Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 97: Permata di Lautan Hati Wanita


__ADS_3

🎶


I'll be waiting for you


Here inside my heart 


I'm the one who wants to love you more


You will see I can give you


Everything you need


Let me be the one to love you more


See me as if you never knew


Hold me so you can't let go


Just believe in me


I will make you see


All the things that your heart needs to know


🎶


***


Mang Shaleh dan Hana diam-diam menggotong Haris menuju kamar. Mereka mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh penghuni rumah. Supir pribadi haji Amir itu sudah di wanti-wanti oleh Hana agar tidak memberitahukan perihal kunjungan Haris ke kediaman mereka.


“Terima kasih bantuannya, Mang. Tolong di ingat yang saya katakan tadi. Jangan beritahukan kepada Abah dan yang lainnya tentang hal ini!” Ucap Hana kepada Mang Shaleh setelah mereka merebahkan Haris di atas tempat tidur.


“Baik Neng!” Ucap Mang Shaleh yang kemudian pamit keluar.


Hana bergegas melihat kondisi Haris. Kalau tidak memungkinkan untuk di rawat, Maka ia berniat memanggil ambulance dan membawa suaminya ke rumah sakit.  Tidak bisa di pungkiri ada kekhawatiran yang begitu jelas menghujam memenuhi dadanya.


Hana bingung bagaimana harus memulainya. Pertama-tama Ia menyentuh kening Haris, terasa panas. Hana pun bergegas mengambil handuk kecil dan mengompres kepala Haris dengan air hangat, lalu ia membuka baju kaos Haris yang terasa basah.


Baju putih tersebut terlihat kotor, maka setelah membukanya ia pun mengambil tissue basah dan mulai mengelap tubuh suaminya perlahan. Dengan telaten ia membersihkan noda-noda yang hinggap di sana.


Bibir Haris terihat pucat, melihatnya Hana tidak tahan untuk tidak menangis. Air mata nya menetes-netes membasahi tubuh suaminya. Ia juga mengambil minyak kayu putih membau baui di sekitar hidung Haris, berharap suaminya merespon bau menyengat yang ia sodorkan itu, tak lupa ia menarik selimut tebal nya menutupi badan polos Haris agar demamnya tidak semakin bertambah.


“Mas, bangun! Hiks” Isak Hana.


“Mas…”Panggilnya lagi. Tenggorokannya tercekat. Ia tidak tau sudah kemana perasaan marahnya terhadap Haris saat ini, melihat suaminya terbaring lemah di hadapannya, rasanya semua perasaan negative yang memenuhi rongga dadanya menguap begitu saja. Hana mulai memijat mijat kening Haris menggunakan balsam, ia juga mengoleskannya ke belakang tengkuk Haris.


Lima belas menit sudah ia menunggui suaminya siuman namun Haris belum juga sadar. Hana pun sudah selesai membaca wirid malamnya. Ia semakin cemas. Tangis tanpa suaranya semakin menjadi-jadi.


Apa ia memberitahukan saja perihal Haris ini kepada orang tuanya ya? Lalu bersama-sama  membawa suaminya ke rumah sakit? Ya. Hana rasa ini keputusan yang tepat. Pikirnya. Ia sudah kehabisan cara menunggui Haris bangun, namun suaminya itu tak kunjung siuman juga.


Bergegas Hana mengambil kerudung lalu memakainya. Ia hendak keluar kamar, namun tiba-tiba tangannya terasa ada yang memegang. Hana menoleh, Ternyata Haris sudah siuman namun matanya masih tetap terpejam.


“Tetaplah di sini” Lirih Haris memerintah, perlahan ia membuka matanya.


“Mas sudah siuman? hiks hiks hiks” Hana tersenyum di dalam tangisnya.

__ADS_1


“Kenapa? Kamu khawatir aku akan mati, hm?” Tanya Haris. Hana mengangguk polos.


“Bodoh, Aku tidak akan mati hanya karena pingsan begini! Jangan menangis, kamu terlihat jelek kalau menangis begitu” Sahut Haris. Ia kembali menutup matanya.


“Mas, kenapa kembali menutup mata!” Hana mengusap kesal air matanya.


“Biarkan aku menutup mataku sebentar, entah mengapa aku mengantuk” Haris menutup kembali matanya, namun tangan nya tengan menggenggam tangan Hana.


Sepuluh menit berlalu tanpa ada percakapan berarti di antara mereka, Hana memilih diam sedangkan Haris dari tadi memejamkan matanya tanpa bersuara. Diam-diam Hana memperhatian wajah lesu suaminya, walau tampak lemas namun sama sekali tidak mengurangi pesonanya.


Haris merasa tubuhnya memang sedang tidak baik-baik saja. Ia begitu kelelahan mengurusi banyak hal. Apalagi masalah-masalah yang tumpang tindih menimpanya beberapa bulan terakhir menyebabkan waktu istirahatnya


terganggu, makannya jadi tak menentu.


Dan, malam inilah puncaknya. Ia malah terjatuh pingsan. Tapi jika hal ini dapat menyebabkan Hana nya kembali ke dalam pelukannya, maka ia akan sangat rela.


Hana terus saja memandangi wajah suami nya hingga tiba-tiba Haris menggigil,


“Mas!” Panggil Hana.


“Mas kenapa?” Hana kembali panik. Haris semakin menggigil.


“Aku kedinginan” Sahut Haris lemah tampak membuka matanya.


“Kita ke rumah sakit ya!” Ajak Hana.


Haris menggeleng. Hana menuju lemari dan mengambil banyak selimut tebal lalu membaluti tubuh Haris


“Oh sayang! Ini terasa sangat berat!” Oceh Haris di tengah rasa menggigil hebat yang mendera.


“Lalu Aku harus bagaimana mas?” Hana frustasi melihat suaminya yang terus meringkuk dan tetap menggigil. Ia kembali menangis.


“Ha??” Hana gagal paham.


“Buka pakaianmu dan masuk ke sini” Haris membuka sipit matanya.


“Mas!!! Kamu lagi sakit, mengapa aku harus melakukan itu!!!” Muka Hana memerah.


“Jangan banyak bertanya! Jika kamu ingin menyelamatkanku, lakukan lah seperti yang aku katakan. Jangan sisakan apapun dari sana!” Lirih Haris, suaranya semakin bergetar.


Hana berpikir cepat. Baiklah demi menyelamatkan Haris, untuk kali ini ia mengalah. Ia mematikan lampu lalu mulai mengikuti intruksi yang Haris katakan, dengan cepat Ia masuk ke dalam selimut.


Dengan sekali gerakan Haris memeluk Hana erat. Ia mengambil seluruh energi hangat dari tubuh istrinya itu. Perlahan lahan getar dari dalam tubuhnya hilang. Setelah merasa Haris membaik, Hana menjauhkan tubuhnya.


“Tetaplah seperti ini, sebentar saja! Aku sangat nyaman begini” Pinta Haris mengiba.


“Mas, aku marah! Aku sangat marah! Mas jangan begini!” Ucap Hana ketus, ia seperti tersadarkan kembali seperti semula. Haris tidak mempedulikan protes Hana. Ia malah semakin mendekap erat wanitanya dan diam-diam bibirnya melengkungkan kurva sabit menyunggingkan senyum.


Maafkan aku sayang. Maafkan aku. Lirih hati Haris. Ia mengecup kening Hana berkali-kali. Hana mengalirkan airmatanya. Ingin sekali rasanya ia menghempas kasar tubuh laki-laki yang telah menyakiti hatinya itu namun entah kenapa, tidak bisa di pungkiri ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukannya. Sangat nyaman… hingga ia lupa bagaimana caranya untuk melampiaskan amarahnya.


***


Adzan shubuh berkumandang. Hana terbangun, Ia menguap lebar dan merasa aneh pada tubuhnya. Ah, semalam ia memang tidak berpakaian untuk meredakan gigilan hebat pada tubuh Haris. Oh iya ada mas Haris di sana. Tapi dimana mas Harisnya? Hana melihat ke samping namun tidak melihat keberadaan suaminya di sana.


Ia pun mengambil selimut membaluti tubuhnya dan memeriksa ke dalam kamar mandi. Kosong. Haris tidak berada di sana. Kemana suaminya? Apa sudah pulang? Kenapa tidak pamit sih! Kesal Hana.

__ADS_1


Hana mengecek handphone nya, satu pesan dari Haris kembali menghiasi layar kaca,


Sayang, maaf Aku harus pergi dini hari sekali sebab aku harus ke Jawa Barat, maaf aku tidak membangunkanmu terlebih dahulu karena aku khawatir akan mengganggu waktu tidurmu.


Oiya, ada sedikit kendala pada pekerjaanku sehingga aku harus tetap berangkat dan tidak bisa menundanya namun kamu jangan khawatir ya, semua akan baik-baik saja. Terima kasih kamu sudah merawatku hingga sekarang aku telah kembali sehat seperti sedia kala.


Aku mencintaimu. Percayalah bahwa Aku tidak pernah menyentuh wanita manapun kecuali kamu. Jadi, aku tegaskan bahwa aku tidak memiliki calon anak di luar sana, untuk hal itu aku berani bersumpah atas nama Allah yang telah menyatukan hati kita. Untuk saat ini, hanya ini dulu yang bisa aku kukatakan.


Sepulang ku dari Bandung, Aku akan menjemputmu dan menjelaskan lebih rinci lagi sedetil yang kamu mau. Aku juga berjanji akan melakukan semua seperti apa mau mu, tapi tolong jelaskan lah apa yang membuatmu sakit dan terluka, karena aku terlalu dungu untuk bisa menebak-nebak keberadaan permata di lautan hati wanita yang jangkauan nya sungguh tak bisa ku kira.


Aku mencintaimu. Aku akan segera kembali. Aku titip doa ya! Doa istri itu sangat manjur dan mujarab. Terima kasih.


NB: maaf aku mengambil coklat dan roti milikmu yang terletak di atas nakas, aku kelaparan dan belum makan. Nanti aku akan mengantinya kembali. Love you.


By. Suami Tampanmu.


Hana menangis kesal membaca pesan dari Haris, ia marah suaminya itu belum benar-benar sembuh namun masih nekad untuk pergi. Ada perasaaan sedikit lega bercampur rasa bersalah, Haris telah bersumpah bahwa ia tidak memiliki calon anak di luar sana maka tidak ada alasan baginya untuk menuduh suaminya itu, kini tinggal memastikan cinta Haris padanya.


Ia bersyukur sempat meletakkan roti dan coklat di atas nakas. Haris yang merasa lapar jadi bisa memakannya. Ia mengusap pelan air matanya. Berulang kali ia mengetik dan menghapus pesan balasan di handphone nya. Dan


terakhir, ia lebih memilih untuk tidak membalas pesan dari Haris, harga diri dan rasa gengsinya masih memenuhi hatinya.


***


“Lu rusuh banget tengah malam nodong gue ke Bandung!” Protes Ridwan pada Haris yang tiba-tiba menyeretnya untuk berangkat ke Bandung.


“Ya maaf, abisnya selain elu, gua bisa ngajak siapa lagi!” Sahut Haris.


“Lu sih hobby cari masalah sama Hana jadi nya tertinggal rombongan kan?” Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sumpah gue ga merasa melakukan apa-apa, tiba-tiba Hana marah dan minta cerai! Gila ga tuh!!”


“Jadi lu udah baikan ma Hana?”


“Ga tau deh, pesan gue belum Hana balas” Jawab Haris mengangkat bahunya.


“Jadi lu ga lakuin apa yang gua ajarkan semalam??” Ridwan menajamkan matanya menatap Haris.


“Ya udah, bahkan gue tambah bumbu nya dan gua racik resep yang lebih mantap biar Hana luluh!” Sahut Haris.


“Terus Hana maafin kan?”


“Gue pesimis, Hana nolongin gue kepaksa karena alasan kasian atau memang karena cinta atau karena keduanya” Ucap Haris lagi.


“Tapi dia nangis kan?”


“Ya iya dia nangis!”


“Mantap! Itu artinya dia masih cinta sama lu dan ga berharap kalian break! Gimana sih lu?? Peka dikit napa??” Ridwan menoyor kepala Haris.


“Astaghfirullah, Wan! Lu usil banget! Kepala gua masih sakit tau! Tadi itu gua beneran pingsan ga bercanda!” Protes Haris.


“Oh okay okay, maap maap” Ridwan tertawa terbahak.


“Sialan Lu! Kawan ga da akhlak!” Hardik Haris dengan tersenyum, dalam hati ia merasa bersyukur Ridwan membantunya memberi solusi dalam meluluhkan hati Hana. Walau sebenarnya PR nya masih sangat banyak dan ia belum tau persis apa Hana sudah memaafkannya atau belum.

__ADS_1


Mobil yang mereka tumpangi terus melaju membelah pekatnya malam.


***


__ADS_2