
Plakkkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arini. Bu Indah begitu marah mendengar anak angkat nya setuju untuk dinikahi oleh Romi. Amarah yang sudah sejak lama menumpuk akhirnya meluap dan sampai pada puncaknya. Lagi-lagi putri angkat semata wayangnya berulah.
"Ummi telah mengusahakan semuanya. Sebentar lagi Haris akan menikahi mu!! Kenapa menyerah ketika keinginan sejatimu sudah di depan mata, hah?!" bu Indah mendelik. Matanya melotot tajam.
"Arini berubah pikiran, Mi. Arini tidak ingin menjadi istri kedua mas Haris" Ucap Arini menunduk.
"Lalu kamu mau jadi istri siapa? Istri Romi?! Sadar Arini... Sadar Nak!! Romi itu hanya pegawai biasa! Ia tidak bisa memberikan apa apa untukmu!!!" Bentak bu Indah semakin kesal.
"Mi, Sedari awal Arini memang tidak memandang kekayaan. Bahkan Mencintai mas Haris itu murni karena benar-benar cinta. Bukan karena mas Haris memiliki sesuatu"
"Kamu mencintai Haris. Lantas apalagi yang kamu inginkan?! "
"Mas Haris sudah memiliki Hana. Jika memaksa menikah, Arini tidak akan bahagia. Seumur hidup Arini akan menderita melihat perhatian mas Haris kepada Hana. Arini akan kesepian dan menjalani hari-hari dengan penuh penderitaan" Ucap Arini tanpa keraguan. Seketika ketulusan Romi menyadarkannya.
"Arini, Haris itu pewaris dengan harta kekayaan tidak akan habis 7 bahkan 10 turunan! Kamu tidak akan bahagia bersama Romi. Jangan buta...!!! buka mata kamu lebar-lebar!!!" Bu Indah menggeleng geram.
"Kalau mau cari yang kaya raya, kenapa Ummi tidak menyuruh Arini mencari laki-laki single yang juga kaya dan tidak kalah dari mas Haris. Atau sekalian menikah dengan duda yang memiliki harta kekayaan melimpah? Kenapa harus mas Haris Mi? Jangan hanya karena dendam dan amarah Ummi yang terlalu besar, sampai Ummi tega mengorbankan dan menjadikan Arini sebagai alat untuk mencapai tujuan! "
Plakkkkkk
"Anak tidak tau di untung! Tidak tau membalas budi! Lancang kamu!! " Bu Indah kembali melayangkan tamparan. Beliau begitu murka. Arini meringis memegangi kedua pipi yang dari tadi telah menjadi bulan-bulanan bu Indah. Namun Ia tetap tegar.
"Kamu jangan sampai mempermalukan kan Ummi pada Aisyah! Ummi telah mengatur agar kamu menjadi istri kedua dari Haris! "
"Dan... Jangan pernah melampaui batas mu! " Bu Indah menunjuk Arini memperingatkannya. Lalu meninggalkan nya yang menatap sendu ke sembarang arah.
Tak perlu waktu lama. Arini bangkit mengambil gawainya. Petang hampir datang menjelang. Ia tidak ingin menunggu lagi, sudah berhari-hari ini ia mengumpulkan kekuatan untuk sampai di titik ini.
"Ry.... ada ap..." Sahut Romi dari seberang. Ia masih dinas di kepolisian.
"Aku ingin bertemu denganmu" Ucap Arini dengan suara yang terdengar parau.
"Ry, apa kamu baik-baik saja? "
"Aku hanya ingin kita bertemu..."
"Okay, sebentar. Sepulang dari kantor Aku akan menjemput mu"
***
Suasana makan malam di kediaman haji Zakaria berlangsung khidmat. Ini adalah makan malam terakhir Haris dan Hana sebelum besok mereka sudah harus kembali ke apartemen.
Ustadz Yahya duduk di apit oleh Iqlima dan Layla. Ali dan Umar duduk bersama masing-masing Khadimah yang menyuapi mereka makan. Haji Zakaria duduk di kursi utama dengan hajjah Aisyah berada di samping beliau.
Haris mengambil salah satu menu makanan yang menurut nya lezat lalu meletakkan di piring nasi milik Hana.
"Kamu coba yang ini... Yummy...!" Bisik Haris. Hana dengan antuasias mencoba lalu mengangguk-anggukkan kepala tersenyum menyetujui apa yang Haris katakan.
"Ibu hamil itu harus banyak konsumsi ikan. Konsumsi sayur juga buah. Pokoknya makanan bergizi dan seimbang" Haris kembali membisikkan kalimat di telinga Hana. Ia begitu memperhatikan apa yang Hana konsumsi. Tak jarang ia terlihat menuangkan minuman mineral ke gelas Hana atau sekedar memisahkan ikan dari tulang lalu isinya tersebut diletakkan di piring sang istri.
Semua hal ini tidak luput dari perhatian Iqlima yang melihat dengan perasaan bahagia. Namun tidak bisa di pungkiri, sedikit rasa sedih yang begitu halus menyelinap di dasar sanubari nya. Andai Yahya juga memperlakukan nya dengan baik. Andai ia juga bisa hamil seperti Hana. Alangkah bahagianya. Seketika Iqlima menolehkan wajah melihat ke wajah suami yang makan dengan ekspresi datar. Ustadz Yahya sama sekali bergeming.
"Nak Yahya dan nak Layla, kalian kapan menambah momongan? Jangan kalah dengan nak Haris dan nak Hana dong! " Celetuk Hajjah Aisyah tersenyum manis pada Layla.
Deg
Mendengarnya, Hana jadi merasa tidak enak hati pada ustazah Iqlima yang hanya bisa makan dengan wajah menekuk.
"Insya Allah Mi, mohon doa nya. Iya kan Mas? " Layla merangkul lengan Ustadz Yahya. Ia tersenyum sumringah.
"Iya" Sahut Ustadz Yahya datar. Tapi kemudian, diam-diam beliau meletakkan jari jemarinya di atas telapak Iqlima. Genggaman tangan dingin tersebut membuat wanita ini tersentak. Ternyata Ustadz Yahya menyelipkan sebuah kertas yang terlipat kecil di sana. Apakah sebuah surat?
"Hemmm... Nak Haris dan Nak Hana kenapa buru-buru sekali pulang ke apartemen? Apa benar-benar harus besok? " Tanya Haji Zakaria mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Iya Bah, Haris harus menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda. Kami juga sudah terlalu lama di sini" Sahut Haris.
"Bagaimana kandungan nak Hana? Dokter Spog mengatakan apa? "
"Alhamdulillah semua sehat. Kondisi Hana juga stabil"
"Alhamdulillah... Hadza min fadli Rabbi... Hadza min fadli Rabbi... Semoga Allah lancarkan sampai pada persalinan nanti"
Hampir semua yang hadir mengaminkan. Hanya hajjah Aisyah yang melihatnya dengan wajah masam. Ia kembali teringat akan ancaman Indah yang akhir-akhir ini membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
***
Haji Zakaria membaca kitab ditemani oleh Hajjah Aisyah yang juga membaca laporan keuangan. Suasana di ruang kerja pribadi itu tampak hening dan syahdu. Tidak ada yang memulai percakapan. Mereka larut pada kegiatan masing-masing.
Sesekali Hajjah Aisyah melayangkan tatapan melihat haji Zakaria yang begitu asyik masyuk larut dalam penghayatan. Kening beliau yang mengkerut, wajah yang sudah tidak muda lagi namun tetap terlihat tampan dan bersinar. Kalau sudah begini, pesona sang suami otomatis bertambah berkali lipat di mata beliau.
"Bah..."
"Hm..."
"Bah..."
"Ada apa mi? "
"Lihat ini! Apa Ummi kata... Iqlima itu tidak kompeten memimpin usaha. Belum apa -apa sudah kacau begini. Memang sebenarnya Layla yang lebih unggul di semua bidang. " Bebel Hajjah Aisyah mendekati haji Zakaria. Memprotes lebih tepatnya. Beliau sengaja mencari topik agar bisa mendekati sang suami.
"Ya wajar Mi... Nak Iqlima kan masih dalam tahap di training... Anggap saja sebagai pembelajaran. Abah yakin nak Iqlima itu punya potensi besar untuk bisa sukses. Coba Ummi saran kan ke nak Yahya untuk lebih memperhatikan nak Iqlima, Abah yakin semangat menantu kita itu nantinya akan bertambah berkali lipat" Sahut Haji Zakaria tenang.
"Mana mungkin... Ummi tidak.... "
Kring kring kring
Deringan telepon menghentikan pembicaraan. Tak menunggu, Haji Zakaria mengangkat panggilan tersebut.
"Waalaikumsalam.."
"Ya, ada apa? "
"Maaf Abah Haji. Saya lupa mengabarkan kalau tadi pagi ada kiriman surat. Sepertinya penting karena dengan Kop resmi dengan alamat tujuan atas nama Abah Haji sendiri"
"Surat? Dari instansi mana?" Haji Zakaria mengerutkan kening.
"Bukan, ini surat resmi dengan nama personal. Dari bu Indah Setya Ningsih"
"Indah Setya Ningsih? "
"Iya Abah Haji"
"Baik. Segera antarkan kemari! " Titah haji Zakaria. Mendengar surat dari Indah, Hajjah Aisyah spontan bangkit dari duduknya. Wajah beliau berubah pucat.
"Ummi, Ummi kenapa? " Tegur Haji Zakaria yang melihat perubahan mendadak sang istri.
"Mi... "
"Ummi... "
***
Arini keluar rumah secara diam-diam. Ia khawatir ketahuan oleh ibunya. Arini memang harus menemui Romi untuk menanyakan kepastian. Entah mengapa sejak cincin 0.3 karat itu melingkar di jari manis nya, ia terus saja memikirkan Romi. Walau segala tentang Haris juga enggan untuk enyah dari pikirannya.
Wanita ini menyusuri jalan hingga sampai di perempatan. Ia tidak membawa mobil karena Romi berjanji menjemputnya. Jam sudah menunjukkan pukul 18.45 wib. Seorang laki-laki dengan motor besar berhenti di samping nya.
“Kenapa menunggu di sini? Apa kamu baik-baik saja?!”
“Aku khawatir Ummi melarangku menemuimu” Lirih Arini.
__ADS_1
“Lebih baik Ummi melarangmu menemuiku daripada malam-malam berada di jalan begini!” Arini terhenyak.
“Seorang gadis malam-malam di pinggir jalan itu ga aman! Kalau ada orang yang berniat jahat bagaimana?!”
“Aku bukan gadis lagi” Sahut Arini cepat.
“Emh Maaf, aku hanya mengkhawatirkanmu” Sahut
Romi lalu turun memasangkan helm ke kepala Arini.
“Kita naik motor?”
“Iya. Tadi Aku bawa motor ke kantor”
“Apa ini ga apa-apa?”
“Memangnya kenapa? Ayo naik... ” Ajak Romi masih menunggu. Perlahan Arini naik ke atas motor.
"Sudah siap berangkat? "
"Romi... "
"Ya? "
"Ini.... pertama kali nya aku naik motor. Jadi bawanya tolong pelan-pelan! " Pinta Arini dengan suara yang tidak terlalu jelas terdengar namun masih bisa ditangkap dengan baik oleh telinga Romi.
"Begitu ya... Hmh Okay" Romi tersenyum dengan smirknya. Iseng, ia langsung menancap gas sedikit kuat.
"Allahu Akbar... Romiiiii.. Pelan-pelan!" Pekik Arini. Panik. Ia sedikit mencengkram baju kemeja orang yang berada di hadapannya.
"Haha iya... sorry... Makanya duduk yang benar... Juga pegangan yang benar... Sekarang kita ke cafe A"
"Huh... " Arini bersungut. Namun ia tetap mengikuti instruksi yang Romi katakan.
Motor mereka terus melaju membelah jalan raya yang masih tampak padat. Walau begitu, Tidak sampai 15 menit mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Ada apa? Tidak biasanya tiba-tiba kamu mengajakku bertemu..."
"Aku...."
"Kamu kenapa? "
"Ummi tidak menyetujui hubungan ini"
"Aku memang sudah menduganya. Tapi aku yakin Ummi akan luluh jika berusaha Bersungguh-sungguh meyakinkannya "
"Romi, ini tidak seperti yang kamu duga... Tidak seperti yang kamu bayangkan" Ucap Arini dengan ekspresi cemas. Sebenarnya ia terlalu khawatir.
"Kita akan meyakinkan Ummi. Aku akan menunggu sampai situasi benar-benar merestui kita. Selayaknya Ibuku berhasil aku yakinkan, sudah barang tentu kalau Ummimu juga demikian. Kamu jangan cemas, hm? " Sahut Romi dengan memberikan senyumnya. Laki-laki ini merasa seperti di atas angin. Meyakinkan Arini untuk ia nikahi saja sudah seperti di dalam mimpi. Selangkah lebih maju. Ia hanya harus meyakinkan semua pihak bahwa ia serius dan akan membuat Arini bahagia.
Konsultasi menanyakan saran dari Haris dalam menghadapi Arini beberapa waktu lalu tidaklah sia-sia. Semua langkah yang ia tempuh. Menunggu Arini berhari-hari di depan pintu pagar sampai meluluhkan hatinya, tidak lah terlepas dari jasa Haris yang telah berpengalaman.
"Romi..." Panggil Arini, tenggorokan nya tercekat. Lamunan Romi buyar. Laki-laki ini menolehkan wajahnya.
"Romi..."
"Ya? "
"Mari kita menikah. Nikahi aku besok pagi!" Ucap Arini bergetar. Romi yang tengah menyeruput minumannya hampir saja tersedak.
***
Teman-teman, Maaf baru bisa kembali update. Sesuai janji yang Alana sampaikan di IG... kalau Alana akan update dalam 2 hari ini. Alhamdulillah jadwal kegiatan di dunia nyata sudah agak lebih longgar. Semoga tuk kedepan waktu up-nya lebih disesuaikan lagi 😇
***
__ADS_1