Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 13: Gejolak Jiwa Haris


__ADS_3

Haris membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, namun tidak juga menemukan titik nyaman. Ia tidak bisa tidur. Ketika menutup mata, bayangan Arini muncul seketika. Kata-kata Misna tentang undangan pernikahannya bersama Arini terngiang-ngiang memenuhi pikirannya.


Ia mengucap istighfar berkali-kali. Peluh keluar membasahi baju kaos yang ia kenakan. Padahal AC menyala dengan baik. Ia merasa kehausan sekarang. Ia mengambil air mineral yang berada di meja samping kasurnya.


Air tersebut, tadi Hana yang menyediakan. Ah iya. Hana? sedang apa gadis itu sekarang. Apa ia sudah tidur? Mengapa Hana bisa tertidur dengan mudahnya. Sedang bermalam-malam setelah pernikahan ia tak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Ada saja pikiran-pikiran yang tak diundang memenuhi isi kepalanya.


Malam ini tidak ada Hana disampingnya. Hana sudah memutuskan untuk tidur di kamar terpisah. Benar, ini adalah keinginan Hana. Mungkin gadis itu merasa tidak nyaman dan tidak bebas jika mereka bersama. Tidak masalah. Toh tidak ada cinta di hati mereka. Mereka memang perlu menyesuaikan diri satu sama lain lebih lama lagi.


Haris sendiri sulit untuk menggambarkan bagaimana perasaan dan nasib pernikahannya. Jujur saja, ia mulai sedikit terbiasa dengan kehadiran Hana dihidupnya. Bagaimana akhir-akhir ini ia berusaha untuk bisa menerima keadaan. Bagaimana setiap malam ia dan Hana berbagi kasur yang sama.


Haris sebagai laki-laki biasa, hmh tidak. Maksudnya sebagai laki-laki normal terkadang tidak bisa menahan gejolak yang membuncah hebat yang datang dengan tiba-tibanya. Padahal ia sendiri sama sekali tidak bermaksud demikian.


Selama ini ia dan Hana memang menjaga jarak jika berada di dalam ruangan yang sama. Bahkan mendekati satu bulan pernikahan mereka, Hana masih mengenakan gamis lengkap dengan kerudungnya. Ia seolah tidak rela jika Haris suaminya melihat seinci saja dari apa yang selama ini ia tutup dan sembunyikan.


Sebenarnya hal-hal seperti ini membuat Haris merasa tenang dan nyaman. Setidaknya ia tidak perlu menahan gejolak yang entah dari mana munculnya dan menyebabkan ia harus ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Ya. Hampir setiap subuh di minggu-minggu kedua dan ketiga pernikahan mereka ia melakukan hal ini. Bukan tanpa sebab, Hana memiliki gaya tidur yang sangat acak-acakan. Memang ia dan Hana sepakat meletakkan bantal pertahanan di tengah-tengah mereka. Namun ini tidak berlangsung lama.


Bantal pertahanan akan menghilang seketika. Entah itu di tendang atau memang ia tanpa sadar membuangnya. Dan kita semua bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi. Gaya tidur abstrak tidak bisa dielak lagi.


Hana akan berguling mendekati Haris, tangan dan kakinya akan melayang kemana-mana. Bahkan tanpa sadar Hana bisa memeluknya. Tak jarang juga gamis istrinya tersebut tersingkap hingga memperlihatkan betisnya.


Haris hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tidak pernah protes atas apa yang terjadi. Ketika tersadar dari tidurnya dan melihat Hana sudah dalam posisi tidur tak karuan, Haris pun memilih mandi dan tidur di sofa. Maka tak jarang ketika bangun dari tidur nyenyaknya Hana mendapati Haris yang tengah terlelap bukan ditempat tidur, melainkan di sofa.


Kejadian-kejadian seperti ini membuat ia langung menyetujui usulan Hana untuk tidur dikamar terpisah. Demi kenyamanan bersama juga agar ia mampu mengontrol gejolak kelelakiannya yang tiba-tiba muncul. Hal itu pasti akan menyakiti mereka. Hana terutama.


Jadi, berpisah kamar seperti ini adalah keputusan yang terbaik sampai mereka mengetahui kemana arah ujung muara dari pernikahan perjodohan ini. Tapi… ah, ia tiba-tiba saja merasa seperti ada sesuatu yang hampa. Tidak terdengar lagi ocehan-ocehan pengantar tidur dari gadis itu. Atau ia tak mendengar bacaan merdu surah al-Mulk yang rutin Hana baca setiap malamnya. Mungkin ia memang sudah terbiasa hingga melupakan kelabat bayangan tentang Arini sejenak.


Kali ini ia benar-benar tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk berwudhu, shalat sunnah dua rakaat dan menghabiskan malamnya dengan membaca al-Qur’an.

__ADS_1


***


Pagi yang cerah, namun tidak secerah wajah Haris yang tampak kusut. Berkali-kali ia menguap. Rasa kantuk masih menyerang akibat tidak bisa tidur semalaman. Namun ia tetap harus berangkat ke kantor. Hana telah selesai memasak nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi, irisan mentimun juga tomat. Mereka sarapan pagi bersama.


“Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” Haris membuka percakapan pagi ini.


“Lumayan mas, mungkin aku belum terlalu terbiasa dengan keadaan rumah baru” Hana tidak menceritakan pada Haris bahwa ia semalaman tidak bisa tidur sebab memikirkan Gibran yang akan tiba di Indonesia.


“Apa mas juga tidak tidur dengan nyenyak?” Hana menangkap wajah Haris yang menguap.


Haris hanya diam saja.


“Aku buatkan kopi ya mas, tapi mas sarapan dulu”


Haris mengaangguk lalu mengucapkan terima kasih. Semoga kopi yang dibuatkan Hana bisa membantunya melawan rasa kantuk.


“Tidak ada mas, aku hanya ingin menanam sayur-sayuran. Nanti aku mau menyemai bibit tomat, cabe, juga saledri.” Hana berkata dengan antuasias.


“Mas nanti pulang jam berapa?”


“InsyaAllah jam 5. Kenapa? Apa kamu hari ini tidak kuliah?”


“Kami masih libur sampai 2 minggu kedepan”


O iya, bagaimana lukamu semalam?” Haris melirik ke arah lutut Hana yang tertutup gamis.


“Masih seperti kemarin mas, tapi tidak terlalu perih lagi karena sudah aku oleskan obat” Hana menunjukkan telapak tangannya yang masih terluka.


Dengan santai Haris memegang tangan Hana dan dicondongkan kearahnya untuk melihat luka trsebut dengan lebih jelas. Hana salah tingkah. Refleks ia menarik kembali tangannya.

__ADS_1


“Kamu jangan kerja yang berat dulu, nanti lukanya malah semakin besar dan tidak sembuh” Haris menasehati Hana.


Hana mengangguk mengiyakan.


“Alhamdulillah” Haris mengucap hamdallah setelah menghabiskan makanan dan meneguk sisa air terakhirnya di gelas.


“Aku berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Kalau ada yang mengetuk pintu tapi tidak kamu kenal jangan dibuka. Nanti kalau ada keperluan chat saja aku. Nanti siang pas jam istirahat aku tidak bisa pulang. Aku akan mengerjakan kerjaan yang kemarin tertunda sembari istirahat. kalau kamu mau masak, masak sekedarnya


saja. Kalau tidak mood masak, kamu bisa pesan di gojek namun tetap harus berhati-hati.” Panjang lebar Haris memperingatkan Hana untuk lebih safety selama ia tidak berada di rumah.


Hmh, Lumayan perhatian. Gumam Hana di hatinya.


“Baik mas, Insya Allah.”


Hana mengantarkan Haris sampai ke depan pintu. Tak lupa ia mengambil tangan Haris untuk disalami. Haris agak sedikit terkejut melihatnya. Ini pertama x nya Hana melakukan ini.


Haris tersenyum tipis. Samar tak terlihat. Maksud Hana, ia hanya ingin seperti istri lain pada umumnya. Yang mengantarkan suami pergi bekerja kemudian menyalaminya.


Pagi ini ia pun telah merealisasikan hal tersebut walau dalam suasana yang sangat gugup dan canggung. Seperginya Haris berangkat kerja, ia memandang kearah tangannya. Beruntung, hanya tangan kiri saja yang terluka. Tidak dengan tangan kanannya.


***


.


.


Hai Readers... Jangan lupa dukungannya dengan membeli like, komen juga vote. terima kasih.


Ig: @alana.alisha

__ADS_1


__ADS_2