Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 7: Sah


__ADS_3

Malam yang dingin. Setelah selesai melaksanakan ibadah shalat maghrib dan muraaja’ah hafalan al Qur’an sebentar, Hana kembali menghampiri jendela kamarnya. Ia berdiri di salah satu sisi dengan menopangkan kedua tangan ke atas nya.


Tatapan mata Hana mengarah ke arah langit dengan tak berkedip. Hembusan angin menyelinap masuk melalui jendela kamarnya. Tidak tampak cahaya rembulan di malam ini. Semesta terasa sunyi dan sepi. Hanya ada bintang gemintang yang cahayanya berpendar sesuai jangkuannya.


Sesekali terihat kelap kelip kekuningan berasal dari kunang-kunang yang bertebaran di bawah perpohonan. Biasanya Hana selalu kagum akan benda langit yang ditatapnya. Seolah tidak pernah puas, ia akan berlama-lama menatap ke sana, bertasbih dan bertahmid mengucap syukur atas karunia penglihatan yang Allah berikan. Kali ini bukan tiada ada rasa syukurnya namun hatinya masih diliputi kecemasan.


Tatapan matanya kosong. Besok merupakan hari paling bersejarah baginya. Hari dimana ia akan menjadi seorang istri, hari dimana dirinya bukan lagi merupakan tanggung jawab Abahnya.


Ia sudah berusaha untuk ikhlas dan menerima takdirnya. Namun rasanya masih sangat sulit untuk mengontrol rasa sesak yang masih menyelinap di dada. Kini tatapan matanya beralih ke arah henna merah yang menghias indah di jari dan tangannya.


Hana menatap sendu. 3 malam sudah ia melaksanakan serangkaian prosesi henna night dan banyak adat lainnya. Itu artinya besok memang hari pernikahannya. Waktu terasa sangat cepat berlalu tanpa mengenal kata tunggu. Ini seperti mimpi baginya. Namun bukan seperti mimpi yang diharapkan.


Tok tok tok… kembali suara ketukan pintu kamar terdengar. Perlahan Ummi membuka pintu kamar Hana.


“Bagaimana perasaan kamu sekarang, Nak?” Ummi bertanya dengan penuh kelembutan seraya duduk


di sisi kiri Hana.


“Sudah jauh lebih baik Ummi”


“Alhamdulillah, Ummi bahagia mendengarnya, Ummi terharu nak, Ummi bersaksi bahwa kamu adalah anak yang berbakti serta memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik. Insya Allah suami kamu akan sangat bersyukur memiliki istri sepertimu” Ummi mulai menangis haru. Betapa besok ia harus melepas anak gadis satu-satunya ke tangan


orang yang tepat (Insya Allah).


Hana sedih sekaligus terharu mendengar penuturan tulus Umminya.


“Hana belum berbakti Mi, masih banyak kesalahan dan kekhilafan yang Hana lakukan, belum sempurna bakti Hana sebagai anak” Hana berkata lirih namun penuh penekanan.


“Melihat kamu menikah Abah dan Ummi sudah sangat Bahagia nak, rasanya tidak ada lagi yang abah dan ummi harapkan”

__ADS_1


Hana memeluk umminya erat. Kata-kata Ummi bagaikan ruh penyemangat baginya.


Allahumma Shalli  ‘alaa Muhammad


Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad


Ummi mengusap-usap kepala Hana penuh cinta.


***


Mesjid Agung Syuhada tampak ramai, hari ini tepat pukul 09.00 pagi akan dilangsungkan prosesi akad nikah. Pernikahan dua insan dari keluarga terpandang yaitu antara keluarga haji Zakaria dan haji Amir akan segera dilaksanakan.


Kedua keluarga besar ini memilih masjid Agung Syuhada untuk acara sakral ini. Tampak tubuh tegap Haris dengan setelan jubah berserta sorban putih semakin menambah ketampanannya. Jubah yang merupakan hadiah pemberian ustaz Yahya itu sangat pas dikenakannya.


Sedangkan di sudut bagian belakang masjid dekat dengan tembok putih juga tampak wanita yang sangat anggun duduk di apit oleh Ummi dan bibinya, ialah Hana Fathimah Ameer yang dengan balutan gamis putih lengkap dengan kerudung menambahkan aura


kecantikan yang dimilikinya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Hana Fathimah Ameer binti Amir Utsman dengan mas kawinnya tersebut, tunai” Kalimat Ijab Kabul diucapkan oleh Haris dengan suara lantang.


“Bagaimana para saksi? Sah? Sah? Sah?”


“Alhamdulillah….” Kerabat dan sanak saudara yang menyaksikan prosesi ini ikut merasa Bahagia.


Do’a pernikahan pun dilantunkan dengan hikmat. Orang yang hadir mendengarkan dengan khusyu’ seraya mengaminkan. Akad nikah telah terucap, kini Haris dan Hana telah sah menjadi suami istri.


Mempelai wanita datang menghampiri mempelai laki-laki. Ummi menyuruh Hana melakukan salam takzim kepada suaminya. Hana melakukannya dengan rasa malu dan tangan bergetar.


Ini merupakan sentuhan pertamanya dengan yang bukan mahram. Sentuhan pertama dengan lawan jenisnya. Begitupun dengan Haris. Ini adalah hal pertama bagi mereka berdua. Tidak terasa air mata melelehdari sudut pinggiran mata hana. Kini statusnya telah sah menjadi istri. Ummi, Hana telah menjadi seorang istri. Begitulah lirih hatinya.

__ADS_1


Prosesi akad nikah berjalan lancar dan syahdu. Selesai akad sanak saudara, kerabat dan teman-teman bergantian menyalami para mempelai satu persatu.


“Hana, selamat ya” Yura memeluk erat sahabatnya itu. Matanya bengkak sembab. Tampak seperti orang yang telah lama menangis. Sepertinya Yura adalah satu-satunya tamu yang merasa sedih akan pernikahan Haris dan Hana.


Haris melirik ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Arini, mungkin mungkin wanita itu hadir.  Namun sepertinya Arini tidak sanggup menyaksikan pemandangan yang menyesakkan dada itu.


“Makasih ya, kamu adalah kakak yang paling mengerti aku. Mohon doa kan agar aku kuat menjalani semua ini” Hana mengatakan dengan setengah berbisik. Dalam hati ia juga berharap, semoga nanti jika Gibran mengetahui pernikahan ini, beliau juga tidak akan kecewa.


Setelah mengucapkan selamat pada kedua mempelai, Yura bersiap-siap kembali pulang kerumah. Ia melangkahkan kaki keluar dari pintu masjid dengan sedikit tergesa. Namun betapa terkejutnya ia Ketika melihat seseorang yang dikenalnya berdiri tak jauh dari hadapannya.


Orang yang beberapa waktu lalu hanya sekedar menitipkan salam basa basi padanya melalui Hana. Orang yang tidak ia ketahui lagi bagaimana kabarnya setelah perpisahan sekolah. Ya. Ia lah Ridwan, seseorang yang pernah singgah dihatinya namun juga seseorang yang telah lama ia hapus dari jiwanya.


***


Selesai akad nikah, rombongan keluarga  Haris menuju rumah Hana untuk menyantap makan siang yang sudah disediakan. Matahari terasa terik menyengat, namun tidak menyurutkan kebahagiaan yang dirasa. Haris dan Hana duduk berdampingan menyantap makanan mereka.


Mereka begitu kaku dan canggung. Ini adalah pertemuan kedua mereka, pertama dalam acara lamaran dan yang kedua dalam acara akad nikah pagi ini. Tidak tidak, tepatnya ini adalah pertemuan mereka yang ketiga, hampir saja terlewatkan, mereka sempat bertemu di rumah makan padang bersama Ridwan dan Lisa.


Nah, Ketika acara lamaran, Haris sedikit terkejut bahwa yang menjadi calon istri pilihan abah Zakaria adalah gadis berkerudung hijau yang ditemuinya kala itu. Berbeda dengan Hana yang merasa seperti pernah bertemu namun entah dimana. Hana ingin mengambil udang tempura yang ada dihadapannya, ternyata Haris juga melakukan gerakan yang sama, lagi lagi tangan mereka bersentuhan.


“Maaf” ucap Haris spontan.


Hana melirik wajah Haris sekilas lalu ia pun mengangguk.


 ***


Hai para pembaca, jangan lupa dukungannya ya, like vote dan comment


Terima Kasih

__ADS_1


Salam


Ig @alana.alisha


__ADS_2