
Arini tengah menikmati buah-buahan yang dibawa oleh Haris saat ibunya melangkah masuk ke dalam ruangan
tempatnya di rawat inap.
“Dimana mas Haris, Mi?” Arini menatap pintu berharap Haris juga ikut masuk bersamaan dengan Langkah kaki ibunya. Namun yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul.
“Sepertinya Haris sudah pulang, Nak?” Jawab bu Indah santai.
“Ha? Kenapa sudah pulang, mi? Arini bahkan belum sempat membicarakan apapun pada mas Haris” Arini kembali
bersedih. Sia-sia rasanya ia berdandan jika Haris memilih pergi secepat itu.
“Sudahlah nak, kita harus mengorbankan yang sedikit demi tujuan yang besar sayang!” bu Indah mengusap
kepala Arini penuh dengan kasih sayang.
“Bagaimana maksud Ummi?”
“Ummi memberikan tiga pilihan yang harus Haris pilih”
Bu Indah pun tanpa segan menceritakan apa yang tadi ia dan Haris bicarakan dengan serius setelah
sebelumnya memastikan pintu sudah tertutup rapat dengan baik. Jika-jika saja Haris kembali walau rasanya kecil kemungkinan pemuda itu akan kembali. Bu Indah sudah memperkirakan semua ini dengan baik. Arini pun mendengarkan cerita ibunya dengan saksama.
“Mi, bagaimana jika mas Haris ternyata memilih pilihan yang ketiga?” Tanpa sadar Arini menggigit-gigit
kukunya. Ia sangat takut jika pengorbanan kecil yang ibunya katakan untuk sesuatu yang besar malah menjadi boomerang tersendiri untuknya.
“Kamu tenang dulu dong sayang, kenapa anak Ummi jadi panik begini. Ummi sudah memberikan umpan terbaik,
sekarang tinggal kamu yang bergerak untuk menyelesaikan penyelesaian yang kamu bisa. Sebagai seorang intelek, sudah seharusnya kamu tau apa yang harus kamu lakukan nak!” Ummi menatap Arini dengan senyum meyakinkannya.
Arini berpikir keras, ia memikirkan usaha apa yang harus ia lakukan dalam seminggu ini agar mimpinya
memiliki Haris terwujud. Ia pun teringat pada Hanum dan Lisa. Ya, ia harus menghubungi mereka berdua untuk menanyakan solusi.
***
Haris pulang dengan wajah lesunya. Rencana mau mengerjakan pekerjaan yang tertunda batal sudah. Ia melihat Hana tengah menikmati makan siang dengan lahap tanpa menghiraukan kehadirannya. Huft, jam berapa ini mengapa telat sekali istrinya makan, sedang jam sekarang sudah menunjukkan waktu yang mendekati ‘ashr.
“Eheeem” Haris sengaja berdehem untuk menyadarkan Hana akan keberadaannya. Ia baru sadar ternyata ia sendiri juga sama sekali belum makan apapun. Cacing-cacing diperutnya serasa diabaikan haknya untuk juga menikmati makan siang.
“Eh Mas, Mas sudah pulang? Ayo kesini ikutan makan” Hana mencoba seramah mungkin pada Haris. Laki-laki itupun menghampiri Hana.
“Kamu kenapa makan jam segini?”
__ADS_1
“Iya, kelupaan mas, tadi baru saja aku gofood-kan. Mas sudah makan?”
Haris bingung mau menjawab apa. Jika ia mengatakan sudah makan, itu artinya ia berbohong, namun jika ia
mengatakan belum makan, itu artinya ia mencontohkan hal yang tidak baik pada Hana.
“Mas, kenapa bengong. Ayo makan. Aku pesan banyak nih!” Ucap Hana kemudian.
“Kamu makan saja. Makan yang banyak. Aku mau mandi dulu, sudah hampir ‘Ashr”
Haris berlalu masuk kekamarnya. Di dalam kamar ia membuka laci-laci yang tersedia disana. Berharap masih ada
sisa snack atau roti yang masih bisa dimakannya. Alhamdulillah ketemu. Roti sobek yang semalam ia makan masih tersisa sebagian. Ia pun mengecek tanggal kadaluarsanya. Hmh, Masih aman untuk dimakan. Tanpa segan ia pun segera menikmati rotinya demi melenyapkan sedkit rasa lapar yang dirasa.
Hana baru saja selesai mandi dan masih memakai pakaian handuknya. Ia enggan membuka lemari untuk mengambil pakaian. Ia malah mondar mandir berjalan sendirian dikamarnya. Ia tengah memikirkan cara untuk bisa bertemu Gibran. Ia harus mendapat izin dari sang suami. Tapi bagaimana caranya, haruskah ia menceritakan kisah masa lalunya pada Haris? Maukah Haris mendengarkannya? Huft terlalu panjang dan sangat memakan waktu. Ayolah Hana, pikirkan cara yang lebih efektif. Maksimal hari esok kamu sudah harus bertemu Gibran sebab lusa laki-laki itu sudah harus berangkat ke Maroko.
Pusing. Hana belum menemukan ide brilian, sedang suara adzan ‘ashr sudah memanggil dari arah mesjid terdekat.
Pasti Haris sudah berangkat ke mesjid. Hana pun membuka lemarinya untuk mengambil pakaian ganti dan bersiap shalat, namun suatu benda membuatnya terpaku untuk beberapa saat. Sepertinya ia sudah menemukan ide yang bisa membawa nya untuk menemui Gibran. Hana tersenyum. Semoga saja Haris mengizinkannya.
***
Selesai shalat ‘Ashr Hana menemui Haris yang tengah menikmati kopinya di teras belakang rumah. Entah apa yang
“Hana!” haris malah memanggilnya. Terpaksa Hana berbalik.
“Kenapa melihatku kamu malah berbalik arah?” Tanya Haris dengan tanpa melihat Hana.
“Hmh, akuu aku mau ke kamar kecil dulu, mas!”
“Duduklah di sini!” Haris menepuk-nepuk kursi kosong disebelahnya. Hana mau tidak mau mengikuti instruksi Haris.
“Mas, kalau mas memang mau meminum kopi, kenapa tidak menyuruhku untuk membuatnya?” Tanya Hana. Ia merasa tidak enak sebab Haris melayani dirinya sendiri yang mana seharusnya sudah menjadi tugasnya.
“Tidak apa-apa, kalau cuma kopi saja tidak perlu kamu repot-repot membuatnya”
“Tapi aku merasa tidak enak mas, sudah seharusnya menjadi tugasku sebagai seorang istri membuatkan mas kopi”
Sanggah Hana.
“Kenapa hanya kopi yang kamu pikirkan sebagai bagian dari tugas seorang istri. Sedang tugas umum dan pokokmu
saja tidak kamu pikir dan lakukan!” Sarkas Haris dengan melihat Hana. Hana gagal mencerna maksud dari suaminya.
“Maksud mas bagaimana?”
__ADS_1
“Sudah, lupakan sajalah” Ucap Haris. Hana mendesah menyetujui. Ia tidak ingin berujung ribut karena masalah sepele, sebab ia pehatikan akhir-akhr ini suaminya berada dalam mood yang tidak baik.
“Mas…”
“Hmh…”
“Mas, aku minta izin bertemu mas Gibran ya. Please. Sebentar saja!” Hana kembali meminta izin pada Haris walau
harapan untuk diizinkan sangatlah tipis.
Haris terkejut dengan permintaan Hana. Gadis ini masih saja keras kepala.
“Kenapa kamu sangat ingin bertemu dengan laki-laki itu. Kamu sudah punya suami, Hana!”
“Mas, please… mas Gibran sudah mas balik ke Maroko. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir untuk bertemu dengan beliau. Aku hanya menemui beliau sebentar saja. Insya Allah tidak akan melanggar syari’ah”
“Hah, “beliau”??? Kamu begitu menghormati laki-laki itu Hana!!” Haris tidak habis pikir bagaimana pola pikir
istri kepalanya ini. Hana pun diam.
“Baiklah, katakan apa keperluanmu menemui dia?” Haris ingin sedikit melunak.
“Aku ingin mengembalikan pemberian yang tempo hari mas Gibran berikan, mas” Haris mngkerutkan keningnya. Mungkin pemberian yang dimaksud Hana adalah yang sempat ia lihat beberapa waktu lalu. Haris berfikir sejenak.
“Sebentar saja, mas pleaseeee!” Hana kembali memohon.
“Selain itu, ada hal penting apa lagi?” Haris masih mengintrogasi Hana. Ditanyai pertanyaan seperti ini, terang saja
Hana bingung harus menjawab apa.
“Baiklah. Aku mengizinkanmu menemui laki-laki itu, tapi ingat! Hanya 15 menit. Tidak lebih dari itu. Aku yang
mengantar dan aku akan menunggumu. Kamu berada dalam pantauanku”
Huft. Lagi-lagi Hana harus menghela nafasnya. Baiklah. Yang penting mendapat izin. Daripada suaminya berubah
pikiran.
Ya Rabb, dimana letak keadilan itu? Hana bertanya-tanya didalam hatinya. Lagi-lagi ia harus mengalah.
***
Teman-Teman, Terima Kasih Sudah Membaca Karya Alana. Mohon terus dukungannya dengan LIKE, KOMEN, VOTE juga berikan HADIAH agar Alana terus semangat update. Terima kasih banyak KHAIRAL JAZA'
...Oiya, baca juga karya baruku "dalam dekapan rindu ya" Terima kasih ...
__ADS_1