
Hajjah Aisyah terpekur seorang diri di sebuah kamar dengan penampilan acak-acakan. Sejak berpisah dengan Haji Zakaria, beliau tidak lagi mengurus dirinya. Rambut kusut dan mata sembab menjadi bukti bahwa Hajjah Aisyah begitu terpukul dengan keputusan sang suami.
Hajjah Aisyah memilih mengurung diri di dalam kamar seorang diri sambil mengingat kenangan-kenangan manis yang pernah ia lewati bersama belahan jiwa. Beliau menatap ke arah jendela kamar yang biasa suaminya tatap, lalu laki-laki penyayang itu akan menyuruhnya mendekat dan memeluknya erat.
Jika sudah dalam posisi demikian, Haji Zakaria akan menceritakan roman-roman indah. Membisikkan mesra kalimat-kalimat penuh makna. Romansa yang diambil dari kisah sejarah ataupun Prosa cinta yang dikemas rapi dalam tutur kata yang indah. Ah, pengetahuan sastra beliau memang mumpuni.
Hajjah Aisyah selalu dihujani dengan kalimat-kalimat indah, kelembutan sikap, dan kasih sayang yang seakan tidak pernah ada habisnya. Namun sekarang, sayang nya itu semua tidak akan pernah lagi ia dapatkan. Yang tersisa hanyalah kenangan indah yang begitu menyesakkan untuk diingat. Buah dari perbuatan buruknya di masa lalu. Beliau benar-benar terperosok dalam lubang hitam tanpa bisa naik kembali ke permukaan.
Haji Zakaria juga tidak lagi berada di kediaman Bustanul Jannah. Setelah memutuskan menceraikan hajjah Aisyah, mengundurkan diri dan hiatus mengajar di pondok pesantren yang sudah di pimpin bertahun-tahun. Kini beliau menepi di villa yang pernah dibelinya beberapa tahun silam untuk bermuhasabah diri. Beliau tak kalah terpukul, kenyataan yang beliau hadapi jauh lebih menyakitkan dari semua cobaan yang pernah beliau terima.
***
Hari-hari berganti. Jarum jam terus memainkan perannya. Perlahan namun pasti Haris menceritakan pada Hana fakta mengenai keadaan kondisi kakinya. Pemuda itu mencari cara agar sang istri tidak merasa sedih juga bisa menerima takdir ketetapan Tuhan.
Haris juga sudah memutuskan untuk merawat Hana sendirian. Membantu mengambil makanan, memotong kuku, juga memandikan. Sebisa mungkin ia mengerjakan itu semua sendiri. Namun di luar ekspektasi, ternyata Hana menerimanya dengan hati yang begitu lapang. Bahkan istrinya itu lebih kuat dibanding dirinya.
“Apa yang membuatmu jadi begitu tegar dan berlapang dada sayang?” Tanya Haris mendekap Hana erat. Seperti biasa, berkali-kali ia menghujani puncak kepala istrinya dengan ciuman.
“Ingatkah mas akan Kisah Abu Qilabah? Salah satu kisah sahabat yang mengharukan” Sahut Hana. Harus menggeleng.
“Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqat, kisah ini diriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad, ia mengatakan bahwa suatu hari aku pernah berada di daerah perbatasan, wilayah Arish di negeri Mesir. Aku melihat sebuah kemah kecil, yang dari kemahnya menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang yang sangat miskin. Lalu aku pun mendatangi kemah yang berada di padang pasir tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya” Hana berkisah, ia menarik nafas sejenak dengan menjeda kalimatnya.
“Kemudian aku melihat seorang laki-laki. Namun bukan laki-laki biasa. Kondisi laki-laki ini sedang berbaring dengan tangan dan kakinya buntung, telinganya sulit mendengar, matanya buta, dan tidak ada yang tersisa selain lisannya yang berbicara”
“Dari lisannya, orang itu mengucapkan Ya Allah berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Dan Engkau sangat muliakan aku dari ciptaan-Mu yang lain”
“Dari kisah Abu Qilabah ini aku belajar bagaimana mensyukuri apa pun yang kita miliki dan tetap bersabar dengan apa yang menimpa kita. Mas bilang, aku akan dirawat intensif. Juga masih ada peluang untuk sembuh total. Apa yang harus aku khawatirkan sedang nikmat Allah yang lain begitu banyak. Abu Qilabah dan orang-orang terpilih lain di luar sana punya segudang cobaan yang lebih berat. Aku harus tetap semangat. Sebenarnya hanya satu yang aku cemaskan” Ucap Hana mendongakkan kepalanya melihat Haris yang menemaninya berbaring di atas kasur.
“Apa itu?”
“Aku takut akan sangat merepotkan mas. Apalagi mas memiliki segudang aktifitas yang juga menguras energi. Aku akan menjadi beban” Lirih Hana sendu. Haris tersenyum. Ia kembali mengecup kepala Hana.
“Kamu itu kewajiban dan tanggung jawab-ku. Mungkin memang akan merepotkan. Tapi aku senang mengerjakannya. Pekerjaan yang kita senangi tidak bisa disebut sebagai beban. Sayang... Kita pasti bisa melewati semua cobaan ini. Kita optimis bahwa Kamu akan pulih seperti sedia kala, hm?” Sahut Haris menatap Netra Hana yang mengembun haru. Bagai permukaan kristal, mata yang berkilat-kilat itu terpancar keindahan.
***
__ADS_1
Sudah lebih dari seminggu Romi koma tak sadarkan diri pasca operasi yang dilakukan. Arini menungguinya dengan setia. Wanita cantik berwajah sendu ini dengan telaten membantu Romi membasuh tubuhnya dengan sedikit air yang terdapat pada kain basah tiap pagi dan sore hari agar tubuh Romi selalu fresh dan segar walau dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Arini selalu mengajak Romi bicara setiap kali ada kesempatan. Seolah-olah laki-laki yang terbaring itu bisa mendengar apapun yang ia katakan. Arini memberinya semangat. Menguyurkan kata-kata cinta dan mengatakan banyak janji jika Allah berkenan membuat Romi siuman dan kembali sehat seperti sedia kala.
“Mas, kata Misna.. Dulu pas aku koma mas yang jagain aku. Ga peduli dalam kondisi apapun. Pulang kerja atau hari libur pasti mas akan memilih ke rumah sakit. Mas shalat di dekat ranjang tempatku terbaring terus berdoa dan berharap aku siuman.. Mas lakuin itu selama berbulan-bulan tanpa mengeluh.. Hiks hiks” Arini berbicara dengan air mata mengalir menetes-netes ke atas punggung tangan Romi.
“Tapi sekarang malah mas yang terbaring tidak sadarkan diri. Baru seminggu.. Ya Rabb.. baru seminggu tapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan.. aku ikhlas merawat mas, sangat ikhlas. Tapi aku terlalu rapuh mas.. aku takut aku ga kuat liat kondisi mas.. Hatiku sakiiit.. Please mas bangun.. Lihatlah aku… aku mohoon.. Aku janji berubah.. aku janji bertaubat.. aku janji akan jadi istri mas seutuhnya.. aku janji.. demi apapun.. aku janji mas! Hiks hiks!” Arini terus mengiba. Ia menutup matanya nyaris putus asa.
Andai waktu bisa diputar. Andai telinga bisa lebih sedikit mendengar. Andai hati bisa memahami hakikat. Andai jiwa tidak tunduk oleh rasa ilusi. Andai… Andai…
***
Guntur terdengar. Kilat menggelegar bersahut sambut di luaran sana. Musim penghujan ini menyebabkan suhu lebih lembab dengan intensitas curahan hujan yang lebih sering turun memenuhi bentala.
Arini tertidur dengan posisi menggengam tangan Romi. Akhir-akhir ini Arini memang jarang sekali terlelap, ia hampir lupa apa itu tidur nyenyak lagi nyaman. Ia dengan setia menunggui Romi siuman dengan berharap-harap cemas.
Dalam tidurnya, Arini bermimpi berada di sebuah dermaga. Ia dan suaminya bersama-sama ke Pelabuhan. Romi mengajak Arini berlibur ke pulau cemara. Pemuda gagah itu berkata bahwa pulau yang akan mereka kunjungi adalah pulau dengan lautan biru dan pasir putih yang terhampar luas.
Sesampainya di dermaga ternyata mereka saling terpencar. Bunyi klakson keras yang berdengung pertanda kapal akan berlayar. Tapi Arini masih saja menunggu Romi dengan cemas sampai akhirnya ia melihat suaminya itu telah berada di atas kapal tengah melambaikan tangan. Arini akan menyusul, ia dengan sekuat tenaga berlari mengejar. Namun sayang, ia tersandung sebuah kerikil dan tersungkur ke tanah. Kapal pun bergerak menjauhi daratan.
Sreegg
Arini terbangun. Nafasnya tersengal-sengal. Berlarian di dermaga mengejar kapal terasa begitu nyata. Adrenalinnya terpacu. Belum sempat ia bernafas dengan sempurna, Arini merasa ada sesuatu yang bergerak di tangannya.
“Mas…?!” Arini terpekik Haru. Tangan Romi bergerak. Apakah suaminya siuman?
Arini akan bangkit dari duduknya. Ia ingin mengabarkan pada perawat atau petugas yang berjaga untuk membantunya memanggilkan dokter. Hampir saja Arini melesat pergi, namun tangan nya di cegat oleh sesuatu yang tidak asing.
“Ja….ngan per…gi” Ucap Romi lemah dengan mata yang masih menutup. Dengan sekuat tenaga tangan lemahnya memegang tangan halus Arini.
“Mas… Ini aku Arini, ini aku mas!” Arini tersenyum dalam tangis penuh rasa haru yang membuncah.
“Ry... A…ku men…cintai…mu ka…re..na Allah…” Mata Romi perlahan terbuka. Sebulir airmata bening jatuh di sudut matanya.
“Aku tau mas, aku juga mencintai mas,,, aku cinta mas karena Allah… Mas yang kuat, tunggulah… aku akan memanggilkan dokter! Tunggu ya...” Ucap Arini, namun Romi tidak membiarkannya pergi. Tangan tersebut tidak dilepas malah digenggam semakin erat.
__ADS_1
Pintu terbuka, tampak Haris mendorong Hana yang duduk di kursi roda masuk ke dalam ruangan. Mereka mendekati Romi dan Arini.
“A…ku me…ri…dhoi…mu se…ba..gai istriku…” Lanjut Romi dengan suara berat. Genggaman tangan nya perlahan melonggar. Arini melihat setetes airmata lagi jatuh dari sudut mata sendu suaminya.
"Mas... Jangan banyak bicara dulu... " Ucap Arini, kali ini ia yang berinisiatif menggenggam erat tangan Romi.
"Ja.. ngan ting.. gal... kan sha... lat... taatlah ke.. pa... da.. Allah... A... ku me... ni... tip... kan mu ke.. pa... da... Allah" Ucap Romi terputus-putus. Suaranya mulai hilang.
"Mas... Hiks hiks... Masss... " Air mata itu tak lagi bisa terbendung. Air mata Arini tumpah.
“Asyhadu an laa ilaa ha illallah… Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Gelombang pada alat pasien monitor terhenti. Romi mengucapkan kalimat syahadatnya. Ia menghembuskan nafas terakhir bersamaan dengan lepasnya genggaman erat pada tangan Arini. Tangan tersebut terhempas melayang ke bawah. Waktu seperti berhenti berputar.
“Mmmas… Mmm maas…. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” Pekik Arini nyalang. Tangisnya semakin pecah. Hana membawa Arini ke dalam pelukannya. Hana juga ikut menangis.
Haris melesat ke sisi kiri Romi. Lutut Haris terasa lemas. Kakinya seperti tidak mampu menapak. Sahabat setianya itu pergi begitu saja. Bahkan Haris belum sempat mengucapkan rasa terima kasih mendalam atas semua kesetiaan dan ketulusannya.
“Romi…………..” Lirih Haris. Pemuda ini menangis tanpa suara. Ia tak kalah terpukul.
Akhir yang indah. Romi menemui Rabb nya dalam keadaan Husnul Khatimah.
Innalillahi wa inna ilaihi Raji'un
***
.
.
Masih ada ekstra-part dan pengumuman yaa man-teman. Alana nulis ini dengan perasaan yang bercampur aduk 🥺
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
__ADS_1
IG @alana.alisha
***