Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 89: It Hurts Me!


__ADS_3

“Carilah kebahagianmu, Rin. Kamu berhak bahagia” Lirih Haris yang merasa prihatin dengan kondisi Arini, apalagi gadis dihadapannya baru saja merasa kehilangan.


“Aku hanya akan bahagia jika bersamamu, Mas! Kamulah kebahagiaanku!” Ucap Arini sendu, Ia menatap bola mata Haris yang terasa begitu teduh. Kerinduan, amarah, dendam dan rasa ingin memiliki melebur jadi satu.


Entah darimana asal keberanian dan kekuatan yang tiba-tiba saja muncul, Sepersekian detik, Arini melangkah maju memeluk Haris erat. Segenap kekuatan dari kelemahan fisik yang berada pada tubuhnya kini, ia kerahkan untuk


mendekap erat satu-satunya lelaki yang menempati relung dihatinya.  Haris terhenyak, Ia tidak sempat mengelak gerakan yang secepat kilat itu. Terasa air mata Arini menempel basah mengenai baju kaosnya.


“Astaghfirullah! Rin, Rin, lepas! Sadarlah,, kita bukan mahram!” Ucap Haris yang berusaha melepas pelukan Arini. Sayangnya Arini tidak bergeming. Ia terus sesugukan dan mendekap lebih erat.


“Rin, jangan sampai aku berbuat kasar padamu!” Haris kembali memperingati gadis yang mengunci rapat tubuhnya dengan pelukan. Rahangnya mengeras. Ingin rasanya ia menghempas kasar tangan Arini namun ia tidak tau bagaimana harus melakukannya.


Di sisi lain, Hana yang telah selesai dari toilet terpaku menyaksikan suaminya tengah berpelukan bersama Arini dengan begitu mesra. Dari posisinya berdiri, matanya bisa menangkap Arini yang mempercayakan dada bidang Haris sebagai tumpuannya. Arini membenamkan wajahnya di sana. Seketika hati Hana membeku.


Romi yang juga telah kembali dengan menenteng air mineral nyaris tidak percaya pada penglihatan yang ia lihat. Matanya juga menangkap Hana yang tengah terpaku sama sepertinya namun dalam kondisi yang lebih


memprihatinkan. Gadis itu terdiam menyaksikan “perselingkuhan” sang suami di depan mata kepalanya sendiri. Romi mendekati dua sejoli yang tengah berpelukan. Bunyi Langkah cepatnya mengganggu pendengaran,


“Heemm” Romi berdehem, matanya menatap tajam seperti elang . Arini spontan melepaskan pelukannya. Ia menyapu air matanya menggunakan lengan. Haris gelagapan. Ia seperti maling yang tertangkap basah padahal bukan ia pelakunya.


“Lihatlah apa kalian lakukan!” Ujung dagu Romi mengarah ke Hana yang mematung memperhatikan mereka. Dengan Gerakan cepat Haris melesat menghampirinya.


“Hana!” Haris mencoba memegang lengan Hana.


“Jangan sentuh Aku, Mas!” Hana mengelak. Ia merasa sesak.


“Semua tidak seperti yang kamu lihat, Sayang! Dengarkanlah aku!” Haris mencoba menjelaskan.


“Aku mau pulang!” Ucap Hana tegas. Tidak ada senyum ramah atau nada manja yang tersemat di wajahnya seperti biasa.


“Iya, kita  pulang” Haris merangkul Hana. Gadis ini langsung menghempas kasar lengan Haris. Ia  berjalan keluar tanpa mempedulikan Arini, Romi ataupun koper-koper yang tertinggal di sana.


“Hana! Hana! Tunggu!” Haris mengeraskan suaranya memanggil Hana.


“Rom, aku nitip barang-barang ya! Aku kejar Hana dulu!” Romi mengacungkan jempolnya mengiyakan. Haris melesat mengejar Hana yang melangkah dengan Gerakan cepat.


“Puas kamu?!” Todong Romi menatap tajam Arini setelah kepergian Haris dan Hana.


“Kamu sudah puas merusak hubungan orang lain?!” Romi kembali bertanya. Matanya memerah.


“Don’t blame me! Kamu tidak tau apapun tentangku!” Sahut Arini dengan suara yang tak kalah garang.


“Kamu tidak perlu menyodorkan dirimu pada Haris sedangkan ia tidak butuh!” Ucap Romi tajam, Ia jengah. kata-katanya terasa menembus ke pori-pori. Arini terhenyak.


“Jangan sampai aku kembali menampar mulut busukmu untuk kesekian kalinya! Dengar!! Kita tidak memiliki hubungan apapun, jangan karena malam itu kamu jadi bisa mem-veto-ku sesuka hatimu! Paham?!” Arini mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Romi, ia berlalu setelah sebelumnya mengambil jaket Haris yang terjatuh ke lantai .


Aaaargh. Romi mengacak asal rambutnya.


***


Haris dan Hana telah sampai di kediaman mereka setelah saling memberi jarak satu sama lain ketika berada dalam taksi yang mengantar. Mungkin supir taksi menyadari ketidak harmonisan hubungan mereka. Bukan mengapa, Haris hanya tidak ingin Hana bertambah marah jika ia langsung mendekat dan meminta maaf, maka ia menunggu mereka tiba di rumah baru kemudian menjelaskan.


“Hana! Bukalah pintunya, aku bisa menjelaskan semua! Kamu hanya salah paham! ” Haris terus mengedor pintu kamar Hana yang tertutup rapat. Gadis itu sudah setengah harian berada di kamarnya dengan mengunci pintu. Hana merasa ia masih butuh waktu untuk meredakan gemuruh yang terlanjur membuncah di dada.


“Hana, Please!” Haris memelas namun tetap mengetuk kuat.


“Hana…. Dengarkan aku!”


“Hana…..” Panggil Haris untuk yang kesekian kalinya. Hana jengah. Ia pun melangkah ke pintu dan membukanya. Ia mencoba menatap Haris. Sorot matanya sama sekali tidak ramah.


“Aku tidak memeluk Arini” Ucap Haris cepat.


“Aku benar-benar tidak memeluknya”


Hana hanya menatap diam tanpa ekspresi.


“Aku ingin kamu mempercayaiku” Ucap Haris lagi, Ia mengulurkan tangan ingin menggapai bahu Hana untuk meyakinkan, hampir saja tangan itu mendarat sempurna di sana. Namun Ia urungkan, takut Hana akan menolak kembali sentuhannya.


“Tolong, percayalah padaku!” Haris memelas.

__ADS_1


“Hana, ku mohon katakanlah sesuatu, jangan mendiami ku seperti ini” Haris mulai frustasi.


“Kamu tau, aku hanya mencintaimu! Sungguh!” Mendengar kalimat ini, Spontan Hana menolehkan wajahnya, Ia tersenyum masam.


“Aku melihat semuanya. Alhamdulillah penglihatanku masih berfungsi dengan baik!” Ucap Hana sarkas. Pada akhirnya ia mengeluarkan suara yang dari tadi tercekat di tenggorokan. Haris terdiam.


“Aku minta maaf” Lirih Haris.


“Sekarang mas mengakui semuanya?” Hati Hana semakin sakit.


“Aku bersalah. Tapi sungguh Aku tidak memeluknya” Haris masih mencoba membela diri.


“Hana, maafkanlah aku. Jangan menatapku seperti itu”


“Sebenarnya Aku tidak peduli  siapa yang lebih dulu memulai, entah mas atau dia. Apapun itu, tidak akan mengubah fakta bahwa kalian memang berpelukan. It hurts me. Itu melukaiku, Mas!” Jujur Hana. Sorot mata merahnya memang menunjukkan bahwa ia sedang terluka saat ini.


“Kalaupun benar mba Arini yang mulai lebih dulu, Mirisnya Mas sama sekali tidak melakukan usaha lebih untuk melepas pelukannya! Bahkan kaos mu basah oleh isak tangisnya! Aku tidak yakin hati mu tidak tergerak ketika itu!” Tak tahan, kini Hana mulai mengeluarkan airmata. Ia sebenarnya tidak ingin menangis untuk hal-hal seperti ini. Tapi gagal. Ternyata ia masih terlalu rapuh untuk terlihat tegar.


Haris terhenyak mendengar perkataan Hana. Ia menunduk dalam-dalam dan merutuki ketidaktegaannya terhadap wanita. Jujur Ia tidak bisa menghempas kasar tangan Arini yang tadi bertengger kuat.


“Katakan, apa aku termasuk ke dalam kategori istri durhaka yang berbicara lantang terhadap suami yang hampir saja mendekati zina?!” Kali ini Haris mendongakkan kepalanya. Perkara ini ternyata tidak sesepele itu di mata Hana.


“Baik. Katakanlah aku bersikap berlebihan. Tapi apa perbuatan tadi itu pantas, Mas?”


“Tadi mas menyuruhku untuk bicara, dan aku memenuhinya!” Kini Haris yang terdiam. Ia bungkam.


Dddrrrtttt Drrrtttttt


Getar handphone Haris membuyarkan argument mereka,


“Iya Rom?” Sahut Haris menjawab panggilan.


“Aku di luar bersama koper-kopermu”


“Baik, tunggu sebentar”


Tuuuttt tuuuttt


“Eh Rom, terima kasih sudah membantu mengantarkan. Kamu off hari ini? Ga kerja?” Sapa Haris yang keluar dengan menenteng 2 kotak teh botol.


“Haha ga perlu berterima kasih, Cuma gini doang kok. Aku off hari ini, sengaja mau menjemput pasangan Honeymoon di Bandara”


“Wah wah… Duduklah”


Romi duduk di kursi teras yang tersedia.


“Hmh, tentang Arini tadi…” Haris merasa malu pada Romi sebab ia kepergok seperti tengah berselingkuh di depan istri sendiri.


“Aku paham”Ucap Romi cepat.


“Tapi… Hana salah paham” Lirih Haris.


“Ya wajar. Wanita mana yang bisa memahami suaminya tengah berpelukan dengan wanita lain di depan mata kepalanya sendiri. Bohong kalau mereka baik-baik saja, kecuali memang tiada cinta di hatinya” Ucap Romi tajam.


Haris terkesiap.


“Kamu memang harus bersikap. Rangkul atau tinggalkan!”


“Aku sangat mencintai Hana”


“Kalau begitu putuskan apapun bentuk komunikasi bersama Arini, jangan biarkan ada celah yang meretakkan hubunganmu dan Hana” Romi menepuk nepuk Pundak Haris.


“Arini sedang kehilangan arah sekarang. Jiwanya tengah terguncang sebab begitu banyak peristiwa yang tidak menyenangkan yang menimpanya setahun terakhir ini” Ucap Haris.


“Jadi  kamu masih mencintainya?”


“Cintaku dulu pada Arini itu hanya cinta semu, cinta sesaat. Cinta sebelum pernikahan, tentu di dalamnya ada campur tangan syaitan. Setelah menikahi Hana dan sekian lama bersama, aku menyadari bahwa Hana lah cinta sejati yang memang Allah kirimkan padaku, cinta suci lagi halal dalam ikatan pernikahan” Terang Haris.


Romi terhenyak, ia kembali mengingat peristiwa terkutuk ketika ia dan Arini menghabiskan malam yang panjang bersama, malam yang di hembus-hembuskan oleh godaan syaitan. Malam yang tidak bisa ia lupakan sampai detik

__ADS_1


ini. Betapa berdosanya ia.


“Kini, Aku terhadap Arini hanya ada perasaan bersalah. Dulu Aku telah berjanji menikahinya tapi aku pula yang meninggalkan walau memang bukan keinginanku atau Hana. Ada garis takdir di dalam nya. Namun, Aku dapat mengerti bagaimana hancurnya ia, pernikahan yang telah di rancang dan di impi-impikan pupus begitu saja. Sedih itu sangat manusiawi. Andai ia adikku, sebagai seorang kakak aku tidak akan membiarkannya terluka…”


“Hhhhhh Parahnya, Tindakan nya sekarang sudah pada tahap menghancurkan dirinya dan orang lain. Kamu pasti mengerti apa yang aku maksudkan, Arini telah melampaui batas. Jujur aku masih belum tenang sebelum Ia menikah dan menemukan cintanya yang baru” Lanjut Haris lagi, Ia membuang nafasnya ke udara. Ia seperti menaruh harapan pada Romi.


***


Di kediaman Haji Zakaria, tampak Hajjah Aisyah dan Haji Zakaria tengah duduk santai bersama sambil melihat para cucu yang masih kecil berlarian ke sana kemari dengan riangnya. Ulama besar itu baru saja selesai mengisi pengajian kitab al Hikam kepada santri-santri senior di pondok pesantren miliknya.


“Bah, Ummi kok kepikiran ya. Sudah hampir setahun Haris dan Hana menikah tapi kabar bahagia belum juga terdengar di telinga kita” Ucap Hajjah Aisyah memulai percakapan. Beliau menyodorkan mendoan dan secangkir kopi hitam hangat tanpa gula kepada suaminya.


“Maksudnya Ummi bagaimana?” Haji Zakaria menoleh ke arah istri yang tengah memasang wajah serius. Hajjah Aisyah kembali mengambil tempatnya.


“Begini lho Bah, Ummi tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja usia nak Haris kini sudah 27 tahun, tidak lama lagi kita sudah harus menyerahkan Amanah mendiang kakeknya untuk menyerahkan semua yang sudah menjadi hak nya nak Haris”


“Lalu?” Haji Zakaria mendengarkan dengan seksama.


“Sampai sekarang kita belum juga mendengar berita kehamilan nak Hana, bah, Ummi khawatir kelak Haris tidak memiliki pewaris” Hajjah Aisyah menyuarakan kekhawatirannya.


“Astaghfirullah, nyebut Mi. Tidak sepantasnya kita berburuk sangka terhadap takdir Allah” Tegur haji Zakaria.


“Ummi mengerti hal itu Bah, tapi tidak ada salahnya kita ikhtiar. Ummi hanya tidak ingin menyalahi Amanah. Bukankah kita menikahkan nak Haris juga salah satu sebabnya karena Amanah untuk mendapatkan keturunan?”


“Tapi setahun itu waktu yang belum lama, Mi. Kita juga setahun menikah baru mendapatkan nak Yahya. Jangan gegabah, Allah akan memudahkan semuanya. Abah juga yakin mereka sedang berusaha untuk itu” Ujar Haji Zakaria menenangkan hati istrinya.


“Abah benar. Namun, Jika nak Haris tidak juga mendapatkan keturunan sampai usia 28 tahun bagaimana, Bah?”


“Itu sudah menjadi takdir Allah. Mendapatkan keturunan itu merupakan rejeki… Dan Langkah, Rejeki, pertemuan juga maut itu adalah hak mutlak Allah SWT sebagai penentunya” Ucap Haji Zakaria.


“Abah benar. Ummi tidak mungkin menyangkal hal itu. Tapi manusia bisa berusaha melakukan apa pun asal semua halal dan di ridhai oleh Allah. Haris harus berusaha untuk mendapatkannya, bah!” Ucap Hajjah Aisyah lagi.


Haji Zakaria menoleh,


“Maksud Ummi bagaimana?”


“Andai Hana memang tidak bisa memberikan Haris keturunan, maka Haris bisa menikahi gadis lain….”


“Lihat Yahya anak kita, Iqlima tidak bisa memberikan keturunan. Mau tidak mau Yahya menikahi Layla. Walau begitu mereka tetap hidup bahagia. Bahkan Anak Yahya dan Layla juga akrab dengan Iqlima. Wanita shaliha


yang paham agama dan syari’ah sudah pasti tidak akan mempermasalahkan hal ini, Bah!” Terang Hajjah Aisyah panjang lebar.


“Kita lihat saja bagaimana nanti, Mi. Tidak semua orang memiliki kisah hidupnya bisa kita sama kan? Kita harus bijaksana dalam memutuskan sesuatu”


“Iya Bah, Ummi mengerti. Hanya saja Haris itu memang sudah Ummi anggap seperti anak kandung Ummi sendiri. Apa pun kesulitan yang menimpanya, Ummi mencemaskan juga mengkhawatirkannya seperti Ummi mengkhawatirkan Yahya dan Isa. Abah paham maksud dan Iktikad baik Ummi kan?”


Haji Zakaria mengangguk. Ulama sepuh yang begitu dihormati ini menatap lurus ke depan. Pikiran nya di penuhi oleh kata-kata dan pandangan sang Istri yang harus beliau pertimbangkan dengan baik. Dalam hati beliau mendoakan Haris dan Hana agar Allah berkenan memberkahi rumah tangga mereka dan mengamanahkan


keturunan yang shalih dan shaliha sehingga semua berjalan lancar sebagaimana mestinya, agar tidak ada masalah dan aral melintang ketika memang mereka sudah harus menyempurnakan wasiat dari haji Abdurrahman.


Subhanallah


Walhamdulillah


Laa ilaa ha illallah


Allahu Akbar


Tasbih dan tahmid mengiringi~


***


Hi Teman-Teman, yang nanya novel “Dalam Dekapan Rindu” kisah Harun dan Aisyah kenapa ga update-update? sudah ya! Sudah update sampai episode


9 ^^


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara Like Komen Vote, juga hadiahnya. Terima Kasih. Jazakumullah Khairal Jaza’. Semoga SWT memudahkan urusan kita semua.


Alana Alisha

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2