Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 15: Dekapan Hangat


__ADS_3

Malam yang dingin. Butir Hujan jatuh merambat membasahi bumi. Kilat menyambar-nyambar. Tidak ada tanda-anda hujan akan berhenti malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Hana masih bergelung dibawah selimut sejak dua jam yang lalu.


Ia berencana makan malam ba’da shalat isya tadi, namun ia tidak sanggup untuk sekedar bangkit beranjak dari tempat tidurnya. Ia sedikit menggigil. Sepertinya ia terserang demam. Ia juga merasakan sakit diperut bagian bawahnya. Ia merasa jadwal datang bulannya telah tiba. Gawat, persediaan pembalutnya juga sudah habis.


Ia harus bagaimana sekarang? Hana hanya bisa beristighfar berkali kali sambil memegang perut seraya merintih dan meringis mengeluhkan rasa sakitnya. Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa ia akan mengotori seprai dan rasa sakitnya akan semakin menjadi-jadi. Ia harus ke dapur setidaknya untuk mengambil air hangat. Tidak bisa. Ia butuh bantuan sekarang. Iya. Hana memerlukan Haris untuk menolongnya saat ini.


Mata Hana mengedar ke sekeliling mencari dimana keberadaan handphone nya. Namun ia tidak juga menemukannya. Ia lupa meletakkannya dimana. Ia terlalu lemas. Ia menyerah dan memilih bertahan.


***


Haris berada di ruang kerjanya. Ia tengah berkutat mengetik laporan kantor yang belum ia selesaikan. Hujan masih turun dengan derasnya. Ia melirik kearah jarum jam, sudah pukul 23.00 wib, itu artinya sudah lebih dari 2 jam ia berada didepan komputernya. Ia pun menguap. Kini rasa kantuk menyerang.


Haris merasa harus segera beristirahat, pagi-pagi esok ia harus segera ke kantor. Ia menyimpan file yang telah tersusun rapi, segera kemudian ia mematikan computernya. Haris beranjak ke dapur mengambil air putih.


Tak lupa ia membuka tudung saji. Sekedar iseng, kali aja ia masih berselera menyantap sedikit makanan yang tersisa. Keningnya mengkerut. Makanan yang petang tadi ia makan masih seperti semula. Itu artinya Hana belum menyentuh makanannya sama sekali.


Haris berinisiatif memanggil Hana. Ia menutup kembali tudung saji nya dan melangkah menuju kamar Hana.


“Hana, Hanaa” Haris mengetuk pintu kamar Hana seraya memanggil.


Tidak ada jawaban, Haris mengetuk kembali. Nihil. Mungkin Hana sudah tidur. Haris pun tidak ingin mengganggu. Ia hendak bergerak kembali ke kamar namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara seperti sebuah benda terjatuh.


Praaaank.


Di dalam kamar, Hana belum tertidur. Namun ia juga tidak sanggup menjawab panggilan Haris. Jadi, ia menjatuhkan benda apa saja yang berada didekatnya untuk memberi sinyal. Benar saja. Haris kembali menoleh lalu langsung membuka pintu kamar. Terlihat gadis itu sedang meringkuk di balik selimut.


“Hanaa, kamu kenapa?” Dengan panik Haris menyibak selimut Hana. Ia terlihat menggigil. Mukanya pucat


dengan bibir yang agak membiru. Haris meraba dahinya. Panas.


“Kita ke dokter ya”


Hana menggeleng lemah. Ia menunjukkan kearah perutnya.


“Kamu sakit perut?”

__ADS_1


Hana menggangguk.


“A.. ku se.. dang da..tang bulan mas” Hana berkata lirih hampir tidak terdengar.


Haris bingung harus melakukan apa, ia membuka handphone dan langsung mencari tau di google apa yang harus dilakukan jika seorang wanita nyeri datang haid. Setidaknya minimal saat ini ia harus mengambil air hangat dan meminumkannya ke Hana.


“Tunggu sebentar”


Haris setengah berlari ke arah dapur. Ia panik.


“Ini, minumlah dulu” Haris membantu Hana untuk minum.


“Badan kamu sangat panas, kita harus ke dokter”


“Ini cuma demam biasa mas” Hana bersikeras tidak ingin ke dokter.


“Mas, aku boleh minta tolong?” Haris mendekatkan telinganya agar bisa mendengar perkataan Hana. Ia mendekap gadis itu dalam pelukannya. Hana merasa nyaman.


“Katakanlah”


“Ya? Katakan saja apa yang kamu butuhkan” Haris mengelus kepala Hana. Ia sedih melihat kondisi Hana seperti ini.


“Aku butuh pembalut dan obat anti nyeri” Wajah Hana bersemu merah, ia terlalu malu mengatakan hal ini. Namun ia tidak punya pilihan lain.


“Pembalut? Dimana aku bisa mendapatkannya?” Haris juga tampak bingung.


“Di Supermarket mas”


“Baik. Kamu tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali. Aku juga akan membeli obat penurun panas” Haris kembali merebahkan tubuh Hana di kasur dan membalutnya dengan selimut. Ia mengusap kepala Hana sebelum akhirnya beranjak pergi.


***


Haris tengah berada di supermarket terdekat, ia celingak celinguk melihat ke arah rak yang berisikan pembalut. Di lihat dari petunjuk di google, benarlah rak berisikan berbagai merk pembalut ini adalah tempat tujuannya. Ia sama sekali belum pernah membeli pembalut wanita, bahkan punya ibunya sekalipun.


Haris kebingungan memilih yang mana, sebab begitu banyak tipe dan ukuran. Dengan random memilih salah satu merk dan menuju kasir untuk membayar, tak lupa ia juga membeli obat Pereda nyeri haid dan penurun panas.

__ADS_1


Haris berlari kecil. Hujan masih turun walau tidak sederas tadi. Baju yang ia kenakan menjadi sedikit basah.


“Allahumma Shayyiban Naafi’aa” Barulang kali Haris membaca doa turun hujan tersebut disepanjang perjalanan pulang kerumahnya. Ia berharap semoga Allah menurunkan rahmat-Nya kepada segenap penduduk bumi.


“Hana, minumlah obatnya dahulu” Haris menyodorkan air dan obat-obatan yang ia beli.


“Terima kasih, mas”


“Kamu makan nasi dulu ya. Belum makan kan?” Haris hendak bergerak mengambil nasi namun Hana menahan tangan Haris untuk mengambil makanan.


“Tidak usah mas, sebentar lagi aku akan makan, setelah minum obat insya Allah rasa nyeri akan berkurang. Mas tidurlah dulu. Istirahat. Ini sudah larut malam, besok pagi-pagi harus bekerja. Terima kasih sudah mau direpotkan.” Sekarang Hana sudah lebih bertenaga.


Haris berfikir sejenak.


“Baiklah. Malam ini aku akan tidur disini menemanimu, aku ganti baju dulu”.


“Tidak apa-apa mas, aku sudah lebih baik”


“Untuk malam ini, biarkan aku menemanimu” Haris bersikeras lalu diiringi anggukan kepala Hana.


 ***


Rasa sakit diperutnya sudah reda. Tinggal suhu panasnya yang masih lumayan tinggi. Hana beranjak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian dan memakai pembalut. Ia berdecak sebal melihat sedikit noda darah yang singgah di kasurnya. Ia harus segera mengganti seprei nya esok. Haris sudah tertidur pulas disamping Hana.


Dalam keheningan Hana memandang wajah Haris. Ia merasa sangat berterima kasih pada pemuda ini. Tiba-tiba


saja wajahnya kembali memerah, ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Haris mendekapnya.


Rasa menggigil hebat akibat kedinginan pun seperti menguap seketika. Perasaan terlindungi singgah dihatinya. Ia rasa, semua wanita menyukai ini. Merasa dihargai, diberikan rasa aman dan nyaman. Sangat indah.  Diam-diam kekaguman menyelimuti hatinya. Namun, semuanya buyar, disaat yang sama ia juga kembali mengingat wanita yang berada di foto bersama Haris, sepertinya mereka memang memiliki hubungan special. Wanita itu seperti takut kehilangan Haris. Hmh, Jika pria itu adalah Haris, ya wajar saja.


Kini Hana merasa seperti seseorang yang telah merebut milik orang lain untuknya. Ia jadi sedih memikirkan ini. Andai ia bisa memilih, andai ia bisa mengulang waktu. Laki-laki tampan nan baik hati yang terlelap disampingnya apa iya memang ditakdirkan untuknya? Ia sendiri masih ragu untuk itu.


***


Hai Readers, terima kasih telah setia membaca, kalau kalian suka jangan lupa untuk like, komen, vote, atau memberikan hadiah 🥰 Jazakumullah Khairal Jaza'

__ADS_1


Ig: @alana.alisha


__ADS_2