Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 63: Undangan


__ADS_3

Haris berjalan menjauhi ruang rawat inap, ia memang berniat membeli air mineral seperti yang dikatakannya pada Hana sebelum bergerak keluar dari ruangan tadi, namun ada hal yang lebih mendesak yang harus dilakukannya, ia


harus menelepon orang-orang kepercayaannya untuk mempertanyakan perkembangan kasus yang sedang ia usut saat ini. Tidak mungkin ia melakukan panggilan telepon di ruangan tempat di mana Hana berada, ia khawair istrinya tersebut akan sedih juga kepikiran dan dicemaskan akan berimbas pada kesehatannya.


Haris duduk di bangku panjang yang difasilitasi oleh pihak rumah sakit untuk kalangan umum. Ia telah melakukan panggilan telepon pada asisten kepercayaannya di kantor, kini ia kembali mengambil gawainya untuk menghubungi sahabat intelnya yang telah melakukan penyelidikan kilat walau belum sepenuhnya terungkap, memang butuh waktu untuk mengusut kasus kejahatan ini.


“Bagaimana Rom? Apa kamu sudah menemukan titik terangnya?” Tanya Haris


“Belum sepenuhnya, namun aku berhasil mengantongi beberapa nama, yang mengejutkan adalah dia ini merupakan salah satu rekan kantormu sendiri”


“Apa?? Siapa dia??”


“Salah satu nya adalah Hanum Brawijaya”


Hanum? Kenapa harus dia lagi sih? Haris mengepalkan tangan dan memejamkan mata. Kesal dan marah melebur menjadi satu. Ia teringat beberapa kali sudah Hanum membuat kekacauan terutama tentang ikut campurnya wanita


itu terhadap hubungannya dan Arini dulu. Ingatan Haris melayang ke masa ketika Hanum mencoba untuk menggoda dan memaksa agar dapat menerima cintanya. Padahal ketika itu ia masih sangat muda (sebelum ia mengenal Arini) dan tidak kepikiran untuk menjalin sebuah hubungan. Apa Wanita itu ingin balas dendam kepadanya? Tapi kenapa harus Hana yang menjadi korban hingga harus meneguk barang haram? Kenapa tidak ia saja yang dijebak agar karirnya hancur atau apalah itu asal jangan Hana istrinya yang menjadi korban?!


“Baiklah, kamu kumpulkan dulu semua bukti nya dan tolong jangan sampai pihak lawan mengetahui pergerakan kita. Kita harus mengumpulkan bukti-bukti kongkrit agar dapat melumpuhkan lawan sebab aku tidak bisa mentorerir lagi kasus ini” Ucap Haris sambil memijat keningnya.


“Baik. Aku akan berusaha sebaik mungkin sebisa yang aku mampu” Ucap sahabat Haris dari seberang sana.


Berakhirnya kalimat yang menenangkan itu, berakhir pula-lah percakapan mereka melalui via telepon. Haris masih saja duduk di bangku panjang, Ia mengingat-ngingat kembali bagaimana kejadian malam na’as di kantor nya itu


bisa terjadi. Ya. Memang Hanum yang duluan menyapa mereka dan mengajak Hana untuk mengikutinya karena ia ingin mengobrol. Haris pun membiarkan Hana dibawa mengikuti Hanum. Setelah itu Haris bergabung dengan teman-teman nya dan tidak tau apa lagi yang terjadi dengan Hana selanjutnya.


Haris mengacak-acak rambutnya asal. Ia masih tidak bisa mencerna dengan baik perkataan Ridwan yang mengabarkan padanya bahwa Hana berada di hotel dalam keadaan tidak sadarkan diri dan hampir saja.. hampir saja.. Aaargh. Mau pecah dan meledak saja  rasanya seluruh organ yang ada ditubuhnya. Tidak sadar, matanya sukses berembun. Namun, untuk saat ini ia tidak bisa menuduh Hanum hanya karena perkataan Romi sepihak,


ia butuh keterangan, ia butuh bukti lebih banyak dan jelas lagi agar bisa membongkar kasus ini dengan baik.


***


Haris kembali masuk ke dalam ruang rawat inap setelah selesai membeli air mineral seraya mengucap salam, sayangnya salam yang ia layangkan tidak ada yang menjawab. Hening. Hana ternyata sudah tertidur, gadis itu sudah membalutkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, namun balutan itu tampak tidak sempurna, Haris tersenyum melihat gaya tidur acak-acakan sang istri.


Haris pun berjalan mendekati Hana kemudian merapikan selimut yang sudah memperlihatkan seperempat betis putihnya, lalu ia juga menyingkirkan banyaknya helaian rambut yang sudah hampir menutupi keseluruhan wajah Hana namun dengan gerakan yang sangat pelan agar istrinya itu tidak terjaga. Terakhir Haris mengecup kening Hana penuh kelembutan. Entah mengapa semakin lama semakin bertambah rasa sayangnya terhadap wanita soleha yang  kini berada di hadapannya itu.

__ADS_1


Haris pun mengambil wudhu, membentangkan sajadah lalu melakukan shalat malam. Ia belum tertidur sama sekali jadi tidak bisa melakukan shalat tahajud. Ia shalat di samping ranjang Hana dengan khusyu’ dan penuh penghayatan. Usai shalat ia mendoakan kesehatan dan keselamatan Hana, Ibunya dan juga seluruh


kaum muslimin muslimat yang ada di dunia serta yang telah tiada. Matanya kembali berembun dan berakhir dengan linangan yang deras. Betapa ujian kecil dari Allah SWT ini begitu berat ia rasa namun bagaimanapun Allah juga yang mengulurkan pertolongan-Nya.


Haris menangis sendirian di atas sajadah panjangnya, obrolan via telepon bersama asisten dan sahabat intelnya membuka ingatannya kembali tentang kemalangan yang menimpa sang istri. Hatinya seperti teriris mengingat


Hana yang hampir dinodai oleh sekelompok preman. Andai hal itu terjadi, dipastikan ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Fakta bahwa bukan ia yang menolong Hana melainkan orang lain yang ia cemburui, mungkin hal tersebut merupakan teguran langsung yang Allah berikan. Ah, Ridwan benar. Betapa ia sudah bersikap kasar, tidak seharusnya ia bersikap kekanak-kanakan seperti itu, namun ia terlanjur terbawa emosi yang menjadikan


ia tidak mengenal dirinya sendiri. Apa ia sudah jatuh cinta pada Hana? Apa benar cinta nya sudah sedemikian kuat? Ia masih butuh waktu untuk mengenali perasaannya.


Memang beberapa bulan terakhir ini pikirannya tentang Arini sudah lenyap entah kemana, biasanya bayangan tentang gadis itu selalu saja menari-nari dipikirannya tanpa ia pinta, kini tanpa sadar ingatan tentang Arini


telah tergantikan oleh Hana yang selalu ia cemaskan dan anehnya, bagai tertarik oleh kekuatan magnet, ia selalu saja ingin berada di dekat gadis itu, ingin selalu melihatnya walau sering kali ia seperti merasa terabaikan dan ia merasa Hana sama sekali tidak mencintainya. Entahlah.


Haris menyudahi shalatnya dengan memperbanyak istighfar, ia membentangkan selembar kain di  karpet bawah tepat di samping ranjang Hana dan meletakkan 2 buah buku yang ia ambil dari tas ransel ke atasnya sebagai pengganti bantal . Ia sudah hendak tidur, namun sebelumnya ia mengecek dan memeriksa pesan-pesan yang ada di handphone nya terlebih dahulu. Bola matanya melebar dan jantung nya berdegup ketika melihat nama salah satu pengirim pesan yang tertera di sana. Bu Indah ibunya Arini mengirim pesan. Tanpa menunggu lagi Ia pun langsung membuka pesan tersebut.


“Haris, ibu mengundang kamu untuk makan malam bersama besok malam jam 20.00 WIB di hotel XXX, adiknya Arini baru saja menyelesaikan sarjananya di Shanghai University. Kami mengadakan syukuran kecil-kecilan. Semoga kamu punya waktu menghadiri acara ini. Terima Kasih.”


Alhamdulillah, Haris bernafas lega. Ternyata hanya undangan biasa, Haris hanya cemas bu Indah menagih 3 pilihan yang tempo hari ditawarkan, ia masih tidak siap menjawab apapun di tengah kondisi musibah seperti ini. Haris


“Alhamdulillah, Terima Kasih atas undangannya bu, insya Allah saya usaha kan untuk hadir” Balas Haris. Tidak ada salahnya memenuhi undangan kan?


Haris pun mematikan handphone nya lalu membaca ayat kursi, surat 3 Qul dan doa tidur lalu ia pun terlelap dalam gelapnya malam.


***


Haris dan Hana telah menyelesaikan shalat shubuh mereka bersama dengan Haris sebagai imamnya. Setelah itu, Haris pun membaca al-Quran di samping istrinya yang masih berbalut mukena, gadis itu menyimak bacaan merdu


sang suami. Ia merasa terharu, matanya berkaca-kaca. Selama menikah baru kali ini mereka duduk bersama membersamai al-Qur’an dan merasa sedekat ini. Betapa musibah mampu menghangatkan hubungan kaku yang selama ini mereka jalani. Hana menunduk dalam, ia menyimak penuh penghayatan sampai Haris menyudahi bacaannya.


“Kamu menangis?” Tanya Haris sambil menyodorkan tisu


Hana menggeleng namun ia tetap mengambil tisu pemberian sang suami.

__ADS_1


“Tidak, Aku hanya terharu saja. Terima kasih, mas” Ucap Hana seraya menge-lap hidungnya yang berair.


“Terima kasih untuk apa, hm?” Tanya Haris menatap wajah Hana.


“Terima kasih untuk kebaikan yang sudah mas berikan”


“Aku tidak melakukan kebaikan apapun padamu, malah membawamu berakhir di rumah sakit seperti ini” Haris merasa menyesal.


Hana menggeleng.


“Hal ini sudah takdir dari Allah, mas!” Hana tersenyum.


Hana, kamu hanya tidak tau saja apa yang sebenarnya menimpamu, jika kamu mengetahuinya, niscaya kamu akan histeris dan terluka.


Haris membalas senyum manis Hana.


“Hana, aku ingin mengatakan sesuatu padamu”


“Katakan saja mas”


“Malam ini aku ada undangan makan malam, Aris teman ku baru saja menyelesaikan sarjananya dan membuat acara syukuran makan bersama di hotel XXX, apa kamu keberatan kalau aku tinggal sebentar?”


Hana menggeleng.


“Tidak mas, penuhi saja undangan makan malamnya, wajib hukumnya menghadiri undangan” Ucap Hana.


“Aku akan menyuruh ibu kesini untuk menemanimu” Ucap Haris lagi.


“Tidak, jangan mas. Aku tidak ingin merepotkan ibu, apalagi malam-malam ke sini. Aku akan menyuruh Yura untuk ke sini, rumahnya pun berada tidak jauh dari rumah sakit”


“Baiklah jika itu lebih membuatmu merasa nyaman, aku akan pulang dengan segera. Rasanya ingin sekali aku mengajakmu, namun kondisi yang tidak memungkinkan”


“Aku paham” Ucap Hana lagi.


Mereka mengakhiri obrolan pagi dengan perasaan damai yang melingkupi ruang di hati mereka. Haris beranjak keluar ruangan, ia akan membeli sarapan pagi, sebab Hana istrinya tidak mau memakan makanan pemberian rumah sakit. Ya, tentu saja Ia yang akan menyantap makanan itu nanti, setelah itu ia akan menyempatkan diri sebentar untuk pulang ke rumah mengambil pakaian yang akan ia kenakan pada undangan makan malam nanti.

__ADS_1


***


 


__ADS_2