
Saya terima nikah dan kawinnya Arini Lathifa binti Saiful Affan dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang 100 juta rupiah dibayar TUNAI.
Bagaimana saksi? Sah?
Sah. sah. sah
Alhamdulillah. Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a baina kuma fii khair.
Dua insan telah bersatu dalam ikatan suci. Air mata yang sedari tadi telah memupuk mengalir lembut membasahi pipi. Ini bukan air mata penyesalan melainkan air mata haru. Romi memenuhi permintaan Arini segera untuk menikahinya.
Wanita itu mengancam bahwa mereka harus menikah dalam waktu singkat atau kalau tidak, maka tidak usah menikah sama sekali. Tak ayal. Tanpa berpikir dua kali, Romi langsung mengurus semua hal untuk pernikahan kilat mereka. Walau pernikahan ini masih berstatus nikah siri, namun Romi berjanji akan segera melegalkan pernikahan mereka dalam hukum negara.
Semua bukan perkara mudah. Romi membuktikan kesungguhan di tengah kesibukan nya mengurus pekerjaan. Di tambah ia juga membantu Haris menangani kasus. Laki-laki setia itu merasa permasalahan yang menimpa sang sahabat tidak pernah usai. Cobaan datang bertubi-tubi. Namun Haris dengan kecerdasan dan kelihaian yang dimilikinya selalu saja dapat menguasai keadaan dan keluar dari permasalahan yang menimpa. Romi banyak belajar dari ketenangan dan kecakapan Haris dalam menghadapi persoalan hidup.
***
Di sebuah ruang kamar. Ruang apartment yang pernah Arini singgahi. Bahkan lebih dari itu. Sebuah tempat yang menyimpan banyak kenangan baginya dan Romi. Arini melakukan salam takzim. Wanita muda ini mengambil tangan Romi untuk kemudian dibawa menyentuh kening dan pucuk hidungnya.
Romi tersenyum. Matanya tak kalah mengembun. Ya Muqallibal Quluub. Allah-lah Tuhan yang Maha Membolak-balikkan hati. Jika Allah sudah berkehendak, sesuatu yang serasa tidak mungkin dengan mudahnya menjadi nyata. Tadi itu, pernikahan kilat tanpa persiapan khusus itu tetap berlangsung khidmat. Tanpa kendala yang berarti walau hanya dihadiri oleh segelintir kerabat. Tidak ada bu Indah yang merestui di sana. Hanya ada Aris, adik satu-satunya Arini yang ikut menyaksikan pernikahan sang kakak.
“Kamu menangis. Apa kamu menyesal?” Tanya Romi berhati-hati. Ia mengusap lembut airmata yang telah mengalir itu. Arini menggeleng cepat.
“Terima kasih. Kamu telah mengabulkan keinginanku walau aku tidak yakin entah sampai kapan aku bisa membuka hati ini hingga membalasmu dengan kebaikan yang sama. Mungkin kamu akan cepat merasa bosan menghadapi wanita jahat yang kaku sepertiku hingga nanti secepat mungkin memilih mengakhiri kisah ini terlebih dahulu” Ucap Arini sendu.
“Sssstttt… Kita bahkan baru akan memulainya. Jangan mem-vonis kehidupan dengan dugaan buruk yang kita sendiri tidak tahu kebenaran pastinya. Sebagaimana kamu sudah berusaha sebaik mungkin untuk mau bertaubat dan menerimaku, sudah selayaknya aku akan menghujanimu dengan kebaikan” Ucapan Romi membuat tangisan Arini semakin menjadi. Ia menangis tanpa mengeluarkan suara. Romi mendekatkan tubuhnya hingga Arini dengan nyaman dapat bersandar menumpahkan tangisan di sana.
“Ummi tidak akan diam. Ummi akan membuat perhitungan pada kita, padaku terutama” Arini sesugukan.
“Genggam tangan ini dan melangkah-lah bersamaku. Kita hadapi bersama. Selama genggaman tangan ini tidak kau lepaskan. Selama itu pula kita bersama-sama melalui jalan penuh lika liku ini dengan aku sebagai pemimpinnya. Karena sejatinya, kisah kita memang dimulai pada hari ini! ” Ucap Romi membawa Arini ke dalam pelukannya. Wanita ini semakin tenggelam dalam suasana haru biru.
Dddrrrrrtttt drrrrtttttt
Panggilan dari Roni membuat Romi merenggangkan pelukannya.
“Ya Ron, ada apa?”
“Bu Fatma, Ummi pak Haris telah meninggalkan kita semua”
Deg.
***
Tes Tes Tes
Hujan telah turun. Aku heran bagaimana langit tahu apa yang aku rasakan
Tes Tes Tes
Air mata itu terjatuh
Senyumku menghilang
Lagi dan lagi dan lagi
***
Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un. Jum’at. Pukul 14.00 WIB. Awan mendung yang bergulung-gulung disertai hujan deras hadir mewarnai pemakaman dengan nuansa kelabu. Fatma Mutsanna bin Ali Sulaiman menghembuskan nafas terakhir dini hari tadi setelah nyawanya tidak bisa tertolong akibat serangan jantung.
__ADS_1
Haris mengimami shalat jenazah dengan hati yang basah. Ia berusaha keras untuk tidak menangis dan mengatakan pada Hana serta kerabat lainnya agar tidak meratapi kepergian bu Fatma. Ibunda tercinta. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali ikhlas dan menerima suratan takdir.
Dalam kitab Tanqil al-Qaul, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa Imam Nawawi berkata dalam kitabnya yang berjudul Al-Adzkar, “Ketahuilah, menangisi jenazah dengan suara amat keras menurut ulama, hukumnya haram. Bila mengisi jenazah tanpa ratapan, tidak menjadi persoalan.”
Tinta telah mengering. Tidaklah suatu perkara menimpa anak cucu Adam kecuali semuanya telah tertulis di dalam Lauhul Mahfudz. Kata-kata serta nasehat Almarhumah bu Fatma terngiang-ngiang di telinga. Tidak bisa di pungkiri, kepergian ibunya yang sangat mendadak terasa begitu mengguncang jiwa. Tatapan dingin Haris memenuhi penglihatan.
Ummi... katakanlah apa yang Ummi inginkan? Haris akan berusaha untuk mengabulkan keinginan Ummi. Haris ingin sekali Ummi bahagia. Ucap Haris suatu ketika.
Tidak ada yang lebih Ummi inginkan melainkan kebahagiaan mu, nak! Ummi hanya menginginkan kebahagiaan mu. Mengantarmu melihat dunia. Mendidikmu menjadi lelaki yang takut akan Tuhan. Itu kebahagiaan terbesar Ummi. Selebihnya, Kalau Ummi yang lebih dulu dipanggil oleh Allah, semoga kamu berkenan mengirim kan do'a.
Kamu tentu ingat hadits Rasulullah SAW, "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh yang berdoa baginya."
Dan Kamu... kamu adalah anak yang sholeh-nya Ummi. Ummi bersaksi kamu orang sholeh lagi taat. Ucap bu Fatma menjabarkan keinginan beliau ketika itu.
Di sisi lain. Baru-baru ini,
Nikahilah Arini. Seumur hidup, Ummi tidak pernah meminta dan menuntut apa pun dari mu. Tapi kali ini... Ummi mohon dengan sangat... Ummi meminta sesuatu yang bisa dengan mudah untuk kamu kabulkan. Dan Mungkin... ini adalah permintaan pertama dan terakhir Ummi padamu.
Tes. Tes. Tes.
Tak terasa airmata Haris mengalir. Setegar dan sekuat-kuatnya, ternyata ia masih terlalu rapuh.
Siapa yang mengancam Ummi. Siapa yang membuat Ummi tidak tenang... Batin Haris mengerang.
"Mas... " Hana menyapa.
"Sayaang...." Haris memeluk Hana erat. Seketika tangis nya tumpah ruah. Ia menangis menggigit sapu tangan. Tangisannya tidak terdengar. Pertahanan Hana runtuh. Ia ikut menangis. Haris tak ubahnya seperti seorang balita yang terluka.
"A...ku... bu....bukan me... ratapi kepergian Ummi. A..ku ikhlas... Sungguh aku sudah ikhlas" Ucap Haris terbata.
"A.. ku tau mas... aku percaya itu... Kita semua memang sudah ikhlas" Sahut Hana semakin mengeratkan pelukan mereka.
***
Lisa diseret menuju ruang tahanan.
"Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan Akuuuu!!! Awww Sakiiittt. Kalian memperlakukan ku dengan begitu kasar!!!" Pekik Lisa berapi-api. Tampang lusuh lagi acak-acak kan menghiasi tampilannya.
"Diam kau! Berani-beraninya kabur melarikan diri!!" Bentak petugas tak kalah garang.
"Aku tidak melarikan diri!! Aku di jebakkk!!! Aku di jebakkk!!" Bantah Lisa meronta.
"Hahahahahaha"
"Hahahahahaha" Petugas wanita saling melirik menertawakan Lisa.
Bruuukkkk
Lisa kembali dihempaskan ke dalam sel tahanan.
"Jangan sampai kabur lagi! Semoga kau diberi hukuman mati atau membusuk disini!" Sumpah serapah petugas yang sudah sangat kesal akan ulah Lisa. Dalam keseharian, Lisa juga sering membuat onar dengan teman sesama tahanan.
"Awwww... Sial!" Lisa mengaduh menyentuh sikut nya yang terasa sakit. Pinggangnya serasa mau patah.
"Apa kalian liat-liat?! " Bentak Lisa menghardik beberapa pasang mata yang menatap intens ke arahnya. Gadis ini bergerak menuju sudut ruang dan menarik lengan bajunya ke atas. Tampak memar membiru ungu tercetak di di beberapa bagian kulitnya.
Indah!!!! Lisa mengepalkan tangan. Marah. Jebakan mengkambing-hitamkan dirinya yang dirancang oleh bu Indah demi kepentingan pribadi benar-benar membuat nya marah.
__ADS_1
Inggrid sialan. Ibu bedeb*h!!! Umpat Lisa lagi.
Tap Tap Tap
Terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Lisa.... " Panggil Seseorang menatap dengan tatapan prihatin.
"M..Mas... " Lisa nanar menatap. Ia kembali dibawa keluar oleh petugas untuk bicara di ruang khusus dengan orang yang mengunjunginya.
Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Lisa menunduk memalingkan wajah ke samping. Rambut pirangnya terurai berantakan. Keadaan tidak terawat itu menjadikannya terlihat begitu mengenaskan.
"Apa kau benar-benar sebegitunya menginginkanku hingga tak berhenti membuat duka di kehidupan orang lain? " Tanya orang yang tidak lain adalah Gibran menatapnya sendu.
"Apa yang kau inginkan dari laki-laki biasa seperti ku? Andai aku bisa meredam semua Ke-alpaan mu, maka itu akan kulakukan" Ucap Gibran dingin. Lisa bergeming dari posisinya.
"Baiklah. Mari kita menikah! Aku akan menikahimu setelah kau keluar dari penjara dan benar-benar bertaubat." Ucap Gibran menutup kelopak matanya. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki ini. Lisa tersentak. Ia menoleh melihat orang yang ada di hadapan nya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Aku berjanji" Lanjut Gibran tanpa keraguan. Ia mengangkat jari kelingking nya ke atas.
"A.. Aku.. aku cukup tau diri. Aku yang begini ini. Hhhhh apa kau kesini hanya untuk menghinaku? " Lirih Lisa tersenyum masam.
"Jika dengan menikahimu membuat dunia tentram. Maka aku akan melakukannya! "
"Ada Alisha yang menantimu! " sahut Lisa cepat.
"Cih. Sebegitunya kau mengetahui kehidupanku! Kau memang memiliki banyak mata-mata di luar sana. Aku sudah tidak heran" Tuduh Gibran menggelengkan kepalanya.
"Aku mendukung mu bersama nya" Ucap Lisa lagi menatap ke sembarang arah.
"Lalu... Mengapa kamu membuat semua kesulitan ini? Mengapa?! " Suara Gibran meninggi.
"Apa kamu juga yang menyebabkan bu Fatma mengalami serangan jantung, Hah?! " Senggak Gibran.
"Aku tidak melakukan apapun. Kematian bu Fatma tidak ada sangkut pautnya denganku! Aku memang membenci Hana. Tapi semua tidak seperti yang kamu pikir dan duga. Kesalahan terbesar dalam semua kerumitan ini bukan aku. Melainkan pernikahan Haris dan Hana. Andai mereka tidak menikah, semua tidak akan seperti ini! Peranku di sini hanyalah sebagian kecil saja! "
"Jangan mengkambing-hitamkan takdir! Tidak ada pembenaran atas nama kejahatan. Yang ada hanyalah jiwa-jiwa yang entah disadari atau tidak telah memuja iblis! Apa yang kita cari di dunia yang Fana ini. Dunia fatamorgana ini hanyalah sebuah ilusi. Kehidupan yang sesungguhnya di akhirat kelak. Lihatlah mereka-mereka yang telah pergi mendahului kita. Apa yang mereka bawa sebagai bekal? Tidak ada. kecuali hanya amal kebaikan yang tersisa"
"Dan... Kamu.... harus bertanggung-jawab atas semua kesalahan mu! Semoga Allah berkenan mengurangi hukuman mu di hari pembalasan kelak! "
"Aku mengatakan ini bukan berarti aku adalah orang yang suci. Aku juga pendosa. Tapi aku mau bertaubat" Tutup Gibran. Ia memundurkan kursi lalu bangkit.
"Terima kasih untuk waktumu. Aku permisi... "
"Mas... Tunggu... " Gibran menoleh.
"A.. aku ingin bertemu Mas Haris dan Hana... boleh kah jika aku meminta pertolonganmu untuk mempertemukan ku dan mereka? Mungkin bukan saat ini karena mereka tengah berduka. Tapi Aku berharap bisa bertemu mereka walau untuk terakhir kalinya"
"Apa alasanmu menemui mereka? "
"Aku ingin meminta maaf dan mempertanggung-jawabkan semua kesalahanku" Lisa menunduk. Ia mengusap asal air mata yang berhasil mengalir.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***