
Tok Tok Tok
Tok Tok Tok
Tok Tok Tok
Suara gedoran pintu yang begitu keras membuat Haris dan Hana terhenyak. Dua sejoli yang tengah melepas rindu itu merasa terusik. Haris apalagi. Ia berdecak kesal. Hasrat yang sudah mengubun-ubun menguap begitu saja.
"Ck. Huh. Siapa sih ga sopan banget! Merusak suasana!" Umpat Haris. Ia beringsut menjauh dari Hana. Dengan wajah kusut, ia kembali memakai baju kaos yang telah di lempar ke sembarang arah.
"Sabar Mas... " Ucap Hana yang juga memperbaiki kondisi sedikit acak-acakan-nya. Suara ketukan pintu belum juga berhenti. Mereka semakin bar bar.
Tok Tok Tok Tok Tok Tok...
Ning Hanaa... Keluarlah... Kalau tidak kami dobrak pintunya!! Terdengar suara samar dari arah luar.
"Astaghfirullah. Pesantren jenis apa ini! " Haris semakin kesal.
"Apa mas mau melihat keluar? " Tanya Hana mengambil kerudung nya.
"Kamu saja. Aku akan menyusul. Lihat lah kondisi ku! Aku harus menetralisirkan ini semua!" Ucap Haris menahan amarah. Hana mengangguk.
"Sayang.... Jalan nya pelan-pelan" Ucap Haris memberi peringatan.
"Hmh... Sayang... Tunggu sebentar! " Haris berubah pikiran.
Di luar orang-orang sudah ramai berdatangan. Mereka mendapat informasi bahwa Hana memasukkan seorang laki-laki dewasa ke kamar nya. Informasi ini di berikan oleh Nilam kepada Layla hingga sampai ke telinga Hajjah Aisyah. Lalu dihembus-hembuskan hingga sedemikian rupa sampai orang-orang memutuskan untuk menggerebek kamar Hana.
"Bagaimana ini? Ning Hana tidak juga membuka pintunya! " Ucap salah satu pesuruh pesantren bernama Amin.
"Apa kita dobrak saja?! Bagaimana pun Ning Hana sudah keterlaluan! "
"Ya. Dobrak saja! Lagian kita sudah mendapat ijin dari Ustadzah Layla juga Ummi Hajjah! " Lanjut kawanan lainnya.
Para santriwati mendekat namun tetap menjaga jarak. Kericuhan terjadi. Mereka membicarakan Hana terang-terangan. Layla mengintip dari jendela tersenyum puas. Sejujurnya ia merasa terusik akan kehadiran Hana yang semakin hari semakin menempel pada Iqlima. Ia tidak senang Iqlima memiliki teman.
"Nak Layla... Apa kali ini belang nya Hana akan benar-benar ketahuan? " Tanya hajjah Aisyah yang muncul dari arah belakang. Tak bisa dipungkiri, wanita paruh baya yang memang sudah sejak awal menaruh curiga pada sang menantu tampak antusias untuk melihat penggerebekan.
"Insya Allah Mi... Semoga Gus Haris cepat menemukan pengganti Ning Hana! " Layla dan Hajjah Aisyah saling menggenggamkan tangan.
Para pesuruh yang rusuh tersebut siap-siap mendobrak. Mereka memandang satu sama lain dengan saling mengangguk.
Satu... Dua... Ti...
Driiietttt
Tiba-tiba pintu terbuka.
"GG...Gus Ha.... Haris?? " Alangkah terkejutnya mereka karena ternyata yang keluar dari dalam kamar adalah Haris. Laki-laki gagah itu keluar dengan memasang wajah yang sama sekali tidak ramah. Para pesuruh pucat pasi. Mereka mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Masya Allah... Tampan sekali. Celoteh salah satu santriwati mendamba.
Huuuusss... Diam... Tegur temannya yang lain.
"Ada apa ini? Apa begini lingkungan agama mengajarkan kalian?! " Tanya Haris. Mereka diam menunduk.
"Jawaabbbbb!!! " Hardik Haris tak sabar. Ia yang sudah kepalang marah seperti ingin menelan mereka satu persatu.
"Ma.. Maaf Gus... Kami mendapat kabar bahwa Ning Hana... Ning Ha... na membawa laki-laki asing ke dalam kamar" Ucap Mereka berhati-hati.
"Apaaa?!?!" Haris benar-benar terkejut. Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras.
"Berani-beraninya kalian menuduh Ning Hana dengan tuduhan picisan seperti itu! Apa kalian semua mau mendekam dalam penjara hah?! "
"Ma... maaf Gus... Ka.. kami melakukan ini berdasarkan pe.. perintah. Sungguh sebenarnya kami tidak berani menuduh Ning Hana sembarangan..." Sahut salah seorang yang lebih berani dari mereka. Kepalanya tetap menunduk dalam.
"Heemmmm... Ada apa ini?" Tegur seseorang yang tak lain adalah haji Zakaria membuat suasana pagi semakin mencekam.
***
Haris, Haji Zakaria, Ustadz Yahya beserta para istri masing-masing tiba di dalam sebuah ruangan. Bagaimana pun peristiwa yang baru saja terjadi begitu memalukan. Mau di bawa kemana marwah Pesantren Bustanul Jannah apabila berita ini sampah ke masyarakat luas. Apalagi kedudukan Ning Hana begitu terhormat di sini.
Hajjah Aisyah dan Layla saling melirik. Mereka sangat kesal karena telah gagal meringkus Hana. Iqlima yang tidak tau menau hanya bisa mengerutkan kening. Bingung. Ustadz Yahya yang duduk di depannya tidak bisa untuk tidak memandangi wajah ayu sang istri. Apalagi Ustadz Yahya sempat melihat Iqlima yang berjalan sedikit tertatih. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Ada kekhawatiran yang hinggap di benaknya. Juga ada banyak pertanyaan yang melintasi pikiran laki-laki pemilik nama Yahya El Fawwaz Zakaria tersebut.
Menyadari sang suami melirik istri pertamanya, Layla yang berada di samping ustadz Yahya langsung mengambil tangannya. Hal ini tak luput dari penglihatan Iqlima. Wanita tegar ini memilih mengalihkan pandangannya dan menunduk.
"Ada apa ini Mi? " Tanya Haji Zakaria memecah keheningan. Suaranya memenuhi ruangan. Hajjah Aisyah adalah satu-satunya sasaran yang beliau tuju.
Haji Zakaria memerintahkan agar Amin dipersilahkan masuk. Laki-laki ini yang memimpin penggrebekan. Ia menunduk dalam.
"Siapa yang memerintahkan kamu menggerebek kamar Ning Hana?! " Tanya haji Zakaria menaikkan sebelah alisnya. Amin melirik Hajjah Aisyah dan Layla. Mereka balik menatap Amin dengan wajah yang sulit dimengerti. Posisi Amin jadi serba salah.
"Sss... saya...."
"Sssaya... " Mereka semua menunggu jawaban Amin. Hajjah Aisyah cemas.
"Ss.. saya mendapat kabar dari santri bah haji. Sekitar pukul 11 malam seorang laki-laki masuk ke kamar Ning Hana. Suasana gelap. Laki-laki itu basah kuyup. Terbukti dari air yang menetes di sepanjang ruangan" Ucap Amin pada akhirnya.
"Bah, ini tidak sepenuhnya salah mereka. Salah gus Haris sendiri, gus Haris kan seharusnya di Amerika. Kenapa tiba-tiba tanpa pemberitahuan langsung pulang dan malah masuk ke kamar Ning Hana? Wajar dong mereka jadi salah paham" Hajjah Aisyah membela Amin dengan kalimat yang masuk akal. Haji Zakaria mengangguk. Haris menggenggam tangan Hana.
Ustadz Yahya tampak tidak tertarik dengan pembahasan pagi ini. Ia masih terus saja memperhatikan Iqlima. Menyadari di perhatikan intens, Iqlima salah tingkah. Ia memperbaiki letak kerudung nya. Sesekali mengeser posisi duduk. Bahkan sesekali pandangan nya dan pandangan ustadz Yahya bertemu. Tingkah malu-malu Iqlima terlihat semakin menggemaskan.
"Makanya Gus... kamu itu pimpinan nak... Kamu itu contoh teladan... Jangan mengundang kesalahpahaman seperti ini. Semua jadi gaduh akibat ulahmu Nak! Kasihan Nak Hana mendapat tuduhan yang Bukan-bukan. Untung saja belum sempat tergrebek! Coba kalau benar-benar terjadi. Apa jadinya... waduh nduk nduk... " Hajjah Asiyah semakin memojokkan Haris. Beliau terlihat seperti orang suci bersih tanpa noda.
"Hemmm.... " Haji Zakaria berdehem.
"Bah, boleh ananda bicara? " Tanya Haris sopan.
"Silakan nak! "
__ADS_1
"Haris memang bersalah tidak memberitahukan kepulangan Haris terlebih dahulu. Kepulangan mendadak Ini memang di luar prediksi... " Haris tampak menyesal. Roman Hajjah Aisyah puas.
"Tapi.... "
"Apa pantas tanpa ber-tabayyun terlebih dahulu mereka dengan bar-bar nya menggedor kamar Ning Hana?! Bukan gedoran ringan, bukan sekali dua kali, mereka memperlakukan Ning Hana layaknya maling yang ketahuan mencuri padahal mereka belum tau bagaimana kenyataan pastinya. Jujur saja hal ini membuat Haris tersinggung" Ucap Haris yang ingin menegaskan bahwa istrinya adalah wanita terhormat yang tidak pantas diperlakukan demikian.
"Bagaimana kalau seandainya pintu benar-benar berhasil di terobos, lalu Hana dalam keadaan tidak siap? Namanya wanita, tidak 24 jam memakai kerudung dan ornamen lainnya. Apa ini bukan sebuah kezhaliman namanya?! " Haris masih tidak bisa menerima. Ia membantah pembelaan Hajjah Aisyah dengan perkataan yang lebih masuk akal.
"Hemm... Gus Yahya... Bagaimana menurutmu? " Tanya Haji Zakaria mendadak. Ustadz Yahya yang dari tadi asik memperhatikan Iqlima jadi sedikit gelagapan.
"Hmh menurut hemat saya, ya jelas harus kasih hukuman bah! kalau perlu keluarkan mereka semua yang tidak tau sopan santun itu dari pesantren... Kalau perlu lagi.. pecat saja jangan ada tersisa... Gantikan dengan orang-orang yang lebih tabayyun. Lebih humanis dan lebih beradab" Sahut ustadz Yahya lebih menohok lagi tajam. Amin gemetar.
"Andai kata Ning Hana memang bersalah, pesantren ini kan punya tata cara, punya Mahkamah, punya tata krama, ya lapor dulu. Lapor ke para asatidz atau misal lapor ke saya. Bukan asal bertindak. Saya jelas sangat setuju dengan Gus Haris. Ning Hana itu wanita terhormat. Beliau tamu di rumah kita ini. Tidak seharusnya diperlakukan dengan begitu tidak beradab" Ustadz Yahya yang sempat terlena kembali menguasai keadaan.
Setelah berdiskusi panjang lebar. Haji Zakaria sudah memiliki kesimpulan untuk memutuskan. Beliau mengumpulkan semua yang terlibat di tanah lapang.
Haji Zakaria mengucap salam dengan suara menggelegar. Lalu memberi tausyiah singkat. Beliau sangat mengecam tindakan pagi ini. Dan kecewa serta menyayangkan apa yang terjadi. Apalagi sebuah pesantren itu adalah tempat penuh kedamaian. Wadah mencari ilmu dan ridha Allah. Bisa-bisanya terjadi kerusuhan yang tidak berdasar. Apalagi sampai menfitnah Hana. Wanita baik-baik.
Haji Zakaria tidak segan memberikan para perusuh yang terlibat itu hukuman yang setimpal agar mereka mau mengerti, bertabayyun dan tidak sembarangan memutuskan. Akhirnya kasus di tutup.
Hajjah Aisyah dan Ustadzah Layla mendengar putusan dengan penuh kekesalan. Hajjah Aisyah bergerak mengejar sang suami yang menjauh masuk ke dalam ruangan.
"Sayang... Ayo kita istirahat... " Bisik Haris mengamit tangan Hana. Wanita ini mengangguk. Para santriwati yang hadir memandang pasangan serasi di depan mata mereka dengan penuh kekaguman. Sebagian yang lain begitu iri dengan ning Hana. Beberapa malah ingin menjadi istri kedua gus Haris. Mereka menaruh harapan pada laki-laki gentleman itu.
Ustadz Yahya melihat ustadzah Iqlima yang berjalan menjauhinya. Wanita tersebut masuk ke ruang guru.
"Mas...! " Tegur Layla yang lagi-lagi memergoki sang suami melihat Iqlima tak berkedip.
"Ayooo kembali ke rumah!! " Layla menariik suaminya kesal.
***
"Bah... Abah ga bisa putuskan begitu dong bah... Haris juga bersalah... Haris meninggal kan Amerika, padahal masa training belum selesai..." Protes Hajjah Aisyah. Haji Zakaria memilih duduk setelah sebelumnya mengambil kitabnya di rak buku.
"Abah sudah memberikan Haris ijin Mi... Ketika di Amerika Haris meminta ijin abah untuk pulang mendadak! Kalau ada yang mau di salah kan... salah kan abah! " Tukas Haji Zakaria
"Bbah... Kenapa abah memberikan ijin? Lagian Haris itu harusnya minta ijin pada Ummi... Kan Ummi ketua dewan direksinya bah! " Hajjah Aisyah masih tidak bisa menerima.
"Haris mungkin ga nyaman bicara sama Ummi, jadi ya langsung ke abah" Sahut Abah santai tapi menohok. Hajjah Aisyah terhenyak.
"Abah juga kenapa mengizinkan Haris pulang begitu saja?! Kenapa bah?"
"Abah izinkan pulang karena.... Hana sedang hamil muda! "
"A.. apaa Bah??!!!" Hajjah Aisyah terhuyung.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
__ADS_1
IG @alana.alisha
***