Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 136: Perasaan Cinta Yang Tiada Berkesudahan


__ADS_3

“Sepertinya menjadi istri dari seorang mas Haris itu benar-benar tidak mudah ya. Ancaman untuk diduakan tidak pernah ada akhirnya” Hana tersenyum masam saat Haris menceritakan persoalan yang tengah ia hadapi termasuk permintaan Ummi setelah menutup panggilan telepon dari Roni.


“Sayang…” Haris memegang pundak Hana. Namun wanita itu segera menepisnya.


“Sayang… Aku akan berusaha meyakinkan Ummi untuk…”


“Lebih baik kita berpisah saja. Aku Lelah. Mas bisa menikahi siapapun. Dua tiga atau empat wanita sekaligus seperti yang semua orang inginkan!! Aku tidak mau diduakan. Aku tidak bisa berbagi suami. Jadi lebih baik mas lepaskan saja aku!!” Ucap Hana dengan nada tinggi. Ia menatap lawan bicaranya tajam. Tatapan yang begitu mengintimidasi. Haris tercengang. Hana memang pernah marah. Tapi sekian lama bersama, ini pertama kalinya ia melihat sang Istri begitu berapi-api.


“Hana! Apa kamu paham arti dari ucapanmu, hah?! Istighfar!!”


“Aku sudah tau akhir dari semua ini. Mana mungkin mas menolak permohonan Ummi! Dan mas memang tidak boleh menolak beliau. Surga seorang suami itu terletak di bawah kaki ibu bukan di bawah telapak kaki istri!”


“Tapi mas… Bukan aku orangnya. Aku bukan orang yang akan mas duakan! Jadi, ceraikan saja Aku!” Ucap Hana dengan wajah menantang. Tidak ada keraguan dari sorot matanya. Lalu ia berbalik arah. Mengenakan kembali gamis, kerudung juga kaus kakinya. Wanita ini hendak keluar kamar. Entah mengapa ia sangat sulit mengontrol emosi yang serasa mengubun-ubun lalu meledak begitu saja.


“Kamu mau kemana?!” Dengan cepat Haris mencengkram tangan Hana setelah sebelumnya ia sempat mematung.


“Lepaskan mas! Lepaskan aku!” Cengkraman tangan Haris terlepas. Hana keluar kamar dengan dada yang terasa sesak.


Haris tidak tinggal diam. Ia mengikuti Hana. 15 meter berjalan, Haris langsung mengangkatnya untuk di bawa kembali ke kamar. Beberapa khadimah yang berlalu Lalang di sana pura-pura tidak melihat. Hana terpaksa bungkam. Ia tidak ingin membuat keributan.


Perlahan. Haris merebahkan Hana di atas tempat tidur. Sang istri memalingkan wajah kusutnya.


“Hhhhhh” Suara hembusan nafas Haris serasa memenuhi kamar. Frustasi.


“Ayo minta maaf…” Lirih Haris. Hana mengerucutkan bibirnya. Ia enggan melihat.


“Hana… Aku akan memaafkanmu kalau kau mau meminta maaf” Hana tetap diam bergeming.


“Hhhh… Baiklah…” Haris mengambil kursi lalu duduk di pinggiran tempat tidur tepat di samping posisi Hana.


“Kalau begitu aku yang minta maaf. Aku minta maaf sudah membuat moodmu berantakan! Maaf karena aku sudah terlalu jujur mengatakan ini semua. Aku hanya tidak ingin di antara kita ada kebohongan atau ada yang ditutup-tutupi padahal hal ini sangatlah penting ”


“Hana… Aku selalu berpikir bahwa kita adalah satu tim juga satu kesatuan. Sejak malam penyatuan di Madrid dan saling mendeklarasikan cinta, bahkan jauh sebelum itu. Aku sama sekali tidak lagi menganggapmu seperti orang lain karena kamu adalah refleksi dari diriku sendiri. Kita itu bagaikan medan magnetic yang memiliki dua sisi bertolak-belakang namun saling bersinggungan satu sama lain” Kata-kata Haris terasa membius. Hana terhenyak.


“Sebagaimana kamu merasa sakit jika aku duakan, sebegitulah yang aku rasakan jika aku menduakanmu. Hana, aku bukan pemeran utama yang terdakwa tapi aku juga korban dari keadaaan ini. Maka Aku ingin mengajakmu menghadapi ini semua bersama. Kamu tidak perlu menerjang badai itu. Biar aku yang melakukannya. Setidaknya aku butuh kamu sebagai penguat. Aku butuh kepercayaan darimu. Aku butuh kamu! ” Lirih Haris sendu. Tak ayal, Hana bangkit. Ia melunak.


“Dan… ucapan seperti tadi itu… semua kalimat yang kamu lontarkan bahkan ingin meninggalku disaat aku terpuruk seperti ini. It hurts me, Hana! Itu sangat melukai ku!” Bagai déjà vu. Haris kembali melontarkan perkataan yang persis seperti kalimat yang pernah Hana katakan dulu. Air mata wanita berhati lembut ini sukses berhamburan. Haris langsung memeluknya erat.


“Jangan minta pisah seperti tadi lagi, hm?” Hana mengangguk.


“Maukah kamu mendampingiku menghadapi ini semua? Walau aku tidak tau bagaimana akhir dari semua kisah ini, tapi aku akan mencoba mengerahkan seganap tenaga yang kumiliki untuk membereskan semuanya. Maka bantulah agar aku bisa menyelesaikan masalah ini tanpa ada yang tersakiti. Terutama kamu! Ibu dari anak-anakku!” Hana menatap Haris tak berkedip. Lalu kembali mengangguk. Wanita ini semakin mengeratkan pelukannya.


***


Hajjah Aisyah duduk di ruang kerjanya. Di temani Layla, beliau menikmati secangkir teh buatan Sri. Rasa sakit di kepala beliau belum juga reda. Akhir-akhir ini kesehatannya menurun karena terlalu banyak berpikiran.


“Layla… Apa rencanamu ini akan berhasil nak?” Hajjah Aisyah memijat pelipisnya. Beliau mengambil balsem dari laci meja kerja lalu menghirup aromanya dalam-dalam.


“Semoga berhasil, Mi! Mana mungkin Gus Haris menolak permintaan ibunya. Apalagi Ummi Fatma itu terlihat ketakutan. Dari sorot matanya, Layla sadar bahwa beliau begitu mencintai Ning Hana” Ucap Layla meyakinkan. Hajjah Aisyah mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Iya nak, bagaimanapun nak Haris itu harus menikahi Arini agar Ummi selamat dari ancaman wanita licik bernama Indah. Tapi….”

__ADS_1


“Tapi apa Mi?”


“Bagaimana kalau Fatma gagal membujuk Haris menikah? Apa yang harus Ummi lakukan? Sedangkan Hana sekarang memang sedang mengandung. Haris tidak sebodoh itu. Tidak ada alasan bagi nak Haris untuk melakukan pernikahan kedua!” Hajjah Aisyah cemas. Beliau kembali memijat pelipisnya yang terasa semakin berat.


“Kalau begitu. Ummi saja yang merealisasikan perkataan Ummi pada Ummi Fatma tadi”


“Maksudmu?” Hajjah Aisyah mengerutkan keningnya.


“Kenapa tidak Ummi saja yang melenyapkan bayi kembar Ning Hana? Setelah itu masalah akan beres. Gus Haris akan menikahi Arini dan Ummi bebas dari ancaman bu Indah” Layla berbicara tanpa beban. Hajjah Aisyah terhenyak.


“Tidak mungkin nak! Ini tidak mungkin… Terlalu beresiko melenyapkan calon pewaris. Ummi tidak bisa melakukannya. Ini hanya akan menambah masalah!” Hajjah Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Hhhh apa Ummi yakin itu memang anak gus Haris? Bukankah beberapa kali Ning Hana kedapatan keluar rumah ketika suaminya tidak di Indonesia? Siapa yang bisa menjamin kalau itu memang benar-benar anak kandung dari gus Haris? Nah, Itu masalah pertama. Yang kedua… Apakah anak yang Ning Hana kandung itu berjenis kelamin laki-laki? Bagaimana Jika ternyata adalah perempuan? Gus Haris kan membutuhkan pewaris dengan jenis kelamin laki-laki, Mi!” Ucap Layla mempengaruhi Hajjah Aisyah. Wanita paruh baya ini terhenyak dengan pemikiran cerdas sang menantu. Lalu mengangguk-angguk.


“Benar apa yang kamu katakan nak… tapi... Ummi tidak bisa melenyapkan orang untuk yang kedua kalinya…”


“Hah? A…apa mi? Ke..dua kali?!”


***


Malam datang menjelang. Arini duduk di teras rumahnya. Ia memeluk jaket Haris yang masih belum juga ia kembalikan. Arini tak henti menghirup aroma maskulin yang dalam penciumannya tidak pernah memudar.


Wanita ini menangis. Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat begitu besarnya perhatian yang Haris berikan pada Hana. Ia sesegukkan. Angin malam yang dingin ia biarkan menerpa wajah sendunya.


Arini merasa begitu kesepian. Sejak kepergian Hanum, hanya Misna yang lumayan sering menemaninya dalam menjalani hari-hari.


Arini bertanya-tanya. Ketika dulu ia pernah mengalami koma dalam waktu yang lama. Mengapa Tuhan tega membiarkannya hidup jika masih terus saja tersakiti tanpa henti.


Bulan merah di atas sana tidak juga membuat suasana hatinya membaik. Arini larut dalam perang pemikiran yang entah sampai akan usai. Hanya suara jangkrik yang jadi peneman-nya menghalau sepi.


Tringg


Terdengar suara pintu pagar besi seperti terlempar sebuah batu. Arini bangkit. Jangan-jangan dia lagi. Wajahnya mencari sesuatu di sana. Ia celingak celinguk. Penasaran. Wanita ini pun beranjak.


“Arini…” Lirih seseorang memanggil. Sosok yang sama seperti biasa. Sosok yang selalu saja sudah dua minggu terakhir diam-diam mengamati nya dari kejauhan.


“Romi.. Kamu lagi?!” Arini menggeleng-gelengkan kepala. Tidak percaya.


“Bagaimana kabarmu hari ini?” Tanya Romi dengan senyumnya. Ia baru saja pulang dari dinas di kepolisian.


“Buruk! Apalagi setelah melihatmu!” Sarkas Arini ketus.


“Hehe galak amat. Hmh.. Boleh aku masuk?”


“No! Pulanglah!! Aku sedang tidak menerima tamu”


“Aku lapar. Temani aku makan!” Romi menunjukkan bungkusan pizza yang ada di tangannya dengan wajah penuh harap. Arini bergeming.


“Pleasee”


“Huft, Kita makan di taman!” Sahut Arini pada akhirnya. Ia membuka pintu pagar.

__ADS_1


“yes!” Romi kegirangan. Setelah sekian lama memantau, akhirnya malam ini Arini bisa luluh dengan mudahnya.


“Ingat! Sebentar saja. Hanya menemanimu makan. Setelah itu kita pulang!” Arini mewanti-wanti. Romi tersenyum mengangguk.


Suasana taman di awal malam ini tampak ramai. Mungkin karena cuaca yang bagus dan disertai dengan hadirnya rembulan di tengah-tengah mereka. Tidak ada pilihan, Romi dan Arini duduk di sembarang bangku yang masih kosong.


“Ambil-lah!” Tawar Romi. Arini bergeming.


“Nih!”


“Aku kenyang. Tolong makannya dipercepat! Aku mau pulang!”


“Hhhh Sayang sekali. Padahal bulannya saat indah malam ini.” Keluh Romi menatap ke arah langit.


“Romi… Kamu sangat keras kepala! Mendekatiku seperti ini hanya akan membuang-buang waktumu. Kamu tentu sudah tau bahwa dihatiku hanya ada satu nama. Hal ini tidak akan pernah berubah!” Arini keukeh dengan pendiriannya. Hati Romi terasa kebas.


“Siapa yang lebih membuang waktu? Aku? Hhhh Setidaknya aku berharap pada wanita single. Bukan pacar apalagi istri orang!” Sahut Romi menyindir. Perkataan nya sukses membuat Arini mendongak.


“Aku mau pulang!” Arini bangkit. Wanita ini tersinggung.


“Ry,,, "


"Riry... Aku minta maaf. Duduklah. Makananku belum habis!” Pinta Romi. Arini kembali duduk. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya mulai terdengar.


“Apa rasanya sesakit itu?” Arini mengangguk. Ia tidak mempedulikan siapapun dan terus menangis. Perasaan yang memang sudah sejak lama tidak karuan jadi begitu memburuk ketika melihat kebersamaan Haris dan Hana. Ia sama sekali merasa sudah tidak berharga. Romi menggeser duduknya sejengkal lebih mendekat ke Arini.


“Ry……” Lirih Romi lagi. Ia hendak menyentuh pundak wanita yang ada di sampingnya untuk menenangkan. Namun niat tersebut ia urungkan.


“Andai kamu halal untukku, aku sudah membawamu ke dalam pelukanku dan mengusap air mata itu!”


“Ry, Bolehkah kalau aku saja yang menyembuhkkan lukamu? Bolehkah jika kamu memberikanku kesempatan itu? Walau kesempatan tersebut hanya datang sekali saja seumur hidupku! Tapi aku bisa berjanji untuk melakukan yang terbaik!” Ucap Romi tulus. Lirihan suara seraknya yang terbawa angin tetap sampai dengan jelas ke telinga Arini. Wanita ini menoleh. Ia mengusap linangan air mata nya yang tak terbendung.


“Mari kita menikah! Ini memang lagu lama. Tapi kau telah melihat bahwa aku masih di sini dan tetap setia menungguimu. Aku sudah mencoba untuk menyerah pada takdir dengan membuka lembaran baru bersama wanita lain. Aku sudah mencobanya. Bahkan aku hampir menikah dengan orang tersebut. Tapi apa? Aku malah semakin terpuruk larut dalam memikirkanmu”


“Menikahlah denganku! Walau mungkin jika kita menikah sekarang, aku hanya akan menjadi bahan pelampiasan akan perasaan cintamu yang tidak terbalas. Tapi aku rela! Sungguh Aku rela! Aku akan menunggu sampai luka di hati mu sembuh. Seperti perkataan yang sudah pernah aku lontarkan dulu bahwa Aku tidak bisa menjanjikanmu apapun. Tapi aku bisa berkata bahwa aku akan menghujanimu dengan perasaaan cinta yang tiada berkesudahan!” Ucap Romi bergetar. Ia bangkit mengambil sesuatu dari kantong celana. Sebuah benda yang sudah sejak lama ia persiapkan. Sebuah cincin berlian seberat 0.3 karat.


“Pakai-lah. Kalau kau memakainya, aku akan menganggap kalau kau menerima lamaranku!”


Angin melambai-lambaikan kerudung Arini. Untuk sesaat, jam seakan berhenti berdetak.


Romi…. Saat ini, ada rasa yang tidak bisa kuungkapkan. Semua hal yang kau lakukan sebagai bukti kegigihanmu memacu adrenalinku dalam menciptakan gelombang baru yang mana aku sendiri tidak tau harus menyebutnya dengan sebutan apa. Jujur saja perlakuanmu membuat rasaku sedikit tergerak.


Perlahan namun pasti, Arini mengambil cincin yang ada di atas telapak tangan Romi~


***


Maaf banyak typo~ Belum sempat diedit 🙏


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤


IG @alana.alisha

__ADS_1


__ADS_2