
Hajjah Aisyah terduduk di atas sajadahnya. Beliau tengah memikirkan ancaman bu Indah. Ada dua hal yang adik seperguruan nya itu pinta. Beliau disuruh untuk memberikan setengah harta milik Haris atau Menikah kan Haris dengan Arini.
Kedua permintaan tersebut memang tidak ada yang merugikannya. Namun bagaimana ia bisa mewujudkan ini semua? Indah tidak pernah bercanda akan ancamannya. Wanita culas itu akan melakukan apapun demi mewujudkan ambisinya.
Sreeeggg.
Haji Zakaria tampak memasuki ruangan. Beliau menggeser pintu dorong yang beroda.
"Abah telah kembali? " Hajjah Aisyah sumringah. Suami nya memang sudah beberapa hari tidak pulang. Beliau bangkit ingin memberi salam takzim pada sang suami.
"Abah ada wudhu' Mi" tolak haji Zakaria berlalu masuk ke kamar.
Air muka Hajjah Aisyah berubah seperti perubahan akan dingin nya sikap haji Zakaria. Tidak seperti biasa, kali ini sang suami menolak salam darinya.
"Bah... Tunggu... "
"Ada apa Mi? " Tanya haji Zakaria yang melepas sorbannya.
"Abah, Abah jangan ceraikan Ummi yaa! " Ucap Hajjah Aisyah tiba-tiba. Haji Zakaria terhenyak.
"Astaghfirullah... Ummi ini bicara apa? Kenapa tiba-tiba ngelantur? "
"Abah bisa berjanji tidak akan menceraikan Ummi kan? " Tanya Hajjah Aisyah penuh harap. Haji Zakaria mematung. Apa sikapnya selama ini terhadap sang istri berlebihan?
"Kita ini sudah tua Mi, apa yang kita harapkan di hidup ini selain kedekatan sama Tuhan? Abah ini juga sudah bau tanah" Sahut haji Zakaria.
"Tidak. Abah masih gagah. Masih tampan. Abah laki-laki terbaik. Jadi pendamping abah, anugerah yang luar biasa yang Allah berikan untuk Ummi" Hajjah Aisyah berkaca-kaca.
Mendengar perkataan istrinya, Haji Zakaria luluh. Ia bangkit memeluk dan mengecup puncak kepala sang istri. Sebenarnya, Hajjah Aisyah cemas, jika sewaktu-waktu masa lalu nya terbongkar dan haji Zakaria akan langsung menceraikan nya lalu menikahi wanita lain.
"Abah bisa janji kan? Apapun yang terjadi Abah tidak akan mencerai kan Ummi. Abah tidak akan mencampakkan Ummi... Janji kan bah? " Tanya hajjah Aisyah lagi. Haji Zakaria menatap wajah sang istri lekat-lekat.
***
Hana berada di rumah sakit ditemani oleh Yura untuk memeriksakan organ reproduksi nya. Ia pun sedikit merasa tidak enak badan akhir-akhir ini. Pinggangnya sering kram, selera makannya juga menurun. Mungkin karena berjauhan dari suami. Pikirnya.
Dokter Cut Meutia telah menunggunya. Hana masuk ke ruang pemeriksaan. Untuk langkah awal, Ia akan diperiksa dengan USG reguler kemudian juga akan di lakukan USG transvaginal guna melihat masalah yang lebih lanjut.
Hana berbaring di kasur medis yang tersedia. Yura dengan setia menemani di dekatnya. Tak bisa dipungkiri, jantung Hana terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar takut ada masalah dalam tubuhnya.
"Kapan haid terakhir nak Hana? " Tanya dokter langganan Umminya itu.
"Saya tidak ingat dok" Ucap Hana lemas menyadari keteledoran nya mengingat tanggal.
__ADS_1
"Hmh... Tapi sudah terdapat kantung janin di sini Nak! Seperti nya kita tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan. Kandunganmu sangat sehat! " Ucap dokter membawa alat USG mengitari perut Hana. Yura bangkit dari duduknya.
"Ba.. bagaimana maksudnya dok? " Hana terperangah.
"Saya melihat ada kantung janin di sini. Tidak hanya satu. Melainkan dua. Detak jantung nya juga sudah terdengar!" Ucap dokter Cut Meutia sumringah. Hana dan Yura saling menatap.
"Itu artinya Hana hamil dok?? " Tanya Yura tak sabar.
"Benar. Tepat sekali! Selamat nak Hana! Kamu hamil anak kembar! Usianya memasuki 8 minggu" Terang dokter. Hana berkaca-kaca. Matanya basah. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang didengar nya.
"Janinnya sehat dok? Tidak B.O atau hamil anggur? " Hana masih harus memastikan, sebab rasa trauma itu masih memenuhi ruang di hatinya.
"Alhamdulillah semua sehat nak! USG trimester pertama adalah metode paling akurat untuk mengetahui usia janin dalam kandungan. Semoga Allah terus menjaga janin ini. Suamimu pasti senang sekali mendengarnya! Jangan lupa bulan depan datang kembali untuk memeriksakan kandunganmu. Saya akan meresepkan obat dan vitamin yang harus kamu konsumsi rutin" Ucap dokter lebih lanjut.
Hana memegang erat telapak tangan Yura. Airmata nya sukses mendarat di pipi. Ia menerawang jauh. Melayarkan pikirannya pada Haris yang berada jauh di benua berbeda.
***
Lisa terlonjak girang saat mengetahui kenyataan bahwa Haris sudah tidur. Ia hanya perlu menunggu waktu 15 menit saja untuk beraksi. Dengan berbekal baju tidur yang telah dipersiapkan, ia kembali mengendap-endap ke kamar Haris. Perlahan ia membuka pintu kamar tersebut, jangan tanyakan dari mana kunci akses ia dapatkan. Yang jelas, saat ini Lisa telah kembali ke kamar yang sampai saat ini masih ia kagumi keharumannya.
Lisa memandangi wajah Haris yang terlelap, ada sedikit rasa sesak yang menyelinap halus di hatinya. Ia sudah sampai ke tahap ini, sudah sampai sejauh ini. Seharusnya ia tidak perlu melakukan hal konyol lagi menjijikan jika segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya. Ia gadis terhormat. Ibunya bukanlah orang yang tidak memiliki kedudukan. Dari garis keturunan Ayah, darahnya juga dialiri oleh darah keturunan bangsawan.
Ia cantik juga cerdas. Walau seringkali tidak diakui karena Hana selalu saja menutupi pesonanya. Ayah pergi meninggalkan ibu saat usianya 5 tahun. Kerap kali ia melihat kekerasaan yang Ayah lakukan pada ibu karena ibunya ketahuan selingkuh. Keluarganya hancur tercerai berai. Lisa tidak memiliki tumpuan, apalagi saat ayahnya meninggal ketika usianya hampir genap 7 tahun.
Hidup bersama ibu yang bergonta ganti pasangan memang bukan hal mudah. Kini ia harus mengikuti jejak ibu namun dengan cara dan pola berbeda. Lisa tersenyum masam. Air mata mengalir perlahan di pipi tanpa ia sadari. Tidak. Ia tidak boleh lemah. Apapun yang ia lakukan, tak akan mengurangi nilai dirinya.
Lisa mengusap mata basahnya dengan Gerakan cepat. Ia melihat Haris yang sepertinya memang sudah tertidur pulas, tak segan ia langsung membuka kerudung lalu melepas ikatan rambutnya. Geraian rambut pirang itu jatuh berjuntai-juntai. Ia memang suka mewarnai rambut. Tak lupa ia mengoleskan parfum Yasmin persis seperti aroma tubuh Hana. Ia ingin membuat Haris terkesan.
Dengan gerakan lincah, Lisa membuka cardigan yang membaluti tubuhnya. Kini baju tidur tanpa lengan dengan V neck menghiasi tampilannya. Lisa membuka sedikit selimut dan mencoba berbaring di samping Haris lalu mengambil ancang-ancang untuk membuka penuh pakaiannya. Ia yakin Haris sudah tidak dalam keadaan sadar saat ini. Pelan-pelan ia melakukan aksinya. Sampai tiba-tiba,
“Eva Lalisa! Mau apa kau di kamarku?!” Bentak Haris dengan nada keras. Ternyata laki-laki ini tidak tidur. Kepalanya sedikit pusing namun ia tetap bangkit. Dengan Gerakan cepat ia melempar selimut ke tubuh Lisa yang sudah hampir setengah tanpa busana. Gadis itu bukan menutupi tubuhnya. Malah diam mematung dengan tenggorokan tercekat.
“Ma… Mas tidak tidur?” Tanya Lisa dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Ia terlalu terkejut, obat dengan dosis kuat yang ia campurkan ke dalam minuman ternyata tidak mampu membuat Haris pingsan.
“Ti.. Tidak mungkin” Gumamnya berjalan mundur. Seketika kesadarannya kembali. Dengan cepat ia menyambar kerudung kurung dan cardigannya lalu berlari membuka pintu. Tangan nya juga memperbaiki pakaiannya yang Sudah terlanjur terbuka.
Haris terduduk. Kepalanya pusing maksimal. Ia ingin muntah. Jantungnya berdetak kencang. Sesuatu yang seperti mencekik terasa di leher. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung keluar dari pori-pori kulit kuningnya.
Lisa membuka pintu. Ternyata di depan nya sudah berdiri Ridwan dan Roni dengan tatapan membunuh.
“Mau kemana kamu?” Tanya Roni pelan. Ia tidak ingin membuat kegaduhan. Lisa ingin menerobos dua laki-laki yang ada di hadapannya namun dengan cepat Ridwan dan Roni langsung meringkusnya dan menyeret Lisa kembali ke kamar. Mereka mendudukkan gadis ini ke kursi.
Haris telah memuntahkan semua isi perutnya. Ia keluar dari dalam toilet dengan menenteng sebuah handuk kecil. Haris membasuh wajah basahnya dengan handuk tersebut. Kini Ia terlihat lebih fresh lalu melangkah mendekati Lisa yang menunduk.
__ADS_1
“Dimana kerudungnya?” Tanya Haris menatap kedua temannya. Roni balik ke depan pintu dan mengambil kerudung Lisa yang tadi terjatuh. Roni menyodorkannya pada Lisa.
“Cepat pakailah!” Titah Haris tak ramah. Laki-laki ini menahan emosinya. Ia juga melempar baju kemejanya untuk menutupi kaki Lisa yang terbuka.
Lalu Haris melepaskan camera mini yang ada di ruang kamar dengan sekali hentakan. Lisa benar-benar terperanjat. Ia tidak menyangka ternyata Haris mengetahui dimana ia meletakkan camera.
“Apa yang kamu inginkan?” Tanya Haris masih dengan nada normal. Lisa diam tak berkutik.
“Katakan apa yang kamu inginkan?” Haris kembali bertanya namun Lisa tetap membisu. Ia tidak menjawab sepatah katapun. Berulang kali Haris menanyakan apa motif dibalik semua kejahatannya, Lisa tetap tak bergeming.
“Jawab!!!” Haris kehabisan kesabarannya. Lisa terperanjat. Gadis ini gemetaran.
“Roni! Jangan lepaskan wanita ini. Pulangkan ia ke Indonesia, jebloskan ke dalam penjara!!” Titah Haris.
Lisa mendongakkan kepalanya tercengang. Spontan ia memegang kaki Haris lalu mengiba memohon ampun.
“Lepaskan! Aku tak sudi disentuh oleh tangan kotormu!” Ucap Haris kasar. Hampir saja ia menendang gadis dihadapannya dengan sekali tendangan. Namun ia masih memiliki hati Nurani. Perlahan Lisa melonggarkan pegangan tangannya. Ia bergerak mundur.
“Kenapa mas memperlakukan ku sekejam ini? Mas memperlakukanku seperti tawanan perang!” Protes Lisa sesugukan.
“Apa? Kejam?? Cih!” Haris menggelengkan kepalanya. Rasanya Ridwan sudah ingin membabat habis mulut wanita disampingnya.
“Aku bahkan punya seluruh bukti rekam jejak kejahatanmu. Kau pikir, aku bisa kau kelabui dengan sebegitu mudahnya?? Kemudian akan jatuh berulang kali ke lubang yang sama?! Huft. Aku mewakili Hana membangunkanmu dari mimpi indah. Sudah saatnya kau bangun Lisa! E.v.a L.a.l.i.s.a!” Sarkas Haris mengeja.
Lisa terhuyung.
"Aku memasang camera di kamar ini sebelum kau memasang kamera mu! Aku juga menyuruh orang untuk memantau pergerakanmu! Selama di Bar, Roni melihat semua apa yang kau lakukan. Termasuk mencampurkan obat tidur dan obat perangsang ke dalamnya. Roni mengabarkan padaku bahwa kau membeli obat-obatan tersebut pada saat jam istirahat..."
" Dan aku... langsung membeli obat penetralnya. Jadi aku tetap sadar walau telah meminum air yang telah kau campurkan obat. Kau ingin menjebak ku dengan drama picisan mu...
"Kau..... " Tunjuk Haris tepat di antara netra Lisa.
"Ingin menciptakan drama bahwa aku telah meniduri mu. Dan nanti aku harus mempertanggungjawabkan semua dengan menikahi mu bukan?" Tuduh Haris dengan mata merah menyala.
"Kau..... " Tunjuk Haris lagi.
"Ini adalah bukan kali pertama kau melakukan kejahatan. Jauh sebelum ini, satu setengah tahun lalu... Saat kau menjebloskan orang yang dengan tulus menganggapmu sebagai sahabat ke dalam jeruji besi. Kau juga yang menyiksa batinku dengan rasa bersalah. Membuatku hampir mati menahan rasa rindu di setiap harinya karena tidak dapat menemui Hana. Lalu Kau membuatku seperti orang bodoh yang tidak mampu melindungi istriku sendiri. Menjadikan semua kejahatan mu sebagai bahan candaan dan permainan. Bahagia di atas penderitaan orang Orang lain. I see Human. But not Humanity!! Semoga kau juga belum melupakan peristiwa itu ... Eva Lalisa!!!
***
Maaf masih banyak typo ya.. belum sempat ngedit 🙏
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
__ADS_1
IG @alana.alisha
***