Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 77: Saatnya Melepaskan


__ADS_3

Kamis tengah hari di penghujung musim panas, Haris dengan gagah dan suara lantangnya berhasil mengakhiri criminal case pada gelaran sidang yang melibatkan Hana dan Yura.


Mereka menang telak. Bak seorang detektif handal, drama pemecahan kasus berhasil membungkam keangkuhan para kuasa hukum tak berkutik setelah sebelumnya sempat merasa di atas angin.


Memang Haris telah mempersiapkan semua tanpa melibatkan siapapun. Ia tidak ingin kecolongan. Dikhawatirkan apa yang telah diupayakan dapat bocor ke pihak lawan dan merusak bukti-bukti yang sudah dengan bersusah payah ia dapatkan.


Haris melaju menjadi singa podium yang menguasai panggung. Ia bukan seseorang yang banyak berbicara dihadapan publik sebelum nya, namun demi Hana, kekuatan dan ketepatan itu hadir, Allah mengirim kan rahmatNya.


Pemuda ini telah banyak memanjatkan doa apalagi saat sidang berlangsung dan memanas, ia hanya menyaksikan tanpa banyak berkomentar namun bibirnya terus basah oleh kalimat-kalimat penyemangat jiwa.


Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billah.


Laa ilaa ha illaa Anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin.


Hasbunallah wa ni'mal wakiil ni'mal maulaa wa ni'man naashiiir.


Haris memilih doa yang dipanjatkan nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan Paus di tengah lautan luas. Ia juga memilih doa yang dipanjatkan oleh nabi Ibrahim ketika bapak para nabi tersebut dibakar dalam panasnya api oleh raja Namrud. Bukankah Allah memang sebaik-baik penolong dan pelindung? Terbukti, nabi Yunus dan nabi Ibrahim selamat dari marabahaya besar.


Haris tidak bermaksud menyamakan kisahnya dengan para nabi yang mulia, ia hanya berharap agar sudi kiranya Allah mengasihi atas apa yang telah ia upayakan, terlebih dengan doa-doa suci yang dipanjatkan oleh utusan Nya yang mulia, ia ingin mendapat keberkahan.


"Noona Hanum, setelah melihat dan menimbang semua bukti yang ada, Anda kami tahan dengan pasal pencemaran nama baik, penculikan dan kasus narkotika. Noona Arini, Anda akan dijadikan saksi kunci atas kebenaran kejahatan dari nona Hanum. Dengan ini kami juga menyatakan bahwa Nona Hana Fathimah Ameer dan Nona Yura Shahia dinyatakan BEBAS dan tidak bersalah. Dan, dengan ini pula, kami menyatakan sidang ditutup. Tuk Tuk Tuk. " Hakim Agung mengetukkan palu setelah membacakan hasil putusan sidang.


Sempurna. Ruangan dipenuhi haru biru rasa syukur. Gemuruh tangis yang sebelumnya adalah kesedihan berubah jadi tangis kebahagiaan. Suasana kemenangan ini bertepatan dengan gema adzan zuhur yang berkumandang bertalu-talu dari corong masjid.


Hana dan Yura spontan melakukan sujud syukur. Haris melihat istrinya dari ujung ruangan, bola matanya terus saja mengikuti kemana arah gerak tubuh sang istri yang telah begitu dirindukan nya. Ingin rasanya tuk segera ia hampiri, namun keluarga besar telah lebih dahulu mengerumuni Hana.


Hana yang dihimpit oleh kerumunan orang-orang yang mengucapkan selamat dan memberikan doa, juga mencuri-curi pandang ke arah sang suami.


"Lu keren" Ucap Ridwan menghampiri Haris, pemuda ini sebetulnya juga tengah memperhatikan Yura dari jauh.


"Tapi tega bener ga ngomong-ngomong dulu ke kita, main babat abis panggung sendirian" lanjut Ridwan sedikit mendorong bahu Haris.


"Haha, yang penting kasus Hana dan Yura kelar kan, asal lu tau gua nervous banget tadi itu" ucap Haris mengusap wajahnya mengingat entah darimana kekuatan spontan tadi tiba-tiba muncul.


"Tapi beneran, tadi itu lu keren banget. Ah jarang-jarang gua muji lu, btw thanks ya"


"Lu bahagia Yura bisa bebas kan?" Haris menatap Ridwan haru.

__ADS_1


Ridwan mengangguk.


"Jujur, bernafas aja gua kesulitan ketika tau keadaan dia. Makin kesini gua makin pengen buru-buru nikahin dia. Gua pengen bisa ngelindungin dia" Ridwan yang sudah Terang-terangan mendeklarasikan perasaannya tidak bisa menyembunyikan apapun lagi.


"Hhhhhh gua aja yang sudah lama nikah gini masih ga bisa lindungin istri gua sendiri, Bro! " Kali ini Haris memilih menatap ke sembarang arah, tak tau kemana ia harus menatap, menyesali semua tindakan nya selama ini.


"Ga ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, dan hari ini lu melakukan sesuatu hal besar, gua sendiri belum tentu bisa. Proud of You" Ucap Ridwan tulus lagi menyejukkan.


Bola mata Haris menangkap Gibran yang hendak keluar dari ruangan sidang,


"Gua ke Gibran dulu sebentar" ucap Haris terburu-buru beranjak mengejar Gibran yang tubuhnya sudah hampir hilang di balik pintu.


"Gibran, Gibran!! " Panggil Haris dari jarak 5 meter. Laki-laki muda bermata teduh itu menoleh.


"Aku mau bicara sebentar! " Haris mengintip ke ruangan, Hana masih sibuk melayani kerumunan orang-orang. Yura sendiri sama seperti Hana, mereka jadi bintang di ruangan.


Gibran mengkerutkan keningnya.


"Aku minta maaf sudah sempat kasar padamu" Ucap Haris seraya mengulurkan tangannya mengajak berjabat. Gibran memperhatikan uluran tangan Haris sejenak,


"Aku ingin setelah ini kita berteman dengan baik" Ucap Haris tulus.


"Tentu" Gibran membalas Haris dengan senyuman.


"Apa kamu benar-benar menolak menjabat tangan ini? " Haris kembali mengulurkannya. Gibran yang awalnya ragu namun sebentar kemudian mengambil tangan tersebut dan menjabatnya. Tidak hanya itu saja, ia merangkul Haris dan memeluknya.


"Aku serahkan Hana padamu, jangan pernah sakiti dia" Gibran berucap sambil menepuk nepuk punggung Haris.


"Terima kasih, kamu pemuda yang baik. Allah akan selalu merahmatimu" Haris melonggarkan pelukan tulus tersebut. Gibran kembali tersenyum mendengar doa Haris.


Pemuda itu berlalu, Haris menatap punggung laki-laki yang pernah ingin melamar istrinya itu. Ada kelegaan dihatinya. Ia berharap Gibran mendapatkan jodoh terbaik.


"Mas Haris... " Suara lembut yang sudah sangat familiar terdengar memanggilnya. Ia menoleh. Tepat dugaannya. Mata yang memanggil tampak berkaca-kaca. Angin yang mendesau mengayun-ayunkan kerudung nya. Ia tampak kurus, namun aura kecantikan tidak sedikitpun memudar. Haris maju merentangkan tangan ingin memeluknya.


"Mass... Jangan di sini" Ucap gadis cantik itu. Ya. Dia lah Hana yang baru saja terlepas jadi jerat hukum. Setengah berbisik, gestur tubuhnya menolak pelukan Haris. Ia menyetop langkah suaminya dengan lima jari lalu mengisyaratkan di dalam ruangan menuju ambang pintu orang-orang tengah menuju ke arah mereka.


Huft. You dont know~ how I miss You, hm~ Tanpa mempedulikan imbauan Hana, Haris maju dan langsung memeluk wanitanya.

__ADS_1


Rindu yang mengubun-ubun ini telah membuncah. Aku tidak bisa untuk tidak memelukmu sekarang sedang kamu berada tepat di manik bola mataku.


***


Gibran pergi meninggalkan Haris setelah mereka saling bermaafkan dan sepakat berteman baik satu sama lain. Ia hendak mengurus sesuatu yang menyangkut urusan birokrasi kepulangannya ke Indonesia dan ini mendesak.


Ia berjalan menjauhi Haris dengan rasa bergemuruh di dada, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan airmata ketika mengatakan bahwa ia menyerahkan Hana sepenuhnya pada pemuda itu.


Mungkin inilah saatnya ia harus merelakan. Sakit? Tentu saja. Rasa itu masih tetap sama, bagai akar tunggang ia masih setia bercokol kuat dihatinya. Namun ia sadari, ini bukan lagi ranahnya untuk berjuang. Allah sudah menggariskan takdir-Nya. Ternyata dalam kisah ini, Allah tidak memilihnya untuk berjodoh dengan Hana.


Gibran mendesahkan nafasnya, berharap rasa yang menghimpit ikut menguap ke udara. Ia harus menata hati menghadapi masa depan. Tekadnya sudah bulat.


Dddrrrrttt Drrrttttt


Gawainya bergetar. Satu panggilan wattsapp masuk,


"Hi Gibran. Ini aku, Ni Rui"


"Ni Rui? Ada apa ya? Maaf. Aku sedang berada di Indonesia. Apa Profesor mencariku? " Gibran mengkerutkan keningnya.


"Oh tidak, bukan begitu. Aku ingin mengabarkan bahwa sekarang aku juga sedang berada di Indonesia" Ucap Ni Rui dari seberang sana.


"Wah. Wah. Aku merasa surprised kamu mengunjungi negaraku. Sekarang kamu dimana? "


"Ya. Aku terpilih mengikuti conference di sini, sekarang aku berada di hotel Tirtayasa" Ni Rui mengabarkan dengan antusias.


Gibran melirik jam tangan nya, hari ini jujur saja ia tidak punya banyak waktu, apalagi Yura adiknya baru saja bebas dari kasus yang melelahkan, setelah urusan birokrasinya selesai ia ingin membersamai adiknya.


"Masha Allah. Great. By the way kamu sampai kapan di Indonesia? " Gibran dan Ni Rui berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris yang fasih.


"Rencana aku di sini sampai minggu depan"


"Baiklah. Insha Allah besok aku akan menemuimu. Take care"


"Baik,. Terima Kasih, Gibran. Aku menunggumu. Bye"


***

__ADS_1


__ADS_2