Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 41: Hanya Tiga Pilihan


__ADS_3

Ddddrrrrt drrrrttt


Satu pesan wattsapp masuk, Haris merogoh saku celananya,


“Mas, jadi ke rumah sakit kan? Aku menanti kehadiranmu. Rasanya aku sudah tidak sabar :)” Arini.


Ternyata Arini yang mengirimkan pesan. Haris membaca pesan yang masuk dengan tanpa ekspresi. Entahlah, entah mengapa hari ini rasanya ia tidak mood untuk melakukan kegiatan apapun. Walau sekalipun yang mengirim pesan adalah Arini, namun kejadian-kejadian hari ini cukup menguapkan semangatnya menjadi tak bersisa. Padahal, kerjaan nya juga sudah banyak menumpuk. Ia malah memilih berbaring terlentang di atas kasur empuknya, sesekali ia menghadap ke sisi kanan dan kiri. Tak ada tujuan, akhirnya Ia bangkit. Haris merasa perlu mengaji untuk menenangkan jiwanya. Ia pun ke kamar mandi, mandi sekalian berwudhu’. Tinggal hitungan menit saja, waktu zhuhur sudah semakin dekat. Ia melihat ke arah dapur, tidak ada tanda-tanda Hana masak untuk makan siang. Mungkin istrinya tertidur. Ia pun berencana mengajak Hana makan di luar. Kalau tidak mau, ya sudah gofood saja.


Haris membuka random mushafnya, ia mencari keberadaan surah al-waqi’ah. Sepersekian detik, surah al-waqi’ah pun berada dihadapannya. Ini adalah surah amalan rutinnya selepas shalat dhuha, karena tadi ia belum sempat membacanya, sekarang ia pun memulai tadarusnya dengan surah tersebut. Tak perlu waktu lama, ketenangan merasuki jiwa dan aliran darahnya.


Haris baru saja menyelesaikan bacaan surah al-waqi’ahnya ketika ia merasakan handphone nya kembali bergetar, ternyata dari tadi ada 5 panggilan masuk dan sekarang 1 ada notif pesan, ia membukanya, lagi-lagi dari


Arini,


“Mas, kenapa pesanku tidak kamu balas? Kamu baik-baik saja kan? Kamu dimana sekarang? Sudah berangkat ke rumah sakit belum?” Arini.


Haris menghembuskan nafasnya. Ya Rabb. Benar juga ia harus ke rumah sakit, setidaknya ia harus memenuhi janjinya pada gadis itu untuk berkunjung. Ia pun segera membalas pesan dari Arini,


“Maaf, Rin. Insya Allah sebentar lagi aku ke sana” Haris.


Haris beranjak bangun, ia akan mengunjungi Arini. Ia melihat kamar Hana masih tertutup.


Tok..tok..tok


“Hana, Hana!” Panggil Haris.


“Iya mas, sebentar!” Hana pun beranjak membuka pintu kamarnya.


“Ada apa mas?”


“Aku mau keluar sebentar, kamu belum masak kan? Pesan saja di gofood ya!” Titah Haris.


“Mas mau kemana?” Tanya Hana pelan dengan menunduk.


“Mau ke rumah sakit”


Spontan Hana mendongakkan kepalanya. Ia melihat Haris dengan tatapan tidak bersahabat.


“Aku kemarin sudah berjanji untuk menjenguk Arini karena ia telah siuman” Haris menjelaskan tanpa Hana pinta.

__ADS_1


“Aku tidak melarang mas ke sana. Tapi…”


“Tapi apa?”


“Bolehkah aku menemui mas Gibran sebentar?”


“Ada keperluan apa kamu menemui laki-laki itu?”


“Mas Gibran mau kembali ke Maroko, mas. Ada hal yang harus kami selesaikan. Aku khususnya.” Jelas Hana. Air muka Haris berubah. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi kusut. Ia menarik tangan Hana untuk duduk di kursi.


“Duduklah!” Haris menghela nafasnya. Hana mengikuti instruksi Haris.


“Apa karena aku akan menemui Arini lantas kamu juga harus menemui Gibran?” Tanya Haris dengan menatap kedua mata Hana.


“Mas, mas bicara apa? Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mas menemui mba Arini. bukankah sudah jelas kalau mas Gibran mengajak bertemu. Beliau juga mengatakannya di depan mas pagi tadi” sergah Hana.


“Tapi kamu tidak harus menemui dia kan, kenapa tidak kamu kirim pesan lewat wattsapp, email atau apa, kenapa harus menemui dia?” Haris berkata dengan tatapan penuh ketidaksukaan.


Hana menghela nafas panjang. Di luar sana adzan sudah memanggil bersahut-sahutan. Ia harus mencari cara lain nantinya agar Haris mau memberi izin kepadanya untuk menemui Gibran. Waktu sudah tidak banyak. Namun berdebat juga bukan solusi yang baik untuk saat ini.


“Kalau begitu mas pergilah menemui Arini. Adzan sudah berkumandang. Sebaiknya kita shalat dulu dari pada berbicara tidak jelas seperti ini” Ucap Hana kemudian. Ia juga sudah pasrah terhadap sikap Haris yang


***


Di Rumah Sakit


“Assalamu’alaikum, Arini” Haris menyapa Arini yang masih terbaring di kasur rumah sakit.


“Wa’alaikumsalam, mas!” Mata Arini bersinar-sinar sempurna. Ia ingin bangun dari pembaringannya, namun dirasa masih sangat sulit. Haris pun mencegahnya.


“Berbaring saja. Jangan paksakan untuk bangun. Aku bawa buah-buahan segar. Semoga kamu mau memakannya.”


“Terima kasih, mas. Mas ke sini bersama siapa?” Tanya Arini.


“Sendirian saja” Persis seperti yang Arini harapkan.


“Kamu tampak fresh hari ini” Puji Haris, sebab ia melihat wajah Arini yang berseri-seri dan dengan dandanan yang berbeda dari biasanya, gadis itu tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Di puji demikian, terang saja Arini


tersipu, seperti melayang saja rasanya.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah pintu, bu Indah masuk ke ruangan,


“Haris, ibu mau bicara berdua saja denganmu sebentar!” Pinta bu Indah, ibunya Arini. Haris mengangguk.


“Rin, aku temui ibu dulu ya, kamu istirahatlah!” Ucap Haris. Haris pun keluar mengikuti Langkah kaki bu Indah.


Di sebuah ruangan yang tak jauh dari ruangan tempat Arini drawat, bu Indah dan Haris tengah duduk berhadap-hadapan.


“Haris, langsung saja ya. Ibu tidak ingin berbasa basi…” Bu Indah menatap Haris serius, kemudian melanjutkan kalimatnya,


“Bagaimana keputusan kamu terhadap Arini, nak?”


Haris yang mendapatkan pertanyaan mendadak begini jelas bingung mau mengatakan apa.


“Maaf bu, saya sama sekali belum membicarakan hal ini bersama Hana” Jawab Haris apa adanya. Ia sudah tau kemana arah tujuan dari pembicaraan ini.


“Kenapa dengan Hana? Kamu yang harus memutuskannya Haris. Jangan gantungkan Arini seperti ini. sudah cukup kamu membuat Arini menderita” Bu Indah berkata tajam. Haris bagai mengikuti sidang di pengadilan dan bu Indahlah Jaksa Penuntut Umumnya.


“Jujur saya tidak berpikiran untuk berpoligami bu, Arini punya masa depan yang cerah. Arini wanita yang baik dan cerdas. Rasanya tidak pantas jika saya harus menduakan Arini. Itu bukan kapasitas saya” Ucap Haris pada


akhirnya.


“Hanya ada 3 pilihan: yang pertama: ceraikan Hana dan nikahi Arini, kedua: Jadikan Arini istri keduamu, ketiga: Jauhi Arini, jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi dihadapan keluarga kami, di hadapan Arini khususnya” Bu Indah memberikan 3 pilihan pada Haris. Haris tercekat mendengar ultimatum bu Indah.


“Haris, apakah kamu tau berapa banyak sudah airmata yang Arini keluarkan untuk menangisi kamu, berapa banyak sudah waktu yang dia miliki terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan kamu? jangan lagi kamu tambah dengan


ketidakjelasan kamu dalam bersikap. Kamu sudah dewasa, kamu adalah pemimpin. Kamu sudah harus bisa memutuskan tanpa meminta pendapat dari siapapun” Bu Indah berkata dengan tegas.


“Ibu akan memberikan kamu waktu final untuk memutuskan seminggu lagi, seminggu lagi ibu harap kamu sudah mengantongi jawaban terbaikmu. Permisi” Bu Indah berlalu meninggalkan Haris yang masih mencerna satu persatu


perkata yang beliau katakan.


***


Hai Teman-teman~~~


Jangan lupa dukungannya dengan memberi Like Komen Vote dan Hadiahnya ya, Untuk Dukungan teman-teman semua Author ucapkan Terima Kasih. Jazakumullah Khairal Jaza' :)


__ADS_1


__ADS_2