
"Kau telah gagal. Berhentilah melakukan hal-hal di luar nalarmu" Ucap Romi tajam. Ia berhasil mencegat Arini pergi.
"Aku tidak tau sebanyak apa mas Haris menceritakan tentangku padamu"
"Haris memang harus melakukannya. Karena..."
"Karena apa? "
"Karena akulah yang membantu Haris membongkar kasusmu! " Ucap Romi dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi Kamu adalah.... "
"Ya. Aku bekerja di kepolisian"
"Kau terlalu ikut campur!! " Sembur Arini, kali ini ia marah, matanya menyala.
"Aku hanya melakukan tugasku., lalu Mengapa kamu berubah? " Romi bertanya seraya menatap wajah sembab Arini. Kali ini mimik wajahnya menunjukkan keseriusan.
"Itu bukan urusanmu! " Ucap Arini ketus.
"Perasaanku padamu akan selalu sama, tindakanmu akan selalu menjadi perhatian ku" Ucap Romi dengan menghujamkan tatapannya tepat ke netra Arini. Wanita ini terhenyak.
"Kamu tidak waras! jawaban ku akan tetap selalu sama. Dulu aku menolakmu, sekarang aku juga menolakmu, di masa yang akan datang aku akan tetap menolakmu! Selamanya akan tetap sama!!" Ucap Arini angkuh, setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh penekanan.
"Siapa yang lebih tidak waras di sini? Aku berhenti berjuang ketika kamu akan dilamar oleh Haris, sedangkan kamu?? Bahkan Haris sudah menikah sekarang!! " Romi menyindir keras, ia berkata sinis.
"Berhentilah, aku ingin kamu bahagia! Kamu Arini yang manis, kamu bukan kriminalis" Lanjut Romi.
"Huh, kamu tidak tau apapun tentangku. Kamu tidak mengerti sedalam apa hati wanita. Stop berkhotbah! Aku tidak membutuhkan nya!! " Arini berlalu meninggalkan Romi yang masih setia duduk menatap kepergian nya dengan mata tatapan yang tidak bisa dimengerti.
Arini keluar dari gedung apartemen dengan perasaan kesal. Romi benar-benar memperburuk moodnya. Ia mengambil handphone dan melakukan panggilan,
Lisa, Kamu dimana?
Okay, aku kesana sekarang!
Tit tit tit
Mobil Arini tiba di halaman rumah Lisa. Gadis itu tengah menantinya di teras rumah dengan ditemani secangkir kopi dan koran yang terlambat ia baca hari ini.
"Kamu sialan! " Arini membuka sepatu heels nya menaiki teras. Ia langsung menghardik Lisa.
"Haha. Jangan salahkan aku. Salahkan kebodohan nya. Ia terlalu setia pada penghianat" Ucap Lisa menyindir.
"Lalu kamu lepas tangan begitu saja? "
"Apa lagi yang aku harapkan selain hidup bebas seperti ini? " Lisa mengangkat kopinya lalu meneguk beberapa teguk. Santai.
"Kamu keterlaluan! " Arini geram.
"Benarkah? Aku tidak melakukan apapun. Bukankah kamu yang membongkar kebusukan sahabat mu sendiri? Apa kamu sudah amnesia? Sekarang katakan, aku atau kamu yang keterlaluan?! Sambar Lisa keras.
__ADS_1
"Dengar! kalau bukan karena rekaman laknatmu, mungkin Hanum akan baik-baik saja sekarang!" Lisa melanjutkan.
"Kalau saja bukan karena kecerobohan mu, kita juga sudah berpesta sekarang!!" Ucap Lisa lagi, ia terus saja melimpahkan semua kesalahan pada Arini.
Arini terduduk. Ia menangis.
"Jangan cengeng. Tidak ada gunanya kamu menangis. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang tentukan lah. Kamu akan membantu Hanum bebas atau tetap memperjuangkan Haris? " Lisa bertanya, ia berdiri berkacak pinggang satu jarinya menunjuk ke Arini.
"Apa aku boleh memilih keduanya? " Arini sesugukan, ia kehilangan arah.
"Tentu saja"
"Kamu tidak akan lepas tangan kan? "
"Maaf, aku sudah tidak tertarik dengan permainan sepele seperti ini" Lisa kembali duduk dan menggoyang kan kakinya.
"Ku mohooon" Pinta Arini.
Samar-samar Lisa tersenyum. Binar matanya menunjukkan kemenangan.
***
Haris memasangkan helm berwarna merah muda ke kepala Hana. Mereka memutuskan menuju penginapan menaiki sepeda motor. Awalnya Haris tidak setuju, akan sangat riskan apalagi kondisi sang istri yang belum fit sepenuhnya. Namun, Hana bersikeras. Ia memasang puppy eyes menggemaskan hingga meluluhkan hati Haris. Akhirnya Haris mengalah namun tetap dengan berbagai syarat.
Motor yang membawa Haris dan Hana membelah jalanan senja. Suasana agak padat sebab waktu petang seperti ini orang-orang baru saja selesai dari berbagai aktifitas mereka. Haris membawa motornya dengan berhati-hati.
Hana membuka kaca helmnya. Ia membiarkan wajahnya berbenturan dengan angin. Menutup kelopak matanya dan tersenyum menikmati. Haris memperhatikan Hana dari kaca spion.
"Hana, nanti kamu masuk angin" Haris memperingatkan.
"Nanti kamu masuk angin" Ulang Haris.
"Oh. Iya. Sebentar saja, Mas! Ini benar-benar menyenangkan" Dari atas motor, Pelan-pelan Hana mengulurkan tangannya mendekap suaminya erat. Haris merasakan apa yang Hana lakukan lalu menyunggingkan senyum. Ia menyentuh tangan yang memeluknya dari belakang itu membawanya agar mendekap lebih erat.
"Aku tau tempat yang lebih menyenangkan, kita singgah sebentar sebelum ke penginapan" Ucap Haris.
Hana mengangguk setuju. Motor Haris terus melaju, mereka memutar arah berbeda dari tempat tujuan yang sesungguhnya.
Semburat jingga kemerahan merekah di penghujung senja. Musim panas akan berganti dengan musim penghujan. Burung-burung mengepakkan sayapnya ke arah timur, mereka kembali dari perantauan. Angin malam datang mendesau-desau. Nelayan siap bertarung dengan ombak dan arus di lautan lepas.
Mata Hana Berbinar-binar, ternyata Haris membawanya ke pantai lepas. Bersama mereka melihat matahari yang hampir hilang di garis lautan.
"Mas... Indah sekali, Ya!!" Hana memanggil Haris, namun matanya terus saja menatap sunset yang berada di hadapannya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya menopang pipi dengan meletakkan sikutnya ke atas meja.
"Hm... Kamu benar, memang sangat indah!" Sedang Haris sendiri terus saja menatap Hana. Matanya tidak terlepas. Ia mendamba.
Seperti pasangan muda mudi lainnya. Pasangan suami istri ini menikmati senja dengan cara mereka masing-masing. Hana menyeruput air kelapa yang sudah Haris pesan.
"Mas ga minum? Detik-detik matahari tenggelam nih, kita harus bergegas beranjak, sudah maghrib" Ucap Hana, ia menoleh melihat Haris sekilas lalu membawa tatapannya kembali ke matahari tenggelam. eh, tunggu. Ada yang aneh, Hana kembali melihat Haris.
"Mas kok malah liatin aku, apa ada yang aneh? " Hana meraba-raba wajahnya.
__ADS_1
"Ya Humaira, Ya Haura, Ya Hurriya.... " Panggil Haris acak namun masih terus saja melihat Hana.
Hana mengkerutkan keningnya. Haris tersenyum.
"Maksud mas? " Hana gagal paham.
"Kamu gambaran ketiga kata itu, seorang berkulit putih kemerah-merahan dan bermata elok dengan hati yang seperti bidadari, binar di mata mu mampu menjelaskan semuanya"
Bluuuussshh, Angin mengayun-ayunkan rambut Haris, helaiannya melambai-lambai diterpa angin. Hana terpana.
"Mari kita selfie, kita belum punya foto bersama, Sunset nya lagi bagus! " Ajak Haris.
Pemuda itu bergerak semakin merapat ke Hana. Haris merangkulnya, mendekatkan wajah mereka menipiskan jarak. Hana mengambil potretnya dari arah depan. Sunset dibelakang sana terpotret sempurna. Senyum sumringah merekah dengan mata yang berbinar-binar.
***
"Thanks ya Rom, gue berhutang banyak sama lu" Ucap Haris. Romi menelepon nya, pemuda ini sangat perhatian. Haris sendiri masih di teras mesjid, Ia baru selesai menunaikan shalat maghrib.
"Itu berkat upaya lu sendiri, gua speechless dengan penyelesaian nya, tadi itu benar-benar bravo. Good Job, Bro! "
"Sekali lagi thanks, ntar kita ngopi bareng sama Ridwan dan Gibran, ya! "
"Siap... Siip siippp" Ucapan Romi ini mengakhiri panggilan telepon mereka.
Haris dan Hana melanjutkan kembali perjalanan mereka. Kini gerimis turun tipis-tipis. 10 menit kemudian mereka tiba pada sebuah penginapan. Sebuah wisma yang setara hotel bintang 3.
"Kenapa kamu memilih tempat ini? " Tanya Haris ketika mereka memarkirkan motornya.
"Aku senang dengan tempat ini, penginapan ini milik keluarga nya Lisa." Terang Hana. Ia membiarkan telapak tangannya digenggam oleh Haris lalu bersama-sama mereka menuju ke pintu utama.
"Hmh, tapi aku memilih nya bukan hanya karena ini milik keluarga sahabat ku, Lisa. Namun memang beneran bagus lo, Mas" Hana terus berceloteh.
"Benarkah? Aku penasaran! " sahut Haris.
"Mari kita lihat, semoga saja kamar yang ingin kita booking masih kosong! " Ucap Hana antusias.
"Memangnya kenapa dengan kamar tersebut? " Tanya Haris, kali ini ia benar-benar penasaran.
"Kita akan mengetahui nya setelah besok pagi" jawab Hana.
Haris dan Hana menuju resepsionis, Hana menunggu di kursi setelah ia menyebutkan nomor kamar yang akan mereka tempati pada suaminya itu.
Seraya menunggu, ia melayangkan pesan pada Lisa,
Lisa, malam ini aku dan mas Haris menginap di penginapan milik keluarga mu. Hihi. Hana.
Benarkah? Wah. Hubungan kalian semakin membaik. Aku senang mendengarnya ๐ Kalian pasti ingin honeymoon kan? ๐คญ di tunggu keponakan yang lucu-lucu. Good Luck ๐ Lisa.
***
Romi duduk di kantornya, Ia membuka sebuah dompet yang ia ambil dari kantong celana lalu membuka nya. Tampak gambarnya dan Arini yang tengah berpose bersama dengan mengacungkan lambang peace (โ). Mereka tertawa lebar. Tidak ada Haris di sana. Hanya ada ia dan Arini saja.
__ADS_1
Rin, ini nomor ku (Romi). Jangan lupa di save. Pinta Romi yang melayangkan sebuah pesan singkat ke nomor Arini.
***