
Tes Tes Tes
Air mata haji Zakaria menetes. Beberapa bulirnya jatuh membasahi jubah putih yang beliau kenakan. Beberapa lainnya berhasil beliau usap. Mengalirnya airmata ini bukan tanpa sebab. Pengakuan mengejutkan yang dilontarkan oleh istri yang begitu beliau cintai terasa menggores. Rasa sakitnya menyebabkan airmata tersebut keluar begitu saja.
Hajjah Aisyah terduduk lesu. Perasaan beliau tidak karuan. Menunduk adalah pose pilihan yang paling tepat untuk saat ini. Laksana kasus di dalam sebuah persidangan, Hajjah Aisyah tinggal menunggu ketukan palu hakim atas nasibnya ke depan. Dan Hakim tersebut adalah Haji Zakaria, suaminya sendiri.
Haji Zakaria bangkit. Rasa sesak yang tidak tertahankan membuat beliau masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Berharap rasa sakit tersebut gugur bersamaan dengan guyuran air yang mengalir. Kecewa adalah satu kata yang mewakili perasaan beliau untuk saat ini.
Hajjah Aisyah masih terduduk di tempat semula. Sesekali beliau melirikkan pandangan ke arah pintu kamar mandi. Harap-harap cemas. Beliau masih terus mempelintirkan ujung kerudung persegi yang dikenakan.
Driiiittt
Suara seretan pintu terdengar. Haji Zakaria keluar dengan baju kaos dan celana kain hitam setelah menanggalkan pakaian jubah agar tidak basah terkena cipratan air.
Sebuah handuk kecil disangkutkan ke leher beliau. Walau sudah berusia 57 tahun, namun tubuh kekar itu masih terlihat segar. Lebih dari dua dekade terakhir setelah menyadari rasa cintanya, hajjah Aisyah selalu saja terkagum-kagum pada sang suami baik secara fisik maupun akhlak.
Haji Zakaria membentangkan sajadah di mihrab yang sengaja dibangun di dalam kamar. Mihrab khusus yang biasa digunakan untuk shalat tahajud atau berdzikir. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, beliau langsung melaksanakan shalat Sunnah dua rakaat.
Beliau berharap Allah berkenan mengulurkan pertolongan-Nya agar bisa berpikir jernih di situasi yang sulit ini. Memang memutuskan sesuatu dalam kondisi marah bukanlah perkara yang baik. Sejenak menenangkan diri di Mihrab semoga bisa menjadi obat.
Hajjah Aisyah berinisiatif mendekat. Beliau duduk di pinggiran sajadah.
"Bah... " Tangan gemetaran namun penuh nyali berhasil mendarat dengan sempurna di lengan kekar itu. Suasana hening sejenak.
Tik Tik Tik
Hanya ada suara jarum jam yang terdengar tiap detiknya. Haji Zakaria menoleh dengan tatapan menghunus. Lalu dengan gerakan cepat beliau menepis tangan yang masih bertengger di atas lengannya dengan sekali tepisan. Tidak ada kelembutan seperti biasa. Tidak ada wajah ramah penuh senyum yang sering beliau tampilkan jika sedang berduaan.
"Aku masih ingin mengagungkan nama Allah di sini. Menjauhlah Aisyah! Jiwaku masih bergemuruh. Dadaku masih sesak. Jangan sampai aku berbuat kasar padamu! Keluar dari kamar ini sampai aku bisa membuat keputusan! "
***
Masih di Taman Humaira.
“Mas, ku mohon jangan hukum ibuku…” Terlihat Arini menangkupkan kedua tangannya memelas.
“Apa kau mengetahui sesuatu?” Haris menaikkan sebelah alisnya ke atas. Permintaan Arini terasa aneh sekaligus menarik. Wanita itu mengangguk pelan. Ia merogoh tas selempang yang dikenakan lalu mengeluarkan sesuatu dari sana.
“Apa itu?”
“Aku akan memberitahukan kebenaran. Tapi ada syaratnya”
“Apa syaratnya?”
“Peluk aku. Aku merindukan pelukan mu!” Arini merentangkan tangannya. Romi yang melihat dari kejauhan langsung bangkit.
“Cih. Aku tidak pernah memelukmu!” Haris menggeleng.
“Tapi di bandara…”
“Kau yang memeluk! Bukan aku!!” Sambar Haris cepat.
__ADS_1
“Lihatlah ke dua pasang mata yang mengawasi kita di Gazebo sana! Apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaan mereka?!”
Romi berjalan bergerak mendekati mereka.
“Ya. Hhhh maaf. Aku hanya bercanda”
“Ayolah Arini… Apa yang kamu inginkan? Jangan bertele-tele!” Haris mengusap rambutnya ke belakang. Tak sabar.
Romi dengan kuat menarik tangan Arini.
“Arini! Apa yang kau lakukan? Apa kau meminta Haris untuk memelukmu?? Jangan ganggu suami orang! Sekarang aku suamimu!” Bentak Romi keras.
Sreeeettt
Arini menghempas kasar tangan yang menariknya. Suasana jadi tidak kondusif. Perlahan Hana juga ikut mendekat. Ia berjalan memegang perutnya.
“Sayang… Pelan-pelan…” Haris langsung menghampiri Hana dengan sigap. Ia memegang pundak istrinya untuk berjalan bersama.
“Kamu lihat itu? Sadarlah Arini!! Sadarlah istriku sayang…” Romi menautkan tangannya pada genggaman Arini. Wanita yang baru dinikahinya itu melunak.
“A.. Aku… Aku hanya ingin memberikan surat ini. Surat balasan dari almarhum abah mas Haris untuk ummi-ku. Aku menemukannya sebelum Aku dan mas Romi menikah” Ucap Arini menyerahkannya pada Haris.
“Dan juga… Ini! Surat tulisan tangan Ummi yang ingin mengancam almarhumah Ummi Fatma namun sepertinya tidak jadi beliau kirimkan karena terbukti surat ini juga ku temukan di rumah!”
Haris mengerutkan kening.
"Awalnya aku tidak ingin menyerahkan surat ini. Namun beberapa waktu lalu aku menemui Lisa. Ia berkata bahwa sebentar lagi akan ada huru hara di kediaman Abah Zakaria. Ia berkata rekaman tentang rencana pembunuhan telah terkirim. Lisa memastikan Ummi Aisyah akan membeberkan bahwa Ummiku lah pembunuhnya" Lirih Arini.
"Dari mana Lisa tau hal itu? " Romi heran. Arini menggeleng.
Haris langsung membuka amplop dan membaca suratnya.
Dari: Suami Fatma Munirah, Hasbi Abdurrahman
Indah, Orang yang ku hormati karena Allah~
Jujur Aku malas berbasa basi~
Aku hanya ingin mengatakan bahwa Aku hanya mencintai Fatma. Itu saja.
Aku harap satu kalimat ini mewakili semua jawaban dari surat panjangmu.
Haris tersentuh. Tulisan tangan abah berpuluh tahun lalu kembali terlihat. Goresan tinta nya sudah memudar. Bayangan setetes air yang jatuh lalu terserap di kertas tampak memperlusuh tampilan. Surat ini berbunyi singkat lagi padat.
Mata Haris mengembun haru. Abah sangat mencintai dan menghormati Ummi. Mungkin ini lah yang menjadi alasan Ummi untuk tidak menikah lagi setelah kepergian abah. Rasa cinta yang terlalu kuat.
"Haris, ada apa? Apa ada petunjuk? " Tanya Romi penasaran.
"Apa Ibumu terlibat? " Tanya Haris menatap Arini sendu.
"Mas, aku tau Ummi seperti apa. Ummi yang membesarkan Aku. Aku yakin Ummi bukanlah orang seperti itu! Ku mohon jangan hukum Ummi... Pasti ada kesalahpahaman di sini! Aku sengaja membeberkan ini semua agar mas tidak terkejut jika-jika abah Zakaria dan Ummi Aisyah akan menemukan rekamannya" Ucap Arini membela bu Indah. Wanita ini belum tau bahwa huru hara yang di maksud baru saja terjadi. Bom waktu itu sudah meledak.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tau kebenaran itu, Rin. Walau sepahit apapun, kebenaran harus terungkap. Tidak peduli orang itu siapa. Bahkan darah daging sendiripun, jika bersalah harus dihukum" Ucap Haris tegas. Hatinya mencelos. Mood nya kembali memburuk. Sebenarnya peristiwa kelam menyakitkan di masa lalu adalah hal yang paling tidak ingin ia cari tau.
Mengetahui fakta yang sebenarnya hanya akan menambah luka yang sudah terlanjur menga-nga. Tapi semakin ke sini, Allah seakan mengantarkan nya pada banyak inayah. Seolah tidak ingin ia pasrah, petunjuk itu terus hadir satu persatu.
***
Mobil yang membawa Arini dan Romi melaju menuju kediaman bu Indah. Arini nekad mengajak sang suami mengunjungi ibunya.
"Kamu tidak khawatir kalau Ummi akan mengusir kita seperti tempo hari? "
"Aku lebih khawatir kalau Ummi di penjara" Jawab Arini.
"Ry... Aku cemburu..." Lirih Romi.
"Aku tidak peduli" Arini mensedekapkan tangan nya ke pinggang. Ia memilih melihat jendela yang ada di sebelah kirinya.
"Dengan meminta Haris memelukmu, Itu sama dengan Kamu menyakiti harga diriku. Walau kamu tidak menyukaiku, setidaknya hargailah aku sebagai suamimu. Mulai malam ini dan seterusnya... Bahkan sampai ku mati... aku akan tidur sambil memelukmu agar kamu tidak kekurangan kasih sayang!" Ucap Romi parau. Jujur saja, laki-laki berjiwa melankolis ini merasa sedih. Arini terhenyak diam. Ia menoleh menatap Romi yang terus mengemudi.
Mobil tiba di perkarangan rumah. Terlihat Aris tengah merokok santai di teras. Asap yang berasal dari rokok elektrik tersebut tampak mengepul-ngepul tebal. Sebentar kemudian pemuda tanggung ini sumringah. Ia langsung berdiri menyambut kakak dan kakak iparnya.
"Apa Ummi ada di rumah? " Tanya Arini setelah mereka saling melepas rindu.
"Tidak. Ummi baru saja pergi. Aris senang Ummi tidak di rumah, Aris tidak ingin mbak dan mas Romi menjadi Bulan-bulanan beliau lagi! "
Arini mengusap puncak kepala Aris penuh rasa sayang. Tinggi tubuh Aris yang melampaui menyebabkan Arini harus sedikit berjinjit.
"Aku mau ke kamar mandi. Kamu temani mas Romi dulu" Titah Arini buru-buru berlalu.
"Ayo kita masuk mas! "
"Tidak apa-apa. Di sini saja...! Bagaiamana kuliah s2 mu? Sudah apply? Ku dengar mau lanjut sekolah Arkeologi ke Leiden ya?"
"Hehe... mohon doa nya mas... Lagi coba coba peruntungan. Semoga rancangan penelitiannya benar-benar bisa tembus. Mas sendiri bagaimana menghadapi keras kepalanya mbak Arini? Pasti tidak mudah ya..." Aris berseloroh.
"Hmh... Sepertinya Arini tidak bisa melupakan masa lalunya" Romi tersenyum masam.
"Hhhhhh... Mbak Arini itu... Coba mas bawa ke tempat Ruqyah! Mbak Arini harus di Ruqyah!"
"Ruqyah? " Romi mengeryitkan keningnya.
"Ya... mana tau dengan di Ruqyah mbak Arini bisa tersadar dari hawa nafsu yang tidak pada tempatnya. Bukankah Ruqyah itu metode penyembuhan yang dibenarkan oleh islam?" Aris kembali bertanya. Sebenarnya pemuda ini tiba-tiba teringat bahwa Ummi nya pernah berkata akan membuat mata hati Arini akan terus condong pada cinta pertamanya. Ntah benar-benar dilakukan atau tidak. Wallahu a'lam.
Romi terhenyak. Lalu mengangguk-angguk mengerti.
"Mas... Bagaimana kalau ternyata Ummi benar-benar melakukan hal keji tersebut pada keluarga mas Haris? Aku sangat khawatir" Ucap Arini yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Romi berdiri menghampiri Arini yang tampak tegang. Ia menuntun istrinya untuk duduk.
"Aku akan mencari tau. Semoga semua akan baik-baik saja" Sahut Romi menenangkan.
Aris yang tidak tau menau akan apa yang terjadi hanya bisa melongo.
***
__ADS_1