Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 49: Di Dalam Mobil Jimny


__ADS_3

Bulan kian beranjak naik, itu artinya malam semakin larut, angin dingin serasa menembus kulit. Penampilan Haris sudah acak-acakan tidak se-klimis saat menghadiri acara tadi. Ia telah merenggangkan dasi yang dikenakannya, kemeja panjang nya sudah diangkat setengah lengan. Jasnya kini berada di kursi mobilnya. Berkali-kali ia mengacak-acak rambut yang telah terolesi minyak.


Ia baru saja menunaikan shalat isya’ nya. Kali ini ia tidak ikut berjama’ah sebab mencari dimana keberadaan istrinya. Namun, Buntu. Sepanjang pencarian akan hilangnya Hana,


ia belum menemukan tanda-tanda dimana istrinya tersebut.


Haris telah menghubungi beberapa teman dekat Hana, sudah pulang ke rumah, bahkan memantau rumah mertuanya, barangkali istrinya berada di sana. namun, keberadaan Hana di sana sama sekali tidak terdeteksi. Ia harus melakukan apa sekarang. Apa jangan-jangan Hana diculik? Ya Rabb… betapa malangnya ia sebab tidak bisa melindungi istri yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawabnya.


Ridwan sang sahabat pun berkali-kali menghubungi Haris, pemuda itu juga merasa khawatir atas hilangnya istri Haris. Ridwan kembali mengambil gawainya untuk kesekian kali, ia kembali menelepon


Haris,


“Gimana bro? Udah ada kabar dari Hana?”


“Belum” Haris menjawab lemas. Ia memberi jeda beberapa saat, menarik nafas kemudian lanjut berkata,


“Sepertinya jika setengah jam lagi gue ga juga mengetahui dimana keberadaan Hana, gue akan menghubungi polisi!” Ucap Haris.


“Iya, benar. Sepertinya itu pilihan yang tepat untuk saat ini. Lu yang kuat dan tabah ya. Di sini gue udah menyelidiki bagaimana kronologi Hana hilang. Dengan berat hati gue harus bilang Hana memang mabuk. Sepertinya ia dijebak!” Ucap Ridwan.


“Mabuk??? Dijebak???”


“Ini baru kemungkinan. Gue mengatakan hal ini setelah melihat bagaimana keadaan TKP, lagian Hana istri lu yang lugu alim itu ga mungkin minum alkohol kan? Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk kita bahas masalah itu, lu cari tau dulu dimana keberadaan Hana, nanti baru kita cari tau apa yang sebenarnya terjadi. Kita benar-benar harus menuntaskan masalah ini!” Ujar Ridwan mantap.


“Makasih bro, lu selalu ada saat gue butuh” Ucap Haris tulus. Betapa ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat yang baik seperti Ridwan.


“Laa syukra ‘alaa waajib”


***


Hana berada di dalam sebuah mobil jimny yang dimiliki orang-orang suruhan Hanum. Didalamnya terdapat 3 orang laki-laki yang memakai jaket kulit berwarna hitam, coklat dan yang satunya hanya memakai baju kaos hitam polos. Perawakan mereka sedikit menakutkan, yang satu memiliki postur tubuh yang kurus ceking tinggi dengan rambut ikal panjang dipanggil cungkring, pemuda ini adalah asisten dari bos yang memiliki postur tubuh tinggi besar dengan wajah penuh jerawat batu. Bosnya bernama Boris sedang yang satunya bertubuh agak lebih pendek dari


yang lain, berkulit hitam dan berambut gimbal, dia biasa dipanggil botak walau memiliki rambut yang lebat. Kesemuanya memiliki aura yang tidak enak dilihat.


“Bos, cantik nih cewek!” Seru cungkring yang dari tadi memperhatikan Hana di sela-sela kesunyian dan temaram lampu dari jalanan, dari tadi mereka tidak banyak melakukan percakapan, hanya asap rokok yang menyesakkan dada mengepul-ngepul tebal di dalam mobil, untung saja salah satu jendela mobil terbuka.


“Iya bos, barang bagus ni!” Sambung si botak dengan mengangkat Sebagian bibirnya. Nyengir.

__ADS_1


“Pasti dong. Mana mungkin disia -siakan. Tunggu saja sampai hotel. Hahaha” Boris sang pemimpin kelompok tertawa terbahak.


“Jadi ga sabar sampai hotel nih!, Kring, cepat nyetirnya!!” Perintah Botak pada cungkring yang menyetir.


“Enak aja!!! Jatah gue ni, ntar kalau gue udah puas baru giliran kalian!! Hahahhaa” Boris membentak anak buahnya sambil tertawa lepas.


Drrrrt drrrrrttt


“Haaaalo bu Hanuam” Boris mengangkat panggilan telepon dari Hanum dengan menjawab santai.


“Sudah dimana kalian?”


“Masih diperjalanan, kira-kira 15 menit lagi sampai di hotel” jawab Boris.


“Kenapa lama sekali???” Hanum melirik jam tangannya.


“Ini si cungkring tadi berhenti di SPBU untuk buang air kecil. Biasa pipis, pipis! Hahaha” Boris kembali tertawa. Entah apa yang ia tertawakan.


“Baiklah. pastikan semua aman!!” Ucap Hanum lagi


“Tenang bu bos, asal transferannya lancar, semua pasti berjalan dengan baik, bukankah begitu? Hahaha”


“Teeeenang bu bos, gampang itu! Haahaha! Jadi setelah ke hotel apa yang harus kami lakukan? Bolehkan cicip cicip nih cewek, hahahaa!?”


“Terserah kalian! Yang penting kalian tambah dosis obat biusnya. Besok kalian pulangkan Ia ke rumah nya, letakkan di teras dalam keadaan pingsan. Mengerti!” Perintah Hanum setengah berbisik.


“Siap bu bos”


Tiiiiit tiiiiiiitttt


“Hahahaha, good good, kita dapat mangsa bersenang-senang malam ini! Izin sudah kita kantongin”


“Mantap-mantaaappp, Hahhaahaa haahahaha” Semua penghuni mobil tertawa terbahak-bahak kecuali Hana.


Hana sendiri tengah tidak sadarkan diri, tadi ia diberi obat bius oleh Boris sebelum dibopong ke dalam mobil agar memudahkan mereka dalam beraksi, sebab kelakuan Hana tadi sangatlah merepotkan, ia tidak berhenti berbicara


ngawur dan parahnya hendak melompat ke kolam renang.  Hana sempat menyebut nyebut nama Gibran, Ummi

__ADS_1


juga Abahnya, sesekali ia menyelipkan nama Haris yang dianggap tidak mencintainya dan telah memiliki kekasih. Hana menyerocos tanpa henti sambil tertawa. Betapa alkohol benar-benar telah melenyapkan kesadarannya.


Hal ini juga yang menjadi topik panas penghuni kantor. Apalagi dengan menghilangnya Hana dan Haris secara mendadak. Gosip yang terus menyebar dan tidak bisa dibendung. Jujur saja,  saat acara, Ridwan merasa kewalahan menghadapi berbagai pertanyaan yang datang, sebab ia yang tiba-tiba naik ke podium untuk serah terima jabatan dan berpidato sewajar yang ia bisa ketika menggantikan Haris. Ah, untung saja Ridwan termasuk


ke dalam daftar orang yang di undang dalam undangan acara kantor, kalau tidak, keadaan Haris sendiri akan sangat kacau.


***


Di Kediaman Hana.


“Bah, kok Ummi ga enak perasaan ya? Merasa was-was gitu” Tanya Umminya Hana kepada Abah. Ummi dan Abah tengah duduk santai di teras rumah mereka sambil menatap rembulan malam yang indah, namun sangat berbeda


dengan suasana hati Ummi. Hati beliau diliputi kegelisahan yang entah apa sebabnya.


“Istighfar, Mi. Perasaan was-was biasa berasal dari syaithan” Nasehat Abah sambil menyeruput kopi yang tersedia di meja.


“Iya bah, tapi Ummi kepikiran Hana”


“Kepikiran bagaimana, Mi?” Abah menggerakkan kepalanya melihat ke arah Ummi.


“Ga tau bah, Hati Ummi terus kepikiran Hana, apa Ummi telepon saja ya?”


“Kalau menelepon membuat Ummi tenang, teleponlah. Abah juga ingin mengetahui bagaimana kabar Hana” Ucap Abah bijak.


Ummi mulai melakukan panggilan telepon, namun nomor yang dituju tidak dapat dihubungi, Ummi mencoba lagi dan lagi, Nihil. Tetap sama, tidak ada jawaban.


“Bagaimana mi?’’ Tanya Abah lagi.


Ummi menggeleng.


“Apa sebaiknya Ummi menelepon Haris ya bah?”


“Jangan mi, sudah malam. Biarkan mereka beristirahat. Besok kita telepon lagi, kalau perlu besok kita kunjungi mereka”


“Baik bah, Ummi mau shalat sunnah dulu, mau mendoakan Kesehatan dan keselamatan Hana dan Haris, anak mantu kita bah”


Abah menggangguk mengiyakan.

__ADS_1


***


__ADS_2