
Haris keluar dari kamar mandi telah lengkap dengan piyamanya. Pemuda ini memang bersiap untuk tidur. Namun ia mengerutkan kening ketika melihat sang istri belum juga mengganti pakaian sejak selesai makan malam tadi. Hana malah duduk melamun di depan kaca riasnya.
“Kamu kenapa, hm?”
“Aku memikirkan mbak Iqlima”
“Mbak Iqlima?”
“Ya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku yang berada di posisi beliau…” Sahut Hana dengan wajah sedih. Haris paham kemana arah pembicaraan ini. Ia memilih memeluk Hana.
“Kita tidak mengetahui bagaimana keadaaan rumah tangga Mbak Iqlima yang sebenarnya. Memikirkan hal yang tidak pasti akan memperburuk mood dan kesehatan, juga tidak akan pernah menemui ujungnya. Kalau hanya mengira-ngira, dikhawatirkan kita malah akan berprasangka buruk. Kalau pun keadaan beliau benar-benar seperti yang terlihat, itu juga bukan ranah kita untuk memikirkannya” Ucap Haris berhati-hati. Sebenarnya ia ingin mengatakan pada Hana untuk tidak usah mencampuri urusan rumah tangga kakak dan abang ipar mereka.
“Laki-laki memang tidak peka ya!” Sahut Hana manyun. Wanita yang saat ini memiliki perasaan terlalu sensitive itu tiba-tiba berubah badmood. Haris tersenyum. Ia mengambil asal piyama Hana dari dalam lemari lalu kemudian menyodorkannya.
“Nih, Ganti pakaian dulu…”
Hana bergeming. Ia mensedekapnya tangannya di pinggang.
“Maaf sayang…”
“Untuk hari ini, sudah kesekian kalinya mas memohon maaf” Sahut Hana dengan wajah kusut.
“Habisnya aku banyak salah. Jadi aku minta maaf... Dan akan selalu begitu. Lagi dan lagi” Ucap Haris lembut.
“Mas ngeselin! ”
“Kamu ngangenin!” Balas Haris cepat.
“Ih. Aku serius. Jangan coba-coba merayuku. Aku tidak akan tergoda” Sahut Hana ketus. Haris menggelengkan kepalanya. Lalu mengambil tangan Hana menuntun nya untuk berdiri.
“Habibati... Laa taghdhab.... Sudahi marahnya. Maka surga bagimu, hm? Sekarang ganti pakaian lalu kita tidur” Ajak Haris mulai melepaskan kerudung Hana. Ia mengambil kapas yang ada di atas meja hias lalu membasahinya. Perlahan ia memeras air yang ada di kapas tersebut dan mengaplikasikannya ke wajah Hana. Persis seperti yang biasa istrinya itu lakukan.
“Mas kok bisa tau sih cara membersihkan riasan di wajah?” Tanya Hana akhirnya tersenyum.
“Sebelum tidur kamu sering banget lakuin ini kan?” Sahut Haris santai.
“Iya, memang benar. Ternyata mas diam-diam memperhatikan hal kecil ini ya. Hebat sekali!” Puji Hana. Haris hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan aktifitas nya.
“Tapi…. Pppppffff ppppppffff” Hana menahan tawanya.
“Tapi apa?”
“Aku biasanya menggunakan pembersih wajah khusus bukan air biasa… Hahaha”
“Ha? Benarkah? Pembersih wajah yang mana?” Haris meneliti satu persatu make up remover yang ada di atas meja.
“Yang ini kah? Atau yang ini?” Tunjuk Haris dengan wajah terlihat bingung.
“Hehe… sudah mas. Tidak apa-apa. Lagian aku kan tidak pake bold make up” Hana tersenyum gemas melihat ekspresi wajah Haris. Perhatian sang suami memang bertambah berkali lipat sejak ia hamil.
“Kamu ya… Sudah memuji setinggi langit tapi kemudian malah dihempaskan kembali ke bumi” Ucap Haris meletakkan kapas lalu mulai menarik turun resleting baju Hana.
“Mas mau apa?!”
“Ya membantumu mengganti pakaian.. Memangnya apa lagi?” Sahut Haris santai.
“Tidak usah. Aku bisa menggantinya sendiri” Sahut Hana cepat. Ia bergegas menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
“Sayang… Hati-hati… pelan-pelan jalannya!” Haris memberikan peringatan. Ia menggapai Hana sebelum wanita itu sampai ke kamar mandi. Ia langsung mengangkat istrinya ala bridal style.
“Mas… Biarkan aku ganti pakaian dulu!”
“Setelah aku berpikir kilat, untuk apa kamu bersusah payah mengganti pakaian kalau nanti juga akan…”
“Nanti juga akan apa?!” Hana mengerutkan kening ketika Haris perlahan meletakkan tubuhnya ke atas kasur.
“Kamu lupa kalau malam ini malam jum’at?” Haris tersenyum memperlihatkan barisan gigi rapi nya sambil menaikkan alis.
“Wah. Jum’at Mubaarak! Pantes dari sejak selesai maghrib tadi mas sudah membaca surah al-Kahfi. Seperti nya aku juga harus menyicil membacanya!” Sahut Hana mencoba bangkit namun tangan Haris berhasil mencegahnya.
“Lalu... kalau malam jumat itu sunnah nya apa?”
“Ya.... Membaca al-Kahfi” Sahut Hana lagi. Ia masih saja mengerjap-ngerjapkan mata bersusah payah menelan saliva melihat tatapan mata Haris yang begitu mengintimidasi. Laki-laki itu semakin menipiskan jarak mereka.
“Sudah pernah belajar kitab Qurrotul Uyun kan?” Hembusan udara hangat yang mengenai daun telinga nya membuat Hana meremang. Ini memang bukan pertama kalinya. Sudah untuk kesekian kalinya. Namun Haris selalu saja berhasil membuatnya merasa gugup.
"......... Mi Amor... Aku menginginkan mu. Sudah sejak lama rindu itu selalu gagal bermuara" Tatapan sendu Haris kembali terlihat. Di lingkungan Pesantren ini, waktu kebersamaan mereka memang begitu terbatas.
"..... "
"...... "
Ddrrrrrttt drrrrtttt
“Mas, ada pesan!”
“Biarkan saja”
Handphone Haris masih saja bergetar lalu berdering.
“Mas…..”
"Hmm" Haris benar-benar tidak ingin mempedulikannya. Namun deringan tersebut terasa kian mengganggu.
"Mas.... "
“Hhhhh” Haris bergerak malas. Ia mematikan handphone setelah membaca isi pesan.
"Dari siapa? " Tanya Hana cemas melihat raut wajah Haris yang berubah. Laki-laki itu bangkit dari tempat tidur. Nafasnya sedikit tersengal menyeimbangkan ritme udara yang keluar masuk dari rongga dadanya.
"Mas... Mas mau kemana? "
"Minum" Sahut Haris cepat.
"Nih... kamu juga minumlah" Haris menyodorkan sebotol air mineral setelah membuka segel sebelum nya terlebih dahulu. Ia duduk di tepian tempat tidur.
"Mas..."
"Hm? "
"Mas kenapa? " Tanya Hana bingung. Ia melihat wajah datar Haris yang tidak menyenangkan.
"Hhhh Deringan handphone tadi membuat Lelahku melampaui batas logika. Walau sudah di depan mata, rasa itu kian menggerogotiku dengan akselerasi rindu yang tidak berujung. Cinta memang seperti penyair berdarah dingin yang mampu menggores. Dalam interval yang memisahkan banyak keinginan, Aku berada dalam dua gelombang mental" Ucap Haris menatap Hana dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Tidurlah... Aku harus pergi..." Ucap Haris pada akhirnya. Pemuda tersebut bangkit, mengecup sebentar kening Hana lalu keluar kamar meninggalkan sang Istri yang mematung. Suaminya sungguh di luar dugaan.
__ADS_1
***
"Assalamu'alaikum... Permisi Abah Haji... Ini surat dari ibu Indah Setya Ningsih" Khadim Anwar menyodorkan selembar surat. Haji Zakaria mengambilnya setelah kembali menyematkan kaca mata yang sempat dibuka sebelum nya.
"Waalaikumsalam... Terima Kasih" Wajah hajjah Aisyah pucat pasi.
"Ummi kenapa? Dari tadi Abah tanya kok tidak menyahut? " Haji Zakaria kembali bertanya. Amplop telah berhasil beliau buka.
"Bah... "
"Hm? "
"Suratnya... "
"Kenapa dengan suratnya? "
"Biar Ummi bantu bacakan saja" Hajjah Aisyah menggigit bibir bawahnya cemas. Tangan beliau hampir saja meraih surat tersebut dari genggaman haji Zakaria.
"Tidak usah Mi... Ini mata Abah masih terang kok. Ummi duduk di sini saja" Haji Zakaria menepuk kursi kosong di sebelah beliau. Tenggorokan Hajjah Aisyah Benar-benar tercekat. Keringat dingin mengucur membasahi kerudung persegi yang beliau kenakan.
"Bah... suratnya dibaca besok saja. U... Ummi ingin bicara... " Ucap Hajjah Aisyah semakin panik. Namun sang suami tidak menggubris apa yang beliau katakan. Dengan satu gerakan, surat tersebut berhasil terbaca. Hajjah Aisyah hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata. Detakan jantung beliau serasa terhenti. Hajjah Aisyah sama sekali tidak berani menatap wajah haji Zakaria yang tengah meneliti bacaan surat dengan serius.
"Oh... Dik Indah mengajak kerja sama"
"A apa bah? Kerja sama?? "
"Iya Mi... Beliau mau mewaqafkan sebidang tanah seluas 2.5Hektar untuk perluasan pesantren" Terang haji Zakaria.
"Hhhhh Alhamdulillah... " Hajjah Aisyah menghembuskan nafas lega. Hampir saja jantung nya terlepas dari tempat.
"Ummi ini kenapa? Ada masalah apa dengan dik Indah? "
"Ti... tidak ada bah... Alhamdulillah jika dik Indah mau mewaqafkan tanah untuk kepentingan umat. Semoga niatnya terlaksana"
"Iya Mi. Alhamdulillah... Ya sudah. Abah mau lanjut baca kitab dulu"
"Baik bah" Sahut Hajjah Aisyah kembali menuju ke tempat duduk beliau semula. Namun belum sempat mendudukkan diri, pesan watsapp dari bu Indah melayang ke layar handphone yang ada di dalam genggaman tangan beliau. Perlahan Hajjah Aisyah membukanya.
Surat yang ada di tangan Mas Haji itu hanya awal permulaan saja... Semoga tidak membuat tegang urat syaraf kak Hajjah 🙂 Kalau Surat tentang kebusukan kak Hajjah berserta embel2 nya dipastikan akan segera menyusul jika Haris dan Arini tidak berhasil menikah! Atau seperti nya akan lebih asyik kalau Mas Haji menjadikanku istri kedua~ Kita bisa sering bertemu dan nostalgia tentang masa lalu ya.. hehe 😇🙏
Tubuh Hajjah Aisyah menegang. Sebuah pesan yang tidak bisa disebut singkat itu berhasil membuat tubuh beliau panas dingin. Beliau terhuyung sempurna.
"Mi, mari Abah antar ke kamar. Sepertinya Ummi benar-benar kurang sehat! " Haji Zakaria berhati-hati menuntun Hajjah Aisyah ke kamar. Beliau menghembuskan nafas ke Udara dengan sedikit menggeleng.
***
Roni telah menunggu di depan gerbang kediaman haji Zakaria. Asisten setia ini menanti Haris yang memberikan perintah dadakan. Haris memang lebih nyaman melakukan segala sesuatu bersama Roni di banding dengan Asisten lainnya.
"Roni... Arahkan mobil ke Rumah Tahanan~ Bawa aku menemui Eva Lalisa. Di sana Ustadz Yahya dan Mbak Iqlima telah menunggu. Sekalian kamu hubungi Romi. Aku membutuhkan nya saat ini! " Titah Haris tanpa basa basi.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
***
__ADS_1