
Dears Kaka-kaka Readers…..
Setelah melihat dan menimbang masukan dan komentar atas kisah cinta Ustadz Yahya-Ustadzah Iqlima kemarin, yang mana sebagian kaka-kaka setuju untuk di selipkan saja di dalam kisah ini. Sebagian lagi ingin dipisahkan menjadi novel tersendiri biar ga bingung. Tapi ternyata ada juga beberapa yang ingin kisah ini diskip aja. 😄
Maka Author memutuskan untuk men-skip kisah cinta ustadz Yahya dan Ustazah Iqlima pada novel Haris-Hana ini demi kenyamanan bersama.
Tapi jika ternyata cerita ini memang banyak peminatnya, Maka Author akan mempertimbangkan untuk menulis kisah baru di novel berbeda dari kisah awal mula sampai kisah akhir mereka. Insya Allah.
Naaah… Di bab kali ini, karena kemarin udah terlanjur nulis dan masih nyempil kisah Ustadz Yahya dan Ustadzah Iqlima, jadi ga pa paaa yahh! 😅
Author males hapus dan mikir ulang lagi. Hehe. Tapi tuk next episode ga ada lagi kisah ustadz Yahya dan Iqlima sedetil ini. Thank You 💛
Happy Reading~
***
Ssssrggg sssrrggg
Pukul 02.00 dini hari. Ustadz Yahya membuka pintu kamar ustazah Iqlima menggunakan kunci serep cadangan miliknya. Beliau terkejut melihat sang istri yang tertidur di lantai dengan bersenderkan dinding tempat tidur.
Ustadz Yahya mendekati istri yang telah beliau nikahi selama delapan tahun itu. Hatinya basah. Betapa Iqlima sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya. Istri shalihah. Gumam Ustadz Yahya memperbaiki sulur rambut indah yang sudah sedikit acak-acakan.
Tak menunggu lebih lama. Ustadz Yahya mengangkat Iqlima ke atas kasur. Beliau menyelimuti tubuh istrinya dengan bed cover tebal. Kemudian mengecup puncak kepala Iqlima yang belum terjaga dengan penuh kasih. Mata pemuda beristri dua ini basah.
Ada asa yang tidak bisa beliau ungkapkan. Jamiilah. Jamilah Shaliha. Gumam beliau lagi. Setelah beberapa saat mengusap-usap kepala Iqlima, beliau berbalik arah hendak keluar dari kamar tersebut. Namun tiba-tiba sebuah genggaman kuat pada lengannya menghentikan Langkah beliau.
“Mas mau kemana?” Tanya Iqlima yang terbangun. Wanita berhati lembut ini menatap sendu sang suami. Tenggorokan ustadz Yahya tercekat.
“Istirahatlah! Sudah larut malam!” Titah ustadz Yahya.
“Tapi ke.. kenapa mas?”
“Aku ingin…..” Ustadz Yahya berpikir sejenak.
“Aku ingin shalat tahajud di mesjid!” Sahut ustadz Yahya datar tanpa menoleh ke arah Iqlima yang nyaris kembali mengeluarkan air mata. Hati wanita berwajah sembab itu terasa kebas. Hatinya mencelos. Genggaman erat jari Jemari Iqlima pada lengan ustadz Yahya terlepas seketika.
Menyadari Iqlima melepaskan tangannya, Ustadz Yahya melangkah pergi. Sadar akan gerak tubuh sang suami yang menjauh, Ustadzah Iqlima buru-buru turun dari tempat tidur. Beliau mengejar ustadz Yahya yang hampir menyentuh gagang pintu.
Namun sayang, selimut yang membaluti tubuh ustadzah Iqlima menyebabkan beliau jatuh tejerebab ke lantai. Lututnya menghantam dinding tempat tidur yang terbuat dari besi.
Awww Astaghfirullah. Ustadzah Iqlima meringis dengan menggigit bibir bawahnya. Ngilu. Tapi rasa sakit yang beliau rasakan tidak lebih sakit dari pengabaian yang beliau dapatkan. Ustadz Yahya terlanjur tidak melihat apa yang dialami oleh Iqlima. Beliau telah lebih dulu berlalu di telan gelapnya malam. Iqlima tergugu sendirian.
“Mas… mas kemana aja sih? Kok pergi ga bilang-bilang?” Cerca Layla tidak senang mendapati ustadz Yahya keluar dari kamar Iqlima. Wanita cantik ini mengamit lengan sang suami dengan ekor mata waspada kalau-kalau ada Iqlima menganggu mereka.
“Aku mau ke mesjid!” Sahut Ustadz Yahya melepaskan tangan Layla yang bertengger di lengannya. Acuh. Laki-laki dewasa ini keluar dari kediaman mereka meninggalkan Layla yang terhenyak mematung di ruang tamu.
***
Lima hari kemudian. Haris keluar dari kamar hotel. Ia bergerak menuju bandara setelah membuat perjanjian dengan pihak LogoVo Group. Haris berjanji akan menyelesaikan masa training nya dalam waktu tiga bulan ke depan.
Itu artinya, tiga bulan lagi Haris harus kembali ke Amerika. Beruntung. Haris telah menyelesaikan 75 persen masa training dari waktu yang seharusnya. Jadi, tidak ada alasan dari pihak management untuk menahan nya pulang ke Indonesia. Selama di New York, laki-laki ini memang tidak pernah membuang-buang waktu.
__ADS_1
Haris keluar kamar hotel di dampingi oleh Mark dan beberapa bodyguards lainnya. Jika di Indonesia posisinya hanyalah sebagai pegawai biasa, maka sangat berbeda dengan statusnya ketika berada di negara Adi Kuasa. Haris begitu dihormati dan dielu-elukan di sini. Kenyataan bahwa ia merupakan calon pewaris tunggal dengan miliyar-triliyunan nilai asset, menjadikan gerak geriknya begitu di kawal ketat. Penjagaan terhadap Haris sama sekali tidak boleh lengah.
“Tuan… Tuan…” Panggil seorang wanita yang sejak berjam-jam lalu telah menunggu Haris keluar dari kamar. Laki-laki ini sama sekali tidak menyadari kehadiran wanita tersebut. Ia melangkah tanpa mempedulikan sekeliling. Namun Suara kerasnya menyebabkan Haris menoleh.
“Tuan masih ingat saya?” Tanya wanita tersebut menatap Haris dengan pandangan kagum. Haris mengerutkan keningnya. Mark memerintahkan pada para asisten penjaga untuk menahan wanita asing yang berjalan mendekati Haris. Para penjaga dengan sigap memegang tangannya.
“Tuan, saya Evelina. Saya yang beberapa hari lalu mengunjungi tuan di kamar!” Sahut wanita tadi. Pernyataan wanita ini menyebabkan para penjaga tersenyum menaikkan sudut bibir. Ternyata Mr. Haris juga suka bermain wanita. Pikir mereka.
“Hey wanita penghibur bedebah! Urusan mu bersama tuan Haris sudah selesai! Sampah seperti mu tidak pantas memanggil beliau! Mana mungkin Tuan Haris belum membayarmu?!” Sembur Mark sarkas.
“Hemmm” Haris berdehem.
“Lepaskan tangan nya!” Titah Haris pada para penjaga. Perlahan mereka mengikuti apa yang Haris perintahkan.
“Mark, dia bukan sampah. Dia wanita baik, anak dari seorang ibu yang mulia!” Ucap Haris menatap Mark tajam. Mark jadi kikuk menunduk.
“Ada apa Nona?”
“Tuan, Ibu saya mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan yang tuan berikan. Beliau memaksa ingin melihat malaikat penolong nya secara langsung. Ibu saya yang sudah renta itu sangat ingin bertemu dengan tuan. Bolehkah tuan menunggu di sini sebentar?! Ibu saya tengah duduk dipojokan sana! Beliau tidak sanggup lama-lama berdiri. Lututnya sakit. Saya mohon tuan!” Pinta Evelina berbicara cepat dengan memohon. Haris melirik jam tangannya.
“Biar saya yang temui beliau! Tunjukkan dimana ibumu!” Ucap Haris. Evelina berbinar.
“Tapi tuan, Kita bisa terlambat! Beberapa jam lagi pesawat akan take off!” Sergah Mark.
“Sebentar saja!” Ucap Haris berwibawa dengan melangkah mengikuti gerak Langkah Evelina. Haris tidak sampai hati mengabaikan keinginan orang tua yang sudah bersusah payah menungguinya.
“Bu. Tuan ini yang sudah menolong ibu!” Ucap Evelina menuntun ibunya berdiri.
“Bangunlah Nyonya! Bukan Saya. Tapi Tuhanlah yang memberikan pertolongan! Berterima kasih lah pada Tuhan” Ucap Haris membantu Yelena untuk berdiri.
“Nak! Saya cuma bisa memberikan dua hadiah sebagai ucapan terima kasih dan rasa syukur! Ini adalah Kue Pryaniki. Saya sendiri yang mengolahnya. Ini kue jahe yang dibalut dengan gula. Harga nya memang tidak seberapa. Tapi percayalah, Saya membuat ini dengan perasaan bahagia dan dipenuhi cinta kasih. Lalu satu lagi…”
“Tuan… Waktu kita tidak banyak!” Mark kembali mengingatkan.
“Nyonya… Maaf saya buru-buru. Cukup ini saja. Terima kasih banyak untuk hadiah nya” Ucap Haris mengambil cemilan tradisional khas Rusia itu lalu mengatupkan tangan dan berbalik arah.
“Sebentar Tuan… Ini… Ambil-lah surat ini. Bacalah ketika Tuan memiliki waktu senggang! Saya sangat berharap tuan sudi membacanya. Selembar surat dari Ibu yang sudah tua renta dan sebentar lagi akan membusuk di dalam peti mati” Ucap Yelena. Tangannya menyodorkan sebuah surat. Air mata nya kembali mengalir. Ia merasa haru. Keharuan yang membuncah.
Haris maju. Ia mengambil sapu tangan dari kantong celananya. Haris mengusap airmata Yelena. Kemudian ia melangkah memeluk orang tua renta yang sudah tidak berdaya itu.
“Semoga Allah melindungimu Bu…” Harap Haris diplomatis. Lalu kemudian merenggangkan pelukannya. Ia dan rombongan berjalan berbalik arah setelah sebelumnya mengantongi surat di saku kemejanya.
Yelena dan Evelina menatap kepergian Haris dengan saling merangkul. Mata Evelina dipenuhi oleh sinar kekaguman dan pengharapan. Evelina sudah bertekad untuk keluar dari dunia hitam yang selama ini digelutinya. Uang yang Haris berikan, sedikitnya akan ia gunakan untuk ikut kursus menjahit dan akan mencari pekerjaan yang lebih layak. Ia bersumpah, suatu saat akan membalas kebaikan Haris. Pasti. Ia pasti akan membalasnya.
***
Haji Zakaria duduk di ruang kerjanya membaca berbagai dokumen penting. Tanggung jawab beliau begitu banyak. Selain mengurusi pesantren dan perusahaan miliknya sendiri, Haji Zakaria harus menjaga dan menstabilkan perusahaan milik almarhum haji Abdurrahman selama Haris belum genap berusia 28 tahun.
Namun beberapa tahun terakhir, beliau mengamanahkan tanggung jawab tersebut pada hajjah Aisyah. Selain sang istri adalah ahli management bisnis jebolan Cambridge University, Inggris. Hajjah Aisyah juga mengambil dual degree di Universitas Indonesia, Jakarta. Jadi keahlian beliau memang bukan sembarang keahlian dengan menyandang rentetan gelar di belakang namanya.
“Paiman…” Panggil haji Zakaria pada asisten pribadinya.
__ADS_1
“Iya abah haji?”
“Sampaikan pada nak Sri untuk memanggil Ummi menemui saya!” Titah Haji Zakaria. Paiman dengan sigap menjalankan apa yang di perintahkan.
Tak lama, hajjah Aisyah memasuki ruang kerja haji Zakaria. Betapa bahagianya beliau. Setelah sekian lama sang suami bersikap dingin, kini wanita paruh baya itu malah mendapatkan panggilan khusus.
“Abah…” Hajjah Aisyah mendekat dengan senyum mengembang. Beliau langsung memijat lembut pundak haji Zakaria. Beberapa hari terakhir Layla mengajaknya ke salon. Hal ini menyebabkan hajjah Aisyah semakin percaya diri menemui suami yang begitu beliau cintai itu.
“Mi, duduklah! Abah ingin membicarakan sesuatu!”
“Apa yang ingin abah bicarakan? kenapa tidak bicara di kamar saja, hm?” Hajjah Aisyah malah mengalungkan lengannya ke leher sang suami. Manja.
“Heemmm, Mi…” haji Zakaria melepaskan rangkulan tangan yang bertengger di sekitar pundak beliau. Hajjah Aisyah pun mengambil tempatnya.
“Abah akan menyerahkan supermarket IndoZy untuk di Kelola oleh nak Iqlima. Total supermarket yang tersebar ada 173 cabang di seluruh Indonesia” Ucap haji Zakaria berwibawa tanpa basi basi.
“A…apa bah?!! Ummi ga salah dengar?!” Terkejut. Hajjah Aisyah spontan bangkit dari duduknya. Menyadari adanya tatapan tajam, beliau kembali duduk.
“Nak Iqlima itu sekolahnya sama seperti Ummi. Sudah lulus s2 bahkan sekarang menantu kita itu candidat Doktor di Universitas Gadjah Mada. Abah sudah mempertimbangkan ini dengan matang. Kasihan jika ilmunya tidak di salurkan untuk hal bermanfaat. Apalagi untuk memajukan usaha kita!”
“Bah, Iqlima itu tugasnya mengurusi nak Yahya. Mendidik anak-anak di pesantren ini. Iqlima itu kuliah tinggi juga kan karena kemurahan hati nak Yahya! Nanti apa kata nak Layla? Abah pilih kasih sama menantu. Lagian, abah kok ya tega. Semua Supermarket IndoZy ini kan Ummi yang mengelola! Kenapa malah mau diserahkan ke Iqlima?Pengalaman saja tidak ada. Mengurus anak tidak pernah. Apalagi mau mengurus hal besar!” Protes hajjah Aisyah panjang lebar. Beliau tersinggung akan putusan mendadak sang suami.
“Nak Iqlima akan di training bertahap. Tahap pertama tiga bulan, enam bulan, sampai setahun. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Sudah sangat banyak anak cabang perusahaan kita yang Ummi urus. Belum lagi di tambah punya alm. Haji Abdurrahman. Biarkan menantu kita berkarya! Lebih baik nak Iqlima yang memiliki hati bening lagi sejuk yang menjalankannya. Daripada Ummi, menilai orang saja tidak bisa! Abah sangat kecewa!” Ucap Haji Zakaria menohok. Beliau menyinggung kasus Lisa. Tak hanya itu saja, sepertinya abah haji mencium gelagat yang kurang baik dari rumah tangga anaknya akibat campur tangan sang istri.
“Tt… tapi bah!”
“Kalau soal adil pada menantu, Abah juga telah memesankan satu unit mobil Mercedes keluaran terbaru. Hadiah khusus dari abah. Itu dulu Ummi sudah belikan nak Layla mobil BMW di samping ada mobil kantor, mobil pesantren, juga sederet hadiah-hadiah mentereng lainnya. Nak Iqlima tidak complain. Abah yakin, nak Layla juga akan senang kalau kakak madunya mendapatkan hal yang sama!”
Wajah hajjah Aisyah memerah kesal. Beliau merutuki nasib baik Iqlima yang begitu diperhatikan kesejahteraannya oleh haji Zakaria. Padahal Iqlima di mata hajjah Aisyah tak ubahnya hanya seorang istri yang dipungut dan diangkat derajatnya oleh Yahya.
Hajjah Aisyah mengepalkan tangannya. Membantah sang suami juga percuma. Akibat kasus yang menimpa Lisa, posisi beliau jadi serba salah. Untuk saat ini, Tidak diceraikan saja rasa-rasanya sudah sangat bersyukur. Hajjah Aisyah tidak bisa membayangkan bagaimana jika rahasia besar yang beliau kubur dalam-dalam sampai diketahui oleh sang suami.
***
Jakarta, Indonesia. Pesawat Qatar Airways landing dengan sempurna di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Haris keluar dari ruang VIP di kawal oleh beberapa bodyguards. Pemuda ini telah melalui perjalanan panjang Las Vegas-New York-Doha baru kemudian tiba di tanah air.
Kepulangannya tidak diketahui oleh siapapun kecuali semua team USA juga haji Zakaria. Sejujurnya, atas license tanda tangan digital dari ayah angkatnya itulah Haris bisa pulang tanpa hambatan.
Haris tak ragu menyampaikan alasan kembali nya ke Indonesia secara mendadak. Ia mengatakan kalau Hana tengah hamil muda dan butuh dampingan. Pun mengingat pelajaran lalu ketika Hana harus di kuretase. Haji Zakaria tidak memiliki alasan untuk tidak mengabulkan keinginan sang anak.
Semua dokumen, berkas dan imigrasi telah selesai dengan baik. Haris sudah tak sabar menemui Hana. Ia mengambil gawainya,
Mi Amor, cuaca di Jakarta cerah ya! Aku berharap nanti malam purnama berkenan hadir tepat di atas jendela kamar kita. Ketik Haris melayangkan pesan pada istri tercintanya. Ia tersenyum menawan.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
***
__ADS_1