
Lembayung penghantar senja
Semburat kemerahan merona
Tirai malam tersibak
Ia merekah sempurna
Lengkungan sabit pada bibir merah jambu
Rekahannya seterang purnama di atas sana
Semberawut pilinan kehidupan
Perlahan menemukan benang merahnya
***
Sidang kasus kepemilikan Narkotika jenis ekstasi terus berjalan penuh hikmat. perkembangan pemeriksaan kasus sampai pada Advokad mencoba menyeimbangkan kasus client nya dengan berkata bisa jadi sidik jari yang terdapat pada obat-obatan tersebut tertoreh saat Yura hendak mengambil benda yang berada di dalam tas.
Namun ternyata memang tidak sesederhana itu.
"Bagaimana jika ternyata sidik jari bukan terdapat di bagian luar melainkan di sebaliknya? Sidik jari tersebut berada di bagian dalam" Pak penuntut ternyata mengungkapkan fakta lain. Beliau berkata dengan menaikkan sebelah alisnya ke atas.
Haris melihat Hana yang sedang berusaha menguasai diri di ujung sana, walau ia tau sebenarnya istrinya itu sangat tertekan. Jaksa penuntut umum terus saja memojokkan terdakwa dalam kasus perkara.
Kondisi Yura lebih memprihatinkan, keringat dingin mengucur deras. Ia merupakan tersangka utama dalam persidangan saat ini.
Advokad mencoba memberikan banding, memberikan informasi terperinci tentang peristiwa malam itu, mengabarkan kondisi Hana yang pingsan dalam waktu lama dengan mendatangkan bukti-bukti rekam jejak dari rumah sakit,
"Logikanya sangat tidak mungkin nona Hana melakukan transaksi, apalagi ia juga sebagai korban dari kasus sebelum nya, rentang waktu yang relatif singkat, bagaimana mungkin memikirkan transaksi? Maka dengan demikian nona Yura juga tidak mungkin sengaja mendatangi rumah sakit hanya untuk melakukan hal tersebut" Ucap Advovad hukum penuh ketegasan.
Penonton mengangguk-anggukkan kepala di belakang sana. Mereka berbisik-bisik, sangat masuk akal apa yang dikatakan oleh sang pemberi jasa hukum tersebut.
Advokad juga mendatangkan seorang saksi, yaitu tukang bengkel yang menangani ban bocor mobil milik Yura. Pemuda itu membeberkan reka kejadian yang berlangsung malam itu. Menurut pengakuan nya Yura memang tidak melakukan tindakan aneh kecuali hanya memegang dan memainkan handphone.
Handphone milik Yura dan Hana juga menjadi salah satu barang bukti atas apa yang mereka lakukan selama ini. Tidak ditemukan penyimpangan di sana.
Lisa and the Genk masih cermat menyaksikan jalannya sidang. Ia terlihat santai, pada kasus kepemilikan Narkotika ini, walau sebenarnya ia yang berada pada saat diletakkannya barang haram tersebut di lokasi kejadian, namun ia hanya sekedar memantau hasil kerja Orang-orang suruhan dari Hanum saja., ia dengan mudahnya dapat mencuci tangan.
Lisa sangat berharap agar teman-temannya itu terbukti bersalah. Ia mengeraskan hatinya ketika melihat langsung penderitaan Hana dan Yura. Ia sempat mengunjungi mereka beberapa waktu lalu. Yura seperti kehilangan semangat hidup nya.
Lalu Apa yang ia lakukan? Tentu saja bak Peri putih dari kayangan, ia memberikan wajah sedih terbaiknya sambil memeluk teman yang malang itu. Ia mendukung dan memberikan beberapa pesan moril.
Bak motivator kondang sekelas Mario Teguh, ia juga memberikan motivasi agar temannya itu tidak lagi terpuruk. Ya. Ia tidak sepenuhnya jahat bukan? Ah. Benar-benar sahabat yang sempurna. Memikirkan nya Lisa tersenyum licik dengan menaikkan sudut bibirnya.
Lalu bagaimana dengan Hana? temannya itu mengaku telah memiliki banyak teman di penjara, ia memberikan pengajian gratis di sana setelah sebelumnya sempat mendapatkan penganiayaan.
Para wanita yang berada di sana sekarang saling menghormati dan menghargai. Mereka sudah pandai mengaji, beberapa bahkan hampir bisa membaca alquran. Kebahagiaan Hana melihat semangat membara dari para tahanan sedikit banyak nya mengusir rasa sepi dan jenuhnya, ia dipenuhi banyak cinta.
Huh. Lisa kesal sekali mendengar nya. Mengapa Hana selalu saja beruntung. Mengapaa?? Namun tetap seperti malaikat, ia harus menunjukkan senyum terbaiknya dan memberikan kalimat-kalimat penyemangat., seolah-olah ia bahagia mendengar nya.
Lisa juga masih mengingat peristiwa ketika ia menginfokan tentang tertangkap nya Hana dengan memberikan surat kaleng ke keluarga besar mereka. Entah apa yang terjadi setelahnya, yang penting ia telah melihat wajah-wajah mereka yang sendu sembab penuh pengharapan itu di sidang ini.
Jika pun Hana dan Yura terbebas dari kasus Narkotika, tak masalah baginya. Setidaknya mereka sudah merasakan dingin nya penjara dan sakitnya rasa sepi yang terus menggerogoti, mereka juga sudah merasakan buruknya makanan di bui, yang terpenting adalah mereka merasakan bagaimana rasa sakit merindukan orang-orang yang mereka cintai. Sesimple itu membalas dendam. Walau jujur ia masih belum merasa puas.
"Berdasarkan data lapangan, menurut hemat saya, ini adalah sebuah jebakan yang direkayasa!!" Kata-kata Advokad sukses membuyarkan lamunan Lisa, seperti ada yang meremas hatinya.
Setelah melalui pendataan, Hakim Agung mengumumkan sidang kasus I akan segera di proses.
Istirahat dilakukan beberapa saat.
Hasil masih belum diketahui, semoga ada keajaiban. Ada satu hal yang memberatkan terdakwa. Yaitu sidik jari terdakwa berada di obat-obatan laknat tersebut.
Sebelum nya, Pihak Kepolisian menemukan kesinambungan antara kasus penculikan dan kasus narkotika, seperti ada benang merah kusut diantara dua kasus yang baru saja diusut. Yang membingungkan adalah adanya salah satu anak buah Boris pada saat Yura mengganti ban mobilnya. Hasil penyidikan ini dilaporkan oleh salah satu intel yang mencari kebenaran kasus.
__ADS_1
Boris dan teman-temannya telah lalang melintang di dunia kejahatan. Memang bukan hal yang baru lagi bagi kepolisian. Namun, tetap saja tidak bisa menyimpulkan bahwa ini semua adalah jebakan dari Boris dan komplotan, sebab sidik jari Yura jelas berada di sana.
***
Baiklah, mari kita memasuki babak baru. Sidang kasus Penculikan. Lupakan sejenak tentang Narkotika, Hakim telah memiliki data dan akan mempertimbangkan semua sebelum memutuskan terdakwa bersalah atau tidak.
Dalam kasus ini Hanum merupakan tersangka dan Hana sebagai korban. Sebelum-sebelumnya Haris telah dengan gencar melakukan pelaporan atas kasus ini agar segera diproses.
Masing-masing dari kuasa hukum baik Hana maupun Hanum memiliki argumen mereka sendiri. Satu persatu saksi di panggil, Gibran adalah orang yang pertama yang memberikan kesaksian, sebelum berkata, ia disumpah terlebih dahulu menggunakan al-Quran.
Lalu ia pun menceritakan kronologi bagaimana drama penyelamatan Hana yang secepat kilat, mulai dari mendapat panggilan telepon serta memanggil polisi. Ia menceritakan semua dengan penuh kejujuran tanpa direkayasa sedikitpun.
"Apa saudara tidak merasa janggal dengan panggilan telepon yang begitu tiba-tiba? Apa Anda sebelumnya tidak pernah berfikir bahwa itu semua bisa jadi adalah jebakan? " Tanya Jaksa penuntut umum setelah Gibran selesai membeberkan semuanya.
"Saya sama sekali tidak berfikir ini adalah jebakan, akal sehat saya tidak mampu berfikir jernih ketika nama Hana dibawa-bawa apalagi ini semua menyangkut keselamatan nya, dan ternyata memang ada tindakan kriminal di sana" Kata Gibran lantang, ia melirik ke arah Hana yang juga melihat ke arahnya. Dengan cepat Hana memalingkan wajahnya.
"Baik, ada lagi yang ingin disampaikan?"
"Tidak pak, cukup" Gibran tampak tenang. Petugas mempersilahkan Gibran keluar dari kursi pemeriksaan setelah dirasa penjelasan pemuda itu cukup rinci dan jelas.
Kemudian kesaksian dilanjutkan oleh Arini. Sama seperti Gibran, ia juga disumpah menggunakan al-Quran. Gadis itu sedikit gemetar.
"Saudari Arini, darimana Anda mengetahui bahwa nona Hana sedang berada di hotel ketika itu? "
Arini pun menceritakan kronologi cerita persis seperti yang ia ceritakan kepada Gibran.
"Mengapa harus saudara Gibran? Mengapa tidak suaminya saja? Menurut laporan tertulis, nona Arini mengenal dengan baik suami dari nona Hana"
"Karena ini semua menyangkut perasaan pribadi. Saya tidak ingin mas Haris yang menyelamatkan nya" Ucap Arini menunjuk ke arah Hana, spontan Hana mendongak kan kepala. Pandangan mata mereka bertemu, tiada keramahan yang terlihat di wajah Arini, tidak seperti pada pesan yang wanita itu layangkan kepada Hana beberapa waktu lalu ketika ia mengajak melakukan pertemuan. Wajah cantiknya terlihat begitu dingin. Hana dapat memaklumi perasaannya.
"Lalu siapa teman wanita Anda yang mengikuti Hana ke hotel?"
"Ia bernama Hanum" Ucap Arini sedikit gugup.
"Lalu bagaimana keterkaitan Hanum dalam kasus ini, bukankah ia merupakan tersangka? "
"Saya tidak tau dan tidak mengerti mengapa Hanum bisa menjadi tersangka, padahal secara tidak langsung ia yang menyelamatkan Hana" Ucap Arini kemudian.
"Bagaimana nona Hana, apakah benar saudari Hanum yang memberikan minuman beralkohol itu kepada Anda? Silakan menjelaskan kejadian malam itu" Jaksa Penuntut Umum yang berbalik arah menanyai Hana.
Hana mulai menjelaskan kronologi kejadian pada malam itu,
"Jadi Anda tidak mengetahui apakah minuman tersebut beralkohol atau tidak? " Tanya Jaksa penuntut umum kemudian.
"Tidak ada minuman lain yang saya minum kecuali minuman yang mba Hanum berikan dan lemon tea yang sebelumnya saya minum"
"Pertanyaan saya adalah, apakah nona tidak mengetahui minuman yang nona Hanum berikan tersebut beralkohol atau tidak??!!"
"Saya tidak yakin" Hana berkata lirih. Ia pasrah.
Ruangan ricuh. Peserta yang hadir kembali berbisik-bisik.
Oh my God, come on Hana~ Ridwan berkomentar dari balik layar.
"Mohon harap tenang!! " Hakim Agung mengetuk-ngetukkan palunya beberapa kali. Lalu beliau memerintahkan ketiga preman untuk dihadirkan ke persidangan. Hana kembali duduk setelah memberikan kesaksian atas dirinya sendiri.
Boris, Cungkring dan Botak masuk ke persidangan. Kini Tampilan Mereka tampak rapi, rambut bang Botak tidak lagi gimbal, tampilan kepalanya sudah plontos khas tahanan. Mereka semua dipangkas cepak.
Posisi mereka kini sudah jelas sebagai terdakwa yang berhasil terciduk. Hanya saja mereka memiliki kuasa hukum yang tentu saja telah Hanum persiapkan untuk kesetiaan mereka, ini semua di harapkan dapat mengurangi sisa jatah hukuman di bui.
Gibran spontan berdiri melihat ketiganya, ia teringat peristiwa malam itu. Emosinya kembali berkobar.
"Mereka pelakunya, Pak! " Gibran berseru geram. Semua mata tertuju pada Pemuda tampan yang memakai kemeja putih polos itu. Laki-laki itu tampak berapi-api. Lisa yang sudah mendamba sejak awal melihat Gibran di persidangan pun merasa kesal.
Haris masih tenang dalam duduknya. Ia hanya diam mencermati jalannya persidangan sembari menunggu gilirannya berbicara.
__ADS_1
"Harap tenang!! Kami telah mengetahuinya, giliran Anda berbicara sudah selesai, Pak!!" Ucap petugas kepada Gibran.
Pertanyaan kembali diajukan,
"Benarkah nona Hanum yang memberi perintah untuk menculik nona Hana? " Penuntut umum bertanya pada Boris.
"Itu semua tidak benar pak, kami yang hadir memang ingin menculik nona Hana, kami tergiur melihatnya mabuk dan tidak sadarkan diri" Aku Boris dengan bahasa seadanya.
"Apa motif kalian? "
"Sebenarnya Nona Hana yang lebih dahulu menggoda kami, wajar sekali dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri nona Hana melakukan perbuatan yang tidak terpuji, lalu bagaimana mungkin kami sebagai lelaki normal tidak tergiur, dari situlah kami membawa nona Hana ke hotel?! "
Piasssss. Wajah Hana memerah. Ia yang sudah berjam-jam lalu duduk tenang, tak bisa menahan diri.
"Bohong, Pak!!! " Teriak Hana.
Setenang-tenangnya Haris, ia tetap mengepalkan tangan dan menggigit giginya.
Ruangan kembali ricuh, Umi Hana menitikkan air mata.
Hotel, menggoda? Hana yang tidak mengerti kondisi dirinya ketika itu sekarang jadi bertanya-tanya.
"Semuanya harap tenang!!! Nona Hana, harap Anda tenang! " Hakim kembali mengetuk-ngetuk palu.
Boris dan Hanum bersama kuasa hukumnya masing-masing melayangkan pembelaan agar mereka terbebas dari perkara. Tak ayal, mereka membalikkan keadaan. Hana semakin terpojok.
Kuasa Hukum Hana pun tak kalah memberikan pembelaan terhadap korban, Hana yang ditemukan dalam keadaan pingsan ketika itu juga mengalami overdosis obat bius.
"Ini bukan kejahatan sepele. Kapan saja, Korban bisa meregang nyawa karena penyalahgunaan obat. " Ucap Advocad Hana.
"Please, ini sangat-sangat sepele, wanita dewasa yang sudah menikah lalu datang ke pesta dan di sana terdapat minuman beralkohol, apa bukan sesuatu yang wajar jika wanita tersebut meminumnya? " Kuasa hukum Hanum berkata dengan gagahnya sembari mengedarkan pandangan dengan angkuh melihat para peserta sidang, kemudian melanjutkan kata-katanya,
"Apalagi bersama euforia gemerlap pesta dengan lampu kerlap kerlip khas diskotik, pesta yang di hadiri adalah pesta multietnis, multi agama, terdapat tamu asing, yang diadakan khusus dari perusahaan tempat suami nya bekerja. Nonsense jika tidak tergiur alkohol, apalagi jika sampai melakukan transaksi narkotika, why not? " Kuasa Hukum menyerang kemudian menaikkan sebelah alisnya.
"Jika sudah begitu apa tidak mungkin nona Hana juga menggunakan obat bius untuk menenangkan diri? bukan tidak mungkin, pengaruh alkohol membuatnya mengkonsumsi melebihi batas, coba silahkan di cek, obat bius yang di gunakan Hana adalah jenis obat penenang. Saya sudah memiliki data dari rumah sakit"
Terhipnotis. Semua peserta terdiam mendengar argumen sang kuasa hukum.
Pengadilan terus saja merekam apa yang tersampaikan di ruang sidang. Bukti-bukti dibeberkan. Hana dan Yura pasrah sudah, keluarga besar menunduk, para tetua sudah mengeluarkan air mata sejak awal.
Terakhir, Hakim Agung memanggil Haris sebagai saksi,
"Saudara Haris, silahkan mengambil tempat yang telah disediakan! " Perintah petugas.
Haris bangkit dari duduknya. Dari arah pintu masuk utama, pemuda itu berjalan tegap memandang ke depan dengan tatapan datar, keheningan tercipta. Semua menunggu apa yang akan disampaikan oleh suami Hana itu.
Ketukan sol sepatu nya terketuk ketuk berirama terdengar jelas. tap tap tap. Perlahan tapi pasti langkah kakinya sampai ke depan. Raut wajahnya menunjukkan keseriusan. Ia mengambil tempatnya.
"Apa yang mau saudara sampaikan? "
Sebelum berbicara, Haris menyempatkan melihat Hana, gadis itu menatap lurus ke arahnya, tatapan mereka saling bertemu. Haris enggan memalingkan wajah. Hingga petugas berdehem dan mengulangi pertanyaan yang sama,
"Ehmm, Silakan saudara menyampaikan informasi terkait tentang peristiwa ini" Kata petugas lagi.
"Saya tidak ingin menyampaikan teori, saya hanya ingin memperlihatkan bukti. Saya memegang bukti kalo nona Hana dan nona Yura tidak bersalah" Satu persatu kalimat meluncur dari mulut Haris penuh penekanan, tidak santai seperti biasanya. Kembali ia melihat ke arah Hana, 2 detik kemudian pandangan nya beralih ke arah yang berbeda. Tatapan matanya mengabsen Hanum dan teman-temannya satu persatu.
Suasana tegang~~~
***
Huft, Panjang banget yaa bab kali ini, Alana pengen bagi jadi dua bagian, tapi takut pesan nya jadi ga tersampaikan jadi mau ga mau disatukan gini.
Semoga Allah melimpahkan kita kesehatan dan kebaikan~ May Allah bless Us 🌹
***
__ADS_1