Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 113: Se-Baki Ramuan


__ADS_3

"Aku tidak akan menikah lagi dengan siapapun. Titik! " Ucap Haris tegas pada Hana. Tangan yang semula berada di pundak istrinya itu jatuh seketika. Matanya Berkilat-kilat. Ia begitu marah mendengar Hana mengizinkannya untuk menikah lagi.


"Aku yakin keluarga besar akan menyuruh mas untuk menikah lagi" Lirih Hana menunduk.


"Besok aku akan menemani mu menemui ummi Aisyah dan mengatakan apa yang harus kukatakan. Daripada kamu menyuruhku untuk menikah lagi, lebih baik bunuh saja aku!" Ucap Haris tajam. Kalimat yang Haris lontarkan sukses membuat Hana mendongakkan kepalanya.


"Mas... tidak baik berkata begitu! Istighfar mas! "


"Sekarang, tolong jangan bahas apapun! Aku sedang tidak ingin mendengar hal-hal negatif. Ku mohon... Aku hanya ingin menikmati malam ini tanpa beban bersamamu" Ucap Haris menatap mata Hana. Bola mata yang Berkilat-kilat itu masih tersisa di sana. Hana menganggukkan kepalanya sebelum kemarahan Haris memuncak.


Gerimis perlahan turun, spontan Hana menengadahkan kepalanya ke langit. Kilat terlihat menyala, membuat langit malam yang kelabu itu bercahaya.


Haris melepas jaket yang dikenakannya. Ia menutup kepala Hana dengan jaket yang telah ditopang dengan kedua tangannya itu.


"Ayo kita pulang! " Ajak Haris.


"Aku ingin duduk di kursi itu" Sahut Hana menunjuk ke kursi besi yang cukup untuk di duduki tiga orang.


"Hujan akan turun deras sayang, nanti kamu sakit! " Tolak Haris.


"Sebentar saja, boleh ya? " Pinta Hana dengan menunjukkan puppy eyesnya.


Mana bisa Haris menolak kalau sudah begini. Ia menganggukkan kepalanya, Hana sumringah. Haris membalut kan jaket tadi ke tubuh Hana.


"Mas, coba deh ulurin tangan mas begini. Air hujan itu lembut banget" Hana mengulurkan tangannya merasakan bulir gerimis yang turun tipis mengenai telapak tangannya.


"Aku sudah pernah kok melakukannya" Sahut Haris datar, Ia lebih tertarik memandang wajah Hana daripada merasai air hujan.


"Ah... Sungguh , Aku tidak pernah bosan melakukan ini, semakin ku lihat aku semakin terpesona" Ucap Haris yang terus menatap wajah sumringah Hana. Pantulan cahaya lampu yang mengenai bulir air lalu menyemburat ke wajah Hana terasa begitu indah. Wajah sang kekasih berkilauan.


"Kapan mas melakukannya? Masa ga pernah bosan? aku saja tidak pernah melihat mas menengadahkan tangan begini! " Protes Hana yang salah menangkap maksud Haris.


"Ya... Aku pernah melakukannya... hmh.... di alam mimpi! " Sahut Haris. Ia sama sekali tidak berbohong, ia memang pernah melakukan ini di alam mimpi. Sebenarnya hanya sebuah mimpi buruk yang begitu malas untuk di kenang.


"Yaaahhh, dasar! " Sebuah pukulan yang sama sekali tidak sakit mendarat di lengan Haris.


"Baiklah, mari kita merasakannya bersama-sama" Haris meletakkan telapak tangannya dibawah telapak Tangan mungil milik Hana. Ukuran tangannya yang jelas lebih besar menyebabkan air hujan itu juga turun mengenai pinggirannya. Haris dan Hana saling menatap, mereka tersenyum penuh arti.


***


Arini sesegukan. Ia yang telah tertidur dan kehilangan anak sudah 6 bulan lamanya serasa seperti baru saja kehilangan. Arini menatap kosong ke sembarang arah.


"Ri, aku kupas kan buah, mau ya? " Tanya Romi yang mengambil pisau lalu mulai mengupas apel merah. Arini tetap diam tidak ada memberi jawaban.

__ADS_1


"Bagaimana kabar mas Haris, Rom? Apa mas Haris pernah mengunjungi ku? " Tanya Arini.


Mendengar pertanyaan Arini, Romi meletakkan kembali pisau yang dipegang nya dengan sedikit keras ke piring. Ia kecewa mendengar pertanyaan yang terlontar tanpa beban dari mulut Arini.


"Hhhh, Ya. Dia pernah mengunjungi mu... bersama Hana" Sahut Romi malas. Arini sumringah. Walau Haris mengunjungi nya bersama Hana, setidaknya laki-laki itu masih mempedulikan nya.


"Hmh, aku permisi dulu. Aku harus kembali bekerja" Ucap Romi bangkit dari duduknya. Arini mengangguk.


"Romi.... " Panggil Arini ketika pemuda itu hampir memegang gagang pintu.


"Ya? "


"Kamu akan kembali lagi ke sini kan? " Tanya Arini seperti berharap. Romi terpaku sejenak.


"Hmh... Ya... Tentu saja! " Romi memberikan senyumnya. lalu berlalu meninggalkan Arini, meninggalkan gadis itu dengan segala kesendiriannya.


***


Tengah malam. Romi membuka pintu kamar Ridwan, ternyata sahabat nya itu tengah melakukan panggilan telepon dengan tunangan nya. Romi mundur dan duduk di ruang tamu. Pikiran nya benar-benar kacau sekarang.


Laki-laki ini mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana yang baru saja dibelinya. Sebenarnya ia sudah lama sekali berhenti merokok. Ia pernah mencoba ketika duduk di sekolah menengah dulu. Namun ketika masuk kepolisian, ia benar-benar telah berhenti.


Romi mengambil sebatang, lalu ia mulai menghidupkan korek mancis untuk menyalakan nya. Baru saja rokok itu akan hinggap di mulut, namun dengan cepat Ridwan mengambilnya lalu mematikan rokot tersebut dan dicampak ke tong sampah yang tidak jauh dari posisi mereka.


"Arini udah siuman" Lirih Romi lemas.


"Ya bagus dong! Terus? "


"Gua mau nyerah"


"Nyerah? Bego kalau lu nyerah! 6 bulan lu nunggu dia. Buang-buang waktu, tenaga, tabungan.. lalu setelah siuman lu nyerah gitu aja? Gila! " Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terus gua bisa apa? Arini tetap keukeuh mau diperistri Haris. Lagian gua punya apa? Benar kata bu Indah, gua ga pantas untuk anaknya! " Romi menunduk. Ternyata singgungan bu Indah tentang harta masih membekas dihati dan menggores harga dirinya. Ridwan terdiam, ia tidak tau harus menyarankan apa.


"Gua juga ga sengaja dengar obrolan bu Indah dengan seseorang di telpon, gua ga tau mengobrol dengan siapa. Yang jelas Haris lagi mencari calon madu untuk Hana. Haris harus segera punya keturunan untuk memenuhi wasiat dari kakeknya" Lanjut Romi lagi.


"Ha? Ngaco! kabar burung! Fitnah! Ga mungkin Haris begitu. Gua tau persis Haris gimana. Walau dia ga tegaan, tapi Haris itu setia. Ntah dengan teman atau istrinya. Jadi ga mungkin! " Ridwan tertawa konyol. Romi menghela nafasnya.


"Haris memang setia. Gue juga tau itu. Andai pembicaraan yang gua dengar itu benar, apa ga mungkin Haris ga tega dan bakal turutin keinginan orang tua nya? Dulu, Haris meninggal kan Arini calon istrinya begitu saja ia bisa, apalagi sekarang? Ini bahkan lebih mudah, Ga ninggalin Hana, hanya menambah satu lagi di sebelah nya! " Ucap Romi tajam. Ia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini.


"Rom, Romi... Dengar gue! Haris ga sepicik itu. Ini kasus dan ceritanya berbeda. Lagian, terserah Haris mau nikah lagi atau ga, itu bukan ranah kita untuk ikut campur. Kalau pun Haris nikah lagi, belum tentu juga Arini yang bakal diperistri. Lagian Haris pasti mikirin perasaan lu juga! " Ridwan mencoba mengambil jalan tengah. Romi mengacak kasar rambutnya.


***

__ADS_1


Pagi yang cerah, waktu matahari sepenggalah naik. Haris memarkirkan mobilnya di halaman rumah haji Zakaria. Ia sudah berjanji untuk menemani Hana menghadap hajjah Aisyah.


Mereka bersama-sama sudah menyelesaikan shalat sunah dhuha dan tadarus surat al Waqi'ah di rumah. Hana menambah shalat sunnah hajat dan berdoa agar Allah berkenan memberikan belas Kasih-Nya agar mempercayakan seorang anak kepada mereka.


Kini Haris mengamit tangan Hana, dibawanya untuk masuk ke dalam rumah. Di aula tengah tampak Ustadz Yahya, anak pertama dari Haji Zakaria dan Hajjah Asiyah yang tengah duduk akur dengan kedua istrinya tengah menikmati teh dan cemilan sambil memberikan wejangan.


Mungkin begitulah gambaran keadaanku kalau Haris menikah lagi. Batin Hana. Entah mengapa ia merasa kesulitan menghembuskan nafas. Istri pertama ustadz Yahya sangat istimewa dan benar-benar shaliha. Apa aku akan mampu seperti beliau. Batin Hana lagi.


"Mas, apa kita tidak menyapa ustadz Yahya dan istri-istri beliau terlebih dahulu? " Bisik Hana.


"Nanti saja pas mau pulang. Seperti nya ustadz Yahya tengah memberikan materi penting untuk para istri" Ucap Haris, mereka terus saja berjalan hingga sampai ke ruangan santai Haji dan Hajjah Zakaria.


"Masya Allah... Masya Allah... Ahlan wa sahlan ananda sekalian..." Haji Zakaria begitu sumringah melihat kedatangan Haris dan Hana. Suara seraknya memenuhi ruangan. Haris memberikan salam takzim kepada ayah angkat nya itu, sedang Hajjah Aisyah, memberikan Hana pelukan.


"Bagaimana kabar Abah dan Ummi? " Tanya Haris setelah mereka dipersilahkan mengambil tempat.


"Alhamdulillah kami baik nak, kamu off hari ini? tidak ada jadwal masuk kantor? " Tanya Abah sambil membenarkan letak kacamatanya.


"Iya bah, Haris off hari ini. Alhamdulillah bisa mengajak Hana untuk bisa berkunjung bersama ke sini " Jawab Haris diplomatis. Haji Zakaria menganggukkan kepalanya.


"Silakan diminum nak! Jujur saja bah, ummi yang mengundang Hana ke sini" Ucap Hajjah Aisyah. Haji Zakaria mengerutkan keningnya. Sang istri tidak memberitahu kan perkara ini sebelum nya.


Tiba-tiba salah satu khadimah (asisten rumah tangga) masuk ke dalam ruangan membawa sebaki ramuan herbal.


"Ini untuk nak Hana. Herbal kiriman dari Yaman" Ummi mengisyaratkan kepada sang khadimah untuk meletakkan baki tersebut di hadapan Hana. Haris dan Hana spontan saling memandang. Setelah khadimah berlalu, Hajjah Aisyah melanjutkan kalimatnya,


"Herbal ini kamu seduh lalu di minum pagi juga malam sebelum tidur, semoga barakah dan mendatangkan kebajikan (anak) untuk kalian"


"Ummi akan memberikan Hana tempo tiga bulan, insya Allah ramuan ini kuat khasiatnya. Apalagi nak Hana sudah pernah hamil" Jelas Hajjah Aisyah secara terang-terangan tanpa ada sedikitpun kecanggungan. Haris hanya diam mendengarkan, sedang Hana menunduk dalam-dalam.


"Jika dalam waktu tiga bulan nak Hana belum juga hamil, Ummi dan keluarga besar kita sudah mempersiapkan calon untuk istri kedua untuk nak Haris"


Deg Deg. Jantung Hana seperti mau copot saja rasanya.


"Ini calon istri kedua mu" Hajjah Aisyah menunjukkan foto seorang wanita ke hadapan Haris. Hana sudah akan menitikkan airmata nya.


"Mi... mi... " Haji Zakaria memberikan pengertian pada istrinya untuk berhenti bicara.


Tak Ayal, Serta merta Haris bangkit... wajahnya memerah dan matanya menyala. Ia menatap Hajjah Aisyah lekat-lekat, Bagai benda yang telah disiram minyak tanah, luapan api dalam tubuhnya seperti siap untuk membakar apa saja yang ada di hadapannya.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤

__ADS_1


***


__ADS_2