
Sepulang dari makan malam bersama Hana, Haris menetap di ruang kerja nya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai ia kerjakan. Namun ia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Ia mengecek hp berulang kali. Gerakan
kosong tanpa tujuan. Hanya melihat sekilas menit-menit jam yang berlalu. Akhirnya ia memutuskan menelepon Ridwan,
“Wan, lu tau Yura kan?”
“Udah tau nanya, jangan bilang lu naksir sama Yura ya!”
“Astaghfirullah, sembarangan lu!!”
“Trus kenapa? Lagian tumben banget malam-malam gini nelpon gua, bukannya asik-asikan sana sama istri” sarkas Ridwan.
“Gua tutup ni telpnya!” ancam Haris.
“E…e, wait, wait… sorry bro, bercanda… sensi banget sich, yudah, jadi kenapa sama Yura?”
“Huft, gua mau nanya, apa Yura punya abang?”
“Ada. Si Gibran. Teman gua juga” Jawab Ridwan santai.
“Ha? Kok lu ga pernah cerita sama gua kalau punya teman bernama Gibran?”
“Jiaahh, kan lu ga nanya, lagian gua juga ga terlalu dekat ma Gibran, Cuma pernah ngobrol beberapa kali doang”
“Oh. Okay, thanks bro infonya, ntar gua nanya-nanya lagi sama lu” tiiiiiitttt tiiittt
Kebiasaan ini anak, main nutup sembarangan. Kesal Ridwan.
Hana sudah berada di kamar nya. Ia telah mengganti gamisnya dengan piyama tidur. Kembali ia mengamati hadiah pemberian Gibran. Indah sekali. Ia hendak mencobanya. Namun seketika ia teringat pada pernikahannya
bersama Haris. Tiba-tiba Ia merasa tidak pantas menerima pemberian dari Gibran. Laki-laki shalih itu hanya tidak mengetahui bahwa ia telah menjadi istri orang lain. Jika mengetahuinya, apakah hadiah itu tetap akan diberikan padanya? Hana pun mengurungkan niatnya. Ia memilih merapikan kembali barang-barang tersebut dan membungkusnya. Hana ingin permasalahannya cepat selesai sesegera mungkin. Ia berpikir esok ia harus menemui Gibran dan menjelaskan semuanya lalu mengembalikan barang pemberian laki-laki itu. Sebelum semuanya terlambat. Hana sudah bertekad.
***
Cuaca pagi ini mendung. Matahari tak menampakkan batang hidungnya. Sinarnya tenggelam bersama awan kelabu yang menyelimuti bumi pertiwi. Haris dan Hana tampak duduk bersama di meja makan. French Toast Sandwich dan segelas susu kambing segar menjadi menu sarapan mereka di pagi ini. Hana menyiapkan makanan yang simple namun mengenyangkan. Haris terlihat sangat menikmati sarapannya.
“Mas, hari ini aku berencana bertemu teman” Hana meminta izin kepada Haris
“Teman yang mana?”
“Yura mas” jawab Hana. Haris tampak tidak senang.
“Apakah harus hari ini?”
“Memangnya kalau hari ini kenapa mas?”
“Hmh, tidak. Aku lupa mengatakan padamu bahwa ibu akan berkunjung hari ini”
“Oh begitu, baiklah. Menemui Yura bisa aku tunda”
“Hmh..” Haris mengangguk
“Mas, persediaan makan sudah menipis, kalau begitu aku minta ijin belanja ke supermarket depan dengan motor. Aku akan memasak makan siang buat ibu”
“Cuaca lagi mendung. Kamu naik Gocar saja. Lagian kamu belanja bawa pulang banyak barang. Tidak safety membawa motor sendirian” Haris memberi saran.
“Baiklah mas”
__ADS_1
“Nanti akan aku transferkan uang” ucap Haris kemudian.
“Tidak usah mas, uang kemarin belum habis, masih banyak kok”
***
Dalam perjalanan menuju kantornya, Haris menghubungi Ibu,
“Assalamu’alaikum bu”
“Wa’alaikumsalam, ada apa nak? Pagi-pagi sekali sudah menghubungi ibu. Kamu tidak ke kantor?”
“Ini lagi dalam perjalanan ke kantor bu. Siang ini ibu ke rumah ya. Nanti jam istirahat Haris jemput. Hana masak hari ini. Ia ingin masak untuk ibu”.
“Kenapa Hana repot-repot nak, ibu tidak mau menantu ibu kelelahan”
“Tidak kok bu. Okay yaa, nanti pokoknya Haris jemput ibu. Yaa yaa” Bujuk Haris merayu ibu.
“Baik nak, ibu juga sudah rindu sama kalian. Nanti jangan terlalu terlambat menjemput ibu, ibu ingin membantu Hana masak”
“Baik. Titah Ibu suri siap Ananda laksanakan” Haris membuat suara ala militer. Ibu tersenyum mendengarnya.
“Kalau begitu sampai di sini dulu bu, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” tiiit tiiit.
Telepon ditutup. Sepanjang perjalanan menuju kantor, Haris berfikir dan merenung. Ia sama sekali tidak menyangka dapat melakukan hal ini. Dalam waktu mendadak Ia mengatur semua siasat agar Hana tidak keluar bertemu Yura. Ia hanya tidak ingin Hana bertemu temannya itu. Bukan mengapa, jika Hana bertemu Yura, pasti juga akan bertemu Gibran. Demikianlah pikir Haris. Lantas, apa hubungannya dengan Haris? Haris juga bingung mengapa ia menjadi begini.
***
Hana bersiap-siap berbelanja ke supermarket. List bahan belanjaan telah ditulisnya,
1 kg ikan gurami
1 kg daging sapi
½ kg ikan bawal
1 kg bawang merah
½ kg bawang putih
1 kg tomat merah
½ kg cabai merah
¼ kg cabai hijau
1 ons cabai rawit
1 pack Himalayan Salt
½ kg gula pasir
3 ikat sawi hijau
¼ kg buncis
__ADS_1
¼ kg wortel
1 pack Spagetty La fonte
1 pack miehun
3 ikat daun sop
2 ikat daun bawang
Demikianlah list belanjaan Hana hari ini. Food preparation ini ia siapkan untuk satu minggu kedepan. Bahan-bahan lainnya yang tidak tertulis di list belanjaan berarti masih ada sisanya di dapur. Ia sangat terorganisir dalam hal ini. wadah-wadah kecil telah di beli nya di toko orange secara online. Kini ia semangat belanja untuk kebutuhan dapurnya selama seminggu.
***
Di Café A
Tampak Ridwan dan Yura tengah bertemu. Yura juga mengajak Gibran. Ia merasa tidak nyaman jika hanya bertemu berdua dengan Ridwan.
“Assalamu’alaikum bro, long time no see” Sapa Gibran ramah.
“Wah, iya nih. Gimana kuliahnya? Lancar?”
“Alhamdulillah. Ini baru saja selesai ujian, jadi liburan sebentar sambil lihat keluarga”
“Masya Allah. Mabruk Mabruk” Ridwan memberi selamat.
“Hmh. Kalau gitu kita pesan makanan dulu ya” Yura yang dari tadi diam mengeluarkan suara.
“Okay. Mas pesan minum saja. tadi di rumah sudah makan” Gibran yang tengah menggilai makanan rumah tidak berniat untuk makan di luar. Maklum saja, berbulan-bulan menikmati makanan Maroko yang tidak begitu familiar di lidah nya membuat ia rindu masakan ibu.
Pesanan telah diantar. Mereka bertiga mengobrol santai. Gibran melihat gelagat ketertarikan di diri Ridwan terhadap adiknya. Begitu pun dengan Yura. Seringkali ia bersemu malu-malu menghadapi perkataan-perkataan yang Ridwan layangkan.
“Mas, aku permisi ke kamar mandi dulu ya”
Gibran dan Ridwan mengangguk bersamaan. Mereka berdua pun melanjutkan obrolan mereka.
“O iya, semalam sahabat ku Haris menelepon menanyakan kamu”
“Haris?” Kening Gibran mengkerut.
“Iya, Haris suami dari sahabat adikmu. Mereka menikah ketika kamu di Maroko”
Gibran mengingat-ingat sahabat Yura. Ada Lisa, Maya, Tari, Intan. Siapa lagi ya. Setau Gibran sahabat Yura belum ada yang menikah. Dan sahabat terdekatnya adalah… Hana. Haha, mana mungkin Hana.
“Haris yang mana ya? Teman ku bernama Haris hanya dua. Satu lagi di Sudan, yang satunya pengusaha batako”
“Bukan keduanya. Ini Haris Abdurrahman Faiz. Sepertinya kalian memang tidak saling mengenal. Semalam ia menelepon, mungkin saja istrinya menceritakan Yura dan kamu yang baru pulang dari Maroko”
“Nanti Insya Allah akan kukenalkan. Haris orangnya asik banget kok” lanjut Ridwan lagi.
Gibran mengangguk-angguk.
“Sahabatnya Yura? Lisa, Maya atau yang lainnya?”
Ridwan menggeleng.
“Bukan. Tetapi Hana. Hana sahabat Yura yang menikah dengan Haris”
__ADS_1
“Apaa??? Hana???” Gibran terkejut hebat. Seingat Gibran, sahabat Yura yang bernama Hana hanya ada satu, yaitunya calon istrinya sendiri.
***