
Tujuh hari sudah bu Fatma meninggalkan dunia yang fana ini. Meninggalkan anak menantu dan juga para kerabat. Semalam setelah usainya acara tahlilan, Haji Zakaria berpesan pada Haris agar siang ini mereka berkumpul di balai pertemuan. Ada hal yang ingin beliau sampaikan.
Haris berjalan menuju kamar menenteng sekeranjang buah-buahan organik. Ia menyempatkan diri singgah ke toko buah. Haris teringat bahwa beberapa hari ini ia memang kurang memperhatikan Hana dan calon anak mereka. Ya, itu semua wajar saja. Adanya musibah yang terjadi memang menyerap semua energi. Tak bisa dipungkiri, sampai saat ini kesedihan itu masih menyelimuti ruang dihatinya, pun begitu pula dengan Hana. Calon ibu dari bayi kembar itu bahkan tidak nafsu makan.
Pikiran Haris melayang pada Shirah Nabawiyyah. Dalam buku sejarah biografi kehidupan Nabi Muhammad SAW tersebut ada satu bab yang membahas tenang Amul Huzni yaitu tahun kesedihan bagi sang Rasul. Pada tahun tersebut, dua orang yang beliau kasihi dalam hidup wafat yakni istri beliau Khadijah binti Khuwailid dan paman yang bernama Abu Talib ibn ‘Abdul Muttalib atau yang lebih dikenal dengan Abu Thalib. Rasa sedih dan bahagia memang sangat manusiawi. Rasulullah sang manusia pilihan bisa bersedih, apalagi ia yang hanya manusia biasa. Namun kesedihan ini memang tidak boleh berlarut. Ibadah dan hak hidup tetap harus berjalan.
Driiiet
Haris membuka pintu kamar. Ia mendapati Hana yang tengah membaca surah Yasin. Alunan bacaan tartil dengan makhraj dan tajwid yang dilantunkannya terdengar sangat baik. Haris tersenyum lalu memilih duduk bersandar di kursi hingga surat Yasin tersebut sampai di penghujung. 83 ayat telah habis Hana khatamkan.
“Mas… Sudah lama duduk di sana?” Tanya Hana mengusap airmata yang masih saja mengalir.
“Khusyuk banget sampai ga sadar aku masuk ya?”
Hana menatap Haris yang terlihat tegar. Laki-laki itu mendekatinya.
“Terima kasih, dari awal kamu tidak pernah berhenti mengirimkan doa untuk Ummi” Ucap Haris meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Hana.
“Apa yang mas katakan? Hal yang sangat biasa bagi seorang anak mengirimkan doa untuk orang tuanya” Hana kembali sesugukkan. Airmata itu kembali tumpah.
“Ya, Kamu benar. Maafkan aku” Haris mengambil Hana lalu memeluknya. Ia pun kembali berkaca-kaca.
“Kamu sudah makan, hm?”
Hana menggeleng.
“Sudah kuduga. Aku akan mengambilkannya untukmu”
“Aku tidak selera makan apapun mas”
Haris diam. Ia tetap bangkit lalu mengambil sebuah Apel Fuji yang tadi baru saja dibeli lalu mengupasnya.
“Kamu makan ini terlebih dahulu sambil menungguku mengambilkan sarapan”
Hana masih menggeleng.
“Sayang… Ini sudah hampir jam setengah 10. Kita memang sedang berduka, tapi kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu. Apalagi ada buah hati yang harus kita perhatikan tumbuh kembangnya. Hmh biar aku menyuapimu. Aaaaa” Haris menyodorkan sepotong apel ke mulut Hana. Tidak ada pilihan, wanita ini menuruti apa yang Haris titahkan.
“Mas, apa kita tidak mencari tau tentang…”
“Tentang apa?”
“Tentang Ummi” Lirih Hana perlahan.
“Entahlah. Rasanya aku tidak sanggup. Semakin tau akan semakin menyakitkan. Hal ini akan membuat borok di hati menjadi lebih dalam” Tukas Haris yang terus menyodorkan apel ke mulut Hana.
“Jadi?”
“Aku harus menenangkan hati terlebih dahulu”
“Tapi mungkin saja ini semua benar-benar terjadi secara alami, Mas!”
“Hhhhh” Haris membuang nafas lalu menutup matanya.
“Ya. jangan khawatir, semoga perkataan kamu benar” Haris tersenyum mengelus puncak kepala Hana.
“Nih, kamu lanjutkan dulu. Biar aku mengambilkan sarapanmu. Setelah itu kita istirahat dan bersiap untuk hadir di ruang pertemuan keluarga” Ucap Haris bangkit. Hana mengangguk.
__ADS_1
***
“Mas, apa mas benar-benar akan menikahi Lisa?” Tanya Yura menggelengkan kepala tidak percaya.
“Aku berjanji menikahinya” Sahut Gibran santai. Ia mencomot sepotong anggur dari tangkainya lalu memasukkan ke dalam mulut.
“Apa?! Mas, jangan bercanda!!”
“Aku tidak bercanda”
“Mas, lihat aku. Apa mas yakin?? Bagaimana dengan Alisha? Mas, tolong putuskan dengan baik. Ku mohon!” Mata Yura mulai berkaca-kaca. Rasa kecewa memenuhi ruang dihatinya.
“Aku yakin. Lisa dan Alisha adalah dua orang yang mencintaiku kan? Jadi tidak ada bedanya jika aku menikahi salah satu di antara mereka”
“Tapi mas, Lisa itu…” Tenggorokan Yura tercekat. Ia menjeda kalimatnya.
“Aaarrgh mas, Alisha adalah wanita yang baik. Ia Shaliha. Ia pantas untuk mas! Ia sangat mengharapkan mas! Tolong pertimbangkan hal ini!” Ucap Yura berapi-api.
“Aku merasa malah aku nya yang tidak pantas untuk gadis seperti Alisha” Lirih Gibran.
“Baik Lisa maupun Alisha, aku tidak mengenal mereka. Menurut berbagai sumber, Alisha adalah gadis yang sudah dijamin baik. Ia hafal Al-Qur’an juga dari keturunan orang shalih. Alisha sudah bisa mandiri, apalagi jika dinikahi oleh Gus pilihan nantinya. Sedang Lisa, gadis itu sedang berproses menuju baik. Jika melalui tanganku Allah berkenan menurunkan pertolongan-Nya untuk Lisa, mengapa aku menolak kesempatan ini?”
“Tapi mas… Aku ga rela” Mendengar ini semua pertahanan Yura runtuh. Air mata-nya jatuh berhamburan.
“Adik mas tersayang… jangan menganggap Mas-mu ini orang yang suci. Allah hanya sedang menutupi aib-aib mas. Jangan juga memandang hina orang lain. Kita tidak tau siapa yang lebih baik dihadapan-Nya. Apalagi ia sudah mau bertaubat dari semua kesalahannya di masa lalu”
Yura terdiam. Tapi ia tetap masih tidak bisa menerima apa yang Gibran putuskan. Sebagai adik, ia hanya menginginkan yang terbaik untuk kakak laki-laki satu-satunya yang ia miliki.
"Bagaimana dengan perasaan mas? Jangan mengabaikan itu semua mas! Ku mohon... Mas harus memikirkan nya dengan baik! " Ucap Yura masih tidak menyerah.
"Baiklah. Aku akan shalat istikharah. Biarkan Allah yang menuntun jalan hidupku" Ucap Gibran tanpa ekspresi. Ia sendiri sedang dilema. Mengetahui Hana menderita karena perasaan Lisa terhadap nya, membuat semangat nya untuk menikahi Lisa naik berkali lipat. Ia tidak tau, apakah tindakan nya ini murni karena hati nurani atau memang karena Hana. Hati Gibran terasa kebas. Hatinya mencelos.
***
Haris dan Hana masuk ke dalam ruangan. Pasangan ini terlihat serasi dengan baju berwarna senada. Hana semakin anggun dengan gamis berwarna pastel. Perutnya sudah sedikit meninggi, hanya saja gamis longgar yang ia kenakan menutupi itu semua.
Haris menarik kursi untuk Hana duduki, baru setelahnya ia mengambil tempat. Tak lupa, Haris menusuk permukaan Aqua gelas dengan sebuah sedotan lalu ia sodorkan ke Hana.
“Minumlah…”
Hana mengambil minuman tersebut dan menyeruputnya hingga habis.
“Lagi?”
Hana menggeleng. Matanya tertuju ke arah ustadz Yahya dan kedua istrinya. Disana tampak Ustadzah Layla yang tengah mengobrol asik bersama sang suami. Sedangkan Ustadzah Iqlima hanya bisa menunduk dengan sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihatnya, Hana merasa sangat kesal. Tanpa sadar ia menggenggam tangan Haris.
“Kamu kenapa, hm?”
“Kalau mas poligami, apa akan tetap memperlakukanku dengan baik?” Bisik Hana tiba-tiba. Mood-nya berubah buruk. Ia menarik tangan lalu beralih mengusap perutnya yang telah menonjol.
“Ssssstttt, jangan bicara sembarangan. Kamu sudah tau jawabannya. Itu tidak akan pernah terjadi” Sahut Haris juga berbisik.
Tiba-tiba Seseorang yang hadir belakangan masuk ke dalam ruangan. Beliau mengambil tempat di samping Iqlima. Jarak mereka hanya terpisah oleh dua kursi kosong.
“Gus Haris… Ning Hana” Sapa orang yang tak lain adalah Ustadz Ilyas. Beliau merupakan saudara sepupu dari Haris. Lebih tepatnya, Ibu Ilyas adalah kakak kandung dari Ibunya Haris, Sedangkan Haji Muhaimin (ayah beliau) merupakan sahabat karib dari Haji Zakaria. Sebagaimana ustadz Yahya, beliau juga pengasuh utama pondok pesantren yang kakek buyutnya dirikan.
“Masya Allah, Ahlan wa sahlan Ustadz Ilyas!” Sahut Haris dengan wajah sumringah. Walau wajahnya sumringah, tapi gurat kesedihan tetap terpancar di sana.
__ADS_1
Ustadz Ilyas membalas dengan senyuman serupa lalu beralih menoleh ke samping kanannya.
“Ustadz Yahya… Ustadzah Iqlima…”
“Ya…” Jawab Ustadz Yahya datar kemudian melihat Iqlima yang menanggapi sapaan Ustadz Ilyas dengan senyuman. Layla melihatnya geram. Bisa-bisanya Ustadz Ilyas melupakan keberadaannya.
“Apa kabarmu?”
“Alhamdulillah.. seperti yang terlihat, aku sangat baik” Sahut Iqlima menunduk.
Sial. Ternyata Ilyas memang masih mengincar Iqlima. Ucap batin Ustadz Yahya. Beliau langsung mengepalkan tangannya.
“Heemm… Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Baarakaatuh” Haji Zakaria membuka pertemuan hari ini dengan salam.
“Terima kasih sudah memenuhi undangan. Seperti yang sudah disebutkan di awal, kita berkumpul bersama di sini untuk membahas apa-apa yang telah almarhumah Fatma tinggalkan, wasiat beliau hingga ahli waris. Saya sebagai tetua di sini akan memimpin jalannya rapat, diharapkan semua hal akan terang dan jelas”
“Sesuai dengan anjuran agama. Pada hakikatnya harta yang ditinggalkan almarhumah adalah amanah yang harus segera ditunaikan atau diserahkan kepada pemiliknya yang berhak. Maka menunda pembagiannya sama saja dengan sikap tidak amanah. Sikap yang begitu seperti mengambil harta yang bukan miliknya. Hal ini juga cenderung mempermainkan harta milik orang lain. Padahal kita diperintahkan untuk bersikap amanah," Ucap Haji Zakaria berwibawa. Haris menunduk menitikkan airmata.
“Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 58:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat."
"Dalam surat Al-Anfal ayat 27 Allah SWT juga berfiman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."
Rasullah menegaskan orang tidak amamah masuk dalam golongan orang yang munafik. Orang yang munafik akan mendapat azab dari Allah SWT.
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
"Tanda-tanda orang munafiq itu tiga : Bila bicara dusta, bisa janji cedera, dan bila dipercaya khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).
" Salah seorang Khadimah yang telah mengabdi puluhan tahun pada Almarhumah Fatma menyebutkan bahwa beliau sempat membuat video wasiat. Maka sebelum menetapkan ahli waris berdasarkan ilmu agama, ada baiknya kita melihat dan mendengar wasiat apa yang almarhumah Fatma sampaikan” Ucap Haji Zakaria. Semua yang hadir mendengarkan dengan saksama hujjah Ulama Karismatik yang ada di hadapan mereka.
“Ini di tangan saya ada sebuah Flash Disk berisi video wasiat. Mari kita simak bersama. Setelah itu kita putuskan secara hak. Tolong diputarkan, Nak!” Titah Haji Zakaria pada ahli IT.
Video pun diputarkan. Semua tatapan beralih ke layar yang sudah di sambungkan pada sebuah proyektor. Tiba-tiba tampilannya menjadi Blank. Titik-titik semut menghias di sana.
“Tolong di setting lagi, Nak!” Haji Zakaria kembali menitahkan. Pada kerabat sudah merasa tidak sabar ingin mendengarkan apa kata-kata terakhir dari Fatma sebelum beliau meninggal.
Video terus berjalan dengan warna hitam yang masih belum menemukan terangnya. Video tersebut sampai pada detik ke 53. Namun tiba-tiba,
Tolong kamu lenyapkan Hasbi Abdurrahman. Bagaimanapun caranya. Lenyapkan ia. Terdengar suara hajjah Aisyah memenuhi ruangan.
Semua orang terhenyak. Hajjah Aisyah terkejut bukan kepalang. Hasbi Abdurrahman yang beliau sebutkan itu adalah Ayah kandung dari Haris.
“Matikan videonya!!! Matikan!!!” Pekik hajjah Aisyah memberi perintah. Bagai dejavu. Mereka yang hadir seolah-olah kembali menyaksikan bersama pemutaran video kebusukan Eva Lalisa namun kali ini dalam versi berbeda.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***