Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 142: Ke-jahiliyah-an di Masa Lalu


__ADS_3

“Wah, Harum sekali!” Romi mengendus-endus aroma yang menguar memenuhi penciumannya.


“Oh iya, bagaimana kalau kita pergi takziah ke kediaman Haris dan Hana ba’da Ashr?” Tanya Romi ketika melihat Arini yang tengah menge-cek suhu oven. Istrinya itu sedang membuat bolu pandan.


“Baiklah. Kalau begitu pandan cake ini akan kita bawa ke sana sebagai buah tangan!” Sahut Arini masih terus melakukan aktifitasnya.


“No. Kta beli yang lain saja. Cake ini akan aku habiskan!” Protes Romi. Arini menyunggingkan senyumnya. Romi selalu memuji apa yang ia buat dan selalu memakan semua masakannya.


“Alhamdulillah Selesai!!” Pekik Arini sumringah. Beberapa hari ini ia memang banyak menghabiskan waktu untuk bereksperimen makanan terutama baking.


“Aku akan mencicipinya!” Sahut Romi. Arini mengangguk-angguk setuju.


“Kita tunggu kue nya dingin… Aku mandi dulu, gerah banget!” Ucap Arini membuka celemek yang sedari tadi dikenakannya. Ia berjalan santai melewati Romi lalu masuk ke kamar untuk meneruskan niatnya.


Duaaaarrrr


Petir terdengar. Hujan deras kembali menyapa bumi. Curaharan air dari langit tersebut membuat Romi mengantuk. Ia memutuskan masuk ke kamar untuk rehat sejenak. Laki-laki ini mencoba membuka pintu kamar.


Ceklek.


Tidak terkunci. Sepertinya Arini sudah selesai berpakaian, pikirnya. Romi pun masuk dan melepas beberapa kancing baju kemejanya. Tak lupa ia menyalakan AC. Walau saat ini cuaca sedang hujan dan suhu menurun, tetap saja pemuda ini merasa gerah. Namun Ia tidak menemukan Arini di kamar. Ke mana istrinya itu? Suara gemericik air sama sekali tidak terdengar. Romi duduk di pinggiran tempat tidur. Ia mengambil koran yang tergeletak asal di atas nakas.


Eva Lalisa, Penghuni Rutan Pondok Selatan Yang Sempat Kabur Kembali di Temukan. Begitulah judul yang tertera pada halaman utama koran. Romi menaikkan salah satu sudut bibirnya. Sedikit senyuman sinis dan gelengan kepala menghias di sana. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Romi terhenyak mendengar pintu berderit lalu ia melihat Arini yang keluar dari kamar mandi menggenakan pakaian handuk.


“Kamu di sini?” Tanya Arini pelan.


“Aku pikir,,, hm,,, aku gerah” Ucap Romi absurd tanpa berniat beranjak dari duduknya. Ia menatap Arini intents.


Hujan turun semakin deras. Rambatannya terlihat jelas dari gorden yang terbuka. Kaca di apartemen Romi ini memakai jenis kaca yang tidak tembus pandang dari arah luar. Suasana syahdu terasa.


“Aku mau memakai pakaian” Ucap Arini sebagai isyarat ketidaknyamanan-nya akan keberadaan Romi di dalam kamar.


“Hmh... Baiklah” Romi bangkit. Namun bukan nya menuju ke arah pintu namun ia beralih mendekati Arini yang mematung. Tatapan Romi bukan seperti tatapan biasa. Laki-laki ini mendamba.


“Romi…” Panggil Arini lirih ketika suaminya itu malah menggiringnya ke tempat tidur. Romi melancarkan aksinya. Bibir merah itu mencoba menyentuh bibir pucat Arini namun wanita itu malah memalingkan wajah, menghindar.


Romi tidak menyerah, ia hendak membuka pengait handuk yang Arini kenakan. Namun sayang, wanita ini memegangnya erat hingga Romi tidak memiliki pilihan kecuali beringsut mundur. Nafasnya tersengal.


“Ma… maaf.. A.. Aku..” Lirih Arini menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah. Entah mengapa hati wanita ini belum bisa menerima Romi sepenuhnya. Sudah terhitung hari ini adalah hari ke delapan dari pernikahan mereka, namun Arini masih belum bisa menyerahkan diri. Memang ini bukan untuk yang pertama kalinya, tapi dalam keadaan sadar seperti ini, semua terasa berbeda. Benar-benar tidak semudah yang dibayangkan.


Arini dan Romi memang mendiskusikan banyak hal bersama. Mereka bersenda gurau. Arini memposisikan dirinya sebagai seorang istri yang banyak membantu Romi dalam hal bertukar pikiran, membereskan rumah, memasak dan lain-lain. Namun belum untuk yang satu itu, hatinya seolah masih terkunci. Kuncinya seolah menghilang dan belum ditemukan.

__ADS_1


“Tidak apa…” Sahut Romi datar. Ia bangkit dengan menyunggingkan senyumnya. Sebuah senyum singkat. Namun sorot mata itu jelas sekali menunjukkan kekecewaan.


“A… Aku…”


“Berpakaianlah, aku akan menunggu di luar” Ucap Romi lembut. Laki-laki ini bangkit berlalu. Di luar pintu, ia menguapkan hembusan nafasnya ke udara. Nafas yang begitu terasa berat.


Langit dan awan adalah candu. Terangnya membawa riang, hujannya membawa rindu yang menggebu.


***


Tolong kamu lenyapkan Hasbi Abdurrahman. Bagaimanapun caranya. Lenyapkan ia. Terdengar suara hajjah Aisyah memenuhi ruangan.


Semua orang terhenyak. Istri dari haji Zakaria terkejut bukan kepalang. Hasbi Abdurrahman yang beliau sebutkan itu adalah Ayah kandung dari Haris.


“Matikan videonya!!! Matikan!!!” Pekik hajjah Aisyah memberi perintah. Bagai dejavu. Mereka yang hadir seolah-olah kembali menyaksikan bersama pemutaran video kebusukan Eva Lalisa namun kali ini dalam versi berbeda.


Suasana dalam ruangan berubah ricuh. Haji Zakaria memerintahkan untuk menghentikan jalannya video. Mata Haris yang sedari tadi sudah mengembun, kini menatap hajjah Aisyah dengan tatapan beku. Jiwanya terguncang. Kalimat yang terdengar bagaikan paku berkarat yang dipaksa menancap.


"Nak Yahya, berikan Ummi wangi-wangian agar tidak terlanjur pingsan! " Titah Haji Zakaria enggan menoleh. Beliau menahan malu. Wajah Ulama karismatik itu memerah.


"Hemm..." Haji Zakaria berdehem menghentikan pembicaraan orang-orang yang sudah terlanjur merantai.


"Rapat kita tunda. Ada hal intern yang harus dibahas dalam ruang lingkup yang lebih kecil sebelum memutuskan hal yang lebih besar" Lanjut haji Zakaria dengan suara bergetar. Beliau memerintahkan ahli IT untuk membawa rekaman tersebut ke dalam ruangan kerjanya. Bagaimana pun ini adalah aib besar, musibah besar. Beliau harus lihat dengan teliti sebelum memutuskan dengan bijaksana.


Dada Haris bergemuruh. Ingin sekali rasanya ia menanyakan maksud dari kalimat pada rekaman video tadi. Namun Hana berhasil mencegahnya.


"Mas, sabar... biarkan abah meneliti lebih dahulu. Jangan biarkan suasana ricuh ini semakin parah. Allah akan selalu menuntun kebenaran pada jalannya" Bisik Hana mengusap punggung tangan Haris.


"Mari kita ke kamar mas, kita tunggu keputusan abah" Lanjut Hana lagi. Ia bangkit dan menarik Haris keluar dari ruangan sebelum suaminya terlanjur murka. Tidak ada yang dapat Haris lakukan untuk saat ini kecuali menuruti apa yang Hana katakan.


Ruangan kosong. Hanya ada Hajjah Aisyah, Ustadz Yahya, Iqlima juga Layla yang tersisa. Iqlima duduk tidak tau harus berbuat apa. Sedangkan Layla mengusap-usap punggung sang mertua mencoba menenangkan.


"Dik Layla, pulang dan beristirahat lah! " Titah Ustadz Yahya. Layla menuruti apa yang suami nya katakan. Wanita ini langsung melangkah keluar ruangan.


"Dik Ima, kamu juga! "


Tanpa membantah, Iqlima mengikuti jejak Layla.


"Hm... Tunggu... " Yahya mendekati Iqlima.


"Jika bertemu Ilyas di luar ruangan, jangan sekali-sekali berbicara padanya!" Yahya kembali bertitah.

__ADS_1


"Lalu jika aku tidak berbicara pada mas Ilyas, apakah mas akan meluangkan waktu untuk menjadi teman bicara ku?!" Tanya Iqlima seduktif. Entah mendapat kekuatan darimana, tiba-tiba ia berani bertanya selantang itu. Hal ini membuat Yahya terdiam.


"Aku permisi" Iqlima melangkah keluar meninggalkan Yahya yang mematung dan Hajjah Aisyah yang terduduk. Masih shocked.


***


Haris dan Hana memasuki kamar. Haris terduduk. Hatinya terasa begitu kebas. Baru saja ia kehilangan ibu yang begitu dicintainya. Belum lama. Bahkan tanah kuburan belum lagi mengering. Kini Haris harus menghadapi kenyataan pahit. Ibu angkat yang sangat ia hormati ternyata tega menistakan kepercayaan nya. Air mata serasa mengering. Ia sudah tidak mampu lagi menangis. Beban ini terlalu berat. Pundaknya seolah tidak lagi mampu menopang segala permasalahan.


"Mas... " Panggil Hana dengan suara parau. Ia menangis menyaksikan kemalangan kisah hidup sang suami di depan mata kepala nya sendiri. Hana berharap rekaman tadi tidaklah benar. Ia masih menaruh harapan yang besar agar suaminya itu tidak terlalu terpukul dengan kenyataan dahsyat ini. Sungguh lebih dari keterlaluan rasanya jika yang menyebabkan Haris menjadi seorang yatim dari kecil itu dikarenakan oleh kerabat dekatnya sendiri. Kerabat yang sudah menjadi ibu kedua dan begitu Haris percayai.


"Sayang... Ini terlalu pahit. Benar-benar pahit..." Pertahanan Haris runtuh. Ia kembali tersedu. Laki-laki ini kembali menangis dalam pelukan istrinya.


"Mas.... " Lirih Hana. Ingin sekali rasanya ia menguatkan Haris. Namun sayangnya ia juga merasa hancur, hatinya patah mengetahui kenyataan ini. Seperti yang sudah pernah Haris katakan, mereka adalah satu kesatuan yang saling berefleksi. Untuk bisa berdiri tegak menyelamatkan diri sendiri saja rasanya tidak mampu, bagaimana ia bisa menjadi pahlawan untuk sang suami?


"Mas... Allahu Musta'an, Allahu Musta'an. Fashbir Shabran Jamiil. Allahu Ma'ana" Hanya ini yang mampu Hana ucapkan di sisa-sisa kekuatan nya.


"Sayang, hanya ada kamu. Allah menganugerahkan mu untuk menguatkanku. Saat ini aku tidak bisa mempercayai siapapun kecuali kamu"


"Maaf, menikah dengan laki-laki seperti ku bukan kebahagiaan yang kamu dapat melainkan hanya kesedihan dan kesedihan. Kamu tengah mengandung buah hati kita, tapi masalah yang aku hadapi malah memperburuk kesehatan mentalmu" Lanjut Haris menyesal.


"Sssstttttt, Jangan bicara begitu, Mas! Apakah mas lupa bunyi surah at-Taghabun? Bahwa tidak ada musibah yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah? Apakah mas lupa kalau kita adalah satu kesatuan yang bersinggungan dan saling terikat? Selayaknya bahagiamu adalah bahagia ku. Maka sudah pasti Musibah mu adalah musibahku. Sedihmu adalah sedihku. Tapi, ini bukanlah point dari keterikatan kita, melainkan bagaimana cara kita bisa saling menguatkan, berjalan seirama, se-iya se-kata dan menghadapi nya dengan tawakkal dan qana'ah. Bismillah.. mas kuat..mas bisa! Buah hati kita akan bangga pada abinya!" Ucap Hana. Haris memandang Hana dengan tatapan haru. Istri kecilnya bisa sangat menenangkan.


***


"Nak, tolong Ummi... Katakan pada Abah untuk tidak menceraikan Ummi... Ummi mohon.... " Hajjah Aisyah mengiba pada Yahya. Beliau terlalu takut diceraikan.


"Mi, katakan kalau rekaman itu palsu! Katakan kalau Ummi tidak melakukan nya! " Sahut Yahya menguatkan hatinya. Bagaimana pun kasus sang ibu terlalu berat dan tidak bisa dimaafkan.


"Um... Ummi... "


"Mi, rekaman itu masih hanya sepenggal kalimat. Tapi mampu menggemparkan seisi ruangan. Bagaimana jika diputarkan secara keseluruhan?! Apa Ummi tidak memikirkan bagaimana perasaan Haris?! Mengapa Ummi tega membiarkan Ummi Fatma hidup dalam kesendirian selama bertahun-tahun?! Lalu tega membiarkan Haris menjadi seorang anak tanpa ayah dalam usia yang masih sangat muda?! Mengapa?? Jawab Mi!!! " Tak sabar, Yahya meninggikan suaranya.


"Ummi... Bukan Ummi yang membunuh Hasbi. Bukan Ummi nak! "


"Lalu?! "


"Ummi hanya mengikuti keinginan Indah yang mengancam akan membongkar perselingkuhan Ummi bersama laki-laki lain di masa lalu jika tidak mengikuti apa yang ia perintahkan. Waktu itu Ummi masih sangat muda, belum mengerti akan cinta. Ummi dan abahmu dijodohkan. Namun pada akhirnya Ummi benar-benar mencintai abahmu. Beliau memikat Ummi dengan sikap dan kebaikan akhlak. Sampai ummi begitu takut di ceraikan. Sungguh Ummi menyesali semua kebodohan dan ke-jahiliyah-an Ummi di masa lalu. Ummi menyesal nak! Hiks hiks" Aku Hajjah Aisyah gemetaran. Yahya menggeleng tidak percaya pada apa yang ia dengar.


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2