
Bisa kurasakan detak jantung mu yang bertalu talu
Detak itu terus memacu adrenalin ku untuk semakin menuju
Jika ada banyaknya ribuan kata yang keluar
Percayalah bahwa tindakan ku jauh lebih melesat
Jika kemarin kita terpisah jauh ribuan kilo mill
Maka dapat kupastikan kini dan selamanya
Jarak yang membentang itu akan kukikis sedikit demi sedikit hingga tak bersisa
~by Haris Abdurrahman Faiz
***
"Hana, lihatlah ini! Kamu suka yang mana? " Haris menunjukkan beberapa list negara lengkap dengan destinasi wisata nya.
"Aku suka New Zealand, Mas! Aku sering melihat di youtube tentang kealamian alamnya" sahut Hana.
"Benarkah? "
"Ya. Luas nya hamparan padang rumput dengan sapi hitam putih yang ginuk ginuk lucu, benar-benar menggemaskan. Kita bisa menemukan banyak hal di sana, hutan belantara yang belum terjamah juga kekayaan budayanya. Sehingga Orang-orang menjadikan negara tersebut masuk ke dalam list destinasi negara yang ingin mereka kunjungi! " Hana menjelaskan dengan penuh semangat. Adrenalin nya terpacu ketika membahas tentang alam.
"Aku juga suka Switzerland, negara tersebut menawarkan wisata menggiurkan di seputaran pegunungan Alpen. Alamnya juga alami banget! Pokoknya keren deh! " Hana mengacungksn jempolnya. Ia menjelaskan seolah-olah negara tersebut berada tepat di depan matanya.
"Kalau begitu, jika disuruh memilih, negara mana yang ingin kamu kunjungi? "
"Aku akan memilih Spanyol! " Hana menjawab mantap.
"Jiaakh, Mengapa malah Spanyol? Tadi kamu begitu bersemangat menyebutkan negara Swiss dan Selandia Baru" Haris menoel hidung Hana.
"Haha, iya. Aku penasaran dengan puing-puing sisa peradaban islam. Bagaimana pun juga, Islam pernah jaya di sana kan? Kerajaan Andalusia yang megah, Aku ingin melihat artefak dari Istana Al Hamra di Granada, Walau aku menyadari semua yang kini ada hanya sisa-sisa puingnya saja, namun, aku yakin ketika berada di sana ruh dan spirit para ulama yang berjuang itu tetap terasa" Hana berkaca-kaca.
"Ah bahkan alat dan corak musik nya masih sangat islami, kebudayaannya masih kental dengan budaya islam. Spanyol menjadi wishlist negara tujuan yang paling ingin aku kunjungi setelah Arab dan Mesir" Hana melanjutkan.
Haris terpana mendengar penjelasan Hana. Betapa gadis muda itu punya pengetahuan yang lumayan luas.
"Baiklah, kalau begitu kita akan ke sana! "
"Ke sana? ke Spanyol?! " Hana setengah histeris.
__ADS_1
"Ya. Insya Allah kita akan segera kesana. Aku akan mempersiapkan semuanya dan meminta asisten ku memesankan tiket honeymoon untuk kita berdua" Ucap Haris.
"Oh iya, kalau sebelumnya kita Umroh terlebih dahulu bagaimana? Aku ingin perjalanan ini tidak hanya sekedar honeymoon biasa, tapi juga perjalanan spiritual yang tetap melibatkan Allah didalamnya" Haris menanyakan pendapat Hana.
Kali ini giliran Hana yang tidak bisa untuk tidak terpana mendengar perkataan Haris.
***
Romi telah berdiri tepat di depan pintu pagar kediaman Arini. Sejak wanita itu mengabaikan pesannya, ia menjadi uring-uringan. Pemuda ini khawatir persidangan yang telah Arini lalui kemarin akan membuat wanita itu depresi, terlebih Haris benar-benar mengabaikannya.
Romi sama sekali tidak membenarkan perbuatan Arini, malah ia mengecamnya. Hanya saja pemuda ini ingin wanita itu bertaubat. Ia ingin Arini nya kembali menjadi Arini yang dulu. Gadis manis yang baik hati. Tidak bisa dipungkiri, hati nya masih peduli terhadap sahabat lamanya itu.
"Mas Romi ya? " Asisten rumah tangga di kediaman Arini yang telah lama mengabdi menyapanya.
"Eh, bi Sri. Apa kabar bi? "
"Baik, Mas Romi mencari nona Arini? Ayo masuk, sebentar saya panggilkan dulu! " Ajak bi Sri yang masih tetap ramah seperti biasa.
"Ah, tidak usah, saya hanya mampir sebentar. Tolong berikan titipan saya ini pada Arini ya, Bi! " Romi mengulurkan sebuah bungkusan.
"Baik mas, insya Allah nanti akan saya sampaikan" Bi Sri menerima nya.
Romi dan Arini dulunya bersahabat dengan sangat baik. Hubungan mereka benar-benar dekat, sampai tanpa sadar secara perlahan Romi menaruh hati pada Arini.
Benarlah perkataan yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan dekat antara laki-laki dan perempuan kecuali di dalamnya terdapat perasaan. Dan Romi mengalami hal tersebut. Arini yang menyadari perasaan Romi terhadapnya, perlahan-lahan menjauh lalu secara terang-terangan menghindarinya. Arini tidak ingin Romi mengharapkannya sedang di dalam relung hatinya hanya terdapat nama Haris.
Arini masih mengingat dengan jelas bagaimana khawatirnya laki-laki itu ketika mengetahui bahwa dirinya sakit perut. Walau peristiwa sakit perut pada malam itu hanya sebuah kebohongan untuk mengulur waktu agar Haris tidak langsung menemui Hana.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu memecah lamunan Arini.
"Nona, ini ada titipan dari mas Romi untuk nona" Ucap bi Sri ketika membuka pintu kamar.
"Buang saja, bi!! " Perintah Arini yang enggan menoleh. Ia masih saja fokus dengan jaket hitam milik Haris, aroma maskulin yang menguar dari sana begitu merasuk ke penciuman nya, Arini merasa memiliki aroma terapi untuk ruh dan jiwa nya.
"Seperti nya bungkusan ini penting Non, mas Romi mewanti-wanti bibi untuk menyerahkannya pada Nona" Ucap bi Sri lagi. Ia setengah berbohong, bi Sri hanya merasa kasihan pada Romi yang sudah jauh-jauh mengantarkan.
"Letakkan saja bungkusannya di meja, bi" jawab Arini malas.
"Baik nona, kalau begitu saya permisi"
"Oh iya, apa lagi yang Romi katakan bi? " Biarpun acuh tak acuh ia juga penasaran.
__ADS_1
"Hanya memberikan bungkusan. Itu saja nona" Jawab bi Sri seadanya.
"Baiklah"
***
"Kamu yang memilih tempat wisata apa saja yang akan kita kunjungi, kamu juga yang memilih penginapan seperti apa yang kamu mau. Bebas!" Ucap Haris yang masih berkutat dengan macbook nya. Hana masih saja melihat-lihat daftar destinasi wisata di sana.
"Hmh, tapi seperti nya nginap di hotel bintang 7 dan memilih kamar di lantai 17 atau 18 dengan hamparan pemandangan alam atau kota lebih menarik" Haris mengulang kata-kata Hana semalam. Ia memberikan smirk nakal. Hana tersenyum malu-malu.
"Ehm, tapi Mas, apa ini tidak pemborosan? Aku lihat biayanya sangatlah besar" Hana menjadi ragu ketika melihat rincian harga yang tertera di atas kertas.
"Alhamdulillah aku punya tabungan, kamu jangan mengkhawatirkan hal itu" ucap Haris santai. Ia terlihat acuh ketika Hana mempermasalahkan harga.
"Apa tidak sebaiknya uangnya di tabung saja untuk masa depan kita dan anak-anak nantinya? kita pilih tempat liburan yang lebih terjangkau namun tetap spesial, nanti one day ketika kita sudah mapan dan punya rejeki berlebih, kita akan kesana" Hana membeberkan pendapatnya.
Haris meremang ketika Hana menyebut kata Anak. Hatinya mencelos, sekian lama menikah, bahkan mereka baru memulai perencanaan nya.
"Kita juga sudah punya tabungan untuk masa depan kita dan anak-anak nantinya, itu anggaran yang berbeda" Haris tersenyum menenangkan.
"Pokoknya kamu jangan khawatir dan cemas, aku sudah mempersiapkan semuanya" Hana semakin mengeryitkan keningnya.
"Mas... "
"Hm... "
"Mas,,, " Hana kembali memanggil dengan lembut namun tidak juga melanjutkan perkataan nya, ia malah menghujam kan tatapan nya dalam-dalam dengan tatapan yang penuh keseriusan.
"Kenapa, hm? " Haris menunggu kalimat Hana.
"Sudah berapa lama mas bekerja? Mas tidak melakukan korupsi kan? " Tiba-tiba saja pertanyaan polos nan frontal keluar dari mulut Hana.
"Apa???? Hahahaha" Tawa nyaring membahana terlepas dari mulut Haris. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Terjawab sudah, ternyata sang istri mengkhawatirkan aliran dananya. Ia lupa bahwa mereka tidak pernah terbuka terhadap apapun, apalagi tentang keuangan. Haris pun menutup MacBook lalu ia berjalan ke arah Hana yang terlihat kebingungan.
"Kenapa mas tertawa? Memangnya ada yang lucu? " Hana menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu mencurigai suamimu sendiri, hm? " Haris kembali menoel hidung bangir Hana.
"Maksudku bukan begitu mas, hanya saja... Hanya saja...."
"Hanya saja, Aku yang hanya karyawan biasa bagaimana mungkin mampu mengumpulkan uang sebanyak itu, begitu kan maksudmu? " Ucap Haris tepat sasaran. Sebenarnya begitulah maksud Hana.
"Hmh.. bukan begitu mas" Hana terus saja mengelak, ia tidak punya perbendaharaan kata yang tepat untuk mengatakannya bagaimana pemikiran nya agar Haris tidak tersinggung.
__ADS_1
"Baiklah, sudah saatnya aku menjelaskan semua padamu... " Haris menatap dalam dalam ke bola mata Hana. Ia membawa gadis itu melakukan perjalanan waktu ke masa silam.
***