. Ini bukan perjalanan wisata melainkan perjalanan bisnis. Pembelajaran untuk Haris yang akan memegang posisi CEO. Kalau membawa Hana, dikhawatirkan Haris tidak bisa berkonsentrasi" Jelas Hajjah Aisyah panjang lebar.
"Begitu ya. Hmh... Baik" Haji Zakaria mengelus janggut panjangnya.
"Ya. Memang seperti itu bah"
"Lalu... kenapa Ummi menyertakan Lisa ke dalam perjalanan bisnis ini? Apakah karena gadis itu adalah calon yang Ummi ajukan untuk menjadi istri kedua nak Haris? " Haji Zakaria mendongakkan kepala menatap Hajjah Aisyah tajam.
"I.. itu... "
"Apa niat Ummi sebenarnya? Bukankah pendamping yang seharusnya berangkat ke New York itu hanya 3 orang penting saja? Bagian keuangan, IT, juga asisten? Jangan Ummi sangka Abah fokus ke pesantren lantas mengabaikan kinerja perusahaan" Pertanyaan haji Zakaria semakin menjurus dan pernyataannya begitu menohok. Ini semua di luar perkiraan hajjah Aisyah. Ternyata suaminya itu diam-diam memperhatikan masalah yang terjadi di perusahaan.
"I.. tu karena Ummi mengharapkan Haris bisa belajar dari perusahaan bu Inggrid bah! Perusahaan beliau lagi berkembang pesat" Elak bu Hajjah.
"Mi... Ummi..." Haji Zakaria memejamkan matanya.
"Jangan menyalahgunakan jabatan. Berlaku adil-lah dengan menempatkan sesuatu pada tempat nya. Jangan karena ada sentimen pribadi lantas Ummi mengabaikan yang ma'ruf... "
"Haris, Anak angkat kita yang sejak kecil sudah kehilangan Ayahnya itu juga memiliki perasaan. Memiliki hati. Jangan asal Ummi veto dengan memonopoli kehidupannya. Ia juga berhak memilih dan menentukan. Jangan karena Haris dan Hana begitu menghormati Ummi maka Ummi bisa seenak hati menentukan skenario hidup mereka..." Hajjah Aisyah terhenyak.
"Mengenai Lisa, ini juga abah benar-benar kecewa. Tidak ada yang menyepakati soalan istri kedua dengan begitu setergesa ini. Ummi telah lancang mengambil ancang-ancang tanpa sepengetahuan Abah. Istri kedua itu persoalan yang sangat sensitif. Kita harus memandang haji Amir juga ibu nya Hana. Bagaimana perasaan mereka jika mengetahui hal ini? Kita memperlakukan putri mereka dengan semena-mena! "
"Jangan hilangkan kewibawaan dan kelembutan hati Ummi di mata Haris dan Hana. Sebab, jiwa yang terus menerus tertekan, suatu saat bisa meledak dengan ledakan yang kita tidak tau apa saja yang akan dihanguskannya"
"Maaf jika Abah bicara keras seperti ini. Mungkin Ummi merasa tidak nyaman. Tapi semakin kesini Abah merasa kok Ummi semakin keterlaluan" Ucap Haji Zakaria menghela nafas.
"Tapi bah... Haris sebentar lagi 28 tahun. Haris sudah harus memiliki keturunan. Ini amanah besar bah! Ummi melakukan ini semua demi kebaikan Haris. demi kebaikan anak kita" Sergah Hajjah Aisyah masih membela diri. Haji Zakaria bangkit dari duduknya.
"Kalau Abah yang berada di posisi Haris, dan Ummi yang berada di posisi Hana. Apakah Ummi akan mengizinkan untuk Abah menikah lagi? Kalau Ummi masih juga keras kepala dan tidak menyadari kesalahan Ummi. Jangan salahkan Abah jika Abah benar-benar menikah lagi" Ancam haji Zakaria berlalu meninggalkan istrinya yang tercengang dan mematung. Pimpinan pesantren ini sudah kehabisan kata-kata menghadapi istri yang sebenarnya begitu beliau cintai.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
IG @alana.alisha
***
__ADS_1