
I'll never know what the future brings
But I know you're here with me now
We'll make it through
And I hope you are the one I share my life with
I don't want to run away but I can't take it, I don't understand
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
If I don't need you then why am I crying on my bed?
If I don't need you then why does your name resound in my head?
If you're not for me then why does this distance maim my life?
If you're not for me then why do I dream of you as my wife?
I don't know why you're so far away
But I know that this much is true
We'll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I'm prayin' you're the one I build my home with
I hope I love you all my life
***
Perlahan Haris membuka pintu kamar Hana, Ia memandangi tubuh istrinya yang telah meringkuk di bawah selimut. Hana menutup seluruh tubuhnya, hanya sedikit dari rambutnya yang terlihat menyembul di sana.
Ada perasaan menyesal yang tidak bisa ia lukiskan atas sikapnya hari ini, ia menyadari kesalahannya namun entah mengapa ia tidak bisa untuk tidak marah.
Perlahan ia membuka selimut yang membaluti tubuh istrinya itu lalu ikut merebahkan diri di sana dan mengecup pelan puncak kepala Hana dengan penuh perasaan. Ia melingkarkan tangannya ke tubuh langsing itu lalu mengeratkan pelukannya di sana.
Hana yang sebenarnya sedari tadi belum tidur spontan menepis nya.
"Ha.. Hana, kamu belum tidur?" Tanya Haris, nada suaranya kini sudah lebih pelan dan teratur namun Hana diam saja. Wanita ini menahan tangisnya.
Haris kembali mencoba memeluk istrinya dan memgusap-usap lengannya pelan. Ia berniat meminta maaf. Namun Lagi-lagi Hana menepis nya.
"Hana... Aku ingin mint...."
Seketika Hana bangkit lalu duduk,
"Apa sekarang mas menginginkan nya?? " Tanya Hana dengan air mata berhamburan.
"Apa sekarang mas membutuhkan aku lalu besok pagi kembali membenciku??"
"Lakukanlah mas!! Lakukanlah sesuka hati mu!! " Tangis Hana pecah. Dengan cepat Ia mulai membuka kancing-kancing piyamanya.
Haris terhenyak, untuk sesaat ia mematung, Pemuda ini terlalu terkejut dengan reaksi tiba-tiba Hana. Kancing-kancing piyama sudah terbuka setengahnya, air mata Hana terus saja berhamburan. Setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita ini terasa begitu memilukan. Haris berkaca-kaca.
"Sayang... stop sayang... ku mohon..." Pinta Haris memegang tangan Hana yang semakin brutal melepas kancing bajunya hingga kancing tersebut terlepas dari benangnya.
"Lepaskan mas!! Bukankah sekarang mas menginginkan aku?! " Ucap Hana lagi, tangan yang dipegang oleh Haris terlepas.
Hana kembali membuka pakaiannya yang memang sudah terbuka. Haris langsung memeluk Hana. Ia mendekapnya.
"Lepaskan mas... Lepaskan... Hiks hiks"
"Jangan seperti ini, jangan lakukan itu... ku mohon... " Pinta Haris lagi lirih.
Tangisan Hana kembali pecah dalam pelukan Haris. Untuk beberapa saat mereka berada di posisi tersebut. Berkali-kali Haris mengecup puncak kepala Hana. Setelah istrinya agak tenang, Haris merenggangkan pelukannya.
Haris mengangkat wajah Hana lalu menghapus air mata yang masih memupuk di kelopak matanya.
"Maafkan aku" Lirih Haris. Hana memalingkan wajahnya.
"Aku tau kamu marah, aku tau hatimu sakit" Ucap Haris.
"Kalau tau, kenapa masih melakukannya? kenapa mas bersikap begitu? Kenapa?? Coba katakan apa kesalahan ku? Hiks" Tanya Hana sarkas, air dari hidungnya mengalir, ia hendak mengambil tisu di nakas, namun gerakan Haris lebih cepat. Haris mengambil tisu dan mengelap air tersebut.
"Ih... jo... rok...hiks! " Celetuk Hana, ia masih saja sesugukan.
"Baiklah, kemarin Aku memang salah. Aku bersalah. Tidak seharusnya aku bersikap demikian. Tapi, sungguh aku tidak bisa untuk tidak marah. Aku hanya manusia biasa...Hana. Dan... Seumur hidup aku harus belajar untuk memperbaiki sikapku...
"Tapi, Katakanlah... pesan apa yang Gibran kirimkan ke handphone mu ketika kita masih di rumah sakit? " Tanya Haris serius. Pertanyaan ini membuat Hana berhasil mendongakkan kepala nya.
"Pe... pesan? "
"Iya, coba mana sini handphone mu... " Pinta Haris dengan mengulurkan telapak tangannya meminta handphone Hana.
"I... Itu... " Hana gelagapan.
__ADS_1
"Ya, kemarikan handphone mu. Apa aku tidak boleh melihat handphone istriku sendiri? " Pinta Haris lagi sambil perlahan mengancingkan pakaian Hana yang terbuka sebagian dengan sedikit memejamkan matanya.
Sungguh jika terus terusan terlihat di hadapannya, ia takut tak bisa mengontrol dirinya dan langsung menyeret Hana untuk memenuhi hasratnya.
Hana mengambil handphone di meja nakas dan perlahan menyerahkannya pada Haris dengan menunduk. Di luar dugaannya, ternyata suaminya itu mengetahui bahwa Gibran telah melayangkan pesan padanya, tapi darimana mas Haris bisa mengetahui nya? Pikir Hana.
Hana, saat berada di hadapanku, bisakah kamu memperlakukan Haris dengan bersikap biasa saja? Tidak cukup kah luka yang selama ini telah kamu toreh? jangan memukul paku lebih dalam lagi... Sungguh, aku belum mampu melupakanmu. Setahun ini Aku sudah pergi sejauh mungkin, sejauh yang aku bisa. Tapi rasanya Aku sudah hampir gila. Bantu aku melupakanmu atau Aku tidak punya pilihan dan akan menunggumu seumur hidupku. Gibran.
Haris tersenyum masam membaca pesan yang Gibran layangkan.
"Jadi ini sebabnya kemarin kalian saling lirik melirik? Bahkan berani melakukan nya di hadapanku? " Tanya Haris dengan menaikkan alisnya.
"A.. Aku tidak tau mengapa mas Gibran mengirimkan pesan begitu" Hana terbata-bata.
"Benarkah? Bukankah kamu malah senang jika ada seseorang yang benar-benar mengharapkanmu?" Haris kembali tersenyum masam. Hana menggeleng cepat.
"Mana mungkin begitu... " Sahut Hana mendekati Haris. Jujur saja, ia sendiri merasa terkejut akan pesan yang Gibran layangkan tiba-tiba ketika mereka berada di rumah sakit.
"Lalu mengapa kalian saling bertatap-tatapan? Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali! " Todong Haris lagi. Hana terdiam.
"Sayang.... ku mohon... aku bisa menahan rasa sakit di fisik ku namun aku tidak bisa menahan perasaan cemburuku walau hanya sesaat!" Ucap Haris, ia mengambil Hana lalu membawa nya ke pelukan.
"Aku sama sekali tidak bermaksud menatap mas Gibran, hal itu terjadi spontan dan aku langsung memalingkan wajahku. Aku tidak berbohong, aku benar-benar tidak berbohong" Jujur Hana. Ia membebel di dalam pelukan Haris.
"Hhhhh... Aku tau.... " Sahut Haris.
"Kalau begitu kenapa masih marah? " Hana kembali mendongakkan kepalanya.
"Ya... Tetap saja kalian saling lirik-lirikkan! Aku tetap tidak bisa menerima nya"
Sekarang Haris merasa bahwa Gibran benar-benar sebuah ancaman dan Ia tidak ingin kehilangan Hana.
"Aku jadi khawatir, kalau aku mati muda nanti kamu akan berakhir di pelukan cowok songong menyebalkan itu! " Sarkas Haris.
"Atau jangan jangan sebelum aku mati, kamu akan direbut oleh nya! " Ucap Haris lagi dengan memicing kan matanya.
Mata Hana kembali berkaca-kaca, lalu air mata yang sudah memupuk di kelopak tersebut mengalir sempurna di pipinya.
"Hey, Aku yang lagi mencemaskan nasibku, kenapa malah kamu yang menangis?"
"Mas jangan bahas kematian, Aku tidak sanggup membayangkan" Ucap Hana mengusap air matanya.
"Kalau kamu dan Gibran masih terus berhubungan, aku benar-benar akan mati muda! " Ucap Haris penuh penekanan. Tangis Hana semakin keras.
"Hhhhhh sudah sudah... jangan menangis lagi, aku hanya begitu takut kehilangan mu" Haris mengeratkan pelukannya. Ia mengangkat wajah Hana, memberikan banyak kecupan di sana.
"Bukankah cinta kita sedunia sesurga, hm? Jangan menangis lagi"
"Jadi, jangan menangis lagi karena aku tidak ingin melihat nya.... dan... hmh... satu lagi,... " Haris menjeda kalimat nya.
"Satu lagi? Apa itu?"
"Itu... Hmh, Jangan menuduh ku... "
"Menuduh? Menuduh apa? " Hana bingung.
"Kamu membuka kancing bajumu dengan gerakan yang begitu bar-bar..." Keluh Haris. Mendengar nya wajah Hana memerah. Mengingat hal tadi itu, ia tidak tau dimana harus meletakkan wajahnya.
"A.. Aku... " Hana kembali terbata.
"Aku tidak seberengsek itu Hana... Aku bukan laki-laki brengsek yang menginginkan mu di malam hari lalu membenci mu di siang hari" Protes Haris, tampak nya ia tidak menerima perkataan Hana di awal tadi.
"Tapii.... "
"Tapi aku suka keberanianmu... Coba reka ulang dan tunjukkan! Aku ingin melihatnya lagi" Goda Haris pada akhirnya. Ia langsung memasang senyum usil.
Bluuuussssss
Wajah Hana semakin memerah.
"Sudah ah, aku ngantuk dan ingin tidur! " Hana mengambil bantal dan merebahkan tubuh nya di sana.
"Tunggu... Hana, Tunggu duluu... " Haris mengguncang guncang kan pelan tubuh Hana.
"Hana... Ayolah... tadi itu Kamu benar-benar membuatku melupakan dunia" goda Haris lagi dengan tersenyum, ia tau Hana belum tertidur.
"Haha, maasss... gelii... Hahaa... geli mas, ampuuun" Hana menggeliat hebat akibat ulah Haris.
***
Hari sudah menunjukkan pada waktu matahari sepenggalah naik. Haris menghabiskan waktu nya di kantor. Ia masih menge-cek berbagai laporan dan kegiatan.
Waktu yang habis berlalu belakangan ini membuat nya harus lebih banyak memberikan perhatian ekstra pada kerjaan kantor nya.
Hana juga sudah kembali masuk kuliah. Istrinya itu harus mengulang banyak mata kuliah karena berbagai permasalahan hidup yang telah ia lalui.
Tok tok tok
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerja Haris.
"Permisi pak! " Ternyata asisten pribadi nya memasuki ruangan.
"Yang bapak tugaskan tempo hari sudah saya persiapkan 95 persen. Tinggal yang ini. Silakan bapak melihat lihatnya terlebih dahulu! " Roni sang asisten memberikan kertas-kertas yang ada di tangan pada atasannya.
__ADS_1
Haris berpikir sejenak,
"Apa wanita akan menyukai ini? "
"Tentu saja, Pak! Saya pastikan nona Hana akan menyukai nya"
"Baiklah, kamu ambil saja yang terbaik dan yang paling berkualitas! " Titah Haris.
"Baik Pak! "
"Hmh, sepertinya yang ini yang akan cocok untuk Hana! " Tunjuk Haris.
"Wah, baiklah... akan saya keep yang ini! " ucap Roni, Haris masih membolak balikkan kertas-kertas yang ada di tangannya.
"Oh iya, jam tiga ini Saya akan keluar menjemput Hana, tolong nanti kamu copy kan proposal milik Sentosa Project dan kirim kan ke email saya! " Titah Haris lagi.
"Baik Pak! "
"O iya, hari ini ada pengajuan proyek dari bu Inggrid, dan Usulan proyek ini sudah naik ke Direktur Utama dan Dewan Direksi..."
"Baiklah, nanti akan saya cek! "
"Proyek ini atas usulan PT. Guna Dharma Sakinah miliknya haji Zakaria"
"Apa? Punya Abah? "
"Iya benar Pak... " Sahut Roni.
Hmh Tumben sekali Abah mengajukan usulan proyek, dan malah mengusulkan milik PT orang lain. Pikir Haris Aneh.
"Baiklah, kamu boleh keluar"
"Kalau begitu saya Permisi... "
Haris mengerutkan keningnya dan langsung mengambil handphone lalu menghubungi haji Zakaria,
"Assalamu'alaikum bah"
"Waalaikum salam nak"
"Maaf Haris mengganggu waktu abah"
"Ah tidak, ada kabar apa? Apa yang bisa abah bantu? " sahut Haji Zakaria hangat.
"Tidak bah, Haris hanya ingin mengkonfirmasi kan saja, apa benar PT. Guna Dharma Sakinah mengajukan usulan proyek milik bu Inggrid ke kantor Haris? "
"Benar nak, ini semua atas usulan Ummi mu"
"Mengapa bisa begitu bah? "
"Ummi sebagai pemegang saham tertinggi telah mempertimbangkan nya dengan matang"
"Oh begitu.. Baiklah.. Haris hanya ingin menanyakan itu saja bah. Semoga Abah dan Ummi sehat selalu"
"Amin ya Rabbal 'Alamiin"
Percakapan Haji Zakaria dan Haris berakhir. Haris hendak melanjutkan pekerjaan nya kembali. Namun, satu panggilan kembali menghiasi layar ponsel nya.
"Assalamu'alaikum Ummi... "
"Waalaikum salam nak, maaf mengganggu waktu kerja mu" Jawab Hajjah Aisyah dengan suara khasnya.
"Ada apa mi?
" Sore ini insya Allah Ummi dan Abah akan mengunjungi mu dan Hana"
"Masya Allah, Terima kasih Ummi. Tapi sebaiknya biar Haris dan Hana saja yang ke sana" Ucap Haris lagi.
"Tidak apa-apa nak. Nanti jika kalian yang ke sini, Hana akan kecapean dan jika sudah begitu, istrimu itu akan lebih sulit untuk hamil" Ucap hajjah Aisyah.
Perkataan Ummi nya ini benar-benar membuat Haris merasa tidak nyaman mendengar nya.
"Insya Allah Hana akan segera hamil, Mi. Mohon Ummi Do'akan saja ya"
"Sudah pasti Ummi Do'akan. Tapi Kamu harus berusaha lebih Nak! Sudah seharusnya kalian segera ke rumah sakit guna memeriksa kan kondisi kesehatan kalian" Saran hajjah Aisyah.
"Haris memang telah memikirkannya Mi"
"Bagus jika begitu. Ingat! kamu sudah 27 tahun, jangan membuang waktu lebih lama lagi"
"Tapi Hana juga masih terlalu muda mi, kami masih banyak waktu untuk merencanakannya" Sahut Haris jengah. Ini bukan kali pertama hajjah Aisyah memperingatkannya perkara anak.
"Inilah mengapa Ummi keberatan waktu Abah mengusulkan menikah kan kamu dengan gadis yang begitu muda walau kata Abah, gadis pilihannya adalah gadis shalihah yang jelas bibit bebet bobotnya"
"Hana itu jodoh pilihan terbaik untuk Haris mi, Haris sangat bersyukur dulu Abah menjodohkan Haris dengan Hana. Masalah Anak, Jangan terlalu Ummi pikirkan. Nanti akan mengganggu kesehatan Ummi. insya Allah, Allah akan segera mengamanahkannya pada kami"
"Terserah kamu saja nak, yang penting dengarkan nasehat-nasehat Ummi, Ummi yang sudah tua ini hanya ingin kebaikan untuk mu"
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
***
__ADS_1